Cinta Untuk Mentari

Cinta Untuk Mentari
Jemputan


__ADS_3

Suasana bar yang sedang di kunjungi Hadi dan Silvi malam itu nampak sepi. Hanya ada dua tiga orang yang mengobrol di sekitar mereka.


"Aku akan mengerjai wanita sial*n itu di acara ayahnya Sam" Silvi menyunggingkan senyuman sinis. Tangannya memutar-mutar gelas minuman keras yang ada diatas meja


Wajah Hadi mengeras mendengar hal itu


Silvi nampak menyadari perubahan wajah Silvi


"Maaf, kalau aku terdengar kasar. Tapi aku sudah tidak tahan lagi. Kau tahu, tidak ada kemajuan berarti yang terjadi selama aku disini. Itu membuatku frustasi. Bahkan Bu Rita yang katanya kurang setuju pun seperti tidak ambil pusing dengan hubungan mereka"


"Kamu yakin Tari diundang ke acara itu?"


"Yakin, dia pasti datang" ujar Silvi sambil menenggak minuman keras ditangannya itu


Hadi mengisap rokoknya kuat-kuat, ia menghembuskannya kembali sambil mengernyit. Asap rokok membubung tinggi memenuhi plafon di atas mereka


"Berhati-hatilah, aku yakin setidaknya ada satu pengawal yang akan selalu bersamanya"


"Yah kau benar, aku baru ingat selama aku berada disini aku merasa sangat kesulitan mencari orang yang mau melancarkan rencanaku. Berbeda dengan beberapa bulan yang lalu. Salahku juga sih menyerangnya secara terang-terangan"


"Apa yang sudah kamu lakukan pada Tari?!!" Hadi menatap tajam kearah Silvi, ada kilatan emosi yang mengerikan dimatanya


Silvi menelan ludahnya karena terkejut dengan reaksi Hadi "heh...Hahahaha tidak sesuai dengan rencanaku sih, gagal. Kamu lihat sendiri kan wanita kesayanganmu itu masih baik-baik saja"


"Sudah ku katakan jangan sampai dia celaka. Aku yang berhak menentukan hukuman untuknya"


"Ok... tenang... Aku mengerti. Aku hanya ingin menjauhkan dia dari keluarga Wijaya. Paling tidak Ayah dan Ibu Sam berbalik benci padanya"


"Lakukanlah apa yang menurutmu bisa dilakukan dengan aman. Aku sendiri sedang mencari keberadaan Tari selama dua Minggu ini. Apa kau tahu dia kemana?"


Silvi menggeleng "Aku tidak tahu. Tapi yang aku dengar dari pembicaraan Sam dengan ibunya, ia belakangan juga lebih sering pulang larut malam karena pekerjaan. Ibu Rita sampai harus sering-sering mengingatkan kesehatannya. Apa mungkin mereka berhubungan jarak jauh?"


"Mungkin saja, kalau begitu artinya Tari sedang berada diluar kota atau di luar negeri untuk suatu urusan"


Mereka berdua terdiam beberapa saat


"Ok, aku akan membantumu mencari tahu tentang ini besok"


Hadi melirik Silvi "terimakasih Silvi"


Silvi mengangguk


Malam makin larut namun tidak ada tanda-tanda keduanya mengakhiri pertemuan ini

__ADS_1


Dua jam berlalu, Silvi nampak mengomel sendiri. Kepalanya yang kini terasa berat nampak rebah diatas meja. Entah berapa gelas minuman keras yang sudah ia tenggak sejak tadi.


Tidak jauh berbeda keadaannya dengan Hadi, namun ia masih bisa mengendalikan dirinya.


"Ayo aku antar kau pulang. Kita sudah terlalu lama disini" Hadi mengangkat tubuh Silvi dan membantunya berjalan keluar dari bar itu.


"..aku kurang apa?!!!...Katakan?!!! Aku kurang apa?!! ...ini tidak adil, kenapa wanita cantik dan terhormat seperti diriku harus mengemis cinta darimu Sam!!!... Hhhh" Silvi tiba-tiba menangis dan memeluknya erat ketika mereka sudah berada dalam mobil .


Hadi hanya terdiam berusaha mempertahankan kesadarannya sendiri. Ia membiarkan dirinya di peluk oleh Silvi sambil membayangkan Tari yang melakukannya. Ia kini juga tenggelam dalam kenangannya sendiri.


Di dalam kamarnya yang tenang, suara napas Sugi terdengar teratur. Setelah video call yang ia lakukan tadi dengan Riri, ia tertidur dengan lebih mudah dibandingkan dengan hari-hari sebelumnya. Ponselnya nampak bergetar diatas nakas, nama pak Doni terlihat di layar ponsel, ia baru saja mengirimkan sebuah pesan untuknya.


