
Hari telah sore aku bersiap untuk menuju Bank X seperti rencanaku waktu itu. Ponselku bergetar, ada pesan masuk dari Sugi.
"Maaf Riri ternyata meetingku ini lebih lama dari yang aku kira. Tadi aku sudah menghubungi Bapak Rudi untuk memberitahukan kedatanganmu. Nanti kamu parkir di basement dekat pintu masuk ke dalam. Sampai di sana hubungi saja nomor yang aku kirimkan sebentar lagi. Hubungi aku kalau ada kendala"
"Ok, terimakasih Sugi"
Aku menjawab pesannya dan langsung beranjak dari mejaku. Diluar aku melihat Dewi masih ada di mejanya. "Kenapa hari ini dia belum pulang, biasanya dia sudah pulang sejam yang lalu"
Langkahku terhenti, perasaan curiga muncul dalam benakku. Aku kembali ke mejaku, lalu memeriksa apa saja yang masih tertinggal diatasnya. Aku takut ada dokumen penting yang tercecer tanpa aku sadari dan bisa saja Dewi melakukan hal-hal diluar dari perkiraanku. Walaupun aku tahu ada beberapa sudut yang terpasang CCTV di kantor ini tapi tetap saja ada beberapa tempat yang mungkin tidak terekam kamera.
Beruntung aku bekerja menggunakan laptop, jadi file yang ada padaku tentunya aman. Aku memfoto meja kerjaku dari beberapa sudut. Biasanya kalau ada yang berubah letaknya pasti akan ketahuan. "Lebih baik berjaga-jaga daripada menyesal" aku bergumam.
Setelah yakin semua aman, kemudian dengan tenang aku keluar dari ruangan kerjaku. Aku melewati meja Dewi tanpa menoleh ke arahnya. Belakangan aku tidak pernah lagi menyapanya sama sekali, karena saat ku sapa dia selalu saja membuang muka dan pura-pura tidak mendengar. Aku hanya akan menghubunginya saat aku perlu.
Aku melajukan mobil dengan kecepatan sedang, terus terang kali ini aku agak gugup. Aku sangat penasaran dan bersemangat dengan isi dari safe deposit box warisan orang tuaku. Apapun isinya aku akan menyimpannya dengan baik. Kalaupun bukan materi tidak masalah bagiku, asal ada barang peninggalan mereka saja aku sudah sangat bersyukur. Aku masih tidak menyangka ternyata orang tuaku mempersiapkan hal ini sejak lama. "Rasanya mirip seperti menunggu pengumuman hasil ujian sekolah" aku menarik napas panjang
Ketika aku sampai di parkiran basement Bank X, aku langsung menghubungi pak Rudi.
"Halo Selamat sore pak Rudi"
"Iyah selamat sore"
"Saya Riri pak, tadi pak Sugi katanya sudah menghubungi Bapak"
"Iyah Bu Riri, tunggu sebentar saya kesana sekarang"
"Baik pak saya tunggu" aku menutup sambungan telepon.
__ADS_1
Beberapa saat kemudian aku melihat seorang laki-laki berkacamata keluar dari pintu masuk. Laki-laki tersebut berumur kira-kira 50 tahunan, mengenakan pakaian formal.
Aku turun dari mobil dan mendekatinya. Senyum laki-laki itu sumringah kala melihatku.
"Selamat datang di Bank X Bu Riri, Saya Rudi CFO disini" katanya sambil menyodorkan tangannya untuk menjabat tanganku.
Aku menyambut jabat tangannya "Saya Riri pak, asisten pribadi dari pak Sugi"
"Saya sudah mendengarnya dari pak Sugi, silahkan lewat sini Bu" ujarnya lagi mempersilahkan aku masuk terlebih dahulu ke dalam.
Kami berjalan beriringan menuju lift yang cukup mewah untuk naik ke lantai tiga. Pak Rudi mengantarku kesatu ruangan yang ada di dalam. Sepengetahuanku saat menuju kemari tak satupun orang yang terlihat di jalur ini. "Benar-benar jalur pribadi sesuai dengan apa yang pernah dikatakan Sugi padaku" aku bergumam
Ruangan yang kami tuju sepertinya VVIP lounge, karena ruangannya terbilang sangat istimewa untuk ukuran sebuah ruang tunggu di Bank. Ruangannya sangat luas, pada bagian dindingnya banyak dipasang lukisan-lukisan yang aku pastikan harganya diluar nalar orang biasa. Sofanya terlihat empuk dan nyaman.
