
Akhirnya perjalanan mereka sampai di suatu pedesaan yang berada di kaki gunung. Mobil Sugi berbelok memasuki sebuah jalan kecil di tengah hutan. Riri nampak merapatkan jaket yang baru saja ia kenakan karena udara dingin mulai terasa membelai seluruh permukaan kulitnya.
Sekitar 500 meter dari jalan masuk tadi akhirnya mereka berhenti di bawah sebuah pohon yang cukup besar.
Saat mesin mobil dimatikan suasana di luar jadi nampak gelap gulita, suara musik yang tadi berkumandang berubah menjadi suara jangkrik berderik pelan disertai dengan suara burung hantu yang sesekali menguak.
"Kita ngapain disini?" Tanyaku khawatir
"Sebentar" ia mengeluarkan ponselnya lalu menghubungi seseorang. Tanpa menunggu teleponnya diangkat, ia memutuskan kembali sambungannya.
Beberapa saat kemudian ada cahaya terang mendekat ke arah mereka. Nampak seorang laki-laki dengan jaket tebal, bercelana panjang dan bertopi kupluk rajut mengarahkan senternya ke mobil mereka.
"Ayo turun" ajak Sugi sambil membuka pintu mobil.
Angin dingin merangsek masuk menyapa Riri yang baru saja akan ikut turun. Ia nampak bergidik menahan suhu dingin yang mulai terasa di bagian kakinya yang terbuka. Riri mendekati Sugi yang sudah siap memeluknya erat.
"Dingin ya, tahan sebentar. Nanti di dalam sana ada perapian" ujarnya sambil memegang jari-jari tanganku yang mulai dingin
"Selamat malam pak Sugi" sapa laki-laki yang membawa senter itu dengan ramah
"Selamat malam pak"
"Saya Eko penjaga sementara villa ini. Silahkan lewat sini pak, Bu" pak Eko berjalan mendahului kami
Kami mengikuti pak Eko, melalui jalan setapak yang di penuhi tanaman perdu di kanan kiri. Angin dingin kembali berhembus lembut, terdengar gemerisik dedaunan dan dahan pohon di sekitar kami. Tak berapa lama kami melihat cahaya penerangan villa yang redup di hadapan kami.
Pak Eko berbalik "Silahkan pak Villanya diatas sana, saya mau membantu mengambilkan barang-barang anda dari mobil" ujar pak Eko
"Tas kami ada di jok belakang pak" kata Sugi sambil menyerahkan kunci mobil padanya
"Baik pak" katanya kemudian pergi dengan tergesa-gesa
"Cape? Mau digendong nggak" tanyanya Sugi padaku
Aku menggeleng "nggak usah sayang, villanya juga sudah dekat"
"Ayo sebaiknya kita cepat-cepat, karena suhunya makin dingin"
Kami melangkah dengan terburu-buru, sampai akhirnya sampai di villa yang di tuju. Kemudian kami menaiki tangga yang terbuat dari kayu untuk menuju ke atas. Beranda villa ini ternyata berhadapan langsung dengan sungai luas di depannya. Gemericik air mulai terdengar sayup-sayup di selingi dengan suara katak berdengkang.
Pemandangan mistis di depanku sungguh membuatku terkagum-kagum, secara samar-samar aku seperti tersihir memandangi bayangan bulan penuh di atas sungai yang mengalir tenang. Kabut yang turun nampak berdesakan diatas air bagai gulali kapas berwarna putih yang berjejal. Hal tersebut cukup menghalangi pandangan mataku saat ini.
__ADS_1
Sugi membuka pintu villa tersebut dan mengajakku segera masuk "Masuk sayang, biar hangat"
Aku menoleh kearah suara dan mengekor padanya masih sambil memperhatikan bangunan villa ini. Sebagian besar dinding dan lantai terbuat dari kayu, termasuk beberapa ornament yang tergantung pada dindingnya. Ada kepala rusa, Chandelier berbentuk tanduk rusa dan beberapa patung binatang.
Ketika aku masuk udara hangat menyergap tubuhku seketika. Kulihat api perapian telah menyala, kemungkinan tadi disiapkan oleh pak Eko.untuk kami. Satu set sofa empuk beserta meja yang terbuat dari kayu di letakkan di depan perapian. Kudengar Sugi menutup kembali pintu geser tadi di belakangku.
