
Tangan Riri mulai gemetar menahan beban berat tubuhnya. Tenaganya seperti terkuras habis saat ini. Ia mencoba memindahkan posisi kakinya perlahan agar berat tubuhnya bisa bertumpu pada kaki. Namun kakinya tak sengaja terlepas dari dahan tempatnya berpijak. Ia hampir saja jatuh, beruntung tangannya dengan cepat mencengkeram kembali batang pohon di sebelahnya. Perlahan ia menaikkan kakinya kembali.
Keringat terlihat mengucur deras di pelipisnya. Degup jantungnya terdengar bertalu-talu. Sambil memejamkan mata ia menempel ketat batang pohon yang ada dalam pelukannya.
'Sial, semoga saja mereka tidak mendengarnya' batinnya
Suara gemerisik dahan tersebut membuat langkah Hadi dan anak buahnya terhenti. Senyum Hadi mengembang.
"Aku yakin dia pasti berada tidak jauh dari sini. Ayo cepat cari dia sampai ketemu!!!" Teriak Hadi pada anak buahnya
Cahaya senter kembali berputar-putar diarahkan ke sekitar tempat dimana keributan tadi terdengar. Mereka terlihat mendekat ke lokasi dimana Riri berada.
Dengan perasaan panik Riri memutar otaknya agar mereka tidak mendekat lebih jauh lagi. Riri akhirnya melihat beberapa ekor burung sedang hinggap pada pohon yang letaknya tak jauh dari sana. Dengan terburu-buru ia mematahkan sebuah ranting yang cukup besar dan melemparkannya ke arah burung tersebut. Kayu tersebut tepat mengenai sasaran dan membuat burung-burung itu bubar berterbangan.
"CUITT!!!" CUITTT!!! Suara mereka yang berdecit-decit keras memecah kesunyian hutan ini.
"Cuma Burung bos!!!" Teriak anak buah Hadi
"Biar lebih cepat Kita berpencar saja. Setengah melanjutkan pencarian ke depan. Sisanya di sekeliling sini saja" Jawab Hadi sambil bergegas pergi dari tempat itu
"Baik bos"
Mereka membagi diri menjadi dua kelompok dan segera melakukan pencarian lanjutan.
Riri melihat empat orang masih berputar-putar di sekitar sana. Ia tahu sebentar lagi mereka akan sampai kemari. Dengan perlahan ia pun turun dan mengendap-endap untuk bersembunyi di antara semak belukar tak jauh dari sana.
'Kalau aku tetap disini, mereka pasti akan menemukanku. Aku harus ke pesisir pantai yang arahnya berlawanan dari sini. Semoga saja tidak ada orang yang berjaga di rumah itu' gumamnya sambil kembali mengendap-endap perlahan-lahan menjauh dari sana.
Saat keadaan mulai sepi Riri pun kembali berlari kencang menuju arah tempat tinggal Hadi. Ketika sampai ia kembali mengendap-endap, khawatir ada orang yang berjaga di rumah itu. Perkiraannya tepat, ia melihat dua orang nampak sedang berjaga membawa tongkat dan parang di depan rumah.
Dua orang itu nampak waspada memperhatikan keadaan disekitar sambil mengobrol. Riri pun memutuskan memutar melalui belakang rumah yang gelap gulita. Dengan perasaan takut luar biasa akhirnya ia bisa melewati rumah itu dan kembali berlari kencang kearah pesisir pantai seperti yang dilihat dari kamar mandi Hadi.
Sementara itu Damar, Sugi, Dion, dan yang lainnya baru saja tiba disana. Mereka mengurungkan niatnya menggunakan helikopter agar tidak menimbulkan keributan. Mereka memiliki kekhawatiran kalau menggunakan helikopter yang bising bisa jadi Hadi kabur lebih awal dan tidak bisa ditemukan lagi. Pihak berwajib pun telah dihubungi dan saat ini sedang dalam perjalanan menuju kemari.
Mereka pun bergegas menuju rumah Hadi yang letaknya tak jauh dari pesisir pantai. Damar memperhatikan posisi Riri dari ponselnya. Terlihat jarak mereka sangat dekat.
