Cinta Untuk Mentari

Cinta Untuk Mentari
Arisan


__ADS_3

Pagi ini Silvi sedang merapikan kemeja putihnya, ia beberapa kali melihat jam yang melingkar di pergelangan tangannya.


"Aku harus terlihat menawan hari ini. Akan ku pastikan semua tamu di acara arisan tante Rita hari ini terpukau melihatku" ia bergumam tersenyum sambil mematut dirinya di depan cermin


Ponselnya bergetar, Silvi mengambilnya dari atas meja


"Saya sudah di depan Bu"


Sopir yang bertugas mengantarnya hari ini rupanya telah siap di depan. Silvi bergegas mengambil tas clutch berwarna hitam yang ia siapkan sedari tadi diatas ranjangnya. Dengan kepala terangkat dan langkah anggun ia pun keluar dari apartmentnya.


"Silahkan Bu" Sopir nampak sudah menunggunya, ia berdiri di depan pintu penumpang yang terbuka


Silvi langsung masuk dan duduk dengan tenang. Sopir itu pun menutup pintu penumpang dan ikut masuk ke belakang stir


"Maaf Bu, apa Ibu yakin mau datang ke acara arisan ini? Seperti yang saya katakan semalam Bu Silvi kan tidak diundang, saya takut Bu Rita marah pada saya" ujarnya dengan wajah khawatir menoleh ke belakang


"Saya tamu penting di keluarga ini, kamu mungkin baru yah bekerja disini?" Silvi mengangkat wajahnya


"Sudah cukup lama Bu, makanya saya tahu beliau tidak akan suka kalau ada orang yang tidak diundang menghadiri acaranya"


"Jangan banyak omong, jalan aja deh pak! Kalau nggak mau mengantar saya, saya akan adukan ke Tante Rita!" Jawabnya dengan nada keras


Sopir terlihat menghela napas, tanpa berkata lagi ia lalu melajukan mobilnya menuju rumah keluarga Wijaya seperti yang diinginkan oleh Silvi


Sopir ini sangat khawatir dengan posisinya saat ini. Semalam ia keceplosan bicara kalau Bu Rita hari ini akan mengadakan arisan bulanan dengan ibu-ibu sosialita dirumahnya. Itu pun gara-gara ia menanyakan jadwal Bu Silvi hari ini.


"Bu Silvi, besok jadwal ibu kemana? Kalau jaraknya jauh nanti ada teman saya yang akan menggantikan saya hanya untuk besok saja"


"Memangnya bapak mau kemana?"


"Saya diperbantukan di rumah Bu Rita"


"Ada apa di rumah Bu Rita?" tanyanya seperti mencecar


Ia nampak kebingungan menjawabnya, sopir pribadi Bu Rita sudah mewanti-wanti agar ia tidak menyebut acara arisan ini di depan Bu Silvi


"Coba ku tebak, mmm pertemuan penting ya? Nggak mungkin urusan kantor. Pasti arisan ya?"


Ia tidak menjawab pertanyaan Silvi, yang menandakan tebakannya otomotis menjadi benar


"Besok sebelum mengurus tamu Bu Rita, kemari dulu ya antar saya ke rumah beliau"


"Tapi Bu, Ibu Silvi kan bukan tamu undangan. Saya tidak berani Bu...."


"Saya tidak peduli" ujar Silvi lalu turun dari mobil dan bergegas masuk ke gedung apartemennya


Keringat nampak menetes dari pelipisnya padahal matahari belum nampak terlalu tinggi. Sepanjang jalan ia memikirkan nasibnya nanti, paling untung ia hanya akan mendapat omelan panjang. Yang ia takutkan bukan omelan panjang itu, tapi ia takut dipindahtugaskan jauh di pelosok yang artinya jauh dari keluarga kecilnya. Walaupun baik hati, Bu Rita sangat terkenal dengan ketegasannya dalam menegakkan aturan di rumahnya.


Ketika sampai Silvi lalu turun dan langsung masuk ke dalam di sambut oleh pak Yanto pelayan pribadi di rumah ini.

__ADS_1


"Selamat pagi menjelang siang nona Silvi. Apa anda mau bertemu dengan Bu Rita?" tanyanya ragu


"Iyah pak"


"Tapi beliau sebentar lagi ada acara penting. Apa sudah ada janji sebelumnya?"


"Belum sih, tapi aku kan kerabat Bu Rita juga. Kenapa susah sekali bertemu dengannya? Lagipula hanya acara arisan ibu-ibu kan?"


