Cinta Untuk Mentari

Cinta Untuk Mentari
Enak


__ADS_3

Hadi membuka penutup mata Riri dengan perlahan.


"Sebentar ya sayang, aku keluar dulu" bisiknya ditelinga Riri yang nampak tak merespon ucapannya. Kemudian ia mengajak semua yang ada di sana untuk keluar ruangan.


Diatas tempat tidur Riri merasakan sakit dan pegal di sekujur tubuhnya, ia sedang enggan untuk meronta-ronta demi menghemat sisa tenaganya yang ia miliki saat ini.


Riri pun memicingkan matanya yang silau akibat sinaran cahaya penerangan ruangan. Penglihatannya masih menyesuaikan, semua hal yang ia lihat kini berbayang dan agak kabur. Ia mencoba melihat sekeliling kamar ini.


Matanya tertuju pada atap tinggi rumah ini, yang hanya beratapkan seng. Ia bisa melihat jelas kayu-kayu rangkanya. Riri merangsek ke dinding kamar, ia mengetuk-ngetukkan jari kakinya ke dinding yang berbunyi nyaring. Ia seketika tahu itu bukan beton namun sepertinya terbuat dari gypsum. Bau cat pun masih menguar menusuk indra penciumannya.


Kamar ini pun cukup pengap, sehingga keringatnya sudah sejak tadi mengucur deras.


"Rumah semi permanen, kemungkinan ini baru saja di bangun" gumamku dalam hati


Ranjangku tiba-tiba berdecit, seseorang duduk di belakangku. Aku terkejut dan merasa tidak nyaman saat ini, jantungku pun mulai berdetak kencang.


"Mudah-mudahan saja saat ini dia tidak tergoda untuk melakukan hal-hal menjijikan padaku. Ya ampun... Apa yang harus aku lakukan sekarang??!!" Gumamku lagi dalam hati dengan perasaan khawatir


Tangan Hadi yang gemetaran mengelusi kepalaku pelan-pelan, kemudian turun sampai ke punggungku yang terbuka lebar. Terdengar suara nafasnya yang memburu tertahan.


"B*j*ng*n!!! Tahu begini seharusnya tadi aku tidak memakai gaun ini" Gerutuku dalam diam, sambil menahan diri agar tidak gegabah mengeluarkan amarahku


"Tari.....Kenapa diam?! Dulu kau begitu kuat meronta-ronta. Aku merindukan perlawananmu, semakin kau melawan aku akan semakin berhasrat Tari. Ayo lakukanlah seperti waktu itu hehehehe" ia terkekeh, suara tawanya yang melengking membuat suasana ruangan ini jadi mengerikan.


"Laki-laki br*ngs*k!!" Umpatku dalam hati


"Coba kulihat wajah gadis istimewaku ini" ucapnya sambil menarik pinggangku mendekat dan membalikkan tubuhku dengan gerakan kasar. Ia mengangkat daguku dengan cengkraman yang kuat lalu mendekatkan wajahnya padaku


Ia tersenyum lebar "cantik!! Masik cantik seperti terakhir kita bertemu"


Namun tiba-tiba wajahnya berubah bengis, senyumnya berganti sinis. Ia pun berdiri dan berjalan mondar mandir seperti orang bingung.


"Semua sudah dihabiskan laki-laki b*ngs*t itu kan?!!? Kau pasti sudah menyerahkan dirimu penuh padanya Tari!!! Aku nggak relaaaaa.... Tari... Aku nggak relaaaa"


Ia menepuk-nepuk dadanya "Aku...aku yang bertahun-tahun menjagamu... Kau lupa ya?!! aku yang sudah menyelamatkan hidupmu. Namun apa balasannya???!!! Hah?!? Kau membuatku cacat!!! Lihatttt!!" Ia berteriak sambil menunjukkan kakinya pada Riri

__ADS_1


"Tidak bisa... Aku..Aku... memang ya..aku memang cinta sama kamu... Tapi hahahaha... Aku marah Tari...kamu Setega itu padaku. Keluargaku hancur karena ulahmu dan Damar menjual saham itu pada orang lain"


Ia menggaruk kepalanya dengan kedua tangan, merasa putus asa. Ia pun bernapas dalam-dalam dan kembali menatap Riri.


Tangannya meraih dagu Riri dengan kasar "Hei dengar, aku akan membuatmu menderita disini, sampai kamu minta ampun padaku dan aku memaafkanmu. Kau dengarrrr!!!!!???"


Aku menatapnya tak berkedip


"Apa??!!! Kenapa menatapku seperti itu?!!! Kamu pikir kamu masih punya kesempatan untuk lari dari sini??? Siapa yang bisa menyelamatkanmu sekarang? Pangeran kodok yang banyak uang itu?!!! Hahahaha dia pun sedang kebingungan mencari mu. Lokasi ini tidak ada di dalam peta mana pun!!! Jangan mimpi!!!" Teriak Hadi sambil menghentakkan daguku


Mata Hadi tertuju pada kaki Riri yang terbuka bebas. Ia buru-buru menelan air liurnya. Tangannya kembali terulur, ia mengelusinya perlahan sambil menutup mata. Nafasnya lagi-lagi terdengar memburu


"Sudah lama aku ingin melakukan ini...hahahahaha.." ia tertawa kegirangan menikmati sentuhan tangannya


Aku menggigit bibirku karena merasa jijik sekaligus takut ia akan melakukan hal-hal yang lebih gila dari ini.


"Sebaiknya aku menyiapkan air hangat untuk membersihkan tubuhmu. Tenang saja aku akan melakukannya dengan lembut" Hadi bangkit lalu bergegas pergi keluar


"Ayo Riri gunakan akalmu... Kamu harus melakukan sesuatu sebelum semuanya terlambat" ujarku dalam hati


Tak lama sebuah mobil hitam berhenti di depan mini market tersebut. Seseorang turun untuk menjemput pak Doni.


"Ini pak uang cashnya" bisiknya pada pak Doni


Pak Doni mengambil beberapa lembar ratusan ribu lalu menyerahkannya pada kasir yang membantunya tadi.


"Ini untuk saya pak?" tanyanya dengan wajah tak percaya


"Iyah, ini sebagai tanda terimakasih saya karena anda sudah membantu saya"


"Tapi pak, saya tadi memang hanya berniat untuk menolong bapak" ujarnya ragu, namun matanya menatap uang yang disodorkan padanya


Pak Doni meletakkan uang itu diatas meja kasir "anggap saja rejeki dari sang kuasa, terimakasih banyak. Orang baik memang seharusnya beruntung" ia mengedipkan matanya lalu buru-buru keluar diikuti oleh bawahannya


Dalam perjalanan, ia langsung menanyakan keadaan saat ini pada bawahannya yang langsung menceritakan semuanya. Termasuk Riri yang masih belum diketahui keberadaannya dan Sugi yang hampir dijebak oleh Silvi.

__ADS_1


Wajah pak Doni menggelap, ia merasa sangat kesal terutama pada dirinya sendiri yang mengabaikan radar kewaspadaannya sendiri saat dia di sergap seseorang di kamar Presidential Suite Hotel Mahardika. Diam-diam ia berjanji dalam hati akan bekerja lebih teliti dan waspada.


"Sekarang pak Dirut sedang berada dimana?"


"Di sebuah Dermaga kecil, kita akan menuju kesana sekarang"


"Ok" jawabnya dengan perasaan khawatir memikirkan keselamatan Riri


Di dalam kamar pengap ini Riri masih belum bisa berkutik, ia kelelahan berusaha untuk melepaskan ikatan tangannya.


"Kamu mau makan apa mau dibersihkan dulu?!" tanya Hadi yang memunculkan kepalanya dari balik pintu


"Ahh iya aku lupa membuka penutup mulutmu. Silahkan saja berteriak sekencang-kencangnya, tidak ada seorang pun yang akan mendengar. Jadi aku bisa bebas berbuat apa saja terhadapmu" ujarnya dengan senyuman


Ia menarik lepas lakban hitam yang menutupi mulutku.


"Aku haus" Jawabku lemah


"Astaga... Maafkan aku sayang. Akan kuambilkan air sekarang" ia berlari keluar lalu kembali secepat kilat


"Ini minumlah" katanya sambil menarik tubuhku.


Aku menatapnya curiga


"Apa??! Oh kamu pikir aku memasukkan sesuatu ke dalam air ini?! Hahahaha tenang, aku suka dengan perlawananmu, mana seru kalau kamu tak sadarkan diri. Ya kan?! Nah aku minum dulu biar kamu lihat sendiri"


Ia meneguk air yang dipegangnya


"Tuh lihat aku baik-baik saja kan?!! Sudah minum dulu, kalau kamu sakit mana bisa kita bersenang-senang secepatnya"


Aku pun meneguk air yang disodorkannya padaku dengan cepat


"Anak pintar, nah kalau begini kan enak.... Nanti gimana kalau aku bikin kamu merasa lebih enak lagi?? Hah?!! Gimana?!! Hehehe... hehehehe" ia terkekeh dengan candaan cabulnya sendiri


Aku hampir saja bergidik mendengar ucapannya itu.

__ADS_1


__ADS_2