
Aku kembali gusar "Duh gimana nih? Dia kan tahunya aku tinggal di gang sempit itu. Ck! Ya sudah sisanya jalan kaki sajalah" gumamku sambil menghela napas
Lima menit kemudian aku pun turun, tak nampak satu pun orang di bawah. Ponselku kemudian berbunyi, aku lihat Gia melakukan panggilan
Ketika kuangkat suara Gia mengomel kencang "kencingnya di negara bagian mana sih ri, lama banget?!!"
Aku terkekeh "Hehehehe, sori barusan ketemu teman lama. Jadi ngobrol sebentar"
"Ck! Sini balik cepetan, aku udah ambilin makanan buat kamu"
"Oh thanks God, you are the best Gia" kataku langsung menutup teleponnya
Dengan langkah cepat aku kembali ke mejaku. Kulihat Bu Yuli sedang asyik mengobrol dengan seseorang di sebelahnya, sedangkan Gia dengan wajah kesal menatapku tajam
"Ngobrolin apaan sih sampe dua puluh menit?"
"Ada deh" jawabku sambil terkekeh mencubit pipinya. Gia hanya bisa menghela napasnya.
Waktu berlalu, beberapa kali kulihat Gia menguap
"Gia kamu kayaknya ngantuk, mending pulang sekarang deh"
"Iyah loh, seharian ini banyak sekali yang aku kerjakan. Mana besok mau ada meeting, pagi-pagi pula, Duh menyebalkan!" Dia mendengus
"Nggak boleh gitu, semangat yuk! Kapan-kapan kita ketemuan lagi deh"
"Iyah deh, aku pulang duluan ya Ri" Riri bangkit dari duduknya. Diikuti oleh bodyguard dan asistennya.
Aku mengangguk dan memeluknya erat "hati-hati dijalan" Gia membalas pelukanku sama eratnya
"Bu Yuli, maaf menyela. Saya pulang duluan yah"
"Oh ya, benar sudah jam ya? silahkan Bu Gia. Sebentar lagi kita juga menyusul" kata Bu Yuli melambai padanya
Gia membalas lambaian tangan Bu Yuli dan melambai padaku "Dah Riri"
"Dahh"
Bu Yuli merapikan ponsel dan tasnya "yuk, pulang sekarang" ajaknya
"Saya masih harus bertemu dengan seorang teman disini Bu, nanti saya pulang sendiri saja"
"Ok Riri, tas yang di mobil bagaimana?"
"Saya ambil sekarang saja Bu"
"Yuk" Bu Yuli beranjak dari tempat itu, dan aku mengikutinya
"Nanti pulang jangan terlalu malam yah, besok kan kerja di kantor pusat. Mereka sangat disiplin Riri" kata Bu Yuli ketika kami menuju parkiran yang mulai sepi.
"Jangan khawatir Bu, saya pasti datang lebih awal" jawabku sambil tersenyum
"Baik-baik di tempat baru yah Riri" ujar Bu Yuli sambil memelukku
"Iyah bu terimakasih atas perhatian dan bimbingannya selama sebulan ini yah. Nanti saya masih boleh telepon Bu Yuli kan?"
"Ya masih lah Riri, kita kan di grup yang sama hehehe" Bu Yuli tertawa geli
"Hehehe Iyah bu, kalau begitu hati-hati dijalan. Salam saya untuk semua teman-teman dikantor"
"Nanti saya sampaikan Riri, take care" katanya kemudian berlalu
Aku masih melambai kearah mobil Bu Yuli, kulihat suasana disekitarku menjadi sepi, orang-orang yang kulihat tadi juga sudah pergi.
"Tasnya saya bawa ke mobil yah Bu!!" suara pak Doni mengagetkanku. Tiba-tiba dia sudah berada di belakangku, entah sejak kapan
__ADS_1
"Astaga pak!!!" Aku sedikit berteriak
"Maaf Bu hehehe kaget yah" pak Doni tertawa
"Iyah pak Doni kayak ninja, tiba-tiba saja sudah dibelakang saya"
"Ninja hadoni Bu hehehe" kelakarnya sambil kembali terkekeh
"Hatori ternyata sudah ganti nama rupanya?" aku menjawab sambil menyerahkan dua tas kepada pak Doni yang makin terbahak mendengar jawabanku
"Bu Riri disuruh menunggu dalam mobil. Ini kunci mobilnya" pak Doni menyerahkan kunci mobil hitam ini padaku
"Masih lama nggak pak Sugi didalam?"
"Mungkin lagi beberapa menit"
"Nanti pak Doni pulang sama siapa?"
