Cinta Untuk Mentari

Cinta Untuk Mentari
Rencana Riri


__ADS_3

Sugi memandangi ponselnya setelah ia membaca pesan dari Riri. Riri mengabarkan kalau dia sudah sampai di kosnya, dan meminta ijin tidak bekerja beberapa hari sampai dia merasa lebih baik.


Sugi bangkit dari duduknya dan berjalan keluar ruangan dengan gelisah. Ia telah mulai terbiasa dengan kehadiran Riri dalam hidupnya, ia merasa tidak bisa kehilangannya begitu saja.


"Sepertinya aku tahu apa yang harus aku lakukan?!" Tangannya mengambil ponsel di kantong celana untuk menghubungi asistennya.


"Pak Doni, kirim seseorang untuk memantau Bu Riri mulai malam ini. Dia sekarang ada di kosnya, informasikan ke saya kemana dia pergi dan bertemu siapa setiap hari"


"Baik pak" Jawab Pak Doni tanpa bertanya lebih lanjut


Sugi memutuskan sambungan teleponnya.


Sementara Riri di kamar kosnya sedang berusaha untuk memejamkan matanya. Setiap ia memejamkan mata yang terbayang hanya wajah menjijikkan milik Hadi.


"Sial, kenapa ingatnya malah wajah si monyet itu sih?. Riri bangkit dari tidur kemudian duduk memeluk kakinya. "Sekarang apa yang harus aku lakukan? Apa aku harus resign dari Hotel dan melanjutkan pekerjaan di Restauran sampai masa kontrakku selesai? Kalau aku masih bekerja di Restauran Aku khawatir paman akan datang mencariku sampai kesana" bathin Riri


"Kalau aku resign artinya aku harus sudah menemukan pekerjaan baru sebelum pergi dari sana. Hmm besok, dipagi buta aku harus mengambil sepeda motorku di Sentral parkir"


"Tapi bagaimana caranya bangun pagi, kalau saat ini saja mataku tidak bisa terpejam. Sepertinya aku harus melakukan hal ini lagi". Pikir Riri lagi.


Riri beranjak dari tempat tidurnya dan memakai sepatunya. Dia berlari mengelilingi gang sekitar kos nya selama beberapa kali sampai ia merasa lelah. Dulu saat perasaannya sedang tidak baik ia selalu melakukan hal ini, lumayan bisa mengalihkan pikirannya. Setiap kembali dari berlari, ia lalu mandi dan beristirahat. Ia akan tertidur karens kelelahan walaupun hanya selama beberapa jam saja. Disaat-saat seperti ini Itupun sudah cukup baginya.


Di kegelapan, anak buah Sugi merekam Riri yang sedang berlari mengitari gang dan mengirimkannya pada Sugi.


Sugi pun tidak bisa beristirahat dengan tenang karena memikirkan Riri. Ponselnya bergetar. Sugi melihat ponselnya, anak buah yang memantau Riri mengirimkan video Riri sedang berlari mengelilingi gang. Sugi tersenyum sedikit lega, karena mengetahui Riri sedang melakukan kegiatan yang baik untuk mengalihkan pikirannya. Dia pun merasa tergerak untuk melakukan hal yang serupa. Ia lalu beranjak dari tempat tidurnya dan menuju ruang gym pribadinya.


Keesokan hari, seperti rencananya semalam ia telah bersiap-siap sekitar pukul 5 pagi untuk mengambil sepeda motornya. Ia semalam sudah berpesan pada salah satu tukang ojek pangkalan untuk mengantarkannya kesana. Dilihatnya tukang ojek tersebut telah menunggunya di depan gang. Anak buah Sugi pun telah siap mengikuti Riri kemanapun dia pergi.


Siang ini Riri pergi ke salah satu Internet Cafe yang letaknya tidak jauh dari tempat tinggalnya, untuk mencari lowongan pekerjaan. Ia berniat langsung mengirimkan lamaran kalau ada yang sesuai dan menarik perhatiannya. Seperti biasa lowongan yang ia cari tentu saja yang tidak mengharuskannya bertemu dengan banyak orang.


Sudah dua hari berturut-turut ia kemari. Dengan perasaan sedikit kecewa di hari kedua ini pun tidak banyak lowongan yang sesuai dengan keinginannya.


Saat ia sedang berkonsentrasi nampak seorang pegawai internet cafe disana sedang menempelkan kertas di papan pengumuman. Dia juga menempelkan kertas yang lain di atas meja kasir.


Karena merasa bosan, Riri akhirnya memutuskan untuk pulang. Ia beranjak dari duduknya dan menuju kasir untuk membayar.


