Cinta Untuk Mentari

Cinta Untuk Mentari
Akrab


__ADS_3

Restauran di villa Lembayung nampak ramai siang ini. Meskipun ramai tak seorangpun mengobrol dengan suara keras sehingga suasana tenang bisa tetap terjaga.


"Selamat siang Bu Riri. Meja untuk berapa orang Bu?" tanya seorang pramusaji bernama Dewi menghampiriku


"Siang Dewi, Meja untuk tiga orang ya. Pak Kanis dimana ya Dewi?"


"Di kantor belakang Bu. Meja untuk tiga orang silahkan, Dewi mempersilahkan kami untuk mengikutinya mencari tempat yang sesuai


"Kak aku mau ke belakang sebentar, kakak sama Dion pesan aja duluan"


Damar dan Dion mengangguk lalu mengikuti Dewi


Riri pun bergegas ke belakang restauran untuk mencari pak Kanis.


Pak Kanis nampak sedang mengobrol dengan salah seorang staf, ia menoleh saat Riri menghampiri


"Bu Riri selamat siang, kapan sampai Bu?"


"Baru saja pak. Apa ada keluhan dari grup Bu Rita?"


Pak Kanis tersenyum "Tidak ada Bu, malah mereka menyatakan puas selama tinggal disini. Saya tadi melihat dari data form penilaian kepuasan yang biasa kita berikan pada tamu"


"Wah bagus, ayok ikut saya pak. Saya mau menyapa Bu Rita"


"Baik Bu" jawabnya lalu segera mengikutiku keluar.


Bu Rita yang sedang duduk sendiri diam-diam sedang memperhatikan Damar dan Dion dari kejauhan. Wajahnya terlihat khawatir ia merasa gelisah. Ia baru saja berniat untuk menghubungi Sugi, namun urung ia lakukan saat melihat Riri menghampirinya sambil tersenyum. Ia pun berdiri untuk menyapanya.


"Selamat siang Bu Rita" Sapa Riri sambil mencium pipinya kanan kiri.


"Siang Riri" ia menyambut Riri seperti biasa namun wajahnya kali ini terlihat sedikit kecewa


"Selamat siang ibu-ibu semua"


Beberapa orang menjawab sapaan Riri, sebagian lagi membuang muka tak peduli. Seperti biasa hal itu memang tidak pernah menggangu perasaan Riri sama sekali.


"Kok Riri bisa ada disini?" tanyanya penasaran


"Saya minta maaf sekali Bu sebelumnya, karena tidak sempat menginformasikan tentang Villa ini. Informasi kedatangan Bu Rita dan Ibu-ibu yang lain sudah saya ketahui sebelumnya, namun karena ada urusan mendadak, jadi saya tidak sempat menyapa ibu selama menginap disini" ujarku dengan tenang


"Maksudnya Villa ini milik Riri?" tanya Bu Rita dengan wajah terkejut


Beberapa ibu-ibu yang berada di dekat Bu Rita juga nampak menunggu jawaban Riri


"Iyah Bu" jawabku singkat yang sontak membuat ibu-ibu itu kaget luar biasa


"Wah saya tidak menyangkanya sama sekali" Bu Rita tersenyum tipis


"Karena saya masih baru di bidang ini tentunya masih banyak kekurangan Bu, sepertinya saya masih harus belajar banyak dari Bu Rita"


"Untuk orang yang belum berpengalaman pelayanan disini sudah luar biasa loh Riri. Riri ternyata memiliki bakat alami yang bagus dalam hal ini" kata Bu Rita dengan nada serius


"Ah Bu Rita terlalu memuji hehehehe" aku tertawa kecil


"Oh iya bu, apa ibu sudah pernah bertemu dengan pak Kanis, Manager Villa disini"


Pak Kanis tersenyum


"Iyah kita sempat berbincang waktu kami baru sampai disini" jawab Bu Rita sambil tersenyum pada pak Kanis

__ADS_1


"Gimana Bu Kesannya selama menginap disini?"


