
Suasana rumah ini kembali tenang setelah Gia dan pak Doni pulang sejam yang lalu, sedangkan Damar sudah beristirahat di kamar lantai dua. Sugi yang memutuskan untuk menginap malam ini baru saja selesai mandi. Ia lalu turun ke lantai satu dan masuk ke kamar Riri. Dilihatnya Riri sedang duduk bersandar pada sebuah bantal di sandaran tempat tidur sembari asyik membaca
"Lagi baca apa sayang?" tanyanya lalu ikut duduk di sebelahnya
"Baca novel" jawabku tanpa menoleh
Sugi mendekatkan wajahnya sampai berada di depan buku yang aku baca sambil memasang wajah cemberut
"Masa aku dicuekin?"
Aku menghela napas "aku lagi bosen banget"
"Kita ngobrol yuk!"
Aku menutup halaman buku yang aku pegang dan meletakkannya di atas ranjang. Sugi pun kembali duduk tenang di sampingku
"Beberapa hari di rumah sakit rasanya kita jadi berjarak. I miss you so much, babe" ia menggenggam erat tanganku
"Gimana nggak berjarak, tiap kamu datang aku seringkali sudah ketiduran. Terus Paginya kamu sudah harus buru-buru pergi bekerja. Jadi selama aku dirawat, kita jarang sekali berinteraksi"
"Jadi lebih banyak ngobrol sama Dion yah?" Ada nada cemburu dalam pertanyaannya
"Nggak juga, aku lebih banyak baca sih. Dianya nggak berani ganggu. Dia lebih sering nonton film, kalau kak Damar datang baru deh dia pergi sebentar entah kemana"
"Nggak sempat rayu-rayu kamu?"
"Nggak, paling dia kadang-kadang ketahuan mandangin dari jauh aja"
"Masa?!" Ia bertanya seolah tak percaya ucapanku
"Beneran"
"Aku curiganya dia sempat cium-cium kamu pas kamu lagi tidur"
"Kalau curiga kenapa kamu nggak kirim orang aja waktu itu buat nemenin Dion nungguin aku" jawabku ketus
Sugi tergelak "hehehehe idih becanda sayang, ketus banget sih?!" ia mengucek rambutku gemas
"Aku percaya sama kamu. Kalau pun dia sempat mencuri cium... ya nggak apa-apa. Yang penting kan kamunya nggak berpaling"
"Benar begitu? Hmm Dia... Tadi siang sebelum pulang, sempat tiba-tiba cium pipiku" ujarku pelan sambil menoleh kearahnya
"Tuh kan benar dugaanku. Kalau aku nggak nanya kamu pasti nggak akan bilang" wajahnya kini makin cemberut
"Aku juga baru ingat, maaf ya sayang" aku memegang wajahnya
"Bagian mana yang dia cium?"
"Ini" aku menunjuk pipi kananku
__ADS_1
"Ada lagi?"
Aku menggeleng "itu aja"
Ia mengusap-usap pipiku dan mengecupnya berulang kali "ini punyaku, nggak boleh ada jejak laki-laki lain disini"
Aku memeluknya erat "Iyah sayang, I'm forever yours"
Ia mengelus kepalaku dengan lembut
"Pinggangnya Masih sakit?"
"Masih sedikit, kalau nggak sengaja bergerak terlalu cepat biasanya terasa lebih sakit. Tapi kata dokter aku sudah boleh membiasakan diri untuk bergerak termasuk berjalan kaki, tapi harus pelan-pelan"
"Iyah jangan memaksakan diri ya, kalau memang rasanya sakit banget yah berhenti sementara"
"Iyah, tenang!. Bu Riri pasti bisa pulih lebih cepat hahahaha" kataku menyombongkan diri
Ia.hanya menggeleng sambil tersenyum
"Mmm...kamu tahu nggak kalau ini semua ulah Silvi?"
"Oh ya? Dia lagi?" Aku cukup kaget mendengarnya
"Iya wanita gila itu. Aku berencana untuk membuat dia mau kembali dan menetap disini. Kalau dia sudah kembali akan lebih gampang untuk mengawasinya. Nanti kalau dia berbuat nekat lagi, kita bisa lebih cepat untuk menangkapnya"
Sejenak aku memikirkan ucapannya
"Kamu wangi banget sih sayang" ujarnya kembali
"Kalau dia kembali, pasti dia akan menganggu hubungan kita lagi dan kali ini kamu mungkin harus bermanis-manis padanya. Benar kan?!"
"Kenapa kamu pintar sekali sih?" ia mendongakkan kepalaku lalu menyambar bibirku dengan penuh gairah. Tak perlu waktu yang lama untukku ikut larut dalam permainan bibirnya yang memabukkan ini.
"Astaga, aku ternyata sangat merindukan sentuhannya" gumamku dalam hati saat merasakan sensasi yang luar biasa dari ciumannya ini
Kurasakan tangannya turun mengelusi lembut leher dan pundakku. Ia menggerakkan tangannya perlahan masuk ke dalam kaos yang aku kenakan. Saat tangannya berhasil menyentuh bagian itu, ia tiba-tiba menghentikan ciumannya. Tergambar jelas keterkejutan di wajahnya.
"Kamu nggak pakai...?" Ia mengalihkan pandangannya kearah dadaku
"Kalau waktunya tidur kan aku memang nggak pernah pakai"
Ia tersenyum sambil mengigit bibir, tangannya mulai asyik bermain didaerah itu
Aku bergidik sambil menangkap tangannya dari balik kaos yang aku kenakan "geli sayang"
"Biarin... Aku mau disini sebentar" Jawabnya seperti anak-anak yang merajuk saat mainannya akan diambil
Aku melepaskan tangannya dan menatapnya lembut. Ia kembali menciumi semua bagian wajahku. Aku hanya bisa pasrah menikmati permainan tangannya sambil memejamkan mata
__ADS_1
Tiba-tiba ia berhenti dan memelukku erat
"Rasanya menyenangkan bisa bersama-sama lagi dirumah"
"Iyah aku juga senang bisa kembali pulang"
"Sayang, seperti katamu aku memang harus berpura-pura menyukainya. Dan aku berharap selama itu terjadi kamu tetap percaya padaku" ia berkata pelan
Ia melanjutkan ucapannya "Ini akan sangat berat dan menyakitkan untukmu, tapi percayalah apapun yang akan kulakukan nanti perasaanku padamu tidak akan pernah berubah"
"Aku seperti mendengar kata break! Untuk sementara waktu. Entah apa yang akan terjadi selanjutnya. Apapun itu aku siap menghadapinya" Gumamku dalam hati
Aku mengangguk pelan
"Hei, aku kok merasa tiba-tiba kamu jadi ragu padaku" ia menatapku lekat
"Aku masih merasa ibumu lebih menyukainya daripada aku. Entahlah Sayang, mungkin hanya perasaanku sendiri"
"Iyah itu perasaanmu saja sayang. Ibuku malah sangat menyukaimu. Mungkin karena kamu belum mengenalnya dengan baik"
"Mudah-mudahan saja benar begitu. Pokoknya aku sudah memutuskan mulai dari detik ini aku akan bersiap untuk kemungkinan yang terburuk"
"Terburuk?!" Ia terlihat sedang berpikir
"Nggak!Itu nggak akan terjadi. Kalau sampai hubungan kita berakhir hanya gara-gara ini, aku bersumpah akan mengejarmu kembali"
"Jangan gampang bersumpah untuk hal-hal seperti ini. Nggak sepadan, tenang saja I'll be fine like always" aku tersenyum padanya
Ia menghela napasnya "Aku tidak akan mau melepasmu, i love you so much, Riri"
"I know, I love you much much much... more"
Ia tersenyum geli mendengar jawabanku
"Ini sudah larut, kita sebaiknya beristirahat"
Dengan dibantu olehnya, aku menurunkan bantal di punggungku dan bersiap untuk berbaring. Ku lihat ia memindahkan novel yang ada diatas ranjang ke atas nakas, kemudian ikut berbaring di sebelahku.
"Badanku rasanya pegal semua" ia menggerutu sambil memelukku
"Kenapa nggak massage di spa aja"
"Nggak mau, maunya sama kamu aja"
"Ya tunggu aku sembuh dulu"
"Iyah, aku sabar kok. Yang "itu" aja aku sabar gimana yang cuman urusan pijat. Ya kan hehehe?" Ia tergelak
"Ck! Udah ah katanya mau tidur malah ngajak ngobrol lagi"
__ADS_1
"Iyah.. Iyah sayang sekarang kita tidur ya" ia mengusap-usap lenganku"