
Sugi sudah berada dalam perjalanan menuju ke kantornya. Ia terlihat termenung sambil mengetuk-ngetuk jari telunjuknya diatas paha.
"Pak Doni, gimana perintah saya yang kemarin?"
"Sudah pak, orangnya setuju"
"Ok, bagus" ujar Sugi, senyumnya mengembang penuh kelegaan
"Nanti siang saya akan menghubunginya kembali mengenai kelanjutannya pak"
"Great!" Ia mengangguk puas
"Pak, apa saya perlu mengirim orang untuk Bu Riri sekedar berjaga-jaga?"
"Tidak usah, mereka tidak akan berani macam-macam pada Riri dan Rio"
"Baik pak" jawab Pak Doni kembali berkonsentrasi pada jalan raya di depannya
"Kalau sampai itu terjadi Rio pasti siap menghajar mereka sampai babak belur. Dia memang tidak pernah menyebutkan kalau dia pemegang sabuk hitam, tapi aku yakin sekali dengan kegesitan yang dia miliki, dia sudah sejauh itu. Dan aku lebih yakin lagi ada strip putih tambahan di ujung sabuk hitam yang dia miliki" Sugi bergumam dalam hatinya
Sementara itu Riri dan Damar masih dalam perjalanan menuju kantor perusahaan ayah mereka. Untuk sampai disana memerlukan paling tidak satu setengah jam perjalanan.
"Pak Yudi, Notaris yang aku ajak hari ini bilang mau kesana sendiri. Sepertinya ia hapal daerah sana"
"Berkas-berkas untuk pemindahan hak sudah ia siapkan semua kan kak?"
"Sudah"
"Aku deg-degan heeee" kataku sambil tertawa lemah
"Ck! Santai sajalah"
"Kalau pemilik saham yang lain tidak ada yang berani membeli gimana kak?"
"Kita tawarkan saja pada orang di luar itu, pasti ada yang mau beli. Perusahaan ayah kan sebenarnya masih profit tapi tipis. Masih ada waktu untuk memperbaiki, hanya saja orang gila itu tidak mengerti caranya bagaimana"
"Kak aku tadi pagi ingat ayah" kataku pelan sambil menoleh padanya
Damar tersenyum "Aku bahkan dari semalam, tapi ya sudahlah. Aku tidak mau ada hubungan lagi dengan keluarga itu. Sudah cukup mereka membuat keluarga kita hancur, Tari"
"Oh iya nanti semoga saja aku bisa tenang dan sabar bertemu Hadi disana. Setiap ingat cerita Sammy tentang kejadian itu, Aku ingin sekali mematahkan batang lehernya" lanjut Damar penuh amarah
"Bisa jadi malah aku yang menerjangnya duluan, tapi kita nggak boleh begitu kak. Hari ini kita memang harus ekstra sabar bertemu dengan orang-orang jahat itu"
"Iyah kamu benar"
"Kak, kantor kita kan sudah selesai di renovasi, mulai operasionalnya kapan?"
"Setelah urusan ini selesai, tapi sebelumnya kita peresmian dulu yah. Buat syukuran sedikit, kita undang Sammy, pak Doni, Ibu Ina dan paman, juga... ehem Gia" kata Damar Tiba-tiba salah tingkah
"Hahahaha cieee.. aneh deh Gia kenapa belakangan tidak pernah menghubungiku lagi ya? Kalian hubungannya sudah sejauh apa sih?" Tanyaku penasaran
"Ada deh hahaha" ia terkekeh
"Ihhh sok misterius. Awas aja nanti Gia tiba-tiba ngambek, terus curhat ke aku karena dicuekin si workaholic. Dia pasti belum tahu kalau kamu tuh begitu"
Damar tergelak "Hahahaha ah gak gitu kok"
"Ck! Halah...hahahaha"
__ADS_1
Mereka sepanjang jalan asyik mengobrol tanpa menyadari telah masuk kawasan perusahaan yang dituju. Karena lokasinya berada di pinggir kota, suasana sekitarnya masih sangat asri. Banyak pohon-pohon besar di sisi kanan dan kiri jalan. Terdapat banyak bangunan baru yang berdiri secara acak ketika mereka lewat.
