
Usai makan siang dan berkunjung ke kantor DnW, Damar dan Riri akhirnya memutuskan untuk kembali ke rumah.
"Eh kamu tahu nggak kalau Dion lagi ada disini" ujar Damar yang sedang menyetir menggantikan aku yang sedang merasa lelah.
Aku yang sedang memejamkan mata, terbelalak kaget dan menoleh padanya "Hah? Masa sih kak?!"
"Kaget ya? Dia nggak ada telepon atau kirim pesan ke kamu gitu?"
"Nggak ada, yah biarin ajalah dia mau ngapain"
"Heii...!! Nggak boleh gitu Tari. Walaupun orangnya rada ngeselin, dia penyelamat nyawamu loh"
"Kalau yang itu aku pasti ingat kak, tapi aku males di ganggu lagi. Kalau dia nggak berkabar yah biarin ajalah"
"Dua hari lalu Dion menelponku, katanya dia sempat berkunjung ke kantor dan ke warungmu. Tapi malah nggak ketemu kamu. Dia sempat minta informasi ke staffmu disana, mereka serempak bilang kalau kamu sedang berada di luar kota entah dimana hahahaha" ia tergelak
"Hahahaha aku hebat kan kak, sampai semua staffku kompak tutup mulut tentang keberadaanku"
Damar menggeleng "Dasar....!. Dan Selama aku berada di luar negeri sesekali dia pasti mengabarkan perjalanan bisnisnya saat ini. Aku salut sama anak itu, dalam kurun waktu beberapa bulan saja dia sudah menjadi pengekspor besar Kopi Nusantara"
"Wow..!! Bagus dong kalau begitu, hidupnya sudah jauh lebih baik sekarang. Aku benar-benar berharap dia menemukan kebahagiaannya sendiri"
"Tari, terus terang aku sudah mengganggap dia bagian dari keluarga kita sejak dia menyelamatkan nyawamu. Ada baiknya kita mengundangnya untuk makan malam bersama, gimana? Yah aku pasti bertindak tegas kalau dia sampai mengganggumu lagi"
"Mmmm... yah boleh. Gimana kalau kita bikin pesta barbeque aja dirumah. Sudah lama kan kita nggak seru-seruan bareng kak" jawabku penuh semangat
"Wah boleh tuh, tapi jangan malam ini ya. Aku mau bikin kejutan buat Gia"
"Cieee... bikin kejutan apa bikin anak..?? Hahahaha" aku terkekeh menggodanya
"Hahahaha idih dasar bocil!!! " ia menarik beberapa helai rambutku
"Ahhh!! sakit kak hahahaha... Iyah..Iyah... bisa besok malam. Kulkas dirumah juga lagi kosong gitu" aku masih tergelak sambil mengusap-usap kepalaku meringis kesakitan
Ponsel di tasku berbunyi, aku segera menjawabnya
"Hi sayang, lagi ngapain?! " sapa Sugi dengan suaranya yang serak dan dalam
"Hi...aku lagi di jalan. Semalam ada gorila import minta dijemput di bandara siang tadi hahahaha" aku melirik ke arah Damar yang nampak ikut tertawa sambil menggeleng.
"Sammy, ma Brooo!!!" Teriak Damar disebelahku
__ADS_1
Aku memencet tombol speaker di layar ponselku dan kuarahkan pada Damar "Oh Rio sudah pulang ya!? Hahahaha what a surprise!!!" Ujar Sugi dengan tawa renyahnya
"Hii man!!!" Teriak Damar lagi
" Eh, Nanti malam aku kerumah ya? Kalian pulang ke rumah kan? Bukan ke Villa Lembayung?!"
"Iyah ke rumah!!! tapi nanti malam akunya mau pacaran dulu, aku kan kurang kasih sayang, Sam, kering nih!!! Hahahaha" jawab Damar lagi dengan obrolan khas bapak-bapaknya.
