Cinta Untuk Mentari

Cinta Untuk Mentari
Bayaran


__ADS_3

Damar sedang memeriksa ponselnya sambil duduk di meja makan untuk sarapan. Asap di cangkirnya terlihat mengepul pertanda kopi itu baru saja selesai dibuat.


"Tap! tap! tap! tap! ...." Ia menoleh ke arah suara. Dilihatnya Sugi sedang menuruni anak tangga dengan langkah cepat.


"Pagi Rio" sapa Sugi


"Pagi Sam, aku pikir Tari yang turun. Biasanya dia bangunnya lebih pagi daripada aku"


"Dia masih tidur, kecapean mungkin. Biarin ajalah" sahut Sugi enteng


"Jangan karena kalian dekat jadi nggak profesional Sam. Tari udah di bangunin kan?"


"Belum sih, kasihan aku lihat dia nyenyak banget tidurnya"


"Aku aja yang bangunin" Damar berdiri berniat untuk membangunkan Riri


"Dia ada dikamarku, biarlah dia tidur sebentar lagi" Sugi tersenyum


Damar menatapnya dengan mata penuh pertanyaan


Sugi mendekat dan menepuk pelan lengan Damar "tenang Yo aku tahu batasannya. And I love her so much" katanya pelan


"Ok!" Jawab Damar singkat, wajahnya nampak kembali tenang. Ia kemudian duduk dan mulai menghirup kopinya


"Riri sudah bilang padaku katanya dia mau resign untuk membantu usahamu disini. Aku mendukung kalian sepenuhnya. Urusan pengganti Riri, aku sudah informasikan pada HRD di kantor tadi" ujar Sugi sambil mengambil cangkir dan satu kotak teh celup dari dalam rak di dapur


"Apa nggak masalah secepat itu? Aku pikir perlu beberapa hari menunggu sebelum resmi resign"


"Nggak masalah, masih ada pak Doni kan. Eh kemana pak tua itu?" Sugi menoleh ke arah ruang tamu yang kosong.


"Tadi pak Doni pagi-pagi sudah sarapan, mungkin sekarang sedang menunggumu di depan. Well...Terimakasih yah Sam untuk semuanya"


"Apa sih Yo hanya bantuan kecil saja"


"Aku sepertinya jadi membeli Ruko yang kamu informasikan kemarin" Damar terlihat bersemangat


"Dikasih harga bagus?" Sugi mengaduk tehnya dengan perlahan


"Iyah, betul katamu dia lagi butuh uang cepat"


"Nice, lokasinya bagus di tengah kota tuh" Jawab Sugi sambil mengunyah roti panggang yang telah dibuatkan oleh Damar


"Kamu kok nemu aja sih Informasi penting?"


"Aku nggak sengaja dengar obrolan pemiliknya, jadi langsung inget sama kamu..."


Sementara itu Riri baru saja bangun dari tidurnya yang lelap. Ia mendengar suara Kak Damar dan Sugi mengobrol di luar. Dengan malas ia mengambil ponselnya untuk melihat jam berapa saat ini. Matanya melotot saat melihat jam sudah menunjukkan pukul 08.00. Dilihatnya pula pesan masuk yang dikirimkan oleh Sugi padanya.


"Morning babe 😘 Hari ini nggak usah ke kantor. Aku sudah proses permintaan resignmu ke HRD. Libur aja dulu sementara menunggu kantor Rio operasional. I love you 💖"


Aku tersenyum membaca pesannya, dan bergegas membersihkan diri sebelum turun.


Di meja makan ku lihat Sugi masih mengobrol dengan kak Damar. Mereka menoleh ke arahku saat aku menuruni anak tangga


"Duh! anak gadis kok bangunnya kesiangan" Damar mengejekku sambil tersenyum

__ADS_1


"Biarin, gara-gara pak Dirut nih aku jadi bangun jam segini" sungutku melirik kearah Sugi yang sedang tersenyum penuh arti


"Eh aku berangkat ya, mau ketemu yang punya ruko" Damar beranjak bangun dan memakai jaketnya


"Hati-hati dijalan kak"


"Iyah, nanti aku kabarin yah Tari"


"Ok, siap"


"Yok bro aku jalan dulu" Damar menepuk pundak Sugi


"OK!" Kata Sugi bersemangat


Aku menatap Sugi yang masih tersenyum kearahku "kok belum berangkat, bukannya hari ini jadwalmu padat?"


"Gampang, semua bisa di tunda sebentar kan!. Sini cium dulu" Sugi mengulurkan tangannya


Dengan malu-malu aku mendekat dan mendaratkan ciumanku pada bibirnya. Aroma teh jasmine dan sedikit wangi roti cokelat menyapu Indra penciumanku.