"Sekian tahun kita tidak pernah kemari, banyak bangunan baru ya kak! Tapi untungnya pohon-pohon besar sepanjang jalan ini masih sama seperti dulu" aku mengamati jalan sekitar kami
"Iyah banyak bangunan baru, kalau tidak salah dulu ada gudang beras besar di sekitar sini, masih inget nggak? Sekarang sudah beralih fungsi sepertinya" Damar menunjuk ke satu sisi jalan
"Oh iya aku baru ingat. Yang paling aku ingat setiap akhir tahun pohon-pohon besar ini akan berbunga kecil-kecil berwarna kuning. Bunganya sering rontok di terjang angin. Aku baru saja memperhatikan dahannya, sepertinya sudah mulai muncul kuncup-kuncup kecil"
"yang Wanginya khas kan? Kalau tidak salah nama pohonnya Angsana, kamu sering sekali minta kita menepi sebentar kalau bunganya sudah mulai gugur"
"Hehehehe ternyata kakak masih ingat"
"Tentu saja aku ingat, hampir setiap tahun kamu begitu" Damar menggeleng
"Sebentar lagi kita sampai Tari, kita hadapi mereka dengan tekad kuat!" Lanjut Damar sambil membelokkan mobilnya ke kanan dan masuk ke suatu bangunan besar di tengah-tengah tanah yang cukup lapang.
Tempat parkirnya cukup luas, terlihat banyak berjejer sepeda motor dan beberapa mobil disana. Damar memilih parkir di bawah pohon yang berada agak jauh dari sana agar terhindar dari teriknya matahari. Ia mengeluarkan ponselnya dan nampak menghubungi seseorang.
"Pak Yudi, saya sudah sampai disini"
"....."
"Ok, saya tunggu saja. Nanti kita bareng saja pak"
"...."
"Ya, ok"
Damar menoleh kearah Riri
"Pak Yudi sudah dekat, sebentar lagi sampai"
"Keadaan kantor ini masih sama yah kak, di bagian luar sepertinya tidak ada yang berubah"
"Iyah masih sama, tapi aku yakin karyawan di dalam sudah banyak yang baru. Atau mungkin semuanya orang baru"
"Kalau ada yang lama aku yakin mereka akan terbelalak melihat kita hahaha"
"Tentu saja begitu" Damar menyunggingkan senyuman
Tak berapa lama nampak sebuah mobil berjenis Jeep masuk ke dalam areal ini dan langsung mengambil spot parkir yang terletak jauh di ujung
"Itu pak Yudi" Kata Damar kemudian bersiap untuk turun begitu juga dengan Riri, ia langsung mengambil tas tenteng hitamnya dari jok belakang dan turun dari mobil.
Seorang laki-laki berumur sekitar empat puluhan, dengan tinggi badan sedang berbadan sedikit gempal terlihat turun dari dalam mobilnya.
"Pak Yudi!!!" Panggil Damar sambil melambai
Pak Yudi yang baru saja turun dari mobil menoleh ke arah suara, tangannya balas melambai dari kejauhan sambil tersenyum. Dengan bergegas ia bergerak mendekati kami.
"Selamat pagi pak Damar" ia menyalami Damar
"Selamat pagi pak Yudi, ini perkenalkan adik saya"
"Saya Yudi" katanya sambil melihat Riri dengan wajah terkejut, ia mengulurkan tangannya untuk bersalaman
Riri ikut mengulurkan tangannya "Saya Riri pak"
"Kalau tidak salah sepertinya saya semalam melihat Bu Riri di acara Wedding anniversary pemilik Wijaya Grup bersama pak Sugi. Apa saya salah mengenali ya?"
__ADS_1
"Iyah pak itu saya"
"Oh benar berarti saya tidak salah orang. Pantas saja atasan saya mendapat perintah langsung dari orang pusat untuk membantu Pak Damar" katanya tersenyum sumringah
"Mohon bantuannya pak" jawab Damar sambil tersenyum
"Tenang saja saya akan berusaha untuk membantu kalian dengan baik. Berkas-berkas yang diperlukan sudah dibawa semua? Termasuk akta warisnya?"