"Dimana posisi Riri sekarang Yo?" tanya Sugi saat melihat raut kaget di wajah Damar
"Dia menuju kemari, kita tunggu sebentar disini" jawabnya sambil memberi tanda pada yang lain untuk bersembunyi
Benar saja, nampak Riri berlari kecil diantara semak dan pepohonan dengan hati-hati. Sugi pun mengendap-endap dan langsung menangkap tubuhnya. Riri hampir saja menjerit ketakutan namun tangan Sugi dengan cepat menutup mulutnya.
"Ini aku sayang" bisiknya
Tubuh Riri pun akhirnya mengendur, ia melepaskan rasa tegang yang menghantuinya sedari tadi. Ia memandangi wajah Sugi dengan penuh kelegaan
"Tari" Panggil Damar di belakangnya yang langsung memeluknya erat
Riri menoleh dilihatnya juga Dion, pak Doni dan yang lainnya berjongkok di kegelapan.
"Kakak" jawabnya lirih ia hampir saja menangis
__ADS_1
"Aku lega kamu baik-baik saja. Kamu tunggu disini sama Dion. Jangan kemana-mana, aku nggak mau kamu di culik lagi untuk kedua kalinya" ujar Damar
"Dion! Jaga Tari disini"
"Ya kak" jawab Dion dengan suara tegas
"Kalian hati-hati, mereka membawa senapan dan senjata tajam" sahut Riri dengan wajah khawatir
"Mereka sekarang sedang mencariku di hutan, ada sekitar dua orang yang sedang berjaga di rumah itu. Mungkin sebentar lagi Hadi akan kembali kesana"
Damar mengangguk
"Nggak usah khawatir Tari" ia melepaskan pelukannya
Sugi mengelus punggungnya "bersembunyilah di tempat yang aman, kami pergi dulu" katanya lalu bergegas memimpin serangan ini tanpa menoleh lagi
Riri memandang punggung mereka yang nampak menjauh perlahan
"Kamu benar baik-baik saja Riri?" Tanya Dion dengan suara pelan. Ia memincingkan matanya mencoba melihat Riri di kegelapan. Tangannya terulur untuk menarik Riri agar ikut duduk bersamanya diatas tanah diantara semak belukar.
"Aku sangat beruntung Dion, aku baik-baik saja" jawab Riri sembari mencari posisi duduk yang baik sebelahnya
"Apa... apa.. orang gila itu melakukan sesuatu padamu?" Ia menatap Riri
Riri menggeleng "hampir.." jawabnya lemah
Dion menghela napasnya tak mampu menanyakan lebih banyak lagi pada Riri yang kini nampak bersandar lunglai pada batang pohon di belakangnya.
'Ia pasti sangat kelelahan' pikirnya
Mereka sengaja tidak menyerang terlebih dahulu, untuk menunggu Hadi dan anak buahnya kembali. Dengan sabar semua bersiap di posisinya masing-masing
"BR*NGS*K!!! KEMANA WANITA LICIK ITU PERGI?!!! KALIAN SEMUA TAK BERGUNA!!! G*BL*K!!!"
Terdengar teriakan Hadi dari kejauhan.
"BESOK PAGI ANJING PESANANKU HARUS SUDAH ADA!! KALAU TIDAK, KALIAN YANG AKAN AKU KRANGKENG SEBAGAI GANTINYA ANJING!!!"
"POKOKNYA WANITA ITU HARUS KETEMU!!!
Suara itu terdengar semakin mendekat, saat mereka tiba serangan pun dilancarkan.
Anak buah Sugi langsung menyergap mereka dan pertarungan pun terjadi. Mereka tak sempat menggunakan senjata api yang ada di tangan mereka. Karena kecepatan serangan anak buah Sugi benar-benar membuat mereka gelagapan.
Hadi yang terkejut diam-diam mundur dan menyelinap melalui belakang rumah. Ia hendak kabur ke pesisir pantai. Dalam kegelapan seseorang menendangnya kuat-kuat. Ia tersungkur ke tanah.
Hadi pun buru-buru bangkit dan mengokang senapan anginnya. Belum sempat ia menembakkan senapannya ke arah tendangan tadi, seorang yang lain menendang tangannya dari belakang sehingga senapan tersebut lepas dari tangannya. Tanpa basa basi orang itu juga menjegal tepat di belakang lututnya. Ia kembali tersungkur. Namun kali ini tubuhnya langsung ditindih, Hadi pun tak bisa bergerak lagi.
"Kalian siapa?!!! Hah?!! B*NGS***!!!"
