Cinta Untuk Mentari

Cinta Untuk Mentari
ikatan yang lebih kuat


__ADS_3

Setelah mandi Riri nampak mengganti bajunya dengan salah satu baju Sugi berbahan kaos yang nampak kebesaran ditubuhnya. Kemudian ia turun menuju meja makan untuk menikmati makan malamnya berupa nasi campur yang ia sempat beli tadi di perjalanan menuju kemari.


"Sayang, aku sudah dirumahmu 😘"


Di sela-sela makan malamnya ia terlihat mengirimkan pesan pada Sugi untuk mengabarkannya bahwa ia telah menunggunya dirumah


Pesan itu di balasnya dengan cepat


"😘"


Riri tersenyum melihat pesan singkat yang hanya berupa emoji ini. Dari balasannya yang singkat, ia tahu kalau saat ini ia sedang berada ditengah-tengah meeting penting


Usai makan Ia pun merebahkan tubuhnya di atas sofa sambil melihat tayangan televisi. Riri menonton televisi cukup lama, tanpa sadar matanya mulai terpejam.


Dua jam kemudian Sugi baru saja sampai, ia melangkah pelan masuk ke dalam rumah. Matanya terarah pada ruang tamu, ia melihat Riri sedang tertidur lelap di atas sofa dengan televisi yang masih menyala. Ia tersenyum lalu melangkah menghampirinya.


"Loh kok malah tidur disini" gumamnya sambil mengelus pipinya


Aku terbangun saat sebuah tangan yang terasa dingin menyentuh pipiku. Pelan-pelan mataku mulai terbuka lebar. Ku lihat Sugi tersenyum sambil berjongkok di depanku


"Kasihan sampai ketiduran menungguku" katanya sambil mengelus lembut lenganku


"Baru sampai sayang? Jam berapa ini?" Suaraku terdengar serak


"Hampir jam Sepuluh. Yuk lanjut tidur diatas aja" ia lanjut membopong tubuhku dengan sekali angkat


"Pasti berat, aku bisa jalan sendiri kok" ujarku dengar suara pelan


Ia menggeleng "nggak berat" jawabnya sambil melangkah cepat naik ke lantai dua


"Aku ingin tahu, apa setelah kita menikah nanti kamu akan tetap seperti ini?"


Ia lagi-lagi tersenyumn "kenapa nggak? Kecuali...kalau aku sudah mulai encok"


"Hahahaha encok..." Aku tergelak


Ia kemudian menurunkan aku di atas ranjangnya


"Aku mandi dulu, kamu sudah makan malam kan?"


"Sudah kok"


Langkahnya tiba-tiba terhenti diambang pintu masuk kamar mandi, lalu menoleh kearahku


"Mmm mau bantuin aku mandi, nggak??" Ia menyunggingkan senyuman penuh arti


Aku menatapnya bingung "....Nggak ah" jawabku sambil menunduk menahan rasa maluku sendiri. Aku bisa membayangkan apa yang akan terjadi di dalam sana, jika aku bersedia ikut masuk.


Ia tergelak melihat sikapku "hahaha ya sudah, tunggu ya"


Beberapa saat kemudian ia sudah nampak keluar dari kamar mandi hanya memakai handuk dipinggangnya.


"Ih sengaja banget sih, biasanya juga pake bathrobe!" aku menggerutu sambil memalingkan wajahku


Ia lagi-lagi tergelak "namanya juga usaha" katanya di sela-sela gelak tawanya sendiri


Sesaat kemudian ia telah kembali


"Ayo bahas idemu yang tadi siang" ia duduk disebelahku sambil mengucek-ngucek rambutnya yang basah


"Rambutmu masih basah"


"Iyah nggak ada yang bantuin, aku terlantar" ia memasang wajah sedih


Aku memutar bola mataku sambil menghela napas, kemudian bergegas mengambil satu handuk kecil yang ada dalam rak dikamar mandi


Sugi memperhatikanku, ia nampak tersenyum lebar

__ADS_1


Aku menggosok-gosok rambutnya secara perlahan dengan handuk. Sugi nampak memejamkan mata dengan kedua tangannya memeluk pinggangku dengan lembut


"Sayang,...."


