
Dengan mata yang masih terpejam aku terbangun dari tidurku, seluruh tubuhku terasa ngilu. Untuk melemaskan otot-otot, aku menggeliat ke kanan dan ke kiri.
"Untung saja aku sudah berada di kamar tidur yang nyaman ini. Kasur ini terasa begitu empuk dan hangat. Senangnya!!! Hei!! tunggu sebentar, sejak kapan kasur ku rasanya seempuk ini??!" aku meraba-raba, mataku kemudian terbuka lebar. Berapa terkejutnya aku melihat plafon diatas kepalaku "Ini bukan kamar kost ku" aku bergumam dengan perasaan bingung
Dengan perlahan aku bangun dan duduk. Mataku menjelahah ke setiap sudut kamar yang remang ini. Kamar ini luas, rapi dan mewah, setara dengan kamar hotel berbintang lima. "Ini kamar siapa?!, Gelap pula" Bisikku dengan khawatir masih memperhatikan sekelilingku.
Gerakan Riri disebelahnya membuat Sugi terjaga. Dia hampir saja tertawa saat melihat Riri menggeliat seperti kepompong yang menggerak-gerakkan badannya kekiri dan kekanan. Kulihat dia terkejut kemudian duduk lalu melihat sekeliling, aku memejamkan mataku kembali saat dia menoleh kearahku.
Ketika Riri menoleh kesebelah kanan, matanya terbelalak. Riri melihat Sugi tidur dengan nyenyak menghadap kearahnya. Untuk menguji apakah ini mimpi atau kenyataan, berulang kali Riri mengucek mata dan mencubit dirinya sendiri.
"Ini nyata, astaga kenapa aku tidur di kamar ini bersamanya?, Apa aku sudah melakukan hal bodoh yah semalam?" Gumamku lagi.
Jam diatas nakas menunjukkan pukul 05.00 pagi. Aku mulai mengingat-ingat lagi kejadian semalam
"ah iya, aku bertemu dengan Andi, kemudian pergi meninggalkannya lalu pandanganku tiba-tiba gelap. Aku benar-benar tidak ingat apa-apa lagi setelahnya. Apa aku semalaman tidur disebelahnya?" Sekali lagi aku menoleh kearah Sugi. Kali ini matanya terbuka dan menatapku di keremangan . Aku terperanjat, bergegas menarik selimut dan menutupi wajahku.
Sugi tersenyum geli "percuma ditutup, saya sudah melihat semuanya semalam" katanya dengan nada menggoda
Aku kaget mendengar apa yang baru saja ia katakan dan mulai menilik baju yang aku pakai. Ternyata aku sedang memakai kaos berwarna putih berukuran cukup besar dan celana pendek berwarna hitam, sepertinya celana basket. "Sial, aku tidak memakai dalaman" gumamku dalam hati. Aku kembali menatap Sugi dengan pandangan curiga.
Sugi kembali tersenyum, kemudian terkekeh "hehehehe tenang, maksud saya wajah bu Riri, bukan bagian tubuh yang lain. Bajunya di ganti Bu Widi yang mengurus rumah ini"
Mendengarnya aku bisa bernapas dengan lega.
"Kenapa saya bisa berada disini pak?"
"Semalam Bu Riri pingsan, biar cepat saya ajak kemari. Dokter bilang Bu Riri kelelahan"
"Maafkan saya pak, merepotkan pak Sugi lagi" Kataku sambil menunduk
"Sudah sering saya bilang, saya tidak merasa di repotkan sama sekali. Saya senang bisa membantu bu Riri" Senyumnya mengembang
"Saya... "Aku bingung memulai bagaimana menjelaskan kejadian semalam
"Bu Riri bisa menceritakan kapan saja, tidak usah sekarang. Santai saja"
Aku menoleh kearahnya, kulihat dia masih berbaring menghadap kearahku dengan tangan kiri menopang kepalanya.
Aku menggosok hidungku yang gatal "Acaranya bagaimana pak semalam?"