______________________________________________


Siang ini Riri sedang mempersiapkan diri untuk ke acara ulang tahun ayah Sugi. Beberapa kali ia terlihat mematut dirinya di depan cermin. Ia sangat beruntung pernah mengikuti kelas make up pemula saat jaman perkuliahan dulu. Sehingga jika ada acara seperti ini ia tidak perlu repot datang ke salon. Make up yang ia kenakan selalu tipis, hanya saja kali ini ia membubuhkan lipstik berwarna merah dibibirnya. Hal itu cukup membuat wajahnya terlihat lebih cerah dan segar.


Ponselnya berbunyi, nampak nama Pak Doni mengirimkan pesan padanya.


"Saya sudah siap di depan Bu"


Riri segera membalasnya "Tunggu sebentar ya pak"


Riri kemudian memasukkan ponselnya ke dalam tas tangan kecil berbentuk clutch berwarna cokelat yang senada dengan sepatu berhak tinggi yang ia kenakan. Dengan langkah cepat ia menuruni anak tangga lalu menuju ke lobby Villa.


Ia pun berniat menghampiri mobil tersebut untuk menanyakan tujuan kedatangannya. Seingatnya sedari dulu belum pernah ada mobil sebagus ini mampir kemari, bahkan langsung menunggu didepan tangga. Seperti menjemput orang yang sangat penting.


Belum sempat ia mengetuk kaca mobil yang berada di samping sopir, kaca mobil itu pun terbuka perlahan


"Selamat siang" sapa pak Doni sambil tersenyum


"Siang pak, maaf anda ingin bertemu dengan siapa?" Kata pak Kanis, ia menelisik wajah pak Doni dengan teliti


"Saya bertugas menjemput Bu Riri"


"Oh saya mengerti, beliau sudah sempat memberi tahu saya akan pergi siang ini"


Pak Doni mengangguk


"Apa perlu saya beritahukan pada Bu Riri perihal kedatangan bapak?"


"Tidak usah pak, terimakasih. Saya baru saja memberitahu beliau"


"Ok baik pak, silahkan ditunggu saja kalau begitu"

__ADS_1


"Baik pak"


Pak Kanis kemudian pergi menjauhi mobil tersebut


Riri baru saja sampai di lobby diikuti oleh pak Yuda dari belakang.


"Bu Riri" sapa pak Kanis setengah berlari mendekatinya


"Pak Kanis, saya pergi dulu ya. Seperti yang saya informasikan tadi, saya kemungkinan kembali paling cepat besok siang. Kalau ada apa-apa bisa hubungi saya langsung"


"Baik Bu" pak Kanis tersenyum, wajahnya nampak sedikit tersipu karena ini baru pertama kalinya ia melihat Riri memakai pakaian seperti ini.


"Ok pak, sampai besok"


"Iyah Bu" jawabnya sambil memandangi punggung Riri yang menjauh dari hadapannya


Semua staf yang sedang berada disana nampak bengong melihat Riri. Ini kedua kalinya mereka bertemu dalam jarak dekat dan mereka tidak pernah menyangka jika orang yang menginterview mereka beberapa waktu yang lalu bisa secantik ini ketika berdandan.


Pak Doni yang melihat kedatangan Riri langsung turun dari mobil dan menunggunya di depan Pintu.


"Pak Doni....!!!" Pekik Riri dengan suara tertahan sambil tersenyum riang. Ia seperti merasa bertemu sanak saudara yang lama terpisah.


"Silahkan Bu" ia membukakan pintu penumpang untuk Riri


"Terimakasih pak" jawab Riri kemudian masuk ke dalam mobil dengan gesture yang elegan.


"Yud, kamu tetap jaga disini" bisik pak Doni pada Pak Yuda


"Baik pak" jawab pak Yuda


Pak Doni kemudian bergegas kembali ke belakang stir.


Mobil melaju dengan perlahan menjauh dari tempat itu. Wajah pak Kanis dan beberapa staf nampak masih memperhatikan mobil yang menjauh tersebut.


"Pak....pak Kanis" panggil salah satu staf padanya


Pak Kanis terperanjat karena sedari tadi pikirannya masih tertuju pada Riri.


"....eh Iyah kenapa?"


"Kita lanjut pak trainingnya"


"Oh iya Iyah.. kita lanjut sekarang" jawab pak Kanis gelagapan

__ADS_1


Semua staf yang ada di sana hanya bisa tersenyum geli melihat pak Kanis kebingungan.


__ADS_2