
"Aku harus berangkat sekarang, kita ngobrol lagi nanti malam. Nikmati jalan-jalan kalian hari ini ya" Sugi beranjak dari tempat duduknya
"Ok, thank you buat semuanya Sam"
"My pleasure" jawabnya sambil berlalu
"Tari!!!, Keluarlah. Orangnya sudah berangkat!!!" teriak Damar seperti mengerti apa yang sedang terjadi dengan adiknya.
Riri nampak keluar perlahan menuju meja makan, langkahnya ragu sambil melihat sekeliling.
"Sini!!! Kubilang dia sudah pergi. Aku sudah meminta ijin untukmu hari ini. Kamu kenapa tidak keluar-keluar dari tadi?.
"Mmm..." Aku tersenyum tidak bisa menjawab pertanyaannya, wajahku sudah bisa dipastikan bersemu merah saat ini.
"Hahahaha lihat wajahmu jadi semerah tomat, tingkahmu seperti anak abege saja. Apa yang sudah dia lakukan padamu Tari?"
"Hehehehe" Aku mengangkat bahuku sambil ikut terkekeh dengannya
"Aku jujur senang kalau kalian benar dekat dan menjalin hubungan istimewa, dia laki-laki yang baik Tari.
"Aku tahu kak"
"Aku tidak akan menghalangi hubungan kalian, tapi aku hanya khawatir keluarganya akan menyulitkan mu"
"Sebenarnya orang tua Sugi sudah memilihkan calon istri untuknya"
"Oh yah?" Wajah Damar terlihat kaget "Sam mau dijodohkan? Dia sendiri apa setuju?"
"Katanya sih nggak, tapi nggak tahu juga. Sudahlah kak tidak usah dibahas. Yang penting sekarang kita mau kemana dulu?"
"Ok, kemana ya? Cari sarapan bubur yuk" ajaknya
"Nah benar, yuk kak" aku mengangguk senang
Ponselku bergetar di atas meja, kulihat ada pesan masuk dari Sugi
"Selamat bersenang-senang Sayang ♥️"
__ADS_1
Aku perlu membaca pesan itu berulangkali, untuk merasa yakin kalau aku tidak salah membacanya.
Dengan perasaan kikuk aku meletakkan ponselku kembali "masa, hanya dengan satu kalimat dengan kata sayang saja sudah bisa membuatku salah tingkah begini?!" Aku menggaruk kepalaku yang tidak gatal
Hari ini aku dan Damar memiliki rencana mendatangi beberapa tempat makan dan bersantai favorit keluarga kami. Salah satunya mengunjungi tukang bubur ayam yang ada di dekat pasar induk di tengah kota.
Kami bergegas berangkat menggunakan mobil Sugi yang sering kubawa ke kantor.
Setelah sampai aku langsung memesan. Kemudian kami pun duduk menunggu sambil melihat keadaan di sekitar pasar. Orang-orang nampak berlalu lalang disekitar kami. Warung bubur ini sedikitpun tidak berubah, gerobaknya masih sama berwarna biru tua dengan cat yang sudah mulai mengelupas disana sini. Tulisan nama bubur ayam "Pak Jos" terlihat memudar pada kaca depan gerobaknya. Dahulu semasa kami kecil, setiap hari Minggu kami sering sekali diajak kemari oleh ayah dan Ibu sambil berbelanja kebutuhan dapur.
"Kak, ternyata rasa buburnya masih sama"
"Iyah, benar rasanya sama sekali tidak berubah"
"Foto yuk kak" aku mendekati kak Damar untuk melakukan swafoto dengan semangkuk bubur kuangkat di depan kami. Aku berniat mengirimkan foto ini untuk Sugi sebagai balasan pesannya tadi.
Sementara itu suasana di ruang meeting kantor pusat Wijaya Group nampak tegang. Para pimpinan dari semua lini usaha Wijaya Grup sedang berkumpul untuk rapat setiap tiga bulan sekali bersama Direktur utama.
Beberapa berkas laporan nampak berjejer didepan Sugi. Ponselnya tiba-tiba saja berbunyi di suasana yang hening mencekam yang tentu saja mengagetkan semua orang yang ada disana. Mereka paham sekali kalau Direktur Utama tidak suka terganggu dengan hal-hal diluar urusan rapat. Selama beberapa kali rapat dengan beliau, tak sekalipun ia menghiraukan ponselnya. Tapi kali ini berbeda, ponselnya berbunyi nyaring bahkan ia langsung memeriksanya kemudian menyunggingkan sedikit senyuman.
Para pimpinan yang hadir sepertinya bisa sedikit bernapas lega, karena suasana selanjutnya bisa jadi lebih rileks dengan adanya perubahan mood tersebut.
Pak Doni teringat dengan cerita pak Sugi tadi sewaktu berangkat ke kantor. Ia mendengar kalau Bu Riri dan Pak Rio ternyata bersaudara kandung dan saat ini sedang menghabiskan waktu bersama seharian untuk melepas rindu.
"Ah kalau begitu besok-besok semisal pak Sugi sedang tegang, aku minta tolong Bu Riri saja mengirimkan foto atau pesan sayang. Lumayan bisa menyelamatkan telingaku dari omelannya" gumam pak Doni dalam benaknya.
Suasana nampaknya memang lebih mencair ketika pak Sugi melanjutkan kembali rapat hari itu. Nampak kelegaan dari wajah semua orang yang hadir hari itu dalam rapat.
____________
Di mejanya, Sembari menyantap bubur Riri memeriksa balasan dari Sugi
"Nice, nanti kirim foto lagi ya ♥️"
Riri nampak tersenyum geli usai memeriksa ponselnya.
Tangan Damar mencubit kecil lengannya "Idih aku dicuekin"
__ADS_1
"Hahahaha, kita ngomongin apa barusan?" Tanyaku dengan wajah cengengesan
"Paman, kamu nanya kan aku mau balas dendam atau nggak?
"Oh iya, kita nggak punya bukti apapun untuk menjeratnya. Lagipula kasusnya sudah bertahun-tahun lalu"
"Kecuali pak Amir masih hidup, itu pun belum cukup untuk membuktikan kalau dia bersalah" ujar Damar dengan wajah serius
"Aku sebenarnya sudah merelakan orang tua kita kak, mungkin memang sudah jalannya begini. Lagipula aku percaya karma, mereka yang akan menuai hasilnya kak"
"Iyah benar, sekarang saja dari informanku katanya mereka memiliki hutang dalam jumlah yang cukup besar. Itu kenapa mereka bersikukuh menemukanmu untuk merebut semua harta warisan dari orang tua kita"
"Kalau memang merugi, kita lepas saja saham itu kak. Lumayan untuk menambah modal usaha kakak" sahutku
"Iyah aku juga memikirkan hal yang serupa. Menurut informasi yang kuperoleh, rapat pemegang saham kira-kira seminggu lagi. Kamu hubungi kantor disana, katakan kamu akan ikut serta dalam rapat itu"
"Aku mengerti kak, kita akan membuat geger orang-orang disana hehehehe" aku terkekeh
Damar ikut terkekeh "Itu pasti hehehehe"
"Besok kakak rencananya apa?"
"Besok aku akan ke daerah pedasaan di Utara sana, kamu tahu kan tempat pengrajin furniture yang terkenal itu. Aku mau menemui beberapa supplierku disana"
"Itu jauh sekali jaraknya, jam berapa mau berangkat?"
"Besok aku berangkat subuh, sepertinya harus menginap. Aku nanti mau pinjam sepeda motornya Sugi, biar tidak merepotkan pak Doni"
"Ok kak"
Damar mengubah posisi duduknya menghadap kearah Riri"Tari, mungkin sebulan lagi kamu harus berhenti bekerja di perusahaannya Sugi. Aku butuh bantuanmu untuk mengembangkan usahaku. Kita akan membuat nama orang tua kita kembali berjaya" Damar memandangku dengan wajah serius
"Aku mengerti kak, aku akan berusaha sekuat tenaga untuk mewujudkan itu" kataku bersemangat
"Great!!! Hmm nanti nggak masalah kan kalau kalian tinggal terpisah. Sammy pasti akan berusaha agar kamu tetap tinggal bersamanya. Tapi sebaiknya kalian tinggal terpisah, aku tidak mau kamu direndahkan oleh orang tuanya"
"Tidak masalah denganku, selama ini juga aku sebenarnya tinggal sendiri kok"
__ADS_1
"Ada kemungkinan dia akan marah besar padamu, bicarakan saja baik-baik padanya. Kalau dia benar sayang padamu pasti dia akan mengerti".
Aku mengangguk mendengar ucapan kakakku "pasti akan susah sekali membujuknya, Ck! Tapi aku yakin dia mengerti keputusanku" gumam Riri dalam benaknya.