"Mmm" sahutnya masih sambil terpejam


"Aku mau menyewa ruko yang disebelah kantor. Lebih baik untuk warung makan atau untuk kedai kopi ya? Tapi aku ingin keduanya saja dalam satu tempat. Gimana menurutmu"


"Nggak masalah, mau warung makan seperti apa?"


"Menunya masakan nusantara kayak nasi goreng kampung, Sop buntut, soto ayam, gado-gado. Terus minumannya standar lah, ada teh manis, es jeruk, jus. Mungkin aku akan tambahkan teh jahe pakai sereh, jeruk nipis madu. Enak untuk yang lagi kurang enak badan"


Matanya terbuka, ia memasang wajah sedih


"Kok aku nggak pernah dibuatin?? Kayaknya sekarang aku lagi nggak enak badan. Nih yang disini rasanya dingin" ia menyentuh dadanya


"Halah..hehehehe" aku terkekeh "kulkasmu kan kosong, buatnya pake apa dong?"


"Aku nggak mau tahu, besok harus ada." ia menatapku dengan wajah cemberut


"Iyah, nanti aku kirim pesan ke Bu Widi biar disiapkan bahannya untuk besok pagi"


"Yay!" Pekiknya tertahan


Aku hanya menggeleng melihatnya seperti ini "Jadi menurut pak Dirut gimana tentang menunya?"


"Pas, sesuai selera orang kebanyakan. Terus mau konsep warungnya seperti apa?"


"Aku mau buat warungnya vintage. Piring sama mugnya pakai bahan seng yang loreng-loreng itu loh. Tempat nasinya nanti pakai bakul, di sendok di depan pembelinya, sesuai permintaan"


"Nice, terus untuk kedai kopinya?"


"Nanti dibuatkan kayak tempat sendiri di pojokan. Menu utamanya itu kopi tubruk. Ada kopi gula aren, kopi susu, stmj kayaknya aku mau masukin juga deh. Untuk kopi macam caffe latte kita sediakan juga sebagai tambahan"


"Seru ya, keren nih sayang" Sugi terlihat antusias


Ia nampak tersenyum menatapku.


"konsep yang keren sayang. Besok aku kirim pak Budi ke kantormu ya. Beliau konsultan senior di bidang itu, biar nanti dibantu sama dia. Dia pasti langsung tahu, kalau ada hal-hal yang rasanya kurang pas untuk konsep ini. Termasuk desain untuk warungnya, aku yakin dia akan memberikan banyak masukan"


"Wahh makasi sayang" ujarku gembira sambil menyisir rambutnya dengan jari tangan


"Eit jangan senang dulu... Ini bisnis, aku minta bayaran di muka loh?!" Ia menyunggingkan senyuman


"Bayar berapa?, jangan mahal-mahal ya" aku memasang wajah memelas, pura-pura tidak tahu apa maksudnya


Ia mengeratkan tangannya di pinggangku lalu menarik tubuhku sampai menempel padanya. Kedua kakinya mengempit kedua kakiku.


"Aku minta bayarannya sekarang" ia berbisik


Wajahnya tepat berada di bagian dadaku, ia mulai menggigit-gigit kecil bagian itu sambil mendongak menatapku yang sedang menunduk memperhatikannya.


Napasku mulai tercekat menahan gejolak akibat sentuhannya ini. Bagian ujung yang ia gigit mulai terasa keras, aku mengigit bibirku sendiri. Tanganku tanpa sadar memegang erat rambutnya


"shhh ahh..." Aku mulai mendesah tanpa bisa kutahan lagi


"D*mn! Sengaja nggak pakai penutupnya ya?"


"Akuh... lupahhh.." ujarku sambil terengah-engah teringat kebiasaanku malam hari dirumah yang terbawa sampai disini, yang hanya mengenakan baju luaran saja tanpa dalaman


"pelan-pelan tangannya menelusup masuk ke dalam baju yang aku kenakan. Ia mulai menyusuri perut dan punggungku dengan bebas


"Let me see it" katanya sambil melepaskan kempitan pada kakinya dan menarikku duduk di pangkuannya dengan menghadap ke arahnya.


