
Dari laporan rekening koran yang mereka terima dari seorang informan, ada aliran dana dalam jumlah besar masuk ke rekening Dewi sebanyak dua kali. Dan dua-duanya ditransfer dari luar negeri dalam jarak waktu berdekatan. Transferan pertama dilakukan di hari saat Mita mencarinya ke kantor. Transferan berikutnya dilakukan saat berita mulai bermunculan di media online.
Sugi dan ayahnya nampak termenung memperhatikan lembaran di tangan mereka.
"siapa mastermind dari luar negeri yang sangat ingin menjatuhkan kita saat ini ya?!" Ujar Sugi kembali berpikir
Beberapa saat kemudian ia nampak menyunggingkan senyuman
"Ayah, aku mencurigai Silvi. Hanya dia yang mengenal Dewi dan memiliki motif untuk melakukan hal ini"
"Ah mana mungkin dia berani melakukan hal kotor semacam ini?" Sahut Pak Danu dengan wajah tak percaya
"Ayah masih ingat kan? Dia hampir saja mencelakai Riri dan membuat image salah satu hotel kita menjadi buruk hanya demi keinginan pribadinya. Hal yang seperti itu saja dia berani lakukan apalagi yang ini? Pasti lebih berani lagi"
Pak Danu mengangguk-anggukkan kepalanya
"Tok! tok! tok!" Bunyi pintu diketuk seseorang dari luar
"Saya Doni pak" ujar pak Doni di balik pintu
"Masuk saja pak" jawab Sugi
Pak Doni masuk ke dalam ruangan dengan terburu-buru "pak, saya sudah mendapatkan print out telepon masuk dan keluar beserta isi pesan dalam ponsel Bu Dewi" kata pak Doni sambil menyerahkannya pada Sugi
Mereka memperhatikan beberapa nomor yang sempat menghubungi Dewi beberapa kali di hari kejadian. Mereka menandai satu nomor telepon asing, seperti nomor telepon luar negeri melakukan tiga kali panggilan dalam satu hari saat Mita ke kantor
Mereka juga akhirnya bisa membaca percakapan yang dilakukan oleh Dewi dengan seseorang yang bernama Ms.X pada ponselnya. Isinya kurang lebih meminta Dewi untuk membantunya merancang berita bohong agar menjadi skandal untuk Wijaya Grup. Serta memintanya menghubungi empat wartawan media online yang cukup terkenal saat ini agar berita skandal tersebut membuat heboh.
"Kita harus bisa membuktikan kalau ms.X ini benar Silvi" pak Danu menatap Sugi
"Kita paksa Dewi menghubungi nomor itu besok pagi, sebelum aku ke rumah sakit"
"Iyah kita harus segera menahannya, sebelum ia lari" kata pak Danu dengan wajah geram
"Pak Doni, kedatangan saya besok ke rumah sakit jangan sampai bocor ke wartawan. Biarkan saja mereka menebak-nebak" Sugi menoleh kearah Pak Doni
"Tadi saya sudah menghubungi pihak rumah sakit. Saya juga sudah menyampaikan agar kedatangan bapak dirahasiakan. Tapi pasti akan ada beberapa wartawan yang sudah menunggu disana"
"Tidak masalah, yang penting pergerakan kita jangan sampai di endus oleh Dewi"
__ADS_1
"Saya mengerti pak. Untuk CCTV sudah saya lihat kembali. Tidak ada hal yang aneh pak, hanya dia sempat terlambat kembali ke kantor setelah makan siang di hari bu Dewi bertemu dengan Bu Mita"
Sugi mengangguk pelan "ok, kita pulang sekarang Pak Doni. Saya lelah sekali" ia beranjak dari tempat duduknya
"Istirahat yang cukup Sam, besok akan menjadi hari yang panjang untuk kita" pak Danu menepuk pelan lengannya
"Oh iya wartawan pasti sudah menunggumu dibawah dan mungkin akan mengikuti kalian juga sampai rumah, jadi berhati-hatilah"
"Aku tahu yah, aku pulang dulu"
Pak Danu mengangguk
Sugi dan pak Doni kemudian keluar dari ruangan itu. Mereka berjalan dengan cepat bersiap-siap menerobos wartawan di depan dengan bantuan empat orang Sekuriti yang sedang berjaga-jaga.