"Villa ini baru saja selesai di bangun, baru ada lima unit di sekitar sini. Mirip seperti cabin house yang berada di luar negeri nggak?" Sugi berkata sambil menarik lembut tanganku untuk ikut duduk di salah satu sofa cokelat ini
"Iyah mirip banget" jawabku sambil duduk disebelahnya. Seperti dugaanku sofa ini terasa sangat empuk.
Tiba-tiba saja Sugi menaikkan kedua kakiku ke atas pahanya, kemudian ia melepaskan sepatu yang aku kenakan dan memegang jari-jari kakiku yang dingin dengan erat. Hangat jari tangannya membuatku sedikit lebih nyaman.
"Kenapa tanganmu bisa sehangat ini sayang?" Tanyaku padanya sedikit heran. Karena aku merasa sedari tadi tanganku sendiri masih terasa dingin.
"Kamu kan tahu, aku memang laki-laki penuh kehangatan" ia tersenyum sambil mengedipkan sebelah matanya
"Hahahaha aku iyain aja deh" aku terkekeh mendengar jawabannya
Masih sambil *******-***** jari kakiku ia menoleh "Nyaman nggak rasanya?"
"Banget"
"Masa badanku segini, tapi kakinya besar? Kan nggak mungkin" aku menggerutu
Ia tersenyum menatap langsung ke mataku "tapi aku suka, gampang di remas"
Kali ini tangannya mulai memijat-mijat telapak kakiku dengan lembut. Tangannya kemudian menyusuri bagian tumitku naik perlahan ke arah betis. Ia mengelus kakiku naik turun.
Sentuhannya membuatku merasakan kembali nyeri- nyeri aneh yang menjalar dari kakiku naik ke bagian perut. Nyeri menggelitik di perutku semakin menjadi-jadi ketika ia meremas betisku dengan kuat. Tanpa sadar aku menahan napasku dan berniat melepaskannya dengan perlahan, namun suara yang keluar justru seperti lenguhan
"Heeehh..."
Sugi kembali tersenyum, ia menghentikan gerakan tangannya "ada yang lagi panas nih!" Ujarnya sambil mencubit lembut pipiku
"Kamu sih!" Gerutuku padanya
"Aku tidak melakukan apa-apa hahaha" ia terkekeh melihat perubahan wajahku ini
"Tok..tok..tok" suara pintu terdengar di ketuk
"Pak Sugi, saya Eko"
__ADS_1
"Masuk saja pak!" Kata Sugi agak keras
Pintu terlihat di geser dari luar, nampak pak Eko masuk membawa tas dan barang-barang lain dari dalam mobil
"Saya ijin mau merapikan barang-barang anda di dalam sebentar pak" kata pak Eko
"Silahkan pak"
Pak Eko membawa semua barang yang ada di tangannya masuk ke dalam salah satu kamar.
"Nanti kita ganti baju yang lebih hangat ya" kata Sugi padaku
Aku mengangguk setuju
Tak berapa lama Pak Eko akhirnya keluar dari kamar "pak semua sudah siap, nanti kalau bapak membutuhkan saya, silahkan hubungi saya kembali" katanya ketika berada di depan kami
"Ok" jawab Sugi singkat"
"Terimakasih pak Eko" ujarku
"Sama-sama Bu" pak Eko mengangguk dan perlahan keluar
"Besok kita coba beberapa aktivitas yang disediakan disini"
"Pasti seru, ada apa aja?"
"Kalau aku tidak salah ada tour sungai dengan perahu , kayaking, memancing, barbeque party, treking, apalagi yah pokoknya masih banyak lagi"
"Aku mau mencoba tour sungai sama trekingnya"
"Boleh"
"Keren, aku yakin besok pagi saat matahari terbit pemandangan disini akan menjadi luar biasa indah"
"Iyah aku sempat melihat dari foto yang dikirim oleh staf disini. Itu kenapa aku mengajakmu kemari. Aku yakin kamu akan menyukainya"
"Asyik!!!" Aku berseru kegirangan
"Ayo kita ganti baju dulu, dan secepatnya beristirahat" tanpa kuduga ia membopong tubuhku lalu membawaku masuk ke dalam kamar
"Heii!!" Pekikku pelan karena terkejut namun berakhir pasrah di tangannya
__ADS_1