
Dua jam sebelumnya, Pak Doni dan Sugi masih sedang dalam perjalanan menuju Villa Lembayung. Ditengah perjalanan ponsel pak Doni berbunyi, ia melihat sebuah nomor tanpa nama melakukan panggilan
"Selamat siang" jawab pak Doni melalui earphone bluetooth yang terpasang di telinganya
Sugi melirik kearahnya dengan dahi berkerut. Ia hapal betul setiap weekend seperti ini pak Doni jarang sekali mendapatkan telepon, kecuali ada hal serius yang harus dilaporkan padanya.
Beberapa saat kemudian pak Doni melirik kearah Sugi dari spion atas
"Pak, ada laporan dari sopir Bu Silvi, dua hari kemarin ia ikut menginap di Villa Lembayung bersama rombongan Bu Rita. Dan hari ini pagi-pagi sekali ia sudah meninggalkan tempat itu mendahului yang lain. Sepertinya untuk menghindari bertemu dengan Bu Riri"
"Artinya dia sudah mengetahui dimana Riri berada selama ini. Informasikan pada pak Yuda untuk memperketat penjagaannya mulai hari ini"
"Nanti sampai di Villa saya akan bicarakan dengan Yuda, pak"
"Ok" jawab Sugi dengan perasaan yang was was. Ia mengetuk-ngetuk pahanya dengan ujung jari telunjuk.
"Saya mulai meragukan keputusan saya untuk membawanya kembali kesini. Rasanya saya seperti sengaja memberikan kesempatan wanita sakit jiwa itu untuk kembali berulah"
"Kita sudah memperhitungkan resiko itu pak, bapak tenang saja" sahut pak Doni yakin
"Untuk persiapan acara gathering nanti, lakukan saja seperti rencana awal kita"
"Baik pak, saya mengerti" jawab pak Doni lalu mengembalikan konsentrasinya kembali pada mobil yang sedang ia kendarai.
Hari -hari pun berlalu dengan sangat cepat. Tak terasa hari penting ini pun tiba. Malam nanti akan dilaksanakan acara Gathering dari perusahaan Wijaya Grup. Semua persiapan nampaknya sudah rampung dikerjakan pada pagi hari ini. Kali ini acara akan dilaksanakan di Ballroom salah satu hotel bintang lima yang dimiliki oleh Wijaya Group bernama Hotel Mahardika.
Seperti biasa dua kamar presidential suite akan disiapkan untuk keluarga Wijaya untuk digunakan sebagai kamar persiapan sebelum acara dimulai. Pak Doni pun saat ini sudah mendahului datang ke tempat acara bersama dengan anak buahnya untuk memeriksa kembali keamanan, terutama lokasi acara dan kamar yang akan digunakan oleh Keluarga Wijaya secara mendetail.
Walaupun penjagaan sudah di perketat sebulan sebelum hari H, namun pihak keamanan hotel bersama Pak Doni dan anak buahnya kembali menyisiri setiap sudut yang ada si hotel Mahardika. Hal ini dilakukan untuk mengantisipasi hal buruk yang bisa saja terjadi pada saat acara berlangsung.
Setelah yakin semua dalam keadaan aman, pak Doni pun berniat untuk meninggalkan Hotel Mahardika untuk mengganti pakaiannya lalu menjemput Sugi sesuai dengan jadwal yang telah ditetapkan.
Anak buahnya dan pihak kemanan hotel pun membubarkan diri untuk melakukan penjagaan di pos masing-masing, termasuk yang nanti akan ikut berbaur diantara staf dan beberapa orang yang akan duduk diantara tamu undangan.
"Pak!" Suara seorang laki-laki memanggilnya dari belakang
Ia pun menengok ke arah suara, ia melihat seorang staf laki-laki berlari mendekatinya
"Pak Doni ya? maaf pak, tadi bapak sempat dicari oleh pak Mega. Beliau berpesan agar bapak ke ruangannya segera"
__ADS_1
"Maksudnya bapak Mega Direktur Hotel ini?"
"Benar pak" jawab staf tersebut dengan wajah tersenyum
"Ok sebentar lagi saya kesana" ujar pak Doni
"Baik pak" staf tersebut kemudian berlalu dari hadapannya dan kembali pada pekerjaannya
Ada sebersit rasa curiga dalam benaknya. Biasanya setiap ada acara penting di satu properti Wijaya Grup, pihak Manager ataupun Direktur serta kepala keamanan Hotel tersebut bisa langsung menghubunginya untuk hal-hal penting dan darurat.