"Silahkan tunggu disini Bu, saya ambil formulir sebentar" kata pak Rudi kemudian
Pak Rudi kembali dengan membawa satu formulir untuk diisi sebagai bukti kunjungan.
"Ibu tidak usah khawatir, hanya saya yang mengetahui kedatangan bu Riri. Formulir ini akan saya simpan sendiri sebagai bukti kunjungan saja, sesuai prosedur disini tapi tidak terekam pada data umum" katanya lagi
Aku mengangguk "baik pak, saya isi dulu"
Aku mengisi formulir tersebut dengan cepat, dan kuserahkan kembali pada pak Rudi. Pak Rudi terlihat kaget saat membaca isi formulir tersebut. Wajahnya nampak tak percaya dengan apa yang ia baca.
"Mentari Larasati Wirama" pak Rudi melihat kearahku
"Iyah pak sesuai dengan identitas kan?" tanyaku kembali, khawatir kalau ternyata aku salah mengisinya
__ADS_1
"Putri Bapak Supraja Wirama, benar?" Tanyanya kembali
Aku terkesiap mendengar pak Rudi menyebut nama lengkap ayahnya "Pak Rudi mengenal ayah saya?"
"Saya sangat mengenal beliau, pak Supraja teman baik saya sewaktu kuliah. Saya tidak menyangka nak Riri akhirnya datang kemari setelah bertahun-tahun saya menunggu" matanya terlihat berkaca-kaca
Aku memperhatikan wajah pak Rudi dengan seksama
"Mungkin nak Riri lupa, sewaktu nak Riri dan nak Damar masih kecil saya beberapa kali berkunjung"
"Maaf pak saya tidak ingat"
"Tidak apa-apa nak. Saya turut merasakan kehilangan seperti yang nak Riri rasakan. Saya selalu membayangkan bagaimana kehidupan nak Riri setelah kejadian-kejadian itu. Pasti sangat berat bagi nak Riri. Saya bersyukur nak Riri kuat dan hidup dengan baik" lanjutnya lagi
Mataku ikut berkaca-kaca mendengar penuturan pak Rudi "terimakasih pak, saya beruntung bisa melewati semua dengan baik. Walaupun di awal-awal saya merasa hancur berantakan tapi saya tetap bertahan. Entahlah saya juga tidak tahu kenapa bisa sekuat itu"
Pak Rudi terlihat mengangguk mendengar ucapanku "Mungkin sudah takdir di ikhlaskan saja yah nak. Sekarang yang terpenting adalah masa depan. Mmm pak Subrata apa tidak mencari -cari nak Riri? Saya sangat tahu kelicikan orang itu Beberapa kali dia kemari untuk meminta akses safe deposit box ini. Tapi saya tidak pernah memberikan aksesnya sama sekali. Karena saya yakin nak Riri masih ada dan akan kemari sewaktu-waktu. Pak Subrata juga tidak mengetahui isi dari safe deposit box ini. Yang dia tahu ada surat penting seperti keterangan waris dan akta waris didalamnya. Untung saja dia tidak mengetahui lebih banyak lagi. Kalau sampai dia tahu, sudah pasti dia akan lebih bersikukuh untuk mendapatkan aksesnya"
"Iyah dia sempat mengirim orang- orang berwajah sangar untuk menangkap saya. Untungnya ada pak Sugi yang menolong saya"
"Sudah saya duga akan seperti itu"
"Terimakasih pak sudah membantu ayah saya menjaga peninggalannya" ujarku senang
"Sama-sama nak Riri, sudah kewajiban saya. Nak Riri harus tetap kuat menjalani hidup, harus tetap semangat" katanya dengan wajah tersenyum
"Iyah pak, saya mengerti"
__ADS_1
"Sebentar yah nak, tunggu disini" pak Rudi beranjak masuk ke satu ruangan lain dan beberapa menit kemudian kembali membawa tumpukan kertas.