
"Nah ini cetakan rekening Koran dari rekening ayah Anda, bisa di baca nanti. Sekarang ikuti saya, kita ke ruangan safe deposit boxnya. Oh iya kartu aksesnya ada kan?"
"Ada pak, saya sudah membawanya " sahutku mengikuti langkah beliau menuju ruangan yang lain.
"Bagus, kalau begitu silahkan masuk. Saya bantu mencocokkan nomor boxnya" Pak Rudi menelusuri jejeran safe deposit box yang berbentuk kotak seperti rak besi setinggi orang dewasa. Nomor yang dicarinya telah ia temukan.
"Silahkan di masukkan PINnya disebelah sini" kata pak Rudi menunjuk tombol-tombol yang beisi tulisan huruf dan angka pada sebelah kiri box tersebut. Sesuai instruksi pak Rudi, Kemudian Riri memencet nomor pin yang tertera pada kartu aksesnya
"TAK!!!" Sebuah suara mengagetkanku. Nampak satu pintu Safe Deposit boxnya terbuka.
"Saya akan menunggu diluar, Kalau sudah selesai di tutup biasa saja dan box akan terkunci secara otomatis" ujar pak Rudi
"Baik pak, terimakasih"
"Iyah dengan senang hati nak Riri" pak Rudi keluar dari ruangan tersebut
Riri mendekat ke arah box yang terbuka. Dengan sedikit gemetar ia mulai memeriksa isi dari box tersebut. Ada banyak dokumen didalamnya. Riri memeriksanya satu persatu. Ada keterangan waris dan akta seperti yang dikatakan oleh pak Rudi. Riri membaca dokumen tersebut dan matanya terbelalak, karena dia baru mengetahui kalau ayahnya mewariskan 40 % saham di perusahaan untuk dirinya. 20 % milik ayahnya, 10% milik ibunya, kak Damar 5 %, dan dia sendiri 5 %. Jadi dari keterangan waris setelah orang tua dan kakaknya tiada, dirinyalah yang berhak atas saham tersebut.
Dokumen berikutnya berisi sertifikat beberapa hektar tanah di pinggiran kota, 5 buah rumah termasuk rumah tempat tinggalnya dulu, satu buah apartemen, dan satu buah Villa di desa asal kelahiran Ibunya.
"Kupikir paman sudah mengambil alih semua tapi ternyata tidak. Sertifikatnya masih disini semua. Mungkin hanya uang sewa dari rumah, apartemen dan Villa saja yang ia peroleh sekarang" aku bergumam
Tanganku menjangkau dua kotak perhiasan, ketika ku buka masing-masing berisi satu set perhiasan indah bertahtakan berlian "ya Tuhan Indah sekali, ibu memang sangat menyukai berlian. Rupanya perhiasan kesayangannya ia simpan disini"
Tanganku menjangkau lebih jauh, kulihat lima emas batangan pada bagian paling belakang box ini. Di depan emas batangan tersebut aku melihat dua buah album, seperti album foto. Tanganku menarik keluar album tersebut. Ternyata benar seperti dugaanku. Benda itu album foto kenangan kecilku bersama kak Damar. Aku melihatnya dengan mata berkaca-kaca, ada selipan surat kecil dari Ibu di salah satu tempat yang kosong. Aku membuka dan membacanya "kenangan indah anak-anak hebatku, cintaku ,buah hatiku. Semoga kalian tumbuh dengan baik, sehat, dan selalu berbahagia"
Aku menangis memandangi tulisan tangan Ibuku. Setelah beberapa saat dengan cepat aku menghapus air mataku. Aku menyimpan album foto tersebut di tasku dan menutup kembali safe deposit box tersebut.
Aku teringat rekening koran yang diberikan oleh pak Rudi tadi. Aku membaca secara detail laporannya, kali ini bola mataku serasa seperti mencuat keluar melihat angka yang tertera disana. Jumlah uang yang ada pada rekening ayahnya telah menyentuh 5 digit.
"Astaga apa aku bermimpi? apa yang harus aku lakukan sekarang?" Batinku. Aku menyimpan rekening koran tersebut kedalam tas kemudian keluar perlahan dari ruangan itu. Ia masih tak percaya pada apa yang baru saja ia lihat.
Setelah berpamitan pada pak Rudi, dengan bergegas ia masuk kembali ke dalam mobil. Pikirannya sekarang sedang penuh dengan banyak hal mengenai isi dari box tadi.