"Saya bawa kendaraan sendiri"
"Rumah pak Doni dimana?" Tanyaku saat masuk kedalam mobil Sugi
"Rahasia" katanya tersenyum kemudian menutup pintu mobil
"Ck! Pak Doni nggak asyik" gumamku
Pintu mobil kemudian kembali terbuka, pak Doni menyembulkan kepalanya
"hmm ini rahasia kita berdua, beliau beberapa hari ini susah tidur. Saya takut beliau sakit bu. Kalau sudah bekerja pasti lupa waktu, kebiasaannya sudah makin mirip Bu Riri"
"Heh?!" Aku melongo mendengar ucapan pak Doni yang terakhir "apa Iyah saya begitu pak?"
"Iyah Bu" jawabnya yakin
"Apa saya belikan obat tidur saja yah Bu?"
"Nanti saya mohon bantuan ibu bujuk beliau, kalau saya yang bilang begitu pasti tidak di dengar"
"Apa bedanya sama saya pak?"
"Beda, kemungkinan di dengarkan lebih besar, coba saja bu"
"Kenapa jadi saya yang harus membujuk beliau pak?"
"Kan salah satu tugas Bu Riri"
"Tugas? Tugas apa sih pak?" Aku kebingungan
"Loh pak Sugi belum beritahu ibu yah? Bu Riri kan sekarang sudah jadi asisten pribadi pak Sugi, selain saya sendiri"
"HAH!!??" Aku terbelalak tidak menyangkanya sama sekali
"Hahaha selamat yah bu" pak Doni lalu menutup pintunya kembali sambil terbahak-bahak
"Astaga Riri!!! Kamu asistennya Sugi!!" Aku berteriak tertahan di dalam mobil.
Beberapa menit kemudian kulihat seseorang berlari mendekat, dari siluetnya aku yakin dia Sugi
Setelah sampai, dengan cepat dia masuk kebelakang stir "lama nunggunya?" Katanya sambil menghidupkan mesin mobil dan mulai melaju
"Lumayan" jawabku, tanganku sibuk memakai sabuk pengaman
"Sugi tadi kok nggak bilang, aku ternyata jadi asisten kamu bareng sama pak Doni"
"Kenapa memangnya? Nggak suka yah?" Tanyanya dengan suara datar
__ADS_1
"Bukan nggak suka, aku kaget aja tadi waktu pak Doni bilang begitu"
"Orang tua itu cepat sekali memberitahumu, dia info apalagi?"
"Nggak ada" jawabku sambil mengalihkan pandanganku
Hujan tiba-tiba turun sangat deras, saking derasnya Sugi harus memelankan laju mobilnya.
"Kalau cape, saya saja yang menyetir"
"Bisa?"
"Bisa"
"Kapan belajarnya?"
"Sewaktu saya masih sekolah"
Sugi menoleh ke arahku dengan wajah tidak percaya
"Bapak Direktur Utama, saya memiliki SIM A dan SIM C loh" kataku kemudian terkekeh
Sugi ikut tertawa mendengar celotehanku
"Aku senang Riri, kamu sudah lebih santai mengobrol denganku"
"Jadi gimana? Aku yang nyetir?"
Sugi menggeleng "Aku masih kuat Riri, jangan khawatir"
"Tapi itu bawahnya kayak mata panda, kelihatan lelah" aku menunjuk ke arah matanya
"Oh yah?! Aku memang lagi susah tidur Riri"
"Kenapa tidak mencari bantuan profesional?"
"Sudah pernah, disuruh minum obat terus"
"Takut ketergantungan?"
"Iyah"
"Sudah pernah Olahraga terus mandi air hangat, minum susu baru tidur?"
Sugi tersenyum, karena ia ingat betul malam itu saat bawahannya mengirim video Riri berlari malam-malam di seputar gang tempat tinggalnya.
"Olahraga jenis apa?"
"Kardio, Berhasil untukku tapi enggak yakin juga untuk orang lain"
Dia menoleh kearahku "temenin ya" wajahnya berubah penuh harapan
"Tapi kan ini sudah malam, besok kan aku sudah mulai kerja di kantor pusat" aku cemberut
"Nginep di rumah yuk!?" Ajaknya dengan santai
Aku menatapnya terkejut
"Iyah nginep, memangnya kenapa? Kan sebelumnya pernah nginep juga"
"Tapi kan itu situasinya berbeda" jawabku pelan
"Iyah berbeda, sekarang aku yang butuh bantuan Riri" Suaranya datar.
Aku berpikir sejenak "gimana yah,?"
__ADS_1
Hujah telah mereda, Sugi mengemudikan mobilnya lebih kencang. Aku memperhatikan jalanan yang kita.lewati. Aku baru sadar kalau kita tidak menuju ke tempat tinggalku. Melainkan ke rumah Sugi.
"