"Semuanya menyenangkan Riri, ibu dan yang lain sangat menikmati waktu kami yang singkat ini"


Ibu-ibu yang sedang berada di dekat mereka mengangguk sambil tersenyum seolah menyetujui apa yang dikatakan oleh Bu Rita


"Wah kami senang sekali mendengarnya, apalagi penilainya langsung dari seseorang yang sudah ahli dibidangnya" ujar pak Kanis menimpali


"Ahhh bapak bisa saja hahaha banyak yang lebih ahli loh pak" jawab Bu Rita


Pak Kanis ikut tertawa


Bu Teti nampak berbisik-bisik pada temannya mengenai apa isi pembicaraan Riri dan Bu Rita. Wajahnya dari yang hendak mencibir berubah terkejut. Ia tidak menyangka Riri adalah pemilik dari Villa luar biasa indah dan nyaman ini.


"Dan siapa laki-laki yang bersama Riri itu?" Bisiknya pada Riri, takut didengar oleh ibu-ibu yang lain.


"Oh itu kakak saya, sebentar saya panggil dulu" jawabku juga sambil berbisik


Aku menoleh ke arah Damar yang sedari tadi memperhatikan aku dari kejauhan. Aku melambaikan tangan untuk memanggilnya. Damar pun beranjak dan mendekat.


Semua orang yang ada di dalam Restauran memandangi Damar. Mereka terpana dengan paras maskulinnya di kombinasikan dengan kulit kecoklatan dan tubuh tinggi berotot ideal khas seseorang yang menyukai kegiatan fisik.


Ibu-ibu yang tadinya berbisik-bisik tiba-tiba senyap seketika saat melihat Damar mendekat kearah mereka.


"Selamat siang Bu, saya Damar kakaknya Riri" sapa Damar pada Bu Rita, ia mengulurkan tangannya


Bu Rita tersenyum ia menyambut uluran tangan Damar dengan antusias


"Pak Kanis ini kakak Saya, Damar"


"Saya Kanis" ujar pak Kanis menyambut uluran tangan Damar dengan semangat


"Oh Damar atau Rio kan? yang sempat beberapa kali diceritakan oleh Sammy!? Wahhh akhirnya saya bisa bertemu dengan teman baik Sammy sewaktu di luar negeri" kata Bu Rita penuh semangat


"Hahahaha banyak cerita di masa lalu bu. Kalau ibu sampai mendengar yang tidak-tidak tentang saya dari Sam, saya pastikan itu tidak benar-benar terjadi Bu" Damar tergelak


"Hahahaha tidak masalah Damar, masa muda memang masa yang penuh petualangan. Saya senang akhirnya kita bisa bertemu. Terimakasih ya Karen sudah banyak membantu Sam waktu disana"


"Ahhh justru saya yang banyak merepotkan Sam Bu hahaha. Beruntung saya bertemu dengannya disana, jadi ada teman yang bisa diajak bertukar pikiran"


"Main-mainlah ke rumah, Ayahnya Sam pasti senang juga bertemu dengan nak Damar"


"Iyah nanti saya cari waktu yang tepat Bu, saya dan Riri pasti mampir kerumah"


"Wah bagus kalau begitu, oh iya kita duduk disini saja sambil mengobrol" kata Bu Rita sambil mengatur kursi yang ada disana


Pak Kanis dan Damar dengan sigap langsung membantu memindahkan dua buah kursi ke meja Bu Rita


"Silahkan- silahkan. Saya ke belakang ya Bu Riri ada pekerjaan yang harus saya selesaikan"


"Iyah silahkan pak Kanis" ia pun berlalu dari hadapan kami


"Itu bukannya Dion ya? Bisik Bu Rita pada Riri


"Iyah Bu"


"Kalian akrab sama dia?" tanya Bu Rita keheranan masih dengan berbisik


"Sejak dia menyelamatkan Riri, Dion sudah saya anggap keluarga sendiri. Dan sekarang dia sudah banyak berubah Bu" jawab Damar ikut berbisik

__ADS_1


"Kalau begitu panggil dia kemari, kita bareng saja disini" ujarnya yakin


Damar mengeluarkan ponselnya untuk menghubungi Dion


"Dion kemarilah, duduk disini bersama kami"


"Tapi kak?!"


