
Kalau tidak sedang kelelahan, biasanya jam tubuhku akan menyadarkan aku pada pukul 5 setiap pagi. Tidak berbeda dengan hari ini, tepat pukul lima pagi mataku sudah terbuka memandang langit-langit diatasku.
Sekelebat ingatan semalam muncul kembali di pikiranku "astaga apa yang harus aku lakukan sekarang, aku malu" gumamku dalam hati
Aku menoleh ke sebelah, Sugi terlihat masih tidur dengan nyenyak. Aku bermaksud untuk turun dari ranjang menuju kamar mandi dengan berjingkat agar tidak membangunkannya. Belum ada dua langkah kudengar Sugi berdehem di belakangku "ehm!!
Tanpa menoleh aku berlari kecil masuk ke dalam kamar mandi sambil menahan tawaku sendiri
"Hahahaha" ku dengar ia tertawa geli diluar sana
Ketika keluar dari kamar mandi, aku menutupi wajahku dengan tangan. Tanpa kusadari aku menabrak tubuh Sugi yang menungguku di depan pintu sedari tadi
"Hei, nggak usah ditutup wajahnya. Aku kan sudah melihat hampir semuanya semalam hahahaha" ia tergelak sambil memeluk dan mengecup pucuk kepalaku
"Dan aku suka dengan pemandangan semalam, terimakasih ya sayang. Tunggu aku sebentar, nanti kita sarapan di bawah. Kemarin malam aku sudah minta Bu Widi menyiapkan sarapan untuk kita" ujarnya sambil melepaskan pelukannya. Tangannya mengucek kepalaku gemas sebelum masuk ke kamar mandi
Aku kembali duduk di tepian ranjang sambil memeriksa ponselku. Kulihat Damar mengirimkan pesan super panjang mengenai skandal yang menimpa Sugi.
"Mungil, kenapa nggak bilang kalau ada berita skandal Sugi dan Mita muncul di internet?? Aku baru tahu tadi dari Gia 🥲"
" Sabar ya, hubungan mereka sudah lama sekali berakhir. Sam bahkan mungkin sudah melupakan Mita sama sekali"
"Jangan khawatir, dia laki-laki yang memiliki prinsip dalam hidupnya. Dan dia sudah menjatuhkan pilihannya padamu"
"Cukup support dia dengan baik di saat-saat seperti ini, buatlah dia merasa tenang agar bisa menyelesaikan urusan ini dengan baik"
"Kalau ada apa-apa kabari aku dong 🥹 masa kakakmu ini tahu paling terakhir?"
Aku tersenyum membaca pesannya
"😅 Maaf kak, aku hanya nggak mau membuatmu khawatir. Tenang saja aku sudah melakukan semua yang kamu sebutkan tadi. I love you 😙 kakakku paling baik sedunia, aku baik-baik saja kok. Terimakasih ya kak ♥️"
Aku langsung mengirimkan balasan untuknya
"Pesan dari siapa? Kok senyum-senyum sendiri?" Ujar Sugi yang sudah berada di belakangku
Aku membalikkan layar ponselku untuk menutupi pesan yang aku kirimkan pada Damar.
"Kenapa di tutup? Kok aku lihat tadi ada love-lovenya, pesan untuk siapa?" tanyanya Curiga dengan tatapan tajam.
"Bukan siapa-siapa kok" jawabku sambil tersenyum geli, kebiasaan isengku sepertinya sedang kumat.
Tangannya yang panjang terulur, ponsel yang tadinya berada dalam genggamanku tiba-tiba saja sudah berpindah tangan dalam sekejap.
Ia membaca pesan dari Damar, seketika ia terkekeh "hehehehe kamu ya, iseng banget" ujarnya sambil mencubit kecil pipiku.
"Hahahahaha" aku pun tergelak melihat reaksinya
"Gini aja ketawanya paling kencang, lupa yah semalam sama tadi sok yang jadi gadis baik-baik"
"Ih kan aku memang gadis baik-baik, gara-gara kamu tuh, mintanya aneh-aneh" aku menggerutu
__ADS_1
"Halah kamu juga suka hahaha" ia mencolek daguku
Aku menjulurkan lidah mengejeknya
"Sini...let me lick it" ia menarik tubuhku mendekat padanya
"Heiii..ini masih pagi loh" aku menutup bibirku dengan telapak tangan ketika ia mendekatkan wajahnya
Ia tetap mengecup punggung tanganku berkali-kali kemudian tersenyum geli
"Baru segini aja sudah bikin aku hilang kendali seperti sekarang. Kamu bisa bayangin nggak kalau kita sudah menikah?"
"Jangan-jangan aku nggak boleh keluar kemana-mana seminggu ya?,... Ih!!!" Aku bergidik membayangkan itu semua
"Hahahaha ahh aku nggak segitunya kok. Tapi, mungkin saja sih itu bisa terjadi" jawabnya seperti memiliki ide tertentu di dalam pikirannya
"Nggak mau!!!" Aku menatapnya khawatir
"Nggak mau apa? Nikah?"
"Bukan, seminggu di hajar bolak-balik" seruku dengan wajah ngeri
"Hahahaha astaga... Istilah yang kamu pakai itu loh. Di hajar bolak-balik hahahaha" ia terpingkal-pingkal
"Terus apa namanya?"
"Mak*ng love, kesannya kan lebih romantis, dihajar itu jadi babak belur dong?!"
Ia terlihat tertawa geli sambil menggeleng, karena kehabisan kata-kata mendengar ucapanku ini.