Sesampainya di rumah waktu telah menunjukkan pukul 20.18. Dia melihat Sugi telah menunggunya di teras rumah. Wajahnya terlihat khawatir. Kami masuk ke dalam rumah dan duduk di sofa ruang tamu.
__ADS_1
"Aku sengaja tidak menelpon tadi, takut mengganggu konsentrasimu, jadi gimana?" Tanyanya padaku
Riri memperlihatkan hasil print rekening koran ayahnya dan menceritakan semua yang ada di dalam box tersebut termasuk tentang pak Rudi yang ternyata kawan baik ayahnya.
"Jadi apa rencanamu selanjutnya?"
"Entahlah, aku masih belum tahu apa yang semestinya aku lakukan"
"Sebaiknya di pikir matang sebelum memutuskan"
"Iyah aku tahu"
"Terus kenapa wajahmu murung?"
"Tadi awalnya aku kaget juga melihat warisan ini, tapi setelah aku pikir-pikir ternyata punya uang banyak juga bikin bingung heeee" aku tertawa miris
"Bahkan tadi sempat kepikiran, ternyata banyak uang juga tidak otomatis membuat kita merasa bahagia ya. Keluargaku juga nggak mungkin bisa kembali lagi walaupun di tukar uang sebanyak ini"
Pernyataan Riri membuat perasan Sugi terenyuh, tangannya mengelus telapak tangan Riri "aku mengerti maksudmu, tapi setidaknya dengan warisan ini ada harapan yang lebih baik di masa depan untuk kehidupanmu" kata Sugi menatap Riri disebelahnya
"Ampun Bu Riri yang kaya raya saya takut" jawab Sugi dengan wajah akting memelas
Aku terkekeh melihat ekspresi wajahnya yang lucu
"Oh iya, sebentar lagi ada temanku datang dan menginap disini selama beberapa hari. Dia dulu tinggal di luar negeri dan baru kembali ke tanah air"
"Teman kuliah?"
"Iyah namanya Rio, teman yang aku bilang rasa kopinya mirip sama buatanmu itu loh"
"Oooo" jawabku
"Eh tapi nanti selama dia ada disini setiap kali kamu keluar dari kamar pakai topi sama masker yah"
"Kenapa? Kan dia temanmu? Dia jahat ya?"
__ADS_1
"Bukan, biar aman aja"
"Nggak ah, nggak mau katanya baik"
"Kamu asistenku, biar kesannya profesional. Itu untuk menjaga privasimu juga kan"
"Ya deh. Tapi berapa lama dia mau tinggal disini?"
"Sampai dia menemukan rumah yang cocok untuk di tempati"
"Kalau nggak nemu, lama dong dia disini?"
"Bawel ya!" Sungut Sugi
"Hahahahaha iya Iyah pak Dirut, saya mengerti" jawabku sambil terbahak
Sugi hanya bisa menggeleng heran "duh untung dia setuju pakai topi dan masker. Aku nggak mau si Rio melihat wajah cantiknya, bisa-bisa aku di tikung Rio. Seingatku selera kami hampir sama untuk urusan wanita. Dahulu beberapa kali kami mengejar wanita yang sama walaupun akhirnya tak satupun dari kami yang bisa mendapatkannya. Beberapa wanita memang lebih tertarik dengan Rio karena kulit gelapnya yang eksotis dan wajahnya yang maskulin. Mudah-mudahan Riri juga tidak tertarik padanya" batinnya
"Mikirin apa sih sampai bengong begitu?"
Sugi menggeleng "bukan apa-apa, eh sudah makan malam?"
"belum, mungkin karena tadi melihat angka di rekening segitu banyak jadi kenyang hahaha" aku tergelak
Sugi memutar bola matanya sambil menghela napas
"Tapi aku baru merasa lapar, aku mau buat mie instan ah. kamu mau?"
"Mau!" jawabnya dengan cepat
"Jadi orang kaya juga makan mie instan yah? aku pikir nggak. Artinya nanti aku boleh meneruskan kebiasaan ini kan hahahaha?" kataku lagi sambil beranjak ke arah dapur sambil tergelak
Sugi hanya sanggup tertawa sambil menggeleng
"ada saja kelakuannya" gumamnya dalam hati
__ADS_1