"Santai Dion, trust me"


"Ok" jawabnya pelan, ia pun beranjak dari mejanya dan pindah ke meja Bu Rita


"Siang Bu"


"Siang Dion, duduk disini saja bersama kami" Bu Rita tersenyum pada Dion


Dion nampak ragu ia melihat ke arah ibu-ibu yang berada disekitar kami. Mereka memandang sinis padanya. Lalu ia memalingkan wajahnya kearah Damar. Damar tersenyum lalu menepuk kursi disebelahnya


Ia pun mengangguk dan menuruti perintah Damar untuk duduk disebelahnya


"Bu Siska apa kabar Dion?"


"Ibu saya sehat. Beliau sekarang lebih banyak menghabiskan waktunya untuk bermeditasi dan healing Bu"


Ibu Rita memandang Dion dengan wajah simpati "Semoga ibumu selalu dalam keadaan sehat Dion. Sampaikan salam saya untuk beliau"


"Baik Bu, nanti saya sampaikan pada ibu saya" mata Dion terlihat berbinar


"Sam semalam di tempat kalian ya!!?" Bu Rita tiba-tiba berbicara dengan suara jelas, ia seperti sengaja menaikkan volume suaranya


Pertanyaan itu otomatis membuat ibu-ibu yang sedari tadi berbisik-bisik menjadi terdiam dan menyimak obrolan mereka dengan telinga yang terbuka


"Iyah Bu, kami semalam memang mengadakan acara barbeque di rumah" jawab Damar antusias


"Terus sekarang kenapa dia tidak ikut kemari?"


Aku dan Damar berpandangan, Damar nampak sedang menahan tawanya


"Mmm.. katanya dia ada urusan, nanti menyusul kemari, bu" sahutku lalu tersenyum lebar


"Oh gitu" Bu Rita menggangguk tersenyum penuh arti, ia sudah mengetahui kalau anaknya sangat anti bertemu dengan ibu-ibu anggota arisan ini.


Keakraban mereka menimbulkan tanda tanya besar dalam benak ibu-ibu ini.


"Apa jangan-jangan berita yang dulu sempat beredar itu benar, kalau ternyata memang Riri yang sedang dekat dengan Sammy" bisik seseorang pada Bu Teti


"Bisa jadi, pantas saja ketika mereka berinteraksi waktu acara terakhir, bahasa tubuh mereka berbeda. Seperti dua orang yang sudah saling memahami walaupun hanya dengan sedikit tatapan" ujar seorang yang lain


"Ahhh itu kan belum tentu benar, akrab kan bukan berarti berpacaran. Sebelum ada berita pernikahan semua hal bisa berubah, apapun bisa terjadi" jawab Bu Teti sinis


"Iyah sih, Tapi kok saya merasa mereka serasi ya?" Sahut yang lain


"Sudah-sudah kita lihat saja nanti" Bu Teti melirik ke arah mereka lalu membuang mukanya ke arah lain


Ibu-ibu pun saling menyenggol dibawah meja, mereka tahu Bu Teti selalu saja kontras dengan apa saja yang tidak sesuai dengan pendapatnya.


Waktu pun berlalu, grup Bu Rita pun telah pergi meninggalkan Villa Lembayung dengan perasaan senang dan puas. Sebelum pergi, mereka juga sempat diberikan cendramata berupa syall batik sutra yang telah disiapkan pihak Villa sehari sebelumnya untuk masing-masing orang.


Riri, Damar dan Dion pun sekarang telah berada di dalam kamar Villa yang selama ini ditempati oleh Riri.

__ADS_1


__ADS_2