
Riri sedang bersiap-siap untuk bekerja kembali di Restauran pagi ini. Ponselnya kemudian berbunyi, dilihatnya pak Doni melakukan panggilan.
"Selamat pagi pak Doni" aku menjawab teleponnya
"Selamat pagi Bu Riri, saya hanya ingin memberitahukan bahwa Bu Riri per hari ini tidak perlu lagi datang dan bekerja di Eat and Love"
Aku tiba-tiba merasa sedih mendengar informasi yang diberikan olehnya "Ada masalah apa pak? Kontrak saya bukannya belum berakhir?"
"Tidak ada masalah Bu Riri, hanya saja ada pergantian manager dari kantor pusat. Pak Sugi sekarang tidak lagi mengurus Restauran Eat and Love. Beliau memiliki tanggung jawab baru di tempat yang berbeda"
"Oh begitu" kataku sedikit kecewa "artinya aku tidak bisa bertemu lagi dengannya seperti biasa" gumamku dalam hati
"Mengenai gaji Bu Riri, akan diberikan semua per bulan ini, sesuai kontrak. Tidak apa-apa Bu, pak Sugi sudah merasa sangat terbantu selama Ibu ikut bekerja disini. Itu kenapa gaji Bu Riri dibayar penuh" ujar Pak Doni lagi dengan suara sangat bersemangat
"Baik pak, saya mengerti. Sampaikan terimakasih saya untuk Pak Sugi.Terima kasih yah pak untuk perhatiannya selama ini, saya juga masih merasa berhutang Budi sama pak Sugi dan pak Doni"
"Tidak usah di pikirkan Bu, semoga Bu Riri selalu sehat dan bersemangat"
"Sama-sama pak" kataku mengakhiri percakapan kami.
Aku termenung di depan pintu, rasanya ada sesuatu yang hilang dari hidupku. Aku sendiri tidak mengerti kenapa aku merasa tiba-tiba kosong seperti ini.
"Ya sudahlah" aku mengangkat bahuku. Aku kembali masuk ke kamar, tiba-tiba ponselku berdering lagi. Ada sebuah nomor yang tidak aku kenali menghubungi ku.
"Halo Selamat pagi" jawabku
"Selamat pagi, apa benar dengan Riri Amelia?" Suara seorang perempuan terdengar ramah diujung sana
"Iyah saya sendiri"
"Saya Anisa dari Villa Padi. Anda diminta datang untuk interview hari ini jam sepuluh pagi. Apa berkenan?"
"Baik Bu, saya bisa. Nanti saya akan bertemu dengan siapa Bu?"
"Dengan Ibu Yuli bagian Sales"
"Baik Bu , terimakasih informasinya"
__ADS_1
"Terimakasih kembali bu" jawabnya kemudian memutus pembicaraan kami.
"Sebaiknya aku langsung saja mencari lokasi villa tersebut lebih awal. Biar nanti tidak kebingungan dan mepet dengan jam interview" gumam Riri sembari mengambil jaket dan helmnya dengan semangat.
Akhirnya setelah interview berakhir Riri diterima di Villa tersebut sebagai admin sales. Ia diminta mulai bekerja Minggu depan.
Di hari berikutnya, Riri nampak santai memasuki Hotel Z di siang hari. Ia pergi ke Hotel Z dengan menggunakan ojek langganannya, agar tidak perlu ke Sentral Parkir terlebih dahulu. Beberapa staf menyapanya ketika berpapasan. Termasuk salah satu staff kantor depan kesayangan Suci, yang bernama Ajeng.
"Selamat siang Bu Riri. Makin glowing aja Bu setelah mendekam sekian hari dirumah hehehe, enak yah bisa istirahat" katanya cengengesan
"Siang, makasih" kata Riri datar kemudian berlalu dihadapannya. Nampak staf tersebut mencibirnya dari belakang
"Muka udah Biasa aja, nggak usah pake ngejek mbak. Tambah nggak enak diliat tahuu!!!" Ujar Riri tanpa menoleh
Staf itu kaget dan menahan amarahnya mendengar apa yang baru saja Riri katakan. Buru-buru ia menghubungi Suci mengabarkan kalau Riri datang ke kantor hari ini.
Sesampainya di Kantor, Gia berlari kegirangan menyambutku "Astaga Riri, datang ke kantor kok nggak ngabarin aku dulu sih?" Kata Gia dengan wajah manyun. Beberapa staf di ruangan itu melihat kami dengan wajah senang.