Kerumunan wartawan yang telah menunggu sedari siang terdengar berteriak riuh di saat mereka muncul.
Dengan bantuan sekuriti, mereka menerobos wartawan- wartawan tersebut. Beberapa dari mereka mengeluarkan pertanyaan sembari mengejar
"Kapan bapak akan melakukan test DNA?"... "Apa Bu Mita sudah bertemu dengan bapak?" ... "Sudah berapa lama kalian terpisah? Apa benar anda mencampakkan Bu Mita?" ...
Tanpa menjawab pertanyaan-pertanyaan itu Sugi melangkah lebih cepat menuju mobilnya. Dengan bersusah payah akhirnya mereka berhasil masuk ke dalam mobil. Mobil melaju membelah kerumunan wartawan yang menghadang. Nampaknya beberapa wartawan mengikuti mereka dengan sepeda motor.
Sugi menyandarkan tubuhnya pada sandaran jok belakang sambil memejamkan matanya untuk menenangkan diri. Ia lalu teringat belum sempat menghubungi Riri hari ini. Tangannya merogoh saku kemeja untuk mengambil ponselnya. Ia kemudian menekan angka 2 agak lama. Nama Riri muncul di layar ponselnya untuk dihubungi.
"Hi baby..."
"Kamu lagi dimana?" tanyanya manja
"Lagi dijalan mau pulang. Maaf ya sayang seharian ini aku sibukkkk banget, jadi baru sempat menghubungi mu"
"Sibuk ngobrol sama Mita ya? Aku merasa ditelantarkan" Riri terdengar kecewa
"Ck! Masa ngobrol sama dia sampai jam segini. Mendingan ngobrol sama pacarku yang menggemaskan ini dong"
Riri terdengar tertawa geli "hehehe kamu dah makan?"
"Ahh aku baru ingat belum makan apa-apa dari siang tadi, sebentar ya sayang"
"Pak Doni kita beli sesuatu untuk makan malam ya. Hari ini bapak menginap saja dirumah" Sugi mengalihkan konsentrasinya pada pak Doni
__ADS_1
"Baik pak" jawab pak Doni singkat
"Awas loh asam lambung" kata Riri khawatir
"Aku sempat ngemil biskuit tadi di kantor, mungkin karena itu belum merasa lapar"
Riri terdiam
"Kenapa diam sayang?"
"I miss you so much, pengin peluuuk" suara Riri yang manja kembali terdengar
"Duh...Me too baby tapi malam ini kita benar-benar tidak akan bisa bertemu. Ini saja ada beberapa wartawan yang mengikutiku. Mudah-mudahan sekuriti di depan bisa menghalau mereka"
"Yah mau bagaimana lagi kan?" Riri terdengar kecewa
"Lagi ngapain sayang?"
"Lagi baca novel, aku membelinya tadi waktu pulang dari kantor"
"Kalau aku ada disana, mungkin kamu nggak akan ada waktu untuk membacanya"
"Kenapa?"
"karena aku akan membuatmu "sibuk" sepanjang malam" ia menggodanya
Riri terkekeh "Hehehe nggak cape? Tapi mendingan kamu istirahat deh hari ini. Makan, mandi air hangat, terus tidur. Besok pasti bakalan hectic"
"Riri, aku mau beli pintu ajaib. Biar bisa langsung muncul di kamarmu aja boleh nggak?"
"Boleh. Kalau ada yang jual pintu ajaib, salah satu dari wartawan itu pasti punya juga dong"
"Iya yah benar juga. Ahh gagal mes*m deh hahahaha" ia tergelak
"Hahahaha" Riri ikut tergelak.
Suara tawa Riri membuat perasaan rindunya semakin menjadi-jadi. Ingin sekali ia merengkuhnya dalam pelukan. Ia nampak menarik napas panjang untuk meredakan perasaannya yang kini mulai menggebu-gebu
"Riri, Nanti setelah aku sampai dirumah, aku telepon lagi yah. Aku sekarang sedang menunggu pesanan burgerku di lantatur. Sebentar lagi sampai, tunggu aku Riri jangan tidur dulu"
__ADS_1
"Iya sayang, aku tungguin"
"Ok" ia menutup sambungan teleponnya