
Waktu telah menunjukkan pukul 8 malam lebih beberapa menit. Sugi maupun Kak Damar ternyata belum kembali ke rumah. Riri memutuskan untuk menunggu mereka di sofa ruang tamu. Sambil rebahan ia mendengarkan musik dengan memakai headset di telinganya. Setengah jam berlalu, hingga akhirnya tanpa sadar Riri tertidur disana.
Sugi akhirnya pulang, ia mendapati Riri sedang tertidur di sofa. Kemudian ia mendekat dan berjongkok di depan Riri. Tangannya terulur mengelus kepala Riri "kasihan menungguku pulang sampai ketiduran disini" gumam Sugi
"Riri Sayang, Riri pindah ke dalam yuk" Sugi membangunkannya
Riri terlihat menggeliat, ia membuka matanya pelan, dilihatnya Sugi sedang berjongkok di hadapannya.
"Baru pulang yah babe? Ini jam berapa?" Tanyaku dengan suara serak
"Hampir jam sembilan"
"Sudah makan?" kataku sambil berusaha bangun untuk duduk.
"Tadi makan sedikit, makanannya nggak enak"
"Aku masih punya beberapa lauk di kulkas, aku angetin ya?"
Sugi hanya menatapku tanpa menjawabi. Aku merasa wajahnya seperti sedang memikirkan sesuatu.
"Kenapa? Nggak pengin makan lagi? Atau mau buah aja?"
Sugi kemudian duduk bersila, ia menggenggam kedua tanganku.
"Aku hanya merasa bahagia melihatmu tadi tertidur disini menungguku pulang. Bahkan pertanyaan sederhanamu ini yang menanyakan aku sudah makan?, mau di angetin lauk?, mau buah? Itu saja sudah membuatku merasa menjadi laki-laki paling beruntung karena memilikimu Riri"
"Kamu baik-baik saja kan?" Tanyaku khawatir
"Hehehe aku baik-baik saja Sayang, aku hanya bersyukur ada kamu di hidupku saat ini"
"Ck! Sudah ah jangan terlalu berlebihan, setiap hari juga aku begini kan. Itu pun kalau aku sedang merasa fit.
"Iya aku tahu, terimakasih yah sayang sudah mencintaiku dengan tulus" Sugi mengecup punggung tanganku
"Aku yang harusnya berterima kasih. Karena usahamu yang gigih di awal pertemuan kitalah yang membuat hubungan ini bisa terjadi. Terimakasih sudah mencintaiku tanpa syarat sayang" aku mendekat dan memeluknya erat sambil duduk di atas pangkuannya.
Tangan Sugi mengelus rambut dan punggungku.
"Aku belum mandi loh, badanku rasanya lengket" Sugi berbisik
Aku menghirup wangi di tengkuknya "Aku nggak peduli, belum mandi aja masih harum. Mmm aku jadi curiga, apa tadi ada wanita lain yang memelukmu begini?" Kataku dengan nada manja, sambil terus menggesek-gesekkan hidungku di tengkuknya yang harum
"Ck! siapa yang berani melakukan ini padaku selain kamu, Riri? Kamu mau aku buktikan kalau staminaku belum terpakai sama sekali. Dan saat ini masih tersegel dengan utuh" jawab Sugi sambil terpejam menikmati sentuhan Riri di tengkuknya
"Hehehehe jangannn... aku hanya berniat menggodamu" aku terkekeh mendengar jawabannya
Sugi tiba-tiba mulai menyusuri leher dan tengkukku dengan bibirnya yang hangat. Aku biarkan ia mengecup setiap sudut dan celah pada bagian itu.
Aku menggelinjang tatkala tangannya perlahan menarik turun leher kaos yang aku kenakan sehingga ia bisa menyusuri bagian itu sampai tepat diatas dadaku.
"Akh!..." Tanpa sadar aku merintih menikmati sentuhannya sambil terpejam
Gerakannya kemudian terhenti "Damn!" Bisiknya dengan suara bergetar. Sugi terpana melihat Riri mendongak sambil terpejam dan menggigit bibirnya sendiri.