"Iyah nona, tapi kan anda tidak termasuk dalam list"


"Aku ini Silvi, masa mau bertamu kemari saja harus bikin janji. Kamu pelayan jangan sok tahu ya?! Sudah!! Sana kasih tau Bu Rita di dalam! Cerewet banget sih?!" Gerutunya sambil melipat tangannya si depan dada


Pak Yanto hanya mampu menghela napasnya dan berbalik badan bergegas memberitahukan hal ini pada Bu Rita


"Untung saja bukan dia yang menjadi calon nyonya muda disini. Sudah sombong tingkahnya juga semena-mena" gerutu pak Yanto di dalam hati


Bu Rita yang sedang bersiap-siap di kamarnya harus terganggu dengan suara deringan telepon internal yang ia sudah hapal diluar kepala


"Ada apa pak?" tanyanya singkat


"Ada nona Silvi di depan mau bertemu ibu"


"Hah? Silvi? Saya nggak ada janji sama dia" ujar Bu Rita dengan kening berkerut


"Saya juga sudah menanyakan hal tersebut, malah saya bilang nama beliau tidak masuk list tamu ibu hari ini. Tapi Nona Silvi tetap memaksa bu"


"Tapi Bu, saya yakin ini karena dipaksa oleh nona Silvi"


"Tetap saja dia tidak menanyakan pada saya terlebih dahulu sebelum mengantar Silvi kemari"


"Kalau begitu hukuman apa yang seharusnya saya berikan?" tanya Pak Yanto kebingungan


"Jangan terlalu berat, asal dia sadar saja semua kesalahan ada hukumannya"


"Baik Bu" ujar pak Yanto singkat mengakhiri sambungan teleponnya


"Ok kalau begitu. Aku jadi ingin tahu apa yang akan kamu lakukan disini?!" Gumam Bu Rita sambil memperbaiki tatanan rambutnya di depan cermin


Tamu-tamu mulai berdatangan, mereka di arahkan ke taman belakang. Taman yang luas tersebut di siapkan sedemikian rupa untuk arisan hari ini. Tenda megah sudah terpasang disertai dengan kursi dan meja panjang dengan berbagai hiasan bunga beserta center piece di tengahnya. Berbagai makanan prasmanan juga sudah nampak disiapkan di sisi kiri.


Bu Rita pun akhirnya turun menuju ruang tamu.


"Silvi!..." Panggilnya dengan senyuman tipis


"Tante, aku kesel deh. Kenapa sih aku nggak boleh bebas bertamu kemari? Mereka nggak ingat ya aku siapa?"


"Mereka terbiasa bekerja sesuai prosedur Silvi. Maklumlah sedikit" Bu Rita memeluk Silvi


Silvi membalas pelukannya "Tetap aja Tan, aku kayak yang bukan siapa-siapanya keluarga ini. Mana tadi ngomong ke aku mukanya sombong banget!"

__ADS_1


"Siapa? Pak Yanto?"


Silvi mengangguk


"Ahhh memang wajah pak Yanto itu datar, dia jarang senyum Silvi. Sudahlah tidak usah diperpanjang, kita ke taman belakang saja yuk!" Ajaknya sambil merangkul Silvi


"Iyah deh" Jawabnya lemah


"Kenapa aku baru sadar sih, ternyata tabiat Silvi seperti ini? Berbanding terbalik dengan Riri yang mandiri, cekatan dan memperlakukan semua orang sama baiknya tanpa memilih-milih" batinnya saat menuju taman belakang


Dari kejauhan mereka nampak serasi melangkah beriringan. Beberapa ibu-ibu sosialita yang hadir terlihat berbisik-bisik melihat hal tersebut.


"Selamat pagi menjelang siang ibu-ibu tersayang..!!" Sapa Bu Rita ketika sampai


Seketika ruangan menjadi lebih riuh "selamat siang Bu Rita" jawab mereka hampir berbarengan


"Siapa yang cantik ini Bu? Kok sepertinya saya kenal?" Celetuk seorang ibu dengan wajah bulat dengan sasakan rambutnya nampak tinggi menjulang


Silvi terlihat malu-malu dengan senyuman mengembang di wajahnya


"Perkenalkan ini Silvi, ibu-ibu. Anaknya pak Karta"


"Oh pak Karta yang punya KartaKart Developer?" Ujar seorang ibu-ibu muda tanpa ragu


"Wahh hebat benar calonnya Bu?" Celetuk seorang lagi


"Oh calon mantunya Bu Rita?"


"Silvi cantiknya berkelas ya Bu, lebih pantas yang ini"


"Masa ini calonnya? Bukannya tempo hari ponakan Bu Alina ya?"


"Ah beda level, pasti lebih ok yang ini!"


"Sttt! Mulutnya loh jeng, untung Bu Alina hari ini berhalangan hadir"


terdengar beberapa celetukan lagi dibelakang bersahut-sahutan


Silvi tersenyum puas mendengar celetukan-celetukan itu. Tangannya nampak merapikan rambutnya yang tergerai.


"Ibu-ibu kita mulai saja acara hari ini. Silvi silahkan duduk, boleh dimana saja ya"


Silvi mengangguk lemah, tadinya ia pikir ia bisa duduk disebelah Bu Rita untuk mengukuhkan posisinya sebagai calon istri Sugi di mata ibu-ibu sosialita ini


Bu Rita nampak berbisik pada Silvi "Di depan sudah terisi semua, makanya tadi harusnya kamu menelpon dulu sebelum kemari biar bisa tante siapkan kursinya lebih untuk kamu"


"Tidak apa-apa Tan, dimana saja aku nggak apa-apa" jawabnya seperti terpaksa tersenyum


Silvi akhirnya duduk di kursi paling ujung meja panjang ini disebelah seorang ibu-ibu berwajah datar dengan kepala yang terangkat sangat tinggi

__ADS_1


__ADS_2