
Pagi Ini apartemen yang ditempati oleh Silvi terlihat sangat berantakan. Bantal-bantal, pakaian, selimut, puntung rokok dan botol minuman keras nampak bercampur aduk disekitar lantai tempat tidurnya
Semalam dengan sangat terpaksa ia singgah di suatu minimarket untuk membeli perlengkapan serta barang pribadi termasuk rokok dan beberapa botol minuman keras. Selama ini ia jarang sekali membeli sendiri barang apapun yang ia butuhkan, namun kali ini mau tidak mau ia harus melakukannya sendiri.
Silvi yang nampak gusar sedang berjalan mondar-mandir di apartemennya. Berulangkali ia terlihat memutar-mutar ponsel ditangannya seperti sedang memikirkan sesuatu. Wajah dan rambutnya terlihat acak-acakan akibat semalaman terjaga karena memikirkan cara agar bisa mendekatkan dirinya kembali pada keluarga Wijaya.
"Tante Rita yang peot itu pasti masih ragu padaku, aku yakin ia menyuruhku pulang bukan hanya untuk urusan pekerjaan... Iya kan?! Pasti ada sesuatu yang ia sembunyikan"
"Ahhh tapi nggak mungkin si nenek peot bisa berencana sejauh itu...mmm apa jangan-jangan dia memberikan aku kesempatan sekali lagi. Iya sekali lagi.... Aku yakin itu hehehe"
"Eh tunggu dulu, tapi kenapa rasanya agak aneh. Kenapa aku ditempatkan di apartemen yang jauh dari rumahnya sih?? Dasar nenek peot sial!" Gerutunya
"Iya...iya masuk akal sih, kan dia masih belum seratus persen percaya lagi padaku hahahahaha... Awas kau nenek peot, aku akan melakukan apa saja untuk mendapatkan keinginanku. Lihat saja apa yang aku bisa perbuat setelah semua sesuai dengan rencanaku hahaha yes!!! Hahahaha!!!..."
Mulutnya komat-kamit berbicara dan tertawa-tawa sendiri sambil berjalan kesana kemari tanpa jeda
"BHUG!!!" aw!!!" Teriaknya karena terpeleset dan jatuh ke lantai, matanya pelan-pelan terlihat terpejam. Lima menit berlalu ia masih terbaring di tempat yang sama, namun kali ini napasnya terlihat teratur.
Sementara itu Riri sedang bersiap-siap untuk pergi ke kantornya seperti biasa. Sedangkan Sugi nampak sedang menikmati kopinya di meja makan sembari menunggu pak Doni
"Pak Doni belum datang?"
"Belum, mungkin sebentar lagi. Katanya tadi sudah on the way kemari"
Ia memandangiki sambil tersenyum
"Kenapa? Ada yang aneh dengan bajuku?"aku memeriksa kemeja biru dan rok hitam yang aku kenakan
Ia menggeleng "nggak kamu kelihatan segar dan cantik"
"Ck! Kopinya sudah berfungsi utuh yah dilambungmu. Tadi aja aku bangunin susah banget"
"Hehehehe Tidurku nyenyakkkkk banget semalam... Terimakasih ya sayangku"
"My pleasure!" sahutku sambil duduk disebelahnya
Tangannya terulur menyentuh anak-anak rambut yang menyembul di dahiku
"Semalam aku benar-benar rileks loh waktu kamu pijat dan tempelin handuk dingin. Kamu kok tahu aja sih?"
"Pengalaman pribadi aja, kalau lagi cape aku suka kompres es dibelakang leher. Rasanya nyessss..."
"Kamu itu penuh trik dan tips ya hehehehe, eh aku serius soal omonganku semalam tentang buka tempat spa. Coba kamu buat konsep spa yang kamu mau, nanti kita brainstorming. Siapa tahu menarik"
"Sebenarnya sudah lama aku punya satu konsep spa, nanti deh aku tuangkan dalam tulisan"
"Tuh kan ? Nyonya yang banyak ide. Kenapa nggak pernah cerita kamu tertarik untuk membuka spa?"
__ADS_1
"Ya pelan-pelanlah sayang, lagipula aku sendiri belum yakin sama apa yang ada di pikiranku. Bisa jadi konyol kalau didengar orang lain hahahaha"
"Ck! Ayolah sayang, kalau sama aku hal paling konyolpun akan aku dengarkan. Apalagi itu isi pikiranmu. Menurutmu konyol kan belum tentu sama untukku"
"Iyah tenang aja, nanti aku siapkan konsepnya"
"Nah gitu dong, ah pasti seru nih"
"Maaf pak saya terjebak macet tadi, ada kecelakaan di depan" tiba-tiba pak Doni menyembulkan kepalanya di balik pintu
Sugi mengangguk
"Aku berangkat ya sayang"
"Hati-hati dijalan"
"Kamu juga, nyetir sendiri kan?"
