Cinta Untuk Mentari

Cinta Untuk Mentari
Cemburu 2


__ADS_3

"Bu Riri" panggil pak Doni pelan


Aku tersentak, kembali dari lamunanku "ya pak?" Jawabku dengan wajah kaget


"Jadi makan siang? Yuk biar nggak ikutan kesel kayak saya. Mentang-mentang kaya, kenal keluarganya, beberapa orang jadi tidak tahu etika. Tenang saja pak Sugi bukan orang yang plin plan kok" pak Doni berkata seperti memahami isi hatiku saat ini


"Saya mau beberes dulu pak" ujarku sambil mematikan laptop dan memasukkannya ke dalam tas


"Laptopnya tidak usah dibawa Bu, kemana-mana kok bawa kerjaan?!"


"Bukan begitu pak, tadi pagi letak barang-barang saya berubah. Saya merasa ada seseorang yang telah memeriksa isi meja saya. Takutnya dia mengincar data penting yang saya bawa" kataku khawatir sambil berbisik


"Hmm kalau begitu memang sebaiknya dibawa saja. Nanti saya akan coba mencari tahu siapa orangnya"


"Iyah pak, terimakasih" ujarku sambil berdiri dan pergi bersama dengan pak Doni untuk makan siang


Aku melihat Dewi memalingkan wajahnya ketika kami lewat. Pak Doni berhenti dan mendekatinya


"Bu Dewi, anda sudah membiarkan seseorang masuk ke ruangan pak Sugi tanpa ada janji terlebih dahulu. Dan itu salah, anda seharusnya tahu bagaimana aturan disini. Kalau sekali lagi anda melakukan hal seperti ini, saya tidak akan segan-segan untuk melaporkan hal ini kepada HRD"


Wajah Dewi kelihatan kaget "maaf pak, tapi tadi sudah saya mencoba menahannya. Katanya Bu Silvi sudah mendapat ijin dari Ibu Rita. Jadi saya tidak berani pak" suaranya terdengar bergetar


"Kalau hal ini sampai terjadi lagi, Bapak Sugi tidak akan mau menerima alasan apapun. Saya yakin Bu Dewi bisa mendapatkan sanksi karena sudah teledor" lanjut pak Doni


"Baik pak saya mengerti" wajahnya penuh penyesalan. Tapi sesaat setelahnya, ia melirik ke arah Riri dengan wajah tidak suka.


Pak Doni kemudian melanjutkan langkahnya bersama Riri menuju kantin.


Kami sudah kembali dari makan siang, kulihat meja Sugi masih kosong "rupanya dia belum kembali"


"Makan siang apa sih lama banget?" Celetuk Pak Doni lagi-lagi seperti mengerti isi pikiranku


"Nungguin chefnya menangkap ayam dulu kali pak"


"Hahahaha, bisa aja Bu Riri. Tapi masa nangkap ayam bisa lama?"


"Ya kalau ayamnya yang punya pak selamet, terus jago ngeles kan selamat terus hahahaha" candaku pada pak Doni


Pak Doni tergelak mendengar candaan ku

__ADS_1


"Bu Riri kayak biasa aja yah, nggak kesel Bu?" Tanyanya penasaran


"Menurut pak Doni?" Tanyaku kembali dengan wajah datar


"Hehehehe" pak Doni terkekeh mendengar jawabanku "benar-benar ayam selamat, jago ngeles hahahaha"


Aku ikut tergelak mendengar ucapan pak Doni "Setelah apa yang terjadi dalam hidupku aku menjadi terbiasa untuk tidak menunjukkan emosi di wajahku. Terkadang aku marah atau sedih pun yang terlihat dipermukaan hanya datar saja, seperti tidak terjadi apa-apa, padahal di dalam hatiku sering kali remuk dan hancur berkeping-keping. Aku hanya akan menunjukkan emosiku pada orang terdekat saja"


Setengah jam kemudian mereka pun kembali. Kulihat Silvi berjalan dengan posisi sangat dekat dengan Sugi. Lengannya menempel pada lengan Sugi, dengan senyum puas.


"Terimakasih ya Sam, sudah mau menemaniku makan siang. Lain kali aku akan menghubungimu terlebih dahulu sebelum datang kemari. Oh iya dessert khusus pesananmu tadi apa namanya?Pineapple fritters yah? Enak banget. Kok kamu bisa tahu aku bakalan suka sih?" Tanyanya dengan suara manja, bahasa tubuhnya seperti ingin menyentuh lengan Sugi.


"Aku sibuk Silvi, sebentar lagi aku harus meeting dengan seseorang. Sebaiknya kamu pulang sekarang" ujar Sugi seperti menahan amarah


"Ya deh, aku pulang ya. Nanti aku telepon" jawabnya sambil melangkah keluar, senyumnya terlihat benar-benar puas.