Damar pun keluar dari tempat persembunyiannya
__ADS_1
"Rupanya kamu, Damar!! Kamu terlambat. Hahahaha adikmu sudah kunikmati!!!... masa depannya hancur ditanganku!!!" Ujarnya sambil terengah-engah dengan posisi badan masih menelungkup
Damar hanya menatapnya penuh amarah. Tangannya seperti tak sabar ingin meremukkan wajah buruk itu
"Coba saja tanya adikmu besok pagi, itu pun kalau kamu menemukannya. Dia kabur setelah kunodai. Mungkin saja dia sekarang sedang mencoba bunuh diri hahahaha..."
Ia ingat wajah lelah Riri tadi, namun ia tak sempat menanyakan apa yang sudah terjadi.
'Apa benar yang dikatakan oleh Hadi ini?!' Damar masih di tempatnya, mematung dengan wajah garang. Emosinya mulai tersulut.
"Kau tak percaya padaku?! hahahaha... aku benar-benar puas Damar. Adikmu istimewa hahaha...pukul saja aku Damar. Bunuh saja aku!!! Setelah ini, mati pun aku rela!! Walaupun aku tak memiliki kehidupan layak lagi setidaknya Tari sempat kucicipi!!"
"Pak Damar!! Fokus pak!!" Seru Ridwan. Ia yang membantu Damar di kegelapan dan kini sedang menahan tubuh Hadi. Ia menyadari perubahan emosi Damar, apa yang dikatakan oleh Hadi kemungkinan besar akan menyulut kemarahan Damar.
"CK! Aku menindihnya berkali-kali Damar!!! Bisa kau bayangkan betapa bahagianya aku hahahaha"
"Lepaskan dia Ridwan" ujar Damar
Ridwan menatapnya ragu
"Saya bilang lepaskan dia!!!" Serunya pada Ridwan
"Tapi Pak Damar jangan gegabah... " ujar Ridwan sambil pelan-pelan melepaskan Hadi
Hadi pun bangkit dan berdiri tegak. Ia merapikan rambut dan pakaiannya. Tanpa memberi jeda lebih lama, Damar memukul perutnya dan wajahnya bergantian. Ia bahkan menendang rahang Hadi sampai Tubuhnya terpelanting kebelakang.
"Hahahaha..." Tawa Hadi terdengar nyaring seakan-akan mengejeknya
Ridwan sadar, emosi Damar sudah tak terbendung lagi. Kalau dibiarkan saja, bisa jadi Damar akan menghabisi nyawa Hadi dalam waktu singkat. Dengan secepat kilat ia berlari mencari Sugi, dalam benaknya hanya beliau yang mampu menenangkan Damar saat ini.
Sejenak terdengar derap langkah beberapa kaki berlari mendekat
"RIO!!!" Teriak Sugi
Ia melihat Damar memukuli Hadi secara brutal
Sugi mencoba menahan Damar agar tidak menyerang Hadi kembali.
"Diam kamu Sam!!! Jangan ikut campur. Ini urusanku. Aku akan menghabisi nyawa orang gila ini!!" Hardik Damar
"RIO!!! Dengar!!! kalau sampai orang itu benar-benar mati, kamu akan mendapat masalah besar. Ini nggak sebanding Rio!!!"
"Tapi si b*ngs*ttt ini sudah menghancurkan masa depan adikku Sam!!!" Teriak Damar suaranya terdengar bergetar
"Orang ini nggak layak hidup Sam!!! Dia dan ayahnya sejahat itu pada keluargaku!!!"
Sugi tetap menahan Damar dengan kedua tangannya "aku yang bertanggungjawab atas semua ini, apapun keadaan Riri aku akan tetap bersamanya. Percayalah padaku. Saat ini aku orang yang paling menginginkan orang ini lenyap, tapi bukan begini caranya"
"Rio, demi Riri please tenanglah. Aku pun yakin Riri juga akan menenangkanmu kalau dia ada disini"
Tubuh Damar bergetar, dadanya terlihat naik turun demi menahan amarahnya yang sedang meledak-ledak saat ini. Ia menarik napasnya berulang kali. Beberapa saat ia akhirnya bisa mengendalikan diri dan menepuk pundak Sugi
__ADS_1
"I'm okay now" sahutnya dengan wajah yang lebih rileks
Tanpa di sadari oleh semua orang, Hadi diam-diam mengambil senapan angin yang berada tak jauh dari sana. Ia mengokang senapan tersebut pelan lalu membidikannya ke kepala Sugi