
Ketika pintu dibuka dan mereka masuk ke dalam sebuah musik instrumen terdengar dimainkan oleh seorang musisi dengan pianonya. Nampak juga dua orang pramusaji laki-laki berpakaian rapi mirip seperti butler bersiap untuk membantu kami untuk mengambil tempat di meja bundar.
"Riri... lesehannya kok begini?" Pekik Bu Ina tertahan karena kaget sambil tersenyum geli melihat kearahku
"Ini ide Sugi bu, dia yang mengurus semua. Aku dilarang cape" jawabku sambil menoleh ke arah Sugi
Sugi tersenyum "saya hanya memberi ide Bu, yang repot tetap pak Doni"
Bu Ina mengacungkan jempolnya pada Sugi dan pak Doni "ini keren banget loh"
"Terimakasih Bu" Sugi dan pak Doni menjawab hampir berbarengan
Menu makanan yang dipilih Sugi hari ini pun sangat spesial. Dimulai dari makanan pembuka berupa sup krim jamur. Seorang laki-laki pramusaji tadi dengan sigap mengatur sup tadi diatas meja. Sedangkan yang lain nampak menuangkan air mineral dingin pada masing-masing gelas. Semua sibuk dengan makanan pembuka, dentingan piano pun masih mengiringi makan malam ini.
Makanan utama akan di hidangkan. Pramusaji mulai mengangkat mangkuk sup tadi dan berganti dengan sepiring steak yang dihidangkan dengan gravy sauce, kentang tumbuk dan tumis sayuran. Sebotol anggur merah pun di buka, mereka menuangkan sedikit ke dalam gelas wine dan menyerahkan wine tersebut kepada Damar.
Damar nampak tersenyum lebar pada Sugi yang kini membuka telapak tangannya sambil mengangguk. Ia membuat gesture mempersilahkan Damar untuk mencobanya terlebih dahulu.
Damar menyesap wine tersebut dan meneguknya sedikit. "Nice" ujarnya sambil menyerahkannya kembali pada pramusaji untuk mengisinya lagi.
Sugi menoleh kearah Riri disebelahnya sambil tersenyum. Dibawah meja ia mengelus-elus lembut paha Riri sampai pada lututnya. Hal itu tentu saja membuat Riri blingsatan, namun hanya mampu meredam kekagetannya sendiri dalam hati.
Riri menangkap tangan Sugi sambil mendelik dan tersenyum padanya. "Tanganmu nakal, tolong diajarkan sopan sedikit" bisiknya pada Sugi
"Maaf katanya, dia gemas pada wanita menawan di sebelahnya ini. Pacar siapa sih? Boleh di cium nggak?" bisik Sugi sengaja menempelkan bibirnya di telinga Riri
Hembusan napas hangat dan bibir lembut yang bersentuhan langsung di telinganya sontak membuat sekujur tubuh Riri merinding. Ia nampak menutup bibirnya dengan satu tangan untuk menahan gejolaknya saat ini. Sugi langsung terkekeh melihat reaksinya
"Kalian bisik-bisik apa sih? Kok kayaknya seru banget. Ibu jadi pengin tahu hahahaha" Bu Ina tergelak melihat tingkah laku keduanya sedari tadi
"Riri katanya terharu dengan acara ini bu" ujar Sugi sambil tersenyum lebar ke arah Bu Ina kemudian ke arah Riri disertai kedipan singkat di matanya. Riri hanya bisa menghela napasnya.
"Ting..Ting..Ting!" Damar memukul pelan gelas wine di tangannya dengan sendok.
"Perhatian semua, saya ingin berterimakasih pada sahabat saya Sammy. Untuk segala bantuannya selama ini. Bahkan sampai hari ini pun peresmian kantor yang awalnya di niatkan kecil-kecilan menjadi luar biasa begini berkat campur tangannya secara langsung. Satu hal lagi saya benar-benar merasa bersyukur di pertemukan dengan orang sebaik dan sepintar Sammy, terimakasih juga sudah menjaga Tari dengan sangat baik di masa-masa sulitnya. Saya berhutang banyak bro"
Ia menaikkan gelas winenya "cheers!!"
__ADS_1
"Cheers!!! Jawab Semua orang sambil menaikkan gelas mereka
Bunyi berdentang terdengar pelan, saat Damar melakukan tos gelas pada gelas wine Sugi. Kemudian semua nampak sibuk menyesap wine masing-masing dan mulai menyantap makanan utamanya.
"Yo, hutang yang kamu sebutkan tadi aku pastikan akan dibayar oleh Riri, secara mencicil seumur hidupnya hehehehe ya kan sayang?" Sugi tergelak sambil menyenggol pelan lengan Riri. Suasana menjadi riuh kembali. Riri terlihat kaget dan menggigit bibirnya menahan rasa malunya.