Aku tersenyum melihat wajahnya yang khawatir
"Aku akan baik-baik saja, seperti biasa"
Ia menepuk pipinya di depan wajahku, memintaku untuk menciumnya. Aku melirik pak Doni yang langsung berbalik badan menuju mobilnya yang parkir di depan
Belum sempat aku mengecup pipinya, ia sudah terlebih dahulu mengecup bibirku lalu berdiri
"See you later, honey"
Sesampainya dikantor Riri pun memulai kesibukannya kembali. Telepon di mejanya berdering. Dari deringannya ia tahu yang masuk adalah telepon internal
"Selamat pagi, dengan Riri"
"Selamat pagi bu Riri, saya Rista. Bapak yang suka makan bubur datang lagi"
"Oh yang itu, kenapa dia?"
"Sekarang malah minta dibuatkan teh jahe gratis Bu untuk dibawa pulang. Katanya kenapa kemarin dapat hari ini malah nggak?"
"Oh hahahaha ya sudah, kasih aja lagi Ris"
"Tapi Bu, kalau tiap hari begitu kan kita rugi jadinya. Tahu gitu kemarin saya larang aja Ibu ngasih minuman itu ke dia"
"Tidak apa-apa Ris, kasih aja. Namanya orang tua kadang tingkah mereka memang begitu"
"Baik Bu"
"Oh iya Ris, pagi ini ramai? Nasi bungkus daunnya ada yang beli nggak?"
__ADS_1
"Ramai Bu, banyak yang beli!" Rista terdengar bersemangat
"Wah bagus deh Ris. Ya sudah, Sebentar lagi saya kesana"
"Iyah Bu"
Rista menutup sambungan teleponnya
Senyuman Riri nampak mengembang
"Tidak sia-sia aku memesan beberapa bungkus nasi untuk dijual kembali Warungku. Walaupun keuntungannya sedikit tapi bisa menambah jenis makanan untuk sarapan setiap pagi" gumamnya dalam hati
Setelah beberapa saat telepon di mejanya kembali berdering
"Selamat pagi, dengan Riri"
"Maaf Bu saya Rista lagi, si bapak katanya pengin ketemu Bu Riri sebelum pulang"
"Oh, ok tunggu sebentar saya kesan sekarang"
Setelah meletakkan telepon di meja aku terburu-buru menuju warung di sebelah. Lisa nampak bingung melihat langkahku yang tergesa-gesa
"Saya kesebelah sebentar yah Lis"
"Baik Bu" jawabnya sambil tetap memperhatikan Riri
Setelah sampai kulihat bapak itu sedang duduk dengan tenang di meja yang sama seperti kemarin. Rista memperhatikanku dengan wajah yang nampak sedikit terganggu dengan tingkah bapak tadi.
"Selamat pagi pak" sapaku dengan ramah
"Mmm" jawabnya singkat
Ia melirik ke depan "anda menjual nasi apa?"
"Nasi bungkus biasa pak, sejenis nasi kucing tapi yang ini lauk dan nasinya sedikit lebih banyak"
"Kok tulisannya tidak ada? dagingnya apa saya jadi ragu untuk membeli! Yang jelas dong!" Ujarnya dengan wajah kesal
"Daging ayam pak, nanti saya akan buatkan keterangannya. Hari ini saya lagi mencoba menambahkan varian menu sarapan disini, jadi ini mendadak pak. Maaf atas ketidaknyamanannya"
"Mendadak atau tidak harus tetap detail. Serius!!" Jawabnya ketus lalu berdiri dan pergi dari warung ini
Wajah Rista terlihat kesal, bibirnya seperti sedang mengatakan sesuatu tapi tanpa suara
"Wajahnya nggak usah di tekuk Rista, kamu kayak mau ketemu musuh saja"
"Sebel Bu, apa sih maunya bapak itu?" Bisiknya di depanku
__ADS_1
Aku menggeleng melihatnya "senyum Rista, tuh lihat yang datang untuk sarapan makin banyak loh" aku memberikan isyarat agar ia kembali fokus
"Tapi benar kata bapak tadi harusnya aku memasang nama makanan dan jenis daging di dalamnya. Agar yang membeli tidak perlu lagi bertanya-tanya" gumamku dalam hati