
Tanpa menengok kebelakang lagi, Riri berlari kencang masuk ke dalam hutan melewati ranting-ranting dan pepohonan yang padat sepanjang jalan. Ia mengabaikan rasa sakit disekujur tubuhnya akibat gesekan ranting-ranting yang tajam disekitarnya. Telapak kakinya pun harus ia relakan tertusuk ranting dan kerikil tajam berulangkali.
Setelah Riri merasa jaraknya aman, ia pun berhenti dan memilih duduk berlindung di balik batang pohon besar yang lapuk. Sambil terengah-engah ia lalu menghidupkan ponselnya. Tangannya nampak gemetaran, sesekali ia mengusap tangan kanannya yang semakin sakit berdenyut-denyut akibat memukul rahang Hadi.
Beruntung tadi ia masih sempat mengambil ponselnya yang di letakkan sembarangan di atas nakas oleh Hadi. Sambil menunggu ponselnya menyala ia terlihat menarik napasnya panjang-panjang untuk memenangkan diri.
Ia kemudian mencoba menghubungi Damar. Usai nada dering pertama berbunyi ia mendengar teriakan Damar
"Tari!!!!..."
"Kakak" jawabku sambil berbisik
"Kamu baik-baik saja?" tanyanya khawatir
"Aku baik-baik saja, untuk sementara waktu aku aman. Aplikasi trekker di ponselku sudah aku aktifkan kembali"
"Ok,Kamu tunggu di tempat yang aman, aku akan segera ke sana"
"Ok kak" jawabku lalu mematikan sambungan telepon kami.
Riri memperhatikan sekelilingnya, ia sadar saat ini ia masih belum sepenuhnya aman. Sebentar lagi Hadi dan anak buahnya pasti akan mencarinya. Ia harus mencari tempat persembunyian yang aman.
Sebelum bersembunyi ia pun berlari berputar-putar agak menjauh dari sana untuk mengaburkan jejaknya. Seingatnya dari film-film action yang pernah ia tonton biasanya mereka akan memperhatikan jejak kaki dan rerantingan yang patah di sekitar hutan untuk menemukan buruan mereka. Untung saja cuaca sedang cerah, sehingga jejak kakinya tidak terlalu kentara.
Setelah agak lama Riri pun mencari pepohonan yang cukup lebat dan gampang untuk dinaiki. Ia mengarahkan senter ponselnya ke beberapa pohon. Senter itu lumayan membantu penglihatannya di kondisi gelap gulita. Dan semesta sepertinya sedang membantunya saat ini. Ia akhirnya menemukan pohon yang gampang untuk di panjat. Dahannya pun bertumpuk-tumpuk lebat dengan dahan pohon disebelahnya.
Tanpa membuang waktu ia pun naik dengan sangat hati-hati, menjaga agar dahannya tidak patah. Beberapa kali Riri nampak berhenti karena kehabisan napas saat menaiki pohon tersebut. Kaki dan tangannya sudah mulai gemetar, ditambah rasa sakit di telapak kaki serta sekujur tubuhnya. Ia merasa lelah luar biasa.
Ia tidak peduli lagi dengan kemungkinan ancaman ular atau pun serangga berbahaya yang bisa saja menempati pohon ini. Riri lebih takut dengan manusia-manusia nekat seperti Hadi.
Riri pun sampai di salah satu dahan yang cukup tinggi dan rimbun. Ia menyembunyikan kakinya diatara dedaunan. Dengan posisi duduk yang sebenarnya kurang nyaman ia nampak memeluk erat dahan yang ada si sampingnya agar tidak terjatuh.
__ADS_1
Ponselnya yang sudah bisu ia letakkan di dalam baju. Pinggiran bajunya sudah terikat erat di pinggangnya sehingga ponselnya aman di dalamnya.
Sementara itu Damar sedang menghubungi Sugi. Dari lokasi tracker di ponsel Riri, letak pulau tersebut ternyata sudah dekat. Mereka sepakat untuk bertemu dipulau itu secara diam-diam dengan menggunakan boat. Helikopter yang mereka siapkan di kirim kembali karena takut kebisingan helikopter akan membuat Hadi dan anak buahnya waspada.
Beberapa saat kemudian Hadi pun sadar. Ia terkejut dan berusaha bangkit. Namun kaki dan tangannya terikat erat di tepian tempat tidur.
"Kurang ajar!!! Bisa-bisanya aku v frd
Ia pun berteriak memanggil anak buahnya.
