Cinta Untuk Mentari

Cinta Untuk Mentari
so in love


__ADS_3

Hari sudah sore ketika kami memutuskan untuk kembali kerumah.


"Kita Mau makan malam apa?" Tanyaku pada Damar yah sedang menyetir


"Coba tanya Sam, dia mau makan apa. Kita sekalian beli, nanti makan bareng dirumah"


"Ok, aku tanya dulu"


Aku mengambil ponselku dari dalam tas lalu menghubungi Sugi yang kemungkinan saat ini masih sedang sibuk.


Rupanya tidak perlu menunggu lama, dia menjawab teleponnya setelah dua kali nada dering "Hai" jawabnya dengan suara setengah berbisik.


"Duh! Mendengar suaranya saja sudah membuatku deg-degan seperti ini" aku memegang dadaku


"Hmm aku sama kakak dalam perjalanan pulang. Mau sekalian dibelikan makan malam nggak?" Kataku dengan cepat karena takut mengganggunya


"Boleh"


"Mau makan apa?"


"Aku pengin yang berkuah, apa saja boleh. Sebentar lagi aku pulang" suaranya masih setengah berbisik, terdengar seksi di telingaku. Aku heran hanya mendengar ia bicara seperti ini saja sudah membuatku merasa merinding, perutku serasa diaduk seperti ada kupu-kupu kecil terbang dalamnya.


"Ok aku belikan" jawabku dengan napas yang hampir saja tercekat


"I miss you" katanya cepat


Tubuhku serasa makin merinding mendengar ucapannya ini "me too" jawabku pelan.


Perasaan konyol tiba-tiba hinggap dikepalaku. "Aku yakin Kak Damar pasti sedang menahan tawanya sekarang" gumamku sambil menoleh kearahnya.


Benar saja, saat ini dia memang sedang mengunci bibirnya sendiri untuk tidak tertawa.


"Ya udah, Aku tutup ya" ujarku ragu


"Mmmm" jawabnya menunggu aku menutup teleponnya lebih dulu


"Ok dah Sugi" ujarku lagi lalu menutup sambungan teleponnya.


Tawa Damar terdengar menggelegar "Huahahaha kalian lucu banget sih, kayak anak yang baru kenal pacaran. Duh aku aja sampai merinding mendengar kata me too. Hahahaha dia bilang apa? I love you? Apa I miss you?" Ledek Damar padaku


"Ihhhh awas yah kalau kakak punya pacar aku doain dah penuh drama, kakak benar-benar jatuh cinta yang gak ada obatnya hahahaha" sahutku ikut tergelak


"Yay!! Gak apa-apa, seru tahu!!! hahahaha" Damar makin tergelak dengan ucapannya sendiri.

__ADS_1


Sejam kemudian kami telah sampai dirumah. Aku menenteng belanjaan kami, ada beberapa bungkus soto daging untuk makan malam beserta beberapa makanan kecil dan minuman ringan.


Kulihat kamar atas lampunya menyala, pertanda Sugi juga telah kembali. Aku meletakkan semua yang aku beli tadi diatas meja makan kemudian masuk ke kamarku untuk mandi dan mengganti baju.


Sekarang aku telah siap untuk makan malam bersama kak Damar, tapi Sugi sama sekali belum turun juga


"Coba kamu telepon dia Tari" sarannya padaku


Beberapa kali aku mencoba menghubunginya namun teleponku sama sekali tidak diangkat. Aku menggeleng pada Kak Damar.


"Coba kamu cek ke atas, takutnya dia ketiduran mungkin lelah"


Aku menuruti saran kak Damar untuk naik ke lantai dua menuju kamar Sugi.


Sementara dibawah Damar hanya bisa menahan tawanya, karena dia tahu ini pasti hanya trik dari Sugi agar Riri mau mendatangi kamarnya.


Riri baru saja sampai di depan pintu kamar Riri. Ia mengetuknya pelan "tok.. tok... tok.! Beberapa kali diketuk, sama sekali tidak ada jawaban dari Sugi. Riri khawatir Sugi kelelahan atau bahkan saat ini sedang sakit. Dengan perlahan ia membuka pintu kamar Sugi, dilihatnya dia sedang terbaring di atas ranjang memunggunginya.