Bisikannya ini membuatku sadar kembali, lalu memandangnya sambil menahan malu
"Aku bisa gila Riri" ia kembali memelukku erat "Kita sudahi dulu ya sayang, aku takut nggak bisa mengendalikan diri, dan aku yakin kamu pasti belum siap. Karena aku sangat tahu seberapa besar hasrat yang aku miliki saat ini"
Aku meregangkan pelukannya dan terkekeh "Kamu terlalu jujur, aku jadi takut Hehehehehe"
"Hei aku laki-laki normal, melihat pemandangan bagus seperti tadi siapa yang bisa tahan? Kamu itu menggemaskan" Sugi mencubit kecil pipiku gemas
"Ya sudah, sekarang yang ganteng ini mau makan atau mau ku buatkan apa?" Tanyaku lembut
"Aku mau makan, tapi aku mandi dulu yah. Bentar aja"
__ADS_1
"Ok" Aku beranjak bangun dari pangkuannya tapi ditahan oleh tangannya yang melingkar di pinggangku
"Aku masih pengin ngobrol kayak gini tapi juga laper, cape" suara Sugi terdengar manja
"Nanti abis makan kan kita bisa ngobrol lagi" aku mengusap lembut pipinya
"Ya deh" ia meregangkan tangannya dan ikut bangun lalu dengan cepar menuju ke lantai dua.
Sedangkan aku mulai sibuk menghangatkan makan malam untuk Sugi di dapur.
Usai makan, Sugi merebahkan tubuhnya pada sofa panjang di ruang tamu. Aku pun menyusulnya setelah membereskan meja makan.
"Sini" katanya ia menarik tanganku untuk duduk di pangkuannya
"Aku baru ingat kenapa kak Damar belum kembali ya?"
"Mungkin masih ada urusan penting"
"Babe, aku belum bilang ya? Tadi aku sama kak Damar sudah nemu rumah yang kami sukai"
Wajah Sugi berubah sedih "artinya kalian akan segera pindah dari sini?"
Aku mengangguk "tapi wajahmu langsung jadi sedih begini. Pasti kamu nggak suka kalau aku pindah?" Aku memegang wajahnya dengan kedua tanganku
Ia mengangguk pelan "rumah ini jadi sepi lagi dong" ia menatapku lekat
"Rumahnya kan dekat sini, jadi aku bisa sering-sering mampir kemari. Yang kami beli ternyata rumah miliknya Gia. Aku juga baru tahu tadi, waktu kesana"
"Aku nggak setuju kalau kita tinggalnya terpisah lagi" ia memalingkan wajahnya
"Hei, ini untuk menjaga harga diriku dan juga keluargaku. Kita berdua bahkan masih berstatus atasan dan bawahan kan di kantor. Aku nggak mau dianggap sebagai benalu, terutama oleh keluargamu"
"Aku nggak peduli penilaian mereka. Sejak masih sekolah sampai sekarang aku tidak pernah mau mengikuti pilihan orang tuaku Riri. Aku seperti sekarang karena pilihanku sendiri, walaupun pada akhirnya mereka masih mau mendukung apapun yang menjadi keputusanku. Apalagi untuk urusan pasangan hidup, aku akan memilih sendiri wanita yang aku sukai dan wanita itu kamu. Sayang, aku nggak mau sama yang lain"
Sugi terdiam menatap langsung ke mataku.
"Babe, aku hanya pindah tempat tinggal bukan pindah ke lain hati. Jangan marah dong, aku jadi ikut sedih" aku memeluknya erat
Sugi menghela napasnya "Kita nikah yuk!" Bisiknya, yang hampir saja membuatku terjengkang karena kaget
"Aduh dia ngajak nikah Riri!!! Gimana dong ini?!!" Aku merasa agak panik mendengar pertanyaannya ini
Dengan hati-hati aku mengatur napasku lalu meregangkan pelukanku. Aku kembali memandang matanya "kamu yakin?"
"Yakin"
"Mmm... tapi aku rasanya belum siap"
"Aku tahu jawabanmu akan seperti ini, tapi aku mau kita bisa ketemu tiap hari. Ngobrol tiap malam kayak gini. Makan malam bareng, sarapan juga bareng lagi. Aku hanya takut kalau nanti ada laki-laki lain yang menikung langkahku"
Aku tiba-tiba merasa geli mendengar perkataannya "hehehehe siapa sih yang berani menikung pak Dirut?"
"Yah mana aku tahu, siapa tahu kamu suka padanya"
"Hahahaha astaga!!...aku bahkan belum berpikir sejauh itu" aku terkekeh
Wajah Sugi terlihat kesal
"Sayang, aku bukan termasuk orang yang mudah untuk dekat dengan seseorang. Apalagi orang itu laki-laki. Kamu juga tahu kan?"