"JON!!!! JON!!! JONNN!!! .....BR*NGS*KK!!! Teriaknya geram
Suara Hadi tenggelam oleh irama dangdut yang sedang diputar oleh anak buahnya. Mereka nampak bergembira sambil menenggak minuman keras.
"Bos kita sepertinya sedang menikmati hasil tangkapannya hahahaha...artinya kita sebentar lagi akan kecipratan bonus!!!" Ujar Jon sambil berjoget-joget mengikuti alunan musik
"Hahahaha... kita nikmati saja malam ini...hajarrrr!!!!" Jawab seorang yang lain
Hadi mulai berteriak-teriak kembali memanggil Jon. Entah di teriakan ke berapa namun akhirnya terdengar juga oleh anak buahnya yang baru saja masuk untuk mengambil minuman keras di kulkas.
Ia berlari lalu masuk ke dalam kamar tersebut, alangkah kagetnya ia saat melihat bosnya sedang terikat di tempat tidur
"G*BL*KK!! Kemana saja kamu!!! Cepat buka ikatannya. Wanita licik itu mungkin sudah kabur jauh dari sini"
Ia pun terburu-buru menghampiri Hadi dan membantu melepaskan ikatan tangan dan kakinya
"Maaf bos kami ceroboh" ujarnya lemah
"Info ke yang lain kita masuk hutan malam ini. Kita harus menemukannya sampai dapat!!!"
"Baik bos" ia pun berlari mencari teman-temannya
__ADS_1
Hadi memutar-mutar pergelangan tangannya yang pegal. Ia menoleh keatas nakas, ponsel Riri sudah tidak berada di sana. Dengan wajah kesal ia pun bergegas keluar.
Anak buahnya nampak telah siap dengan senter, senapan dan senjata tajam di tangannya. Mereka menunggu aba-aba dari Hadi untuk memulai pencarian.
"Jon, arahkan sentermu ke sekitar bangunan. Temukan jejak kakinya terlebih dahulu. Seharusnya tidak susah untuk dilakukan, tanah di sekitar tempat ini cenderung lembut. Dan kita semua seharian ini hanya berada di beberapa titik di depan"
"Baik bos" Jon pun pelan-pelan memeriksanya berkeliling di bantu oleh dua orang yang lain
Selang beberapa saat Jon terdengar berteriak
"Bos, jejak kakinya menuju hutan sebelah sini!!!"
"Ok, kita menuju ke arah sana. Perhatikan jejak kaki dan ranting-ranting yang patah. Atau bisa jadi benang yang tersangkut pada semak-semak pokoknya apa saja yang bisa menjadi pentunjuk!!!".
"Baik bos" jawab mereka serempak
Mereka pun memulai pencarian masuk ke dalam hutan.
Dalam perjalanan Hadi sengaja menghubungi Riri terus menerus. Ia tahu ponsel Riri pasti sudah menyala. Sinar dari layarnya bisa saja menjadi terang benderang di tengah kegelapan malam ini, dan hal itu bisa membantu pencariannya. Nada deringnya terus menerus berbunyi dan tak sekalipun diangkat oleh Riri
Di atas pohon Riri sedang berusaha menahan sakit dan gatal akibat digigit oleh semut merah. Ia menepuk-nepuk sekujur tubuhnya agar semut-semut itu kabur dari sana.
Ponsel di dalam bajunya pun masih bergetar, tadi ia sempat mengintip dari leher bajunya. Nomor tak dikenal sedang menghubunginya terus menerus tanpa henti sejak setengah jam yang lalu. Untung saja ia ingat untuk meredupkan cahaya layar ponselnya, sehingga tidak terlalu terang saat ini.
"Pasti si gila itu yang menghubungiku, sejak tadi dia sudah dalam perjalanan kemari. Sebentar lagi dia tiba disini" bisiknya dalam hati dengan jantung berdebar-debar.
Beberapa saat kemudian, ia mendengar suara Hadi berteriak memanggil-manggil namanya dari kejauhan.
"Tariiii!!!.... Tariiii!!!! Dimana kamu!!!?? Tariii!!!"
Suara Hadi membuat bulu kuduknya merinding, ia kembali teringat semua yang terjadi di dalam kamar itu dengan rasa mual di perutnya. Riri sampai harus menarik napasnya beberapa kali untuk menenangkan dirinya.
__ADS_1
Dari atas pohon ia bisa melihat beberapa cahaya senter berkelabat kesana kemari menerangi setiap celah di hutan ini. Mereka memang sedang menuju kemari. Namun Riri bisa merasa sedikit lega karena mereka memilih mencarinya di sisi yang berseberangan dengan pohon tempat ia bersembunyi sekarang.