Cinta Untuk Mentari

Cinta Untuk Mentari
Kesempatan


__ADS_3

Belum sempat Riri menghubungi pak Doni, nomornya tiba-tiba muncul di layar ponselnya.


"Pak Doni" jawabku sambil melangkah


"Bu Riri, saya tunggu di tempat ibu turun tadi ya?!"


"Ok pak" sahutku singkat lalu memasukkan kembali ponselku ke dalam tas


Aku menghentikan langkah karena mendadak perasaan aneh itu muncul kembali. Perasaan tidak enak yang membuatku selalu waspada di masa lalu itu hadir tanpa diminta. Kalau sudah begini ia harus meningkatkan kewaspadaannya.


"Ada yang tidak beres, kamu harus berhati-hati Riri" gumamku dalam hati sembari menajamkan mata ke sekelilingku


Benar saja ada siluet kepala seseorang yang muncul tenggelam sedikit-sedikit seperti sedang mengintip di balik sebuah pohon dalam kegelapan. Orang itu berjarak hanya dua langkah dari tempatnya berdiri. Ada sebersit rasa penasaran yang muncul di hatinya namun ia putuskan untuk tidak membuat keributan malam ini. Kakinya pun melangkah mundur perlahan tanpa suara.


"Bu Riri!!" panggil seorang laki-laki dibelakangnya Ia menoleh ke arah suara, dilihatnya seorang laki-laki dengan pakaian rapih melangkah cepat kearahnya. Rupanya laki-laki tersebut salah seorang anak buah dari Pak Doni. Ia bisa mengenalinya dari tanda pin yang tersemat didadanya. Desain pin tersebut unik dan tidak bisa dimiliki oleh sembarangan orang. Dan mereka hanya menggunakannya di saat-saat tertentu.


Sementara itu Silvi yang telah bersiap untuk menyerang Riri akhirnya juga mundur perlahan dan bersembunyi di tempat lain. Ia tidak ingin ada seorangpun yang tahu rencananya ini.


"Ternyata memang benar kata Hadi, kalau wanita miskin itu selalu di kawal oleh anak buah Sam. Mereka ternyata mengawasinya dari jauh, bajing*nn!! Kesempatanku hari ini lewat begitu saja, Sial*n!!!" Gerutunya dalam hati


"Apa ada masalah bu? Saya lihat anda tadi berhenti mendadak kemudian berjalan mundur?" tanya bawahan pak Doni dengan berbisik


"Tadi sepertinya saya melihat seseorang di balik pohon di depan sana" tunjuk Riri


"Baik Bu, saya periksa sekarang" katanya sambil bergegas ke arah yang ditunjuk oleh Riri


Riri pun menyusulnya, ia bisa menebak kalau orang yang bersembunyi tadi sudah pergi dari sana. Karena siluet yang ia lihat tadi sudah tidak ada lagi.


"Aman Bu" lapor laki-laki itu


"Ok" jawab Riri masih dalam keadaan waspada


"Saya akan mengantar ibu ke tempat tujuan, silahkan Bu Riri" ia mempersilahkan Riri untuk mendahuluinya

__ADS_1


"Terimakasih pak" jawab Riri lalu melanjutkan langkahnya. Matanya kemudian menangkap seseorang bergaun merah yang berdiri di kejauhan.


"Oh kamu rupanya?! Tidak salah lagi, orang itu pasti Silvi. Kalau saja ini bukan hotel milik keluarga Wijaya sudah sejak tadi ku hajar dirimu habis-habisan" gumam Riri sembari tetap melanjutkan perjalanannya


Silvi menatap sinis punggung Riri yang bergerak menjauh dari sana. Dadanya naik turun karena emosi yang bergejolak dalam hatinya


"Brengs*kkk!!! Wanita kur*ng ajar!!! Wanita miskinnn!!! Kampungan!!! Bangs*ttt!!!" pekik Silvi di kesunyian malam. Ia mengerahkan semua amarahnya pada pepohonan yang ada di dekatnya. Pisau yang ada si tangan Silvi menikam dan menyabet kesana kemari berulang kali. Alhasil satu batang pohon berukuran sedang nampak koyak dengan guratan- guratan pisau di kulitnya yang terbuka. Ia menyiksa pohon itu sambil membayangkan dirinya menoreh belati diwajah Riri dengan seluruh tenaga yang ia miliki.