"Berapa kak?" Tanyanya pada seorang pegawai


"Dua puluh lima ribu kak" jawabnya

__ADS_1


Aku mengambil dompetku dari dalam tas, mataku tiba-tiba tertuju pada tulisan yang tertempel diatas meja kasir. Disana tertulis ada lowongan admin sales di satu villa yang lokasinya tidak terlalu jauh.


"Coba aja kirim kak, siapa tahu keterima" kata pegawai itu dengan wajah ramah


"Boleh deh" jawabku lalu kembali ke tempatku semula


"Mudah-mudahan yang ini berhasil" gumamku sendiri sambil segera mengirimkan lamaran.


Ponselku berbunyi, kulihat Gia melakukan panggilan.


"Halo Gia" ujarku


"Apa kabar Bu Riri? aku kesepian di kantor hiks" jawabnya dengan nada seperti anak kecil


"Baik yak, kan ada Bu Suci. Masa sepi?"


"Ihh orang itu lagi, dia lagi merasa diatas angin. Abis kamu di skorsing, pagi-pagi ketawanya renyah banget. Ketemu aku langsung buang muka pake "cuih" gitu hahaha. Pengin ku colok aja matanya" cerocos Gia sambil terkekeh


"Masih benjolnya?"


"Udah mulai kempes, ck! Dunia nggak adil yah ri?!"


"Hmm Gia aku mau resign..."


"Tapi jangan bilang pak Daniel duluan yah"


"Iyah, eh Kerjaan mu di Restauran gimana?"


"Masih"


"Ketemuan yuk Ri, kangen"


"Boleh tapi jangan sekarang yah" kataku datar


"Ih kenapa? Eh kamu kok kayak nggak semangat. Ada masalah yah di Restauran? Managernya jahatin kamu yah?"


"Nggak ada apa-apa yak, aku lagi cape aja"


"Kamu di Restauran? Aku samperin yah?"

__ADS_1


"Aku hari ini ambil cuti, pengin istirahat aja"


"Tuh kan pasti ada hubungannya sama pak Manager yah?"


"Nggak ada Gia, dia baik sama aku. Bahkan baik banget" tiba-tiba aku merasa sedih mengingat Sugi dan apa yang telah dia lakukan untukku belakangan ini


"Ya deh, kamu baik-baik yah. Nanti aku telepon lagi. Jam makan siangku dah mau abis. Aku balik kantor dulu"


"Hmm Iyah" jawabku, Gia memutuskan sambungannya.


Setelah berbicara dengan Gia, ia tiba-tiba menjadi merasa bersalah pada Sugi.


Riri mengambil ponselnya berniat untuk mengirimkan pesan pada Sugi.


"Hi" Riri memperhatikan ketikannya dan menghapusnya, lalu mengetik "apa kabar Sugi?" Lagi-lagi rasanya tidak tepat lalu menghapus ketikan itu lagi. Ia menatap ponselnya lama lalu menutup wajahnya yang lelah "sudahlah!" Ujarnya lalu bergegas keluar dari tempat itu.


Di tempat parkir Riri kembali termenung, kemudian mengambil ponselnya kembali, berniat menghubungi Sugi secara langsung. Tapi tangannya seperti beku, tidak mampu menekan tombol gambar berbentuk gagang telepon pada layarnya ponselnya.


"Memangnya aku siapa? bisa dengan santainya menghubungi dia tanpa berita penting. Nanti kalau tersambung, aku bilang apa padanya? aku kenapa sih jadi begini?"


"arghh!!" kata Riri geram, tangannya mengucek rambutnya sendiri merasa frustasi.


Dari kejauhan orang suruhan Sugi merekam semua yang baru saja Riri lakukan dan mengirimkannya kepada Sugi.


Di kantornya, Sugi menonton rekaman video terbaru Riri. Dia terlihat sedang melamun beberapa menit kemudian melalui ponselnya mencoba menghubungi seseorang. Lalu nampak frustasi mengucek rambutnya sendiri.


Sugi tersenyum geli melihat tingkah lakunya yang aneh.


Acara menontonnya pun harus terhenti karena ada telepon masuk dari Ayahnya.


"Ya Ayah" jawab Sugi


"Prediksi kamu benar, para pemegang saham nampaknya menginginkan kamu berada disini lebih cepat dari yang ayah duga" Kata Ayahnya, Danu Wijaya dengan nada serius


"Pasti mereka minta peresmiannya tepat di ulang tahun perusahaan kita kan?" tebak Sugi


"Hahahaha Kamu benar-benar ahli meramal, jangan-jangan kamu jurusan perdukunan ya? waktu di luar negeri" Ayahnya terkekeh


Sugi ikut terkekeh mendengar ujaran ayahnya.

__ADS_1


"Ya Sudah kalau begitu. Untuk jadwal acaranya nanti sama pak Doni ya"


"Siap yah" jawab Sugi yakin


__ADS_2