"Kenapa direktur hotel ini tidak langsung menghubungi ponselku?" Gumamnya dengan perasaan was-was. "Ini mungkin saja jebakan"
Ia pun menghubungi ponsel pak Mega. Berkali-kali nada deringnya terdengar namun tak sekalipun diangkat olehnya.
Pak Doni pun menghubunginya kembali melalui telepon internal hotel. Telepon itu pun berdering beberapa kali kemudian akhirnya diangkat.
"Selamat siang" jawab seseorang disana
"Selamat siang, dengan bapak Mega?" ujar pak Doni dengan wajah bingung, ia yakin suara ini bukan suara pak Mega
"Maaf saya Budi pak, pak Meganya sedang berada di toilet. Dengan siapa saya bicara?"
"Saya finance pak, kebetulan saya mau meminta tanda tangan bapak. Tapi dari tadi beliau ternyata masih ada di dalam sana jadi saya berniat untuk menunggu sebentar. Ada pesan pak, saya bisa buatkan note untuk pak Mega"
"Tidak usah, sekretarisnya kemana?"
"Tidak masuk, hari ini katanya sakit pak"
"Ok kalau begitu saya kesana sekarang"
"Baik pak"
Budi menutup sambungan teleponnya.
Pak Doni lalu mengecek nama Budi apa benar di bagian finance pada kantor depan. Kantor depan pun mengiyakan nama tersebut saat ini memang bekerja di bagian finance.
Sedetik kemudian telepon ruangan pak Mega kembali berdering.
"Selamat siang" jawab Budi
__ADS_1
"Hei!!!.. kamu dicari pak Rizal. Cepetan balik ke kantor!!!" Ujar seorang laki-laki dengan suara keras
"Aduh, gimana nih??!! Aku belum dapat tandatangan pak Mega. Ya deh aku balik sekarang" ia pun menutup teleponnya dan berlari keluar ruangan.
Pak Doni bergegas menuju ruangan pak Mega yang berada di lantai dua. Di tengah perjalanan ia berpapasan dengan staf laki-laki berpenampilan rapih membawa satu map plastik ditangannya. Nama Budi tersemat di dadanya
"Sebentar, Budi ya?" tanya Pak Doni sambil menghadangnya
"Benar pak, saya Budi"
"Saya Doni"
"Oh yang tadi telepon ya pak. Maaf pak saya tidak bisa menunggu di ruangan bapak. Saya mendadak ada urusan penting di kantor. Saya mungkin nanti akan kembali ke sana"
"Oh begitu, silahkan pak Budi" ujar Pak Doni dengan wajah lega, ia ternyata salah menduga
"Ok pak, mari" jawabnya kemudian masuk ke kantor finance di sebelah kanan
Ia pun melanjutkan langkahnya ke ruangan pak Mega. Ia masuk setelah beberapa kali mengetuk pintu. Dengan perlahan ia masuk ke dalam. Terdengar suara air mengucur dari dalam toilet di belakang.
"Pak ...pak Mega!" Ia memanggil sambil mendekati pintu toilet.
"Tuk!... tuk!..tuk!" Pak Doni mengetuk pintu toilet
"Pak, anda baik-baik saja kan?" tanyanya
Lagi-lagi tidak ada jawaban, tiba-tiba saja rasa waspadanya kembali meningkat. Ia merasa aneh dengan situasi ini
"Ada yang tidak beres" gumamnya sendiri
Ia menendang pintu toilet tersebut berkali-kali, dan akhirnya pintu pun terbuka. Ia melihat pak Mega dalam posisi tersungkur dilantai.
"Ya ampun, Pak.Pak!! Anda mendengar saya?" tanya pak Doni sembari berjongkok memeriksa apakah dia masih bernapas atau tidak.
Tidak disangka ada sebuah tangan yang kuat menutup mulut pak Doni dengan handuk putih dari belakang. Bau menyengat memasuki indra penciumannya, ia pun mencoba melawan sekuat tenaga namun gagal. Tubuhnya terasa lemah dan kemudian tak ia pun tak sadarkan diri.
Laki-laki itu kemudian menghubungi seseorang di ponselnya.
Bersama dua orang lainnya, mereka mendudukkan pak Mega di kursinya kembali dengan rapi. Kemudian menaikkan tubuh pak Doni ke dalam satu kotak besar beroda. Kotak besar tersebut adalah tempat cucian kotor termasuk bedsheet hotel yang akan dibawa ke laundry Hotel. Mereka bergegas mendorong kotak tersebut masuk ke dalam lift khusus staf.
__ADS_1