"Kok tumben minum teh?" Tanyaku sambil perlahan menjauh dan ikut duduk disebelahnya


"Yang biasa buatin kopi masih tidur, jadi terpaksa deh minum teh" ia nampak pura-pura cemberut


"Siapa suruh semalam gangguin aku" kataku juga cemberut


"Hehehehe segitu aja bangunnya udah siang. Gimana kalau kejadian beneran?" Ia terkekeh mencubit kecil pipiku


Aku menjulurkan lidahku ke arahnya


"Hmm mungkin jalan-jalan ke mall, ke toko buku, atau main ke gamezon... liat nanti deh moodnya yang mana"


Ia mengeluarkan sebuah kartu debit berwarna hitam dari dompetnya dan menyodorkannya padaku "bawa aja, siapa tahu perlu. Beli apa yang kamu mau"


Aku menutup mulutku "Hmmm bahahahahaha ..." Aku tidak bisa menahan tawa karena tiba-tiba saja merasa konyol di dalam hati


"Loh kenapa kok malah ketawa" Sugi menatapku bingung


"Maaf aku malah jadi geli sendiri, kok rasanya aku seperti sugar baby yang mau di jajanin sama gadunnya hahahaha"


Sugi melengos mendengar ucapanku. Kartu tadi ia letakkan di atas meja. Dengan gemas ia menarik pinggangku merapat pada tubuhnya. Tawaku seketika terhenti


"Coba sebut aku gadun lagi?!" Matanya menatapku tajam seperti singa yang akan menerkamku hidup-hidup


"Mmm.. ga... gagak!! hahahaha" aku memalingkan wajahku dan kembali tertawa


"Ck!" Ia menggeleng pelan sambil tersenyum


"Bawa kartunya, anggap saja bayaran semalam" godanya ditelingaku


"Oh begini rasanya dapat bayaran dari job sampingan hahahaha nggak percuma keringat mengucur deras" aku terkekeh sambil memeluknya erat.


"Duhhh sayang !!! Bisa-bisanya sih hahahaha" ujar Sugi ikut tertawa mendengar ucapanku


"Aku serius, bawa saja untuk jaga-jaga siapa tahu perlu" lanjut Sugi

__ADS_1


"Iya sayang aku bawa, tadi aku hanya bercanda"


"Jadi nggak pengin ngantor" bisiknya


"Titt!! *****!!!" Tiba-tiba terdengar suara klakson mobil di depan yang mengagetkan kami


"Tuh sudah dipanggil pak Doni"


"Siapa sih bosnya? kok jadi dia yang ngatur-ngatur" sungut Sugi


"Jangan begitu, maksudnya baik. Biar jadwalmu tidak berantakan. Kita kan bisa ketemu lagi nanti malam" aku memegang wajahnya


"Ya deh" ia berdiri dan mengecup keningku "aku jalan yah sayang"


Aku memegang satu tangannya "Iyah sayang, yang semangat ya"


Ia tersenyum dan berlalu menuju mobil di depan.


Setelah berpikir cukup la, akhirnya aku memutuskan hari ini akan pergi ke showroom mobil. Setelah mengganti pakaian aku langsung menuju salah satu showroom yang cukup terkenal di pusat kota dengan menggunakan sepeda motor lamaku.


Seorang staff wanita menyambut kedatanganku dengan wajah angkuh "selamat pagi Bu" sapanya tanpa senyum dengan mata tajam menelisik pakaian yang aku kenakan


Terus terang hari ini aku sedang malas untuk berdandan. Wajahku hanya di poles sedikit bedak dengan tambahan liptint di bibir berwarna peach dari merk kesayanganku. aku hanya mengenakan kaos putih polos, celana jeans biru muda dan sepatu berbahan canvas berwarna merah.


"Selamat pagi bu, saya mau melihat mobil keluaran terbaru disini. Saya butuhnya yang tidak terlalu besar, boleh saya minta brosurnya?"


"Nih brosurnya, budget berapa?" tanyanya ketus


"Nanti setelah melihat-lihat mungkin saya harus berdiskusi dulu dengan kakak saya mengenai budget yang kami punya"


"Ya sudah lihat-lihat sendiri saja, semua penjelasan ada di brosur. Kalau sudah memutuskan beli yang mana baru panggil saya lagi" ujarnya lalu pergi dari hadapanku


"Ini mau jualan apa mau nyari musuh sih?!" Gumamku dalam hati


"Apa aku ke showroom yang lain saja ya? Tapi kata review di internet showroom ini yang paling lengkap dan bagus pelayanannya. Mungkin saja ibu -ibu sales tadi sedang ada masalah pribadi. Jadi terbawa sampai di tempat kerja" aku mencoba berpikir positif


Setelah agak lama aku berputar-putar sendiri, aku akhirnya menemukan jenis mobil yang aku sukai. Aku menghubungi kak Damar dan ia pun menyetujui pilihanku. Katanya dari semalam dia juga berkeinginan untuk membeli mobil yang sama dengan pilihanku.


Aku memanggil ibu sales bermuka judes yang tadi menghampiri


"Bu, saya mau membeli yang ini. Warna hitam dengan tipe yang Lux" aku menunjuk tipe mobil yang tertera pada brosur


Ibu sales yang tidak aku ketahui namanya ini memandangku dengan sinis


"Mahal itu Bu, yakin bisa bayar? Pilih yang murah aja biar cepat lunas " ucapnya ketus


Aku menghela napasku


"Kenapa? Nggak jadi? Bagus, Nggak apa-apa. Beberapa mobil disini memang exclusive. Salah satunya mobil yang tadi anda pilih. Yang indent banyak, anda tidak akan menemukannya di showroom lain. Saya paham kalau uangnya kurang saya kan sudah bilang beli yang lain semampunya saja"


"Sa...."


Ucapanku terpotong olehnya


"Pintu keluarnya lewat sini Bu, silahkan" ujarnya kemudian memalingkan wajahnya

__ADS_1


"HEI!! SETAN!!! SAYA BISA BAYAR CASH!!! KAMU PIKIR SAYA MISKIN?!!" Teriakku yang membuat semua orang sontak melihat kearah kami


__ADS_2