Ia menarik lepas baju yang aku kenakan kemudian menyentuhnya dengan lembut. Mataku pun terpejam


"Hhhh..." Tanpa sadar aku mulai meleng"h saat ia mengecup leherku bertubi-tubi.

__ADS_1


"Babe..I love you" bisiknya.


Aku menggigil, hembusan napasnya yang hangat menyapu lembut telingaku.


Bibir kami pun bertemu, ia ******* habis bibirku tanpa jeda. Lidahnya menari-nari menelusuri setiap sudut dalam mulutku. Kemudian turun dan bermain-main di bagian favoritnya di dadaku.


Kini aku tidak mampu mengendalikan diriku sendiri, hingga erangan dan lenguhan muncul berkali-kali dari mulutku dengan bebas


"Ahhh..hhhh..shhh!! Baby, sayanghh..ahhh..ahhh"


"Oh my...You look so beautiful baby!!" Ujarnya saat melihat Riri sedang mendongak sambil terpejam, menikmati sentuhannya


Mataku terbuka, tiba-tiba saja aku merasakan sesuatu bergerak di bawah b*kongku. Aku menatap matanya yang sedang menatapku tajam. Aku tentu mengerti arti tatapannya saat ini


"Boleh aku menyentuhnya?"


Ia mengerjapkan matanya tak percaya dengan ucapanku


"Kamu serius?"


Aku mengangguk yakin, entah kemana perasaan malu yang aku rasakan tadi. Saat melihat wajahnya yang penuh rasa frustasi ini aku merasa sangat ingin membantunya


Pelan-pelan ia mengarahkan tanganku pada bagian tubuhnya itu.


"Sentuh dia sayang... it's...mine" katanya ragu


Aku menyentuhnya dengan hati-hati sambil memperhatikan bentuknya. Rasa penasaranku selama ini akhirnya terbayar. Aku kali ini seperti merasa benar-benar telah memiliki Sugi seutuhnya.


"Apa yang harus aku lakukan sekarang". tanyaku sambil menahan tawa


Ia nampak tersenyum geli dan menutup wajahnya dengan satu tangan


"Ok, gini sayang...


Aku pun melakukan seperti apa yang ia katakan


Aku memperhatikan perubahan ekspresi di wajahnya saat ini berlangsung cepat, dan itu membuatku takjub sekaligus heran.


Setelah usai ia nampak terengah-engah dengan keringat yang mengucur deras di wajah dan tubuhnya. Ia terkulai lemas di atas ranjang.


Dalam diam aku membantu membersihkan badannya dengan handuk kecil tadi. Tiba-tiba Ia menarik tanganku untuk ikut rebah dipelukannya


"Am sorry baby" bisiknya lemah


"Kenapa? Kan aku yang minta"


"Aku merasa seperti memanfaatkanmu"


"Aku nggak merasa begitu kok, aku yang berniat untuk membantumu"


Ia memelukku dengan erat "thank you so much sayang, aku benar-benar mencintaimu"


"Aku mau melakukannya karena aku juga mencintaimu. Sekarang istirahat saja, tidak usah berpikir macam-macam" ujarku sambil mengelus dadanya


"mmm" jawabnya sambil mengecup pucuk kepalaku


Sejenak kurasakan napasnya mulai teratur, ia tertidur lelap


"Oh begini ya rasanya mencintai seseorang dengan tulus. Rela melakukan apa saja bahkan sampai mau melewati batasan-batasan tertentu untuk membuat orang yang kita cintai bahagia. Anehnya saat ini aku merasa jadi lebih tenang dan seperti memiliki ikatan yang lebih kuat dengannya. Entahlah aku pun tidak mengerti"


Gumamku dalam hati


Pelukan Sugi akhirnya terlepas, dengan hati-hati aku bangkit dan memakai bajuku kembali.


Aku pun merebahkan tubuhku lagi disisinya dan mencoba memejamkan mataku.


"Mudah-mudahan esok hari Sugi tidak menjadi canggung hanya karena ini" bathinku saat mulai terlelap

__ADS_1


__ADS_2