"Biar kamu kaget" jawabku sambil tersenyum
"Iyah, mestinya lewat email saja yah. Tapi kurang mantap rasanya kalau nggak pamitan sama kamu, pak Daniel, yang lain juga" jawabku juga sambil berbisik
"Yah keduluan kamu. Aku paling bulan depan juga bye-bye hehehe. Cape juga kerja sama orang lain"
"Kenapa ikutan resign sih? Kan kesian pak Daniel"
"Biarin aja dia sibuk sendiri, nanti aku suruh dia minta bantuin si menor tuh" kata Gia dengan wajah sewot.
"Hehehehe" aku terkekeh sambil menggeleng
"Pak Daniel ada di dalem, masuk aja" serunya
"Ok" jawabku sambil berlalu masuk ke ruangan Pak Daniel
"Tok! Tok!Tok!" Aku mengetuk pintu ruangan pak Daniel
"Masuk" kata pak Daniel, sambil menoleh kearah pintu masuk
__ADS_1
"Ya Ampun Riri, aku kangen. Apa kabar kamu? Duh pusing deh nggak ada kamu dikantor. Heran, kenapa justru kamu sih yang harus di skorsing?" cerocos Pak Daniel dengan gaya kenesnya seperti biasa.
"Baik pak, pak Daniel gimana? Sehat?"
"Duhh gimana mau sehat? Migrennnn!!! Eh bentar bukannya hukumannya masih beberapa hari lagi kan? Eh jangan bilang kamu ke kantor mau resign. Haduhhh" pak Daniel memegang kepalanya dengan wajah khawatir
"Iyah pak hehehe" kataku sambil terkekeh
"Whattt??!!!! Haduh nggak bisa gini Riri.. RIRI!!!... Haduh gimana team Sales kita? Makkk palaku puyeng!" Pak Daniel sedikit mendramatisir keadaan "kita ke Toni, dia harus bertanggung jawab untuk ini semua" Pak Daniel menarik tanganku menuju ruangan HRD.
Gia hanya melongo saat Pak Daniel lewat di depannya sambil menarik tanganku. Aku hanya bisa menggeleng ke arahnya.
Pak Toni yang sedang mempelajari dokumen dihadapannya terkejut saat melihat Pak Daniel masuk begitu saja ke ruanganya sambil menggandeng tangan Riri.
"Duh pak Toni, gimana ini si Riri minta Resign. Sudah saya prediksi kan waktu itu" Kata pak Daniel pada pak Toni dengan muka sedih
Wajah Pak Toni bertambah kaget mendengar apa yang pak Daniel sampaikan. "Benar Riri?" Tanyanya pada Riri
"Benar pak, ini saya bawa surat pengunduran diri saya per hari ini. Saya juga sempat membaca kontrak saya disini ternyata memang tidak mengikat, jadi yah saya resign seperti yang pak Daniel katakan" aku mengambil Surat dari dalam tas ku kemudian aku letakkan di hadapan pak Toni.
"Tapi kalau resign langsung perhari ini, kamu tidak dapat full gaji. Hanya gaji pokok saja, itupun di hitung harian. Tidak apa-apa?"
"Kan gaji saya memang sedang di potong pak, bapak lupa yah? Atau kalau ternyata nominalnya kecil sekali bapak simpan saja deh buat Bu Suci, siapa tahu benjol lagi hehehe" kataku sambil bergurau
Wajah pak Toni terlihat sedih dan merasa bersalah "maafkan bapak yah Riri"
"Tidak apa-apa pak, saya tidak menyalahkan siapa-siapa. Memang nasib saya saja yang kurang baik" jawabku menenangkan pak Toni
"Saya berterima kasih sekali pada pak Toni dan pak Daniel sudah sangat baik pada saya selama saya bekerja disini. Sayangnya saya memiliki rencana sendiri untuk masa depan saya"
Pak Toni menyalamiku "saya mengerti Riri, semoga dimanapun Riri bekerja nanti bisa lebih baik daripada disini"
"Iyah pak, keep in touch ya pak" kataku
Pak Daniel terlihat emosional, ia terisak saat memelukku "jangan lupa sama pak Daniel yah Ri. Baik-baik di tempat baru nanti"
"Iyah pak, tenang saja saya akan baik-baik saja" sahutku sambil ikut memeluk pak Daniel.
__ADS_1