"Itu lah tujuanku sebenarnya, aku memang sengaja membiarkan kalian dekat hahahaha" jawab Damar sambil tergelak
"Cie Riri kode nih... Kode" celentuk Gia sambil ikut terkekeh
"Oh gitu, jadi selama ini diam-diam aku dijual Damar buat nebus hutang ya? Bu Ina...aku merasa ternoda!!" Riri menggeleng memasang wajah memelas
"Tapi suka kan?!" Celentuk Sugi yang kembali membuat suasana menjadi Riuh, suara tawa terdengar menggema dalam ruangan ini.
"Halah sinetron! dasar hahaha" Damar melemparkan sebutir kacang polong yang mengenai kepala Riri di depannya. Riri nampak tergelak lalu membalas melempar kacang polong ke arah Damar
"Hahahaha kalian ini kocak semua ya ampun dah" Bu Ina nampak tertawa lepas. Ia kemudian nampak menyeka air matanya dan menghela napas.
Sepanjang acara makan malam ini, selalu saja ada celetukan-celetukan terlontar yang mengundang tawa semua orang. Sungguh makan malam yang hangat dan berkesan.
"Makan malam ini menyenangkan. sayangnya waktu berjalan sangat cepat. Ternyata ini sudah larut" Bu Ina melirik jam di pergelangan tangannya
Bu Ina dan paman Arya berdiri, diikuti oleh semua orang.
"Bu Ina sama paman harus pamit yah Damar, Riri. Lain waktu kita ulang lagi. Ibu dan paman bahagia dan bangga melihat kalian berdua. Kami yakin orangtua kalian pasti merasakan hal yang sama" Bu Ina mengerjapkan matanya lalu memeluk Damar dan Tari dengan Erat
"Terimakasih sudah mengundang kami kemari, paman juga merasa makan malam ini sangat menyenangkan" ia menepuk dan mengelus lengan Damar
"Kami yang berterimakasih ibu Ina dan Paman Arya karena sudah bersedia datang"
"Ah kamu ngomong apa sih Damar. Kami kan orang tua kalian juga. Ya harus datang dong. Ya sudah kami pamit pulang. Oh iya jangan lupa kalian semua main kerumah ibu. Mari nak Sugi, Gia, pak Doni" sahut Bu Ina kemudian beranjak dari tempatnya ditemani oleh paman Arya
"Bu Ina kabar mobil pesanan kami gimana?" Riri menyambar lengan Bu Ina saat menuju keluar
"Minggu ini harusnya sudah datang, nggak sabaran sekali si cantik ini" ia mencubit lembut pipi Riri
"Aku penasaran hehehe, mobil pesanan Sugi juga kan?"
__ADS_1
"Ya sama, bareng kok datangnya"
"Yay! Terimakasih Bu Ina, terimakasih paman"
Bu Ina dan paman nampak tersenyum
"Iyah Riri, Bu Ina pulang ya" ia mengelus pundak Riri lalu masuk ke dalam mobil
"Salam buat Adik ya"
"Iyah nanti ibu sampaikan, baik-baik yah kalian" ia melambai pada Riri dan yang lain
"Paman pulang yah" Paman Aryo menekan klakson mobilnya lalu kendaraan mereka melaju menjauh dari sana
"Yo aku sama Riri pergi duluan ya, mau mengajaknya ke suatu tempat. Mungkin kami pulang besok" kata Sugi
"Hati-hati yah, jaga adikku" jawab Damar sambil menepuk lengan Sugi
"Pasti, tenang saja" Sugi menarik lembut lenganku, nampak satu tangannya memegang tas yang aku bawa tadi
"Kita mau kemana?" Aku menoleh kearah Sugi
"Ada deh" ia tersenyum
"Kak aku pergi ya" kataku pada Damar
"Iyah Bawel" Damar menekan-nekan bagian atas kepalaku. Aku hanya tertawa mendengar jawabannya
Ku lihat Gia berdiri di ambang pintu, Aku berlari menghampirinya "Gia aku duluan, inget kabari aku ya" ujarku sambil memeluknya erat
"Iyah pasti" katanya dengan wajah berseri-seri
Dengan bergegas aku menghampiri Sugi yang sudah menungguku disamping mobilnya.
Saat Sugi hendak melajukan kendaraannya, aku memeluknya dengan erat.
"Terimakasih sayang, kamu memang yang terbaik"
__ADS_1
Ia tersenyum dan mengelus kepala Riri dengan lembut "my pleasure baby, yuk berangkat"