Beberapa saat kemudian ia akhirnya berhenti dan duduk bersimpuh. Napasnya terengah-engah, keringat nampak mengucur deras di dahinya. Rasa amarahnya tadi sepertinya menguap entah kemana. Ia pun terlihat mulai tenang kembali. Dengan susah payah ia pun berdiri dan mulai melangkah dengan gontai.


Saat ini ia hanya ingin pulang ke apartemennya saja, badan dan pikirannya sudah teramat lelah. Dengan tangan gemetar ia memasukkan belatinya kembali ke dalam tas.


"Aku Silvi, aku pasti menang...., apapun caranya!!! Sampai mati pun aku tidak akan menyerah!! Sekarang kamu boleh merasa hebat, kita lihat saja nanti siapa yang akan tertawa paling akhir!!!" Bisiknya sendiri dalam perjalanan


"Silahkan Bu Riri" pak Doni mempersilahkan Riri untuk naik ke atas Buggy


Riri pun naik dengan pikiran yang masih dipenuhi dengan kejadian tadi


"Kamu kembali ke markas setelah acara benar-benar selesai" perintah pak Doni pada bawahannya


Buggy pun melaju perlahan


"Bu Riri, bapak sedang...."


"Saya tahu pak, pak Doni tidak usah khawatir" potong Riri, ia tahu maksud pak Doni yang ingin mengatakan kalau Sugi sedang kesal


"Pak, tadi ada orang yang bersembunyi di balik pohon di kegelapan hendak menyerang saya"


"Apa anak buah saya tidak mengawal bu Riri?" tanya pak Doni khawatir


"Dia ada dibelakang saya, saya pun sebenarnya tidak tahu kalau pak Doni menyuruh seseorang mengawal saya sepanjang acara ini. Orang itu kabur setelah anak buah pak Doni memanggil saya"


"Iyah saya memang memerintahkan mereka untuk menjaga jaraknya, agar tidak terlalu mencolok"

__ADS_1


"Saya yakin sekali itu Silvi pak, karena sewaktu saya kemari dia sudah berpindah tempat agak menjauh dari tempat persembunyiannya itu"


"Nanti saya akan melihat rekaman CCTV di sekitar tempat itu, Bu Riri tidak usah khawatir, pengamanan Ibu akan saya perketat kembali"


"Tidak apa-apa pak, yang seperti biasa saja. Saya juga merasa risih kalau terlalu mencolok"


"Baik Bu, saya mengerti" jawabnya kemudian menepi ke salah satu Villa Sea View yang kami tuju.


"Kalau saja lokasinya bukan disini, mungkin saja sudah terjadi keributan. Tangan saya sudah gatal ingin menempeleng wajahnya yang sombong itu pak" ujar Riri geram


Pak Doni nampak tertawa kecil "hehehehe sabar ya Bu, Untung saja Bu Riri masih bisa menahan diri. Kalau sampai ibu berhasil melakukannya, saya yakin dia akan bersandiwara lagi. Seolah-olah dialah korbannya"


"Kalaupun saya termakan emosi sendiri, paling tidak kekesalan saya terobati pak hahahah" Riri tergelak


"Hahahaha saya tahu perasaan Bu Riri, tapi sebelum itu terjadi ada baiknya Bu Riri mengobati kekesalan bapak terlebih dahulu" kata pak Doni sambil terkekeh


"Ahhh Iyah saya hampir saja lupa" Riri menutup mulutnya menahan tawa


"Bu Riri harusnya tadi melihat wajah bapak yang sedingin kutub Utara"


"Padahal kan bukan salah saya pak. Si Tommy-nya saja yang keterlaluan"


"Iya Bu, tapi ibu kan tahu bapak gimana"


Riri hanya mengangguk


"Bu Riri, untuk hasil rekamannya besok pagi akan saya laporkan pada bapak" ujar pak Doni


"Iyah pak terima kasih ya" jawab Riri sambil tersenyum lalu turun dari atas buggy


"Sama-sama Bu" ujar pak Doni lalu melajukan kembali buggy yang dikendarainya


Riri berdiri di depan pintu masuk, ia menarik napasnya perlahan sebelum akhirnya masuk ke dalam

__ADS_1


"Ok aku kini siap menghadapi singa jantan yang ada di dalam" gumamnya saat membuka pintu villa


Jantungnya berdetak kencang manakala ia melihat Sugi duduk diatas ranjang. Dengan Wajah dingin ia menatapnya tajam.


__ADS_2