
Akhirnya Andi Mulai bercerita
"Kami pernah menjadi sepasang kekasih sewaktu Riri masih kelas dua eS Em A kalau saya tidak salah ingat. Kemudian saat orang tuanya meninggal karena kecelakaan dia diasuh oleh paman dan bibinya. Hadi itu adalah anak angkat dari pamannya. Setelah Mentari lulus kuliah dia dijodohkan dengan salah satu teman pamannya. Saat itulah kami berpisah karena ancaman dari pamannya. Kemudian dia kabur dan tidak pernah pulang sampai sekarang"
"Kalau boleh saya tahu, orang tuanya kecelakaan apa?"
Wajah Andi menerawang "Mereka kecelakaan sewaktu berlibur keluar pulau memakai private jet, sampai sekarang jenasahnya tidak pernah ditemukan. Malang benar nasib Mentari"
"Apa dia memiliki saudara kandung?"
"Seorang kakak namanya Damar, dia teman baik saya. Damar pun hilang setahun kemudian waktu ikut pendakian gunung bersama mapala. Kalau saya mengingat-ingat masa lalu terus terang saya pun sangat terpukul"
Tangan Andi mengambil sebatang rokok dari dalam kantong kemejanya, "boleh saya merokok?" Tanyanya pada Sugi
"Silahkan" jawab Sugi masih memperhatikan Andi dengan seksama.
"Saya akrab dengan Keluarga Mentari, Orang tuanya sangat baik. Mereka tidak pernah membeda-bedakan status sosial dari teman-teman anaknya. Saya sering menginap di sana ,makan bersama, liburan bersama sampai orang tuanya pun sangat mempercayai saya untuk menjaga Mentari" Andi menghela napasnya, dia mengerjakan matanya seperti menahan tangis
"Pada akhirnya saya yang tidak bisa menjaganya dengan baik. Mungkin Tugas saya menjaganya memang harus usai sampai disini hmm bukan, tugas saya sudah usai saat kami dipisahkan oleh pamannya. Saya harus akui saya pengecut" Suara Andi tercekat.
Beberapa saat ia akhirnya bisa melanjutkan ceritanya "Waktu Mentari berencana kabur, dia sempat mengirimkan kabarnya untuk kami bersama-sama pergi meninggalkan kota itu. Tapi saya malah tidak peduli, karena saya pikir itu tipu daya dari pamannya untuk menjebak saya. Pamannya sangat berkuasa saat itu, saya takut dia akan menghancurkan keluarga saya. Ternyata saya salah langkah"
Nyala api rokok ditangannya berwarna merah terang, saat angin berhembus. Andi dengan gelisah menggigit-gigit bibirnya.
"Setelah saya sadar dia pergi, saya mencoba mencarinya kemana-mana tapi tidak pernah berhasil. Ternyata dia sempat menitipkan pesan tentang keberadaannya kepada Arina, yang sekarang adalah istri saya. Tapi pesan itu tidak pernah disampaikan kepada saya. Saya menyangka dia telah melupakan saya dan hubungan kita"
"Apakah anda masih mencintainya?"
__ADS_1
"Tentu saja, dia wanita yang paling saya cintai seumur hidup saya" tangan Andi menyibakkan rambutnya kesamping, matanya mengerjap beberapa kali "Apalah artinya mencintai tapi akhirnya tidak bisa bersama. Keadaan kini sudah berbeda, sekarang ada tanggungjawab lain yang harus saya pikul" lanjut Andi sambil menunduk sedih
"Saya mencintai Riri" ujar Sugi
Mata Andi menatap sedih kearah Sugi "Saya tahu, saya harap anda bisa membahagiakan dan melindungi dia"
"Tapi sepertinya jalan saya akan panjang untuk memulihkan kepercayaannya pada orang lain"
Andi mengangguk "Dia selalu berusaha untuk terlihat tangguh, tak sekalipun saya pernah melihatnya menangis saat orang tuanya meninggal, bahkan ketika kakaknya juga dinyatakan hilang. Tapi saya tahu dia menangis hampir setiap malam saat sendiri. Beban yang harus dia pikul sangat berat, tapi dia berusaha untuk terlihat baik-baik saja dimata orang lain"
Matahari telah tenggelam, deburan ombak juga semakin kencang. Pembicaraan mereka masih berlangsung lama. Malam pun berselang.