Setelah Silvi pergi, ponselku bergetar. Aku melihat ada pesan masuk dari Sugi. Sengaja aku tidak membacanya dan kembali fokus pada pekerjaanku.


Pak Doni menahan tawanya melihat reaksi Sugi yang gelisah saat Riri tidak menghiraukan pesan yang ia kirimkan.


Telepon di meja Riri berbunyi, dengan segera Riri mengangkatnya. Ia berasumsi Mr. John sudah datang untuk meeting hari ini. Benar saja, Dewi mengabarkan kalau beliau sudah datang dan akan dipersilakan untuk masuk ke ruangan ini.


Pintu terbuka Mr. John diantar Dewi untuk masuk ke dalam ruangan. Seorang laki-laki berperawakan tinggi gagah dengan wajah khas orang kaukasia memiliki jenggot dan jambang yang cukup tebal diwajahnya. Matanya berwarna hijau nampak tersenyum sumringah kearah Sugi.


"Welcome Mr.John" sambut Sugi mendekat lalu menjabat tangannya


"Terimakasih Sugi, Called me John please. Apa saya datang terlambat?" Ujarnya dalam bahasa Indonesia yang terbata-bata


"Tidak sama sekali John. kita langsung saja ke ruangan meeting. Silahkan disebelah sini" ujar Sugi sambil menunjukkan ruangan meeting


"Hmm tunggu sebentar, wanita cantik ini siapa?" Ia menunjuk ke arahku


"Dia asisten saya juga" sahut Sugi


"Saya Riri" kataku menjabat tangannya


"Riri nama yang menarik" ujar John sambil tersenyum


"Terimakasih John untuk pujiannya" kataku ikut tersenyum

__ADS_1


"Silahkan" Sugi kembali menunjukkan ruangan meeting di depan kami


Meeting dengan John berlangsung menyenangkan, karena John termasuk orang yang supel dan suka bercerita. Matanya beberapa kali melihat ke arah Riri dengan kerlingan lembut di sela-sela ceritanya.


Sugi pun menyadari hal itu, tapi karena terbiasa profesional ia mengabaikan hal tersebut.


Meeting pun usai, John nampak sangat puas dengan hasilnya. Kami mengantar John sampai ke depan kantor. Disana sebuah mobil mentereng berwarna hitam sudah menunggunya.


"Sugi, saya senang hari ini, sangat sesuai dengan yang saya inginkan. Nanti saya tunggu kunjungan anda ke perusahaan kami, jangan lupa ajak Riri ikut juga" John kembali melirik ke arah Riri


"Baik pak, kami akan jadwalkan kunjungan kami kesana"


"Mmm Hal ini diluar dari meeting hari ini. Saya mungkin agak sedikit lancang. Riri, saya ingin tahu apa anda masih single?"


Riri yang nampak terperanjat mendengar pertanyaan John menjawab "saya single John" jawabnya hati-hati


Wajah Sugi mulai nampak sedikit terganggu dengan pertanyaan John.


"Bagaimana kalau saya mengundang anda untuk makan malam hari ini?"


Makin terkejut, Riri dengan susah payah menahan rasa kagetnya dihadapan John "maaf, malam ini saya sudah ada janji dengan seseorang. Mungkin lain kali John tapi terimakasih atas undangannya" Riri tersenyum


"Saya mengerti Riri. Kalau begitu saya akan mencari waktu yang lain" John tersenyum


"Ok I'm leaving now, Terimakasih untuk semuanya" katanya masih terbata-bata, ia masuk kedalam mobilnya


"Terimakasih John" Sugi menjawab


Pak Doni nampak tersenyum puas saat melihat wajah Sugi yang semakin dingin saat John mencoba menggoda Riri tadi di depan matanya.


Sugi melangkah cepat kembali masuk ke dalam kantor menuju ruangannya. Dengan jalan yang tergesa-gesa seperti itu Pak Doni yakin sekali, Sugi sedang meradang di dalam hatinya. Sedangkan Riri seperti biasa, dengan wajah datar mengikuti mereka dari belakang.


"Kita berangkat sekarang Pak" katanya kepada pak Doni yang sudah bersiap sedari tadi menunggu tugas selanjutnya. Ia mengambil tasnya kemudian pergi tanpa menoleh ke arah Riri. Pak Doni mengikutinya dari belakang sambil tersenyum sumringah mengacungkan jempolnya kearah Riri. Riri hanya bisa tertawa tertahan melihat tingkah Pak Doni itu.


"Ck! Dia pasti sedang marah padaku. Kenapa dia yang marah sih? harusnya kan aku! Terserah deh" gerutuku sendiri


"Aku baru ingat tadi ada pesan dari Sugi yang belum aku baca" ia lalu membuka pesannya itu


"I love you 😘, I'm sorry 😔"

__ADS_1


"Halah!" Gumamku dan memutuskan untuk tidak menjawab pesannya itu dan kembali ke pekerjaanku yang sempat tertunda.


__ADS_2