"Sudah pak, semua ada di dalam tas ini" Riri mengangkat tas hitam yang ia tenteng
"Bagus, kita masuk sekarang saja. Lebih baik menunggu di dalam"
"Iyah pak sebaiknya begitu, silahkan pak" Riri mempersilahkan pak Yudi untuk berjalan terlebih dahulu berdampingan bersama Damar
Kami masuk bersama-sama kedalam kantor. Seorang wanita, staf kantor depan menyambut kami dengan senyuman profesionalnya
"Selamat pagi, ada yang bisa saya bantu bapak, Ibu?" Katanya sambil berdiri
"Kami hendak mengikuti rapat pemegang saham di jam sepuluh Bu" ujar Damar sambil membaca nama Sani di bagian dada sebelah kiri wanita itu.
"Oh masih kurang lebih sejam lagi, silahkan mengisi buku kunjungan kantor terlebih dahulu. Nanti Bapak dan Ibu, bisa menunggu di ruang tunggu sebelah sana" ia menunjuk satu ruangan kecil tanpa sekat dilengkapi dengan satu set meja dan sofa
"Baik Bu" kata Damar sambil mengisi buku tamu yang disodorkan padanya tadi
Saat kami menunggu, seorang laki-laki nampak berjalan tertatih-tatih menggunakan alat bantu tongkat kruk keluar dari dalam lift. Langkahnya terhenti saat melihat kami. Matanya terbelalak tak percaya dengan apa yang ia lihat sekarang. Ia melihat Riri dan Damar sedang duduk di ruang tunggu.
"Damar?!!! Hah? Dia benar Damar... Apa yang telah terjadi? Kenapa Damar masih hidup?" gumamnya dalam hati. Wajahnya seketika berubah ketakutan seperti melihat hantu di siang bolong.
Damar tidak membuang kesempatan ini, ia bergegas berdiri menghampiri laki-laki pincang tersebut.
"Kakak!!! Jangan!!!" Riri berteriak saat mengetahui kakaknya mendekati Hadi, ia berlari untuk menyusulnya
Pak Yudi juga terkejut melihat apa yang terjadi, ia hanya mampu berdiri dan membeku di tempatnya
"Hei Bangs*t!!!" Damar merenggut kerah baju Hadi yang nampak semakin ketakutan, tangannya bersiap untuk memukul
Staf kantor depan yang bernama Sani berteriak histeris melihat perbuatan Damar pada Hadi, dengan tangan gemetar ia menekan nomor kantor satpam yang berada di depan untuk meminta bantuan
"Damar... Aku...aku minta maaf" katanya dengan suara gemetar
"Beruntung aku sedang tidak berada disini waktu itu, kalau saja aku bisa menghajar mu habis, sekarang mungkin bukan hanya kakimu saja yang pincang, anj*ng!!!" Teriak Damar dengan amarah ditelinga Hadi
"Kakak... Jangan!!! Kendalikan emosimu! Ingat kak, kita kemari bukan untuk ini" Riri mengusap lembut punggung kakaknya
Sejenak Damar masih menatap Hadi dengan penuh amarah, ia kemudian perlahan menurunkan tangannya dan melepas cengkeramannya pada leher Hadi
Damar mendengus kesal dan menjauhi Hadi untuk kembali duduk di ruang tunggu.
Sedetik kemudian dua orang satpam nampak berlari masuk
"bapak baik-baik saja?" Tanya seorang satpam pada Hadi
"Saya baik-baik saja" jawabnya masih dengan gemetar
"Apa kami perlu menahan orang yang menyerang bapak?" Tanyanya lagi
"Tidak usah, hanya salah paham. Tolong antarkan saja saya kembali ke ruangan saya" pintanya dengan suara lemah pada dua satpam tersebut
Tanpa bertanya kembali dua orang satpam tersebut membopong Hadi yang kini nampak lunglai. Kemungkinan besar karena ia kaget luar biasa melihat Damar ternyata masih hidup dan juga hampir saja di hajar olehnya.
__ADS_1