"Aku akan minta ijin pada kakakmu, agar kamu bisa tinggal disini"
"Dia pasti mengijinkan, tapi ini juga keputusanku sendiri sayang. Please ijinkan aku untuk tinggal terpisah denganmu. Aku juga punya rencana untuk hidupku sendiri. Selama ini kan aku juga tidak pernah berbuat macam-macam"
Tiba-tiba saja matanya kembali berbinar "kalau kamu tidak mau tinggal disini lagi, artinya aku yang akan tinggal di rumahmu. Rio pasti tidak akan keberatan" katanya optimis
__ADS_1
Aku memandangnya dengan pandangan tak percaya "kok bisa kepikiran mau tinggal di rumahku sih?"
Sugi mengangkat bahunya "pokoknya aku mau bareng sama kamu, kemana pun kamu pergi aku ikut"
"Hah? Kok jadi gitu" aku menggaruk kepalaku
"Hahahaha" Sugi terbahak-bahak melihat reaksiku yang kebingungan
"Terus rumah ini gimana? jadi sepi dong ?"
"Mmm... Ya deh aku akan tidur disini sesekali tapi yang pasti akan lebih sering dirumahmu" ujarnya bersemangat , Sugi mengecup pipiku berkali-kali
Aku hanya bisa menggeleng dan menghela napasku melihatnya kegirangan seperti ini.
Sugi menunjuk ke arah mesin pembuat kopi "Mesin pembuat kopi ini akan aku kirim ke rumahmu, sekalian sama pakaian dan semua barang-barangmu. Aku akan mengatur beberapa orang untuk membantu kalian pindahan"
"Ck!" Aku menyandarkan kepalaku di dadanya "atur ajalah pak Dirut, saya pasrah" gumamku sambil terpejam
Sugi makin terbahak dengan jawabanku yang pasrah ini.
Kak Damar akhirnya kembali. Ia melangkah masuk kedalam rumah dengan perlahan, seperti takut membuat keributan yang akan membangunkan orang-orang yang ada di dalam rumah ini.
Kami memperhatikan gerak-geriknya dalam keremangan sambil menahan tawa.
"Malam banget pulangnya!!" Ujarku yang sontak membuat Damar terkejut
"Hahahahaha" kami berdua terbahak melihat Damar yang kaget mendengar suaraku
"Urusan apa sih kak? Kok sampai pulang selarut ini?!"
"Adalah" katanya seperti salah tingkah
"Cieee... Ehmm!!! Pasti makan malam sama Gia ya? Apa lanjut itu....?" Aku memonyongkan bibirku "muah... muah!!" Aku menirukan seseorang yang sedang berciuman untuk mengejeknya
"Hahahaha" aku kembali terbahak
"Ihhhh anak ini... Tuh liat Sam, pengin ku jitak kepalanya sekarang" jawabnya dengan wajah kesal sambil menahan tawanya sendiri
"Hahahaha...jangan dong, kamu harus berhadapan denganku kalau mau menjitaknya" Sugi menepuk dadanya
"Ck! Aku nyerah deh sama kalian berdua, aku mau istirahat. Cape banget" sahutnya sambil berlalu
"Cieee ada yang cape banget nih habis aktivitas seharian" celentukku lagi
Kali ini Damar benar-benar berlari mendekatiku yang sudah siap melompat lebih dulu berlari menjauh darinya sambil terbahak-bahak "bahahahahahaha!!!"
Sugi hanya menggeleng melihat kelakuanku dan Damar berlarian seperti tikus dan kucing.
Damar yang berhasil menangkap Riri kemudian mencubit gemas pipinya "ini hukuman buat yang nakal ngejek kakaknya sendiri"
"Aaaakkk sakit tauuu...gorim!!!" Aku memegang pipiku yang kebas sambil menggerutu
"Hah gorim apa?" Kata Sugi
"Gorila import!!!" Jawabku ketus
"Bahahahaha" tawa Sugi pecah mendengar ejekan masa kecil Riri pada kakaknya
"Hei!! Aku cubit lagi nih" ancamnya sambil terkekeh pada Riri
"Nggak mau!!!" Riri berlari kearah Sugi meminta perlindungan
"Udah ah Rio, kasihan Riri pipinya sampai merah begini". Sugi mengelus-elus pipi Riri sambil ikut terkekeh
"Biar kapok, awas loh ya hahahaha?!" Katanya masih sambil tertawa geli berlalu masuk kedalam kamarnya.
__ADS_1