"Hahaha oh gitu, ya sudah aku juga mau pacaran sama penunggu rumahmu itu loh. Sudah kering kerontang juga ini" Suara tawa Sugi menggelegar dibarengi oleh suara tawa Damar
"Ih dasar kalian berdua kok bisa kompak banget sih?!!" Ujarku keheranan sambil menggeleng
"Ya sudah sampai ketemu besok, Sam"
"Ok bro" jawab Sugi lalu mematikan sambungan teleponnya
Mereka berdua pun melanjutkan kembali obrolan sepanjang perjalanan kembali ke rumah
Di sebuah tempat di pinggiran kota, Hadi baru saja mendapatkan kabar dari seseorang yang selama ini ia tugaskan untuk mencari tahu keberadaan Riri. Informan itu mengatakan Riri baru saja kembali ke warung dan kantornya bersama seorang laki-laki. Dari foto yang ia terima laki-laki itu ternyata Damar, kakaknya.
"Bajing*n Damar ternyata telah kembali, semakin sulit saja aku mencari celah untuk mendapatkanmu kembali Tari" gumamnya sendiri dalam hati dengan mata terpejam
"Tari milikku selamanya Damarrrr!!! Dia milikku, Si*lan!!! Umpatnya sendiri sambil menghantam jok di depannya dengan kencang. "BHUG!!!"
Hantaman keras itu mengejutkan sopirnya yang sedang berkonsentrasi untuk menyetir. Dengan hati-hati ia melirik ke arah spion atas, di dapatinya wajah atasannya ini penuh amarah. Matanya memerah, bibirnya memberengut kesal, dia terlihat seperti orang lain saat ini yang penuh dengan dendam amarah.
"Berhenti sebentar" ujarnya tegas
Mobil pun berhenti di tepian jalan yang sepi, ia segera keluar dan mengambil napas panjang.
"Apa lagi cara yang bisa aku tempuh Tari!!! Aku gila karenamu!!! Kamu lihat Tari kemanapun kamu pergi aku tetap akan mencari celah untuk membawamu kembali padaku!!!! Hadi berteriak kencang
Walaupun ia sudah beberapa bulan menjadi sopirnya, namun baru kali ini ia melihat atasannya seperti ini.
Ternyata rumor tentang pak Hadi yang temperamental itu benar adanya. Wajah marahnya sangat menakutkan untuk dilihat. Ia pernah mendengar seorang bawahannya pernah di siksa hanya karena kesalahan sepele
Belum lagi ia beberapa kali mendengar wanita penghibur yang berteriak kesakitan saat melayaninya di dalam bilik. Waktu itu ia berpikir teriakan kesakitan wanita itu hanya berpura-pura untuk kepuasan pak Hadi. Namun setelah melihat keadaannya hari ini ia memastikan penyiksaan itu kemungkinan saja benar.
"Untuk mencari aman, sebaiknya aku diam saja, pura-pura tidak melihat dan mendengar apapun saat ini" gumamnya dalam hati sambil berdebar-debar ketakutan
Hari pun berganti, Bu Rita dan teman-temannya pagi ini sedang melakukan kelas Yoga di taman belakang. Sedangkan Silvi sejak bangun tadi masih berada di dalam kamar villanya bergelung dibawah selimut diatas ranjangnya. Ia sedang merasa kurang sehat, kepalanya agak pusing dan sedikit mual.
__ADS_1
"Bagaimana ini? Apa yang harus aku lakukan sekarang?! Seharusnya aku tidak mabuk berat malam itu. Malam dimana aku merasa dipermalukan oleh wanita kampungan itu. Tidak...tidak... tidakk!!! Aku tidak akan menikahi laki-laki gila itu. Tidak akan pernah!!! Dia tidak boleh mengetahui ini. Titik!!" Pikiran Silvi melayang kemana-mana memikirkan nasib dan rencananya sendiri.