"Iya deh, seperti yang kamu bilang. Dihajarnya juga pakai cinta kan?, jadi rasanya pasti seru" ia menggenggam tanganku
"benar juga sih. Eh iya nggak siap-siap? Sudah jam enam lewat loh" aku melihat jam di ponselku
"Iyah sekarang, aku ganti baju dulu. Kamu disini aja atau mau bantuin aku ganti baju?" Ia menaikkan alisnya
"Kalau aku bantuin, takutnya ada adegan tak senonoh tambahan. Bisa sampai seminggu kita nggak keluar-keluar dari sini hahahaha" aku tergelak mengingat pembicaraan tadi
"Hahahaha iya deh sayang, aku ganti baju sekarang ya. Kalau kamu mau melihatnya aku persilahkan, karena apapun yang kamu lihat sekarang sudah menjadi hakmu seutuhnya" ujarnya sambil membuka satu ruangan pakaian di ujung kamar.
Seperti ucapannya barusan, ruangan itu ia sengaja buka lebar-lebar. Sehingga apapun yang ia lakukan di dalam bisa terlihat dengan mudah olehku
Aku memalingkan wajahku menatap ponsel ditanganku, berharap ia mengganti pakaiannya dengan cepat
Namun aku salah mengira, tiba-tiba saja ia bersiul seperti memanggilku. Tapi aku tetap pada pendirianku tak mau menoleh padanya.
"Sayang lihat sini dong, masak aku dicuekin" ujarnya kembali menggodaku
Aku tak berniat sedikit pun melihat kearahnya saat ini.
"Aduhh!!! BUG!!! " Pekiknya seperti terjatuh
__ADS_1
Dengan perasaan terkejut aku menoleh kearahnya. Ku lihat ia sedang memperbaiki posisinya untuk mengancing kemeja. Ia hanya mengenakan boxer yang menempel ketat pada bok*ngnya yang bulat penuh. Beberapa detik aku seperti tersihir menatapnya.
Badannya proporsional, dengan lekukan khas laki-laki berotot kering. Tonjolan pada daerah bagian bawahnya membuatku tanpa sengaja menelan ludah dan memalingkan kembali wajahku ke arah lain.
Sepertinya ia tahu aku sempat menatapnya tadi beberapa detik, kudengar ia terbahak saat aku memalingkan wajah
"CK! Benar-benar pak Dirut Mes*um" gumamku tanpa sadar
"Hahahaha" tawanya semakin kencang saat mendengar aku bergumam sendiri
"Gimana sayang, mau lihat lagi nggak? Ayolah mumpung gratis. Besok bayar loh"
Aku menggeleng "nggak mau..." Jawabku pelan, kurasakan wajahku mulai menghangat, aku yakin saat ini wajahku sedang memerah
"Hahahaha" tawanya kembali terdengar di ujung sana
"Pagi ini kamu ke kantor dulu?"
"Iyah, aku mau mengintrogasi Dewi. Sepertinya semua bukti sudah mengarah padanya, dan juga Silvi" terdengar langkah kakinya yang telah mengenakan sepatu pantofel mendekat kearahku
"Silvi???" tanyaku heran sambil menoleh kearahnya. Ku lihat ia begitu menawan pagi ini dengan setelan kemejanya
"Iyah kemungkinan besar orang yang menjadi mastermind dari skandal ini adalah Silvi. Dewi beberapa kali mendapat transferan dana dari luar negeri. Bahkan panggilan teleponnya juga dari sana. Hanya saja namanya disamarkan pada ponsel Dewi. Aku perlu bukti jelas untuk itu"
"Semoga hari ini berjalan dengan lancar sayang"
"Iyah semoga saja begitu. Tapi apapun yang terjadi aku pasti akan menuntut Dewi karena telah melakukan upaya pencemaran nama baik, terhadapku dan perusahaan"
"Dewi kali ini benar-benar keterlaluan"
"Begitulah orang yang tidak bersyukur, di berikan pekerjaan layak, gaji layak tapi tetap saja berbuat hal seperti ini. Entah apa yang ada dalam pikirannya" Sugi kelihatan heran
"Namanya juga ambisi pak, tapi jalannya salah. Yuk kita turun" aku menarik tangannya
Sugi terlihat senang ketika lengannya ku pegang erat.
Ketika sampai di dapur, kulihat Bu Widi sedang menata makanan diatas meja
"selamat pagi Bu" sapaku
"selamat pagi Bu Riri, pak Sugi Silahkan, sarapannya sudah siap " jawab Bu Widi sambil tersenyum
"terimakasih ya Bu, ibu sudah sarapan?" tanyaku lagi sambil mengambil tempat di sebelah Sugi yang sudah duduk lebih dulu.
"Sama-sama bu. Saya belum lapar Bu, tidak terbiasa sarapan" kata Bu Widi sambil meletakkan secangkir kopi hitam di depan Sugi
"terimakasih Bu" ujar Sugi
"sama-sama pak" Bu Widi melangkah kembali ke belakang
"Silvi itu berbahaya. aku takut di kemudian hari dia akan melakukan hal yang lain untuk menjatuhkanmu"
__ADS_1
"Kita lihat saja sejauh mana usahanya. aku sudah mengutus orang untuk memata-matai kegiatannya di luar negeri. Kalau pun nanti aku tidak bisa membuktikan keterlibatannya, tidak masalah. Aku akan menjegal setiap langkah karirnya disana. Kita lihat saja setelah ini" ia nampak menyunggingkan senyuman