
Sugi dan pak Doni mulai menikmati makan siang mereka dengan lahap.
"Gimana tadi pagi di kantor? Apa Dewi akhirnya mengaku?" tanyaku pada Sugi
Ia mengangguk "dengan bukti sebanyak itu mana bisa dia berkelit. Sayangnya Silvi tidak bisa dihubungi. Tadi mendadak nomornya tidak lagi aktif, dan nomor rekening yang ia pakai untuk melakukan transfer ke Dewi ternyata atas nama orang lain. Malahan kini nomor rekening tersebut telah ditutup dan tidak dipergunakan lagi"
"Jadi nggak bisa dong membuktikan keterlibatan dia?" Ujarku kecewa
"Sayangnya begitu, dia telah merencanakan ini dengan matang. Kita harus tetap waspada sayang. Aku rasa dia tidak akan tinggal diam setelah ini, pasti akan ada rencana-rencana busuk lainnya yang ia sedang persiapkan"
"Semoga saja ia berhenti cukup sampai disini. Sayang sekali dengan kecantikan dan kekayaan yang ia miliki sebenarnya Silvi bisa melakukan hal-hal yang lebih berguna"
"Sudahlah sayang pokoknya kita waspada saja. hmmm...Nanti malam aku kerumah ya"
"Iyah, jam berapa mau kerumah?"
"Kenapa? Kamu mau keluar? Aku antar ya"
"Nggak sih, biar aku tahu saja"
"Kemungkinan sore nanti, jadwalku kosong hari ini"
"Ok sayang"
Setelah makan siang, Sugi langsung kembali ke kantornya. Aku pun melanjutkan pekerjaanku yang sempat tertunda hari ini.
Tak terasa hari telah menjelang sore, aku mulai membereskan meja kerjaku. Ketika akan mengunci pintu utama kantor, ku lihat sebuah sepeda motor berjalan pelan melewati kantor ini. Kemudian beberapa saat sepeda motor itu kembali lagi ke arah yang berlawanan seperti sedang mencari alamat.
Seingatku tadi sepeda motor itu dinaiki oleh dua orang berbadan besar memakai helm dan masker diwajahnya. Tiba-tiba perasaanku menjadi tidak enak. Aku mempercepat langkahku menuju sepeda motor yang aku parkir tak jauh dari sana.
"Aku berharap instingku kali ini salah, bisa saja dua orang tadi hanya sekedar lewat mencari alamat, atau memang sedang melihat situasi kantorku. Argh!!! Aku tidak boleh berpikir terlalu negatif. Tapi setiap kali akan muncul bahaya, perasaan gelisah yang aku rasakan saat ini selalu saja muncul. Semoga saja tidak akan terjadi apa-apa" gumamku dalam perjalanan pulang
Usai mandi dan mengganti baju aku turun ke dapur untuk menyiapkan makan malam. Kudengar suara sepeda motor masuk ke halaman dan berhenti di depan. Aku mengintip dari balik jendela, seperti dugaanku Sugi telah sampai.
Aku membukakan pintu rumah untuknya, ia kemudian masuk lalu merangkulku.
"Sayang" aku menyapanya dengan mata berbinar kala melihat penampilannya sore ini.
Kulihat ia memakai pakaian casual, hanya berupa kaos berwarna putih pas di badan dan celana panjang biru berbahan jeans. Lekuk tubuh berototnya kali ini nampak jelas. Hal itu membuat penampilannya terlihat semakin maskulin.
"Kok tumben pintu rumah dikunci jam segini? Biasanya kan kalau kamu mau tidur baru deh dikunci semua. Benar kan sayang?" tanyanya dengan wajah khawatir
"Tadi aku melihat dua orang naik motor bolak-balik di depan kantor. Entah perasaanku saja atau memang insting lamaku muncul kembali, aku tiba-tiba saja merasa itu mencurigakan. Mudah-mudahan sih nggak ada apa-apa"
"Tenang saja sayang, mulai besok ada orang yang berjaga-jaga di sana. Kan tadi siang aku sudah perintahkan pak Doni untuk menempatkan satu orang dikantormu"
"Iyah aku ingat kok, terimakasih ya" aku tersenyum padanya
"Kita makan diluar yuk" ajaknya dengan bersemangat
Aku tersenyum lebar "Ih asyik, naik motor kan?"
"Iyah dong"
"Tunggu ya, aku ganti baju dulu" aku berniat berlari naik ke lantai dua, tapi tangan Sugi menyambar pinggangku dengan cepat
__ADS_1
"Eits tunggu, cium dulu" katanya sambil mendekatkan wajahnya lalu mengecup bibirku dengan lembut
"Aku ikut ke kamarmu ya!?" Ia menatap mataku dengan pandangan memohon
"Ngapain?" Ujarku sambil pelan-pelan menjauh dan bersiap untuk lari
Tapi rupanya langkahku terbaca olehnya.
Lagi-lagi ia menangkapku kemudian memanggulku layaknya sekarung beras di pundaknya.
"Hahahaha hei! Aku bisa jalan sendiri, turunkan aku sayang?!" Aku benar-benar kaget dengan tindakannya.
"Nggak mau, biarkan aku yang menggantikan pakaianmu di dalam" ia membuka pintu kamar dengan tangan kirinya lalu menurunkan aku di atas ranjang
Kulihat ia berjalan menuju lemari pakaianku, aku berlari dan memeluknya dari belakang.
"Aku ambil sendiri saja"
Ia menoleh kebelakang "loh memangnya kenapa? Ada rahasia apa di dalam lemarimu?"
Aku merasa sedikit frustasi dengan tindakannya ini... "Ck! Sayang, terus terang aku belum siap untuk memperlihatkan isi lemariku padamu. Itu sama halnya seperti melihat kepribadian yang paling dalam dari pemiliknya"
"Ahh aku sudah melihat semua kan kemarin, yah nggak semua sih? Apa yang kamu khawatirkan?? Atau jangan-jangan ada laki-laki lain bersembunyi didalam?" Ia menatapku curiga
"Nggak ada siapa-siapa kok, beneran. Aku hanya masih belum terbiasa untuk memperlihatkan semuanya padamu"
Ia menarik tanganku lembut agar aku berpindah tempat ke hadapannya
"Sayang kita sudah sedekat ini. Sudah saatnya aku mengetahui hal-hal sekecil apapun tentang dirimu. Aku ingin tahu semuanya. Please biarkan aku melihat rahasia kecilmu disana" ia menunjuk lemari pakaianku
"Iya deh tapi jangan mengejekku kalau kamu menemukan sesuatu yang menurutmu aneh disana" ujarku pelan
Ia membuka satu persatu pintu lemari besar yang berjumlah enam itu.
"Ini isinya pakaian biasa semua, ini juga.., ini gaun-gaun, oh ini pakaian kerjamu, ini ada handuk, ada tas juga, eh ini apa?!" Ia nampak tersenyum geli
Ia menoleh kearahku yang sedang gelisah
"Ini koleksi ling*rie ya?, Gila!! Ini menarik sekali loh sayang. Aku suka"
"Ayo Kemari lah, jelaskan padaku kenapa kamu malu memperlihatkan ini?"
"Aku merasa aneh dengan koleksiku ini. Mana ada orang mengkoleksi pakaian dalam seksi sebanyak ini. Aku memiliki hampir semua model yang sedang hype. Bahkan aku punya yang seksi bertema kartun kayak *ikachu, *ailormoon.. ya gitu deh. Entah bagaimana ceritanya aku selalu tertarik untuk membelinya. Walaupun aku belum pernah memakainya sama sekali" jawabku pelan
"Aku malah senang kamu memilki koleksi ini. Nanti kan bisa di coba satu-satu kalau kita sudah menikah. Ini bakalan seruuuu...sepertinya aku akan ikut menambahkan koleksimu" ia tersenyum lebar bersemangat
Aku menundukkan wajahku, ku yakin saat ini wajahku sudah bersemu merah mendengar ucapannya.
"Mana coba kulihat wajah wanita pemberani yang ternyata pemalu ini" ia memiringkan wajahnya.
Aku memukul pelan dadanya
"Hehehehe..." Ia terkekeh sambil memelukku
"Ganti baju dulu yuk. Aku sudah lapar" katanya kemudian
__ADS_1
"Aku ambil sendiri ya. Diam disana saja" aku mendorongnya pelan untuk menjauh
"Ya sudah aku duduk disini saja" ujarnya sambil duduk diatas ranjang
Aku mengambil celana panjang jeans dan atasan berbahan kain berwarna hitam. Tanpa menghiraukan pandangan matanya aku menganti pakaianku dengan cepat. Ia nampak tersenyum menatapku lekat
"Aku nggak usah pakai make up ya?"
"Nggak usah, segitu saja sudah cantik. Bawa jaket yah takut dingin. Jaketku ku tinggal di atas motor"
"Yuk berangkat" kataku setelah mengambil tas selempang kecil di atas meja
Aku memeluknya erat ketika sudah duduk diatas motornya. Ia pun melajukan motornya dengan kecepatan sedang membelah jalanan yang mulai padat di malam ini.
"Aku Jadi ingat pagi-pagi nyari bubur waktu dulu itu. Kamu masih ingat nggak??" Katanya ketika kami sedang menunggu lampu merah
"Yang aku pertama kali menginap di rumahmu?"
"Iyah, kamu tahu nggak aku sengaja memberikanmu celana pendek biar kedinginan, kalau kedinginan pasti kamu mau memelukku erat hahahaa" ia terbahak-bahak
"Oh gitu, dan aku bodohnya nurut- nurut aja ya memakai apapun yang kamu berikan waktu itu"
"Nggak juga sih, adanya memang hanya itu. Tapi kan sebenanya bisa bawa mobil hahahaha"
"Ck! ....eh artinya saat itu kamu sudah menyukaiku??"
"Iyah memang, kamunya aja yang nggak peka" ia mengelus-elus lutut dan kakiku.
Sentuhannya ini sukses membuat aku blingsatan. Aku merasakan nyeri-nyeri geli yang menyenangkan di perutku.
"Tanganmu Sayang"
"Kenapa? Geli ya? Hehehehe" ia kembali terkekeh
Aku mencubit perutnya
"Ishh sakit sayang, coba sentuh yang dibawahnya hahahaha" ia berbisik menoleh ke belakang dan mulai tertawa sambil kembali melajukan motornya
Seperti permintaannya, aku menyentuh bagian bawahnya dengan lembut. Dari caranya menoleh ke samping, Ia nampaknya cukup terkejut dengan tindakanku ini.
Tiba-tiba ia menepi dan berhenti di pinggir jalan
"Sayang...!" Ia menoleh kebelakang
Aku mendekatkan wajahku "Iyah apa"
"Kamu tuh bikin kaget tahu nggak sih. Aku hampir saja menarik gas kencang"
"Loh katanya disuruh pegang, yah aku pegang hahahaha" aku tergelak
"Yah aku kan bercanda"
"Hahahaha maaf aku iseng banget ya?!"
"Pulang aja yuk, lanjut dirumah" pintanya
__ADS_1
"Nggak, katanya mau makan"
"Hahahaha ihhhh..." Sahutnya sepertinya merasa gemas sendiri