"Dari laporan pak Doni, semuanya berjalan lancar. Penyanyinya cukup profesional"
Aku bisa bernapas lega mendengar hal itu "Terimakasih pak untuk bantuannya semalam. Hmm saya rasa sebaiknya saya pulang saja. Lagipula sudah pagi" aku bergegas turun dari tempat tidurnya. Tapi belum sempat aku turun, tangannya memegang lenganku
"Kalau mau berterimakasih, tinggal disini saja sementara waktu, sampai bu Riri benar-benar merasa lebih baik" Katanya dengan suara lembut, masih dalam posisi sama seperti tadi
"Tapi rasanya ini tidak benar pak, apalagi kita tidur satu ranjang" terbesit perasaan aneh ketika aku mengucapkan kata ranjang didepannya.
__ADS_1
"Semalam Bu Riri mengigau beberapa kali. Saya khawatir, makanya saya ikut tidur disini. Lagi pula kita kan tidak melakukan apa-apa?" Jawabnya santai
"Ck saya jadi tidak enak. Hmm Pak Sugi tinggal sendiri?"
Dia mengangguk
"Terus yang mengganti pakaian saya tinggal dimana?" Tanyaku penasaran
"Rumahnya ada di dekat sini, setiap pagi dia datang kemari untuk bersih-bersih atau sekedar menyiapkan sarapan. Siang hari sudah kembali ke rumahnya"
Mulutku membentuk huruf O
"Kita keluar cari sarapan yuk" Ajaknya
Aku memandang pakaian yang aku kenakan "tapi pakaian saya?"
"Kenapa?, nggak ada yang aneh kok" Ujarnya sambil tersenyum lebar
"Ya Tuhan dia terlihat sangat imut dengan pakaian kebesaran seperti ini. Aku ingin sekali mencubit gemas pipinya" Gumam Sugi dalam hatinya
"Tapi saya jadi kelihatan kayak anak-anak pak"
Sugi tersenyum "yang penting kan pakai pakaian, daripada telanjang?" Kedua alisnya terangkat, menggodaku
Aku menggeleng sambil tertawa geli, "tapi saya tidak memakai hmm maaf pakaian dalam"
"Coba pakai ini" Tangannya menyerahkan sweater itu padaku
Aku mengambilnya kemudian segera memakai sweater tersebut. "Begini, rasanya jauh lebih baik". Sweater tersebut nampak kebesaran di tubuh Riri sampai menutupi setengah lebih pahanya.
Dia menatapku sambil tersenyum
"Saya mau cuci muka dulu pak, kamar mandinya dimana?"
"Kamar mandi disebelah sana" Tangan Sugi menunjuk satu ruangan di ujung "Ada sikat gigi baru dirak tengah. Bu Riri pakai saja"
"ok" aku bergegas menuju ke kamar mandi. Didepan cermin aku menandangi wajahku yang kusut. Aku kembali teringat akan kejadian semalam "Bahkan Andi pun meninggalkanku, satu-satunya orang yang kuharapkan bisa bersamaku akhirnya pergi juga" aku menghela napasku, menghalau perasaan sedih yang mulai muncul kembali.
Air keran mengucur deras ketika ku buka. Aku membasuh wajahku dengan air dingin dengan harapan bisa merasa lebih baik.
Sugi termangu sesaat setelah Riri masuk kedalam kamar mandi. Dia ingat dokter Dewa semalam mengatakan Riri hanya kelelahan secara psikis dan akan baik-baik saja. Ia juga ingat bagaimana semalam Riri tidur, beberapa kali dia mengigau meracau tidak jelas.Yang ia bisa lakukan hanyalah mengelus kepala Riri mencoba menenangkannya.
Setelah kembali aku tidak melihat Sugi di dalam kamar. Aku mengambil dompet dan ponsel dalam tasku yang diletakkan diatas nakas kemudian bergegas pergi keluar mencari Sugi.
Kamar ini ternyata terletak di lantai dua. Aku memperhatikan sekelilingku. Rumah Sugi nampaknya cukup besar dengan interior yang luar biasa mewah. "Kalau bisa kusebutkan, ini seperti rumah-rumah bergaya minimalis yang biasa diulas majalah Interior kenamaan. Masa manager biasa seperti pak Sugi bisa memiliki rumah sebagus ini?" aku berpikir sendiri sambil mencarinya.
Dari atas kulihat Sugi sudah siap duduk di Sofa Ruang tamu menungguku. Dia pagi ini mengenakan baju dan celana panjang bahan kaos berwarna hitam. "Ini pertama kalinya aku melihatnya memakai pakaian yang bukan kemeja dan celana bahan. Apapun yang dia kenakan tetap saja terlihat menawan. Hei Bu Riri, dia atasanmu. Buang jauh-jauh pikiran anehmu ini!!" aku memarahi diriku sendiri
__ADS_1
Sugi melihatku turun, senyumnya mengembang "sudah siap?" Katanya kemudian mendekatiku. Tangannya dengan gerakan cepat mengambil ponsel dan dompet ditanganku lalu dia masukkan ke dalam tas ranselnya. Kemudian memasang tali masker ditelinga ku.
Aku merasa sedikit kikuk diperlakukan seperti ini, tapi tidak tega menolak gesture niat baiknya. "Kita mau kemana sepagi ini pak?"
"Cari bubur ayam, mau?"
"Boleh pak"
"Mulai sekarang panggil nama saja, kalau sedang diluar kantor" ujarnya dengan wajah datar dan suara tegas "Saya bosan mendengar bahasa formal"
Entah kenapa aku mengerti wajah datar yang baru saja dia tunjukkan, seperti mengatakan "tidak menerima penolakan"
"Tapi tadi bicaranya masih pakai saya" candaku untuk membuat dia rileks kembali. Berhasil, Sugi tersenyum padaku.
"Ayo!" katanya mengarahkan aku ke garase. Dia kemudian mengeluarkan motor berjenis CBR dengan desain Retro berwarna hitam. Aku mengambil dan memakai helm yang dia sodorkan lalu duduk di boncengannya.
"Pegang yang erat yah" ujarnya sambil tersenyum penuh arti tanpa Riri bisa melihatnya. Motor Sugi melaju dengan kencang membelah jalanan sepi yang nampaknya masih basah sisa hujan semalam.
Tanganku otomatis memeluk pinggangnya, karena Sugi tiba-tiba saja mengebut. "Sugi, pelan-pelan!!" Teriakku di dekat telinganya
"Oh sori, lama nggak naik motor jadi terlalu bersemangat" jawab Sugi sambil memelankan jalan motornya. Senyumnya makin mengembang karena selain dia mendapat pelukan, Riri juga sudah memanggil dengan sebutan namanya saja.
Awalnya aku berniat agak menjauhkan diriku dari tubuh Sugi, tapi rupanya angin dingin pagi hari selepas hujan membuat tubuhku merinding kedinginan. Ditambah lagi aku hanya mengenakan celana pendek tanpa dalaman, mau tidak mau aku harus merapatkan tubuhku agar tidak terlalu menggigil. Wangi aftershave bercampur aroma musk samar-samar mengelus Indra penciumanku.
"Kenapa?" tanyanya, ketika aku melepaskan pelukanku dan tiba-tiba saja memeluk kembali lebih erat.
"Dingin, kan aku pakai celana pendek" sahutku agak sedikit kesal
"Oh Iyah, ya deh aku lebih pelan lagi kalau begitu" ujarnya lagi sambil tersenyum bahagia, dia mengigit bibirnya sendiri,gemas.
Lima menit kemudian kami tiba disebuah warung bubur yang cukup bersih. Kursi-kursi baru saja diturunkan oleh pedagangnya.
"Selamat pagi bos hahaha" sapa pedagang bubur itu sambil tertawa renyah
"Pagi pak Amir, biasa yah komplit dua porsi" kata Sugi pada pak Amir sambil mengajakku duduk di salah satu meja. Kami duduk bersebelahan.
"Siap bos!!! Tumben ngajak yang bening kemari?" Tanya pak Amir yang mulai sibuk meracik dagangannya
"Iyah, tadi baru nemu di jalan pak hahaha" jawab Sugi sekenanya sambil terbahak
Aku yang sedang duduk hanya bisa menggeleng, tersenyum mendengar percakapan mereka
"Aku kayak kucing dong?" Ujarku menimpali
"Kucing lucu tapi lagi sedih, daripada sedih mendingan aku ajak pulang aja" bisiknya padaku, matanya menatapku tajam
Tatapannya membuat Jantungku tiba-tiba saja berdebar. Aku sama sekali tidak mengerti, kenapa bisa seperti ini. Dengan cepat aku mengalihkan pandanganku ke tempat lain.
__ADS_1
Sugi tersenyum lebar, tangannya mengelus lehernya sendiri seperti salah tingkah.