Riri mendekati lalu memeriksa dahinya dengan punggung tangan "kamu sakit yah?" tanyanya khawatir. Tiba-tiba dia menariknya dengan keras, tubuhnya jatuh menimpa tubuh Sugi.


"Hei!!" Teriaknya kecil karena terkejut


Sugi memeluknya erat "Aku sakit Riri, kurang asupan sentuhan darimu" bisiknya ditelingaku.


"Aku pikir kamu sakit, CK! " ucapku ikut berbisik, tapi suara yang keluar lebih mirip seperti *******. Kupu-kupu itu kembali berputar dalam perutku


Sugi menarik panjang napasnya "biarkan aku memelukmu sebentar saja"


Aku membenamkan wajahku pada lehernya. membiarkan dia memelukku dengan erat. Tangannya mengelus kepalaku.


"Riri, aku belum bilang ya? Aku mencintaimu, sangat mencintaimu" bisiknya lagi


Aku merasa sangat malu untuk membalas pernyataan cintanya "baru kali ini aku merasa tidak mampu mengatakannya secara langsung pada orang yang benar -benar aku cintai"


"Kenapa tidak menjawabnya? Kamu tidak merasakan hal yang sama denganku?" Tanyanya dengan nada kecewa


"Aku... Aku malu" jawabku pelan


"CK! Kenapa? Coba kulihat wajahmu, seperti apa wajah wanita pemalu yang mampu menendang penjahat tanpa ragu itu? Hehehe" Godanya dengan tawa geli


Sugi melepas pelukannya dan mengangkat tubuhnya untuk bersandar pada sandaran tempat tidur. Riri yang masih memegang erat leher Sugi jadi ikut terangkat bersandar pada dadanya.


Ia mendongakkan daguku untuk mengangkat wajahku dengan perlahan "katakan padaku kau juga mencintaiku Riri. Tidak usah malu, disini hanya ada kita berdua" hangat napasnya menyapu hidungku yang hanya berjarak sejengkal tangan.

__ADS_1


Aku menatap matanya yang berbinar


"Aku ...juga ...mencintaimu Sugi" jawabku ragu


"Seberapa besar?" Tanyanya lagi dengan wajah seperti anak-anak yang sedang merajuk


"Sangat besar, sebesar cintamu padaku" ujarku kali ini tanpa ragu


Sugi mengelus pipiku dengan ujung ibu jarinya "Kiss me!" Wajahnya menatapku penuh harap


Aku mendekat perlahan untuk mencium bibirnya. Bibir kami bertemu, rasanya seperti ada sengatan listrik yang merambat dari bibirku menuju ke seluruh bagian tubuhku. Kupu-kupu kembali mulai berputar-putar di dalam perutku. Mataku terpejam menikmati rasa manis yang baru pertama kali kurasakan lagi setelah sekian tahun berlalu.


Sugi menyambut ciumanku dengan bibir sedikit terbuka. Kurasakan bibirnya yang lembut mengul*m bagian bawah bibirku. Aku secara refleks memiringkan kepalaku agar dia lebih leluasa bergerak. Tanpa sengaja tanganku seperti bergerak sendiri memegang wajahnya. Lidahnya menelusuri bibirku kemudian masuk kedalam mulut dengan lihainya mengelus lidahku


"eghh!" Tanpa sadar aku menger*ang, suara yang keluar dari mulutku membuat Sugi blingsatan. Ciumannya bergerak makin dalam, tangannya bergerak mengelus punggung dan pingangku. Seluruh tubuhku merinding dibuatnya. Napas kami memburu, kali ini ia bergerak mendorong tubuhku untuk rebah diatas ranjang. Ia melepas ciumannya dan mengecup seluruh bagian wajahku, menelusuri rahang dan leherku. Aku merasa seperti melayang dibuatnya.


Tiba-tiba ia berhenti dