
Setelah mengantar Silvi pulang, saat masih di depan rumahnya, Sugi langsung mengirimkan pesan kembali pada Riri
"Aku pulang sekarang, tunggu yah"
Sugi menunggu jawabannya, tapi jangankan menjawab pesannya. Kali ini Riri bahkan tidak membaca pesannya sama sekali.
Dengan gelisah ia mencoba menghubungi Riri
Telepon berdering beberapa kali tanpa jawaban. Tiba-tiba perasaan khawatir menggelayut dalam pikirannya. "Jangan-jangan dia pergi keluar dan tertangkap oleh orang suruhan pamannya"
Sugi kemudian mencoba menghubungi Riri kembali berkali-kali sampai akhirnya dia menjawab teleponnya.
"Apaaa!!?" Suara Riri terdengar ketus
Sugi mendengar suara bising dibelakang Riri "kamu keluar sama siapa?" Suaranya terdengar dingin
"Sama teman, tidak usah khawatir, temani saja Silvi lebih lama lagi. Tenang saja aku bisa menjaga diriku sendiri kok"
"Kamu lagi dimana? Aku jemput sekarang!" Ucapnya tak kalah ketus
"Aku lagi makan, tidak usah dijemput. Temanku yang akan mengantarku pulang"
Gia terlihat menahan tawanya mendengar percakapan dua orang didepannya ini. Tadi Gia yang memaksa Riri untuk menjawab telepon dari Sugi setelah tangannya menekan tombol speaker dengan cepat pada ponsel Riri.
"Aku sedang tidak ingin bercanda Riri!!!" suara Sugi terdengar tegas dan serius
"Siapa yang bercanda, aku hanya sedang makan malam bersama temanku"
"Selamat malam pak Sugi, saya Gia. jangan khawatir Riri aman sama saya" sela Gia
"Ok Bu Gia, kirimkan lokasi kalian. Saya menyusul kesana sekarang"
Sugi memutuskan pembicaraan tanpa menunggu jawaban dari Gia
"Hahahahaha Nah kan sudah ku bilang dia pasti mencarimu" Gia terbahak melihat wajah kesal Riri, sambil mengirimkan lokasi mereka pada Sugi
"Ck! Masak pergi sama teman aja nggak boleh?"
"Hahahaha hati-hati Riri aku merasa dia posesif sama kamu, wajar sih. Dimana lagi dia bisa menemukan wanita sebaik dan seistimewa kamu"
"Duh Gia ck!" Ujarku jengkel
"Eh Silvi siapa?"
__ADS_1
"Wanita pilihan ibunya"
"Oooo.... Aku sekarang tahu kenapa kamu sekesal ini, wah cerita ini semakin menarik untuk disimak" Gia kembali menahan tawanya
Tak berapa lama Sugi pun sampai. Dia melihat Riri dan Gia sedang mengobrol di satu meja di dalam. Dengan langkah panjang Sugi mendekati meja tersebut.
Dari mejanya nampak Gia melihat Sugi ternyata telah sampai. Ia menepuk Riri yang sedang menikmati spaghetti pesanannya.
Riri mengalihkan pandangannya ke arah Gia memandang. Dilihatnya Sugi melangkah mendekati mereka dengan wajah dingin.
"Silahkan duduk" kata Gia dengan ramah
"Terimakasih" sahut Sugi, matanya menatap Riri dengan lekat.
Riri kembali menikmati spaghettinya tanpa menghiraukan keberadaan Sugi di depannya.
"Sudah makan malam pak Sugi?" tanya Gia berusaha memecah ketegangan diantara mereka
"Belum, tolong suruh asisten saya memesankan apa yang sedang ia makan sekarang"
"Riri" panggilnya, Gia menggerakkan kepalanya ke arah Sugi, seperti memberi isyarat Riri untuk mengikuti perintah Sugi itu.
Riri menghela napas lalu meletakkan garpu yang ia pegang pada piringnya. Tangannya terangkat untuk memanggil pramusaji.
"Ditunggu yah kak sekitar sepuluh menit lagi" kata pramusaji itu lengkap dengan senyum hospitality-nya
"Baik kak, terimakasih"
"Terimakasih kembali kak" katanya kemudian berlalu
Sugi nampak gusar, matanya masih saja menatap Riri dengan tajam. Tiba-tiba tangannya menggeser spaghetti yang ada di depan Riri kearahnya, lalu mulai menyantapnya perlahan.
"Spa..ghe..tti ku..." Kata Riri lemah, ia sendiri saat ini masih dalam keadaan lapar
Gia menutup mulutnya tak percaya pada apa yang baru saja ia lihat. Laki-laki kaya raya, orang berpengaruh, dan menawan di depannya ini sedang menikmati spaghetti bekas gigitan Riri.
"Ini pernyataan secara tidak langsung kalau mereka memang sedekat itu. Bahkan dia melakukan itu di depanku yang tidak mengenalnya secara pribadi. Dia tidak peduli dengan imagenya sekarang" Gia menggeleng. "Dia bukan hanya posesif tapi juga tergila-gila pada Riri. Astaga Riri!!!" Teriak Gia histeris di dalam hatinya.
Riri hanya bisa pasrah melihat spaghetti pesanannya dihabiskan oleh Sugi.
"Apa dia benar-benar belum makan malam? Apa saja yang ia lakukan bersama Silvi? Kenapa dia seperti kelaparan begini? Jangan-jangan dia ... Ah tidak mungkin. Dia bulan laki-laki yang seperti itu" aku menepis pikiran negatif Ku
Saat pesanan Sugi datang, ia menyodorkannya kepada Riri "makanlah, aku sudah kenyang" nada suaranya kali ini terdengar lebih tenang
__ADS_1
"Beneran sudah kenyang? Itu tadi setengah porsinya sudah aku makan. Yang ini bagi dua aja lagi yah. Ini kebanyakan kalau aku makan sendiri"
Sugi menarik piring tersebut kearahnya dan mulai menggulung spaghetti dengan garpu. Tanpa disangka tangannya justru mengarah pada Riri bermaksud menyuapinya.
Riri terperanjat dengan sikap Sugi, matanya melirik pada Gia yang tak kalah kagetnya.
Kaki Sugi menyentuh kakiku dibawah meja, mengisyaratkan untuk segera membuka mulutku. Demi menjaga image dan reputasi Sugi, tanpa suara protes dariku aku pasrah disuapi olehnya. Tangannya bergantian diantara menyuapiku dan menyuapi dirinya sendiri.
Gia yang melihat adegan ini hanya bisa gemas, menahan tawanya dalam diam.
Setelah usai kami bersiap untuk pulang, Gia memelukku erat sambil berbisik "aku yakin, he loves you so much Riri"
Aku menggeleng sambil mengangkat bahuku
"Take care yah, besok kalau kamu nggak sibuk jangan lupa telepon aku" katanya lagi
"Iyah, hati-hati dijalan" sahutku sambil memperhatikannya mengangguk kemudian keluar dadi restauran.
"Ayo pulang kataku"
Kulihat ia menuju ke meja kasir lalu mengambil wine pesanannya
"Kapan kamu sempat memesan ini?"
"Tadi" katanya kemudian merangkulku
Di dalam mobil kami hanya terdiam sambil mendengarkan lagu yang diputar oleh Radio
"Kamu tahu Riri, aku tadi sangat cemas. Aku pikir kamu ditangkap oleh orang suruhan pamanmu. Lain kali jawablah pesan dan teleponku, agar aku tidak khawatir"
Aku merasa sedikit bersalah setelah mendengar pengakuan dari Sugi
"Aku minta maaf Sugi, aku pikir kamu marah karena aku keluar bersama temanku"
"Iyah aku marah, harusnya kamu menungguku"
"Kamu yang bilang kan tadi, nggak bisa pulang cepat, ya sudah aku keluar"
Sugi menghela napasnya "aku tadi disuruh orang tuaku dan ayah Silvi mengantarnya berkeliling melihat kota ini. Aku meraa tidak sopan jika menolaknya"
"Silvi itu bukan wanita idamanku Riri. Aku tidak nyaman bersamanya" lanjutnya
"Bukannya dia secantik yang ibumu katakan? lagipula kalian teman sepermainan waktu kecil, latar belakang selevel, kenapa tidak nyaman?"
__ADS_1
"Dia cantik, tapi cantik saja tidak cukup. Rasa nyaman yang kurasakan hanya aku yang tahu, aku juga tahu mana wanita yang terbaik buat hidupku"