"Semua cara sudah aku pikirkan, namun tak satupun berjalan dengan lancar. Wanita kampungan itu beruntung, kemanapun ia pergi selalu saja ada seseorang yang mengawalnya" Tangannya mencengkram ujung selimut dengan geram
Tiba-tiba ia merasakan sesuatu di perutnya
"Astaga...aku ingin muntah!!!" Silvi bangkit dari tidurnya dan berlari menuju wastafel yang berada tak jauh dari sana. Perutnya serasa berontak ingin memuntahkan semua yang ada di dalamnya.
"Hoekkk!!... hoekkk... arghhh!! Hmmpp. hoekk!!!! Arghh"
"F*CK!!!" Ia mengumpat kesal!! Perutnya kini sakit akibat mengejang saat muntah, air matanya pun jatuh satu persatu tanpa ia sadari. Ia lalu berkumur dan membersihkan sisa-sisa muntahan di bibirnya. Ia pun bergegas menyeka air matanya dan mencuci wajahnya dengan air keran.
Sapuan air dingin di wajahnya membuat perasaannya kini jadi lebih baik. Ia memutuskan untuk turun ke restauran untuk menikmati sarapan. Ia tiba-tiba saja ingin makan sesuatu yang berkuah pagi ini. Mungkin soto ayam dengan perasan jeruk nipisnya yang banyak akan membuat perutnya lebih nyaman.
Dengan hati-hati ia melangkah sambil sesekali melihat ke sekelilingnya. Ia sedang mengagumi keindahan taman dan ketenangan yang luar biasa dari villa ini. Pagi ini kabut tidak turun namun udaranya cukup dingin. Beruntung ia tadi memilih menggunakan sweater yang agak tebal sebelum turun, sehingga ia tidak terlalu terganggu dengan hawa dingin ini. Dalam perjalanannya ke restauran ia sempat melihat Ibu Rita dan teman-temannya melakukan Yoga dari kejauhan.
Dari tawa mereka yang berderai ketika kelas Yoga berakhir kemungkinan kelasnya sangat menyenangkan. Ia sedikit menyesal tidak bisa mengikutinya kelas yoga tersebut.
Usai mendapatkan meja di spot terbaik pilihannya, ia pun memesan sarapan. Namun sayang untuk sarapan villa ini hanya menyediakan bubur ayam untuk menu yang berkuah. Ia pun menyetujuinya dan memesannya dengan tambahan permintaan ekstra jeruk nipis.
Sambil menunggu pesanannya ia kembali menikmati ketenangan ini. Beberapa kali ia nampak memejamkan mata sambil mendengarkan kicauan burung dan kucuran air kolam ikan koi yang ada didekatnya.
Suara pembicaraan dua orang tamu di dekatnya tiba-tiba saja menarik perhatiannya. Dengan mata yang masih terpejam ia mendengar dengan jelas pembicaraan mereka
"Villanya bagus yah, suasananya enak. Ulasan di website itu beneran nggak bohong"
"Iyah kita kayak berada di negeri antah berantah dengan perasaan nyaman dan tenang. Ini baru namanya liburan"
"Eh Sis, aku dengar pemiliknya masih muda. Mungkin seusia kita. Aku tahunya dari kakakku, dia diajak temannya kemari waktu soft launching"
"Yang benar?! Bukannya punyanya pengusaha itu ya? Pak siapa? Pak Gilang bukan sih?"
"Iyah itu dulu, sebelum dibeli beberapa bulan lalu sama pemiliknya yang baru. Nah pemilik barunya ini hebat banget. Setelah dia yang mengelola nama villa ini langsung mencuat di nomor satu pencarian di website yang aku tunjukkan waktu itu"
"Wah hebat yah, siapa sih namanya?"
"Kalau tidak salah aku dengar namanya Bu Riri, Iyah Riri Larasati"
Mata Silvi terbelalak mendengar nama itu disebut, kemudian ia tersenyum lebar
"Riri akhirnya aku tahu tempat persembunyianmu selama ini"
__ADS_1