Riri terkejut dan terbangun dari tidurnya yang panjang. Badannya basah oleh keringat, jantungnya berdegup kencang. Ia bangkit dari tidurnya dan terduduk di ranjang. Matanya melihat sekeliling dengan perasaan takut yang teramat sangat. Beruntung lampu kamar tetap dinyalakan. Ia bisa bernapas sedikit lega ketika menyadari kalau dirinya berada di kamar Sugi. Air matanya kembali mengalir ketika ia teringat apa yang dialaminya tadi. Dadanya terasa sesak, kesedihannya tidak bisa ia bendung lagi. Saat ini ia sangat merindukan keluarganya yang telah tiada.
Bu Widi yang diminta untuk menjaga Riri baru saja tertidur ketika dia mendengar Isak tangis Riri dari dalam kamar. Dengan cepat ia datang menghampiri
Riri menggeleng "tidak ada Bu, saya tidak apa-apa. Hanya tiba-tiba ingin menangis" sahut Riri sambil masih terisak
"Saya hubungi pak Sugi yah, biar beliau cepat kembali"
"Jangan Bu, pak Sugi mungkin saat ini sedang sibuk. Saya tidak mau merepotkan pak Sugi lebih banyak lagi. Bisa minta tolong ambilkan saya segelas air Bu?"
"Baik Bu, sebentar saya ambilkan"
Aku menghapus air mataku dan menarik napas dalam-dalam "aku kuat, aku baik-baik saja" bisik Riri pada dirinya berulang-ulang
Bu Widi telah kembali dengan segelas air, Riri menerima dan meneguknya sampai habis.
__ADS_1
"Terimakasih Bu Widi"
"Sama-sama Bu, ibu mau makan? Saya siapkan sekarang yah?!"
"Tidak usah Bu, saya tidak lapar. Ibu kembali saja berisitirahat, ini sudah malam" Riri melihat jam didinding , rupanya sudah pukul 9 malam.
"Baik Bu Riri, saya keluar dulu"
Riri mengangguk.
Bu Widi dengan bergegas pergi keluar kamar, tanpa Riri sadari ia menghubungi Sugi untuk mengabarkan keadaan Riri padanya. Saat dihubungi, Sugi sebenarnya tengah berada dalam perjalanan pulang.
Aku bangkit dari tempat tidur dan mencuci mukaku agar merasa lebih baik. Aku berniat untuk kembali ke kos-an karena tidak mau membebani Sugi terlalu banyak. "Ayo kita pulang Riri. Bisa-bisanya bergantung pada orang lain seperti ini!!. Walaupun dia baik aku tidak sepantasnya begini" aku memarahi diriku sendir dalam hati sambil merapikan tempat tidur Sugi. Aku meraih tasku, ku perhatikan pakaian yang aku pakai. Nampaknya sudah diganti juga olehnya. Kali ini aku memakai baju berbahan kaos berwarna hitam dan celana panjang abu-abu yang ukurannya pas.
"Kenapa ukuran celananya bisa pas, apa dia memiliki adik? Atau jangan-jangan Bu Widi baru membelikannya tadi?" Aku menatap celana panjang kain ini
Ku dengar Bu Widi berbicara dengan seseorang, dari suara sepertinya itu Sugi.
Kemudian ada langkah kaki mendekat, Sugi berdiri diambang pintu. Ia melihat Riri sedang berdiri menenteng tasnya bersiap untuk pergi.
"Riri mau kemana? Ini sudah malam" wajah Sugi terlihat khawatir
"Mau balik ke kos-an, saya sudah merasa lebih baik. Terimakasih ya saya telah berhutang Budi hari ini. Entah kapan saya bisa membalasnya, tapi saya yakin ada waktu yang tepat" kataku dengan hati-hati, merasa tidak tahu harus mengatakan apa padanya
Sugi mengangguk "perlu saya antar?" Tanya Sugi dengan perasaan sedih, karena merasa Riri sudah mulai kembali menjaga jarak dengannya.
"Tidak usah, saya bisa mencari ojek di depan sana" aku tersenyum padanya dan mulai bergegas meninggalkan rumah ini.
__ADS_1
Sugi tahu dia tidak memiliki hak untuk menahannya, kalau pun ia memaksa akan menjadi masalah baru untuk mereka berdua. "Aku berharap dia bisa melewati ini semua dengan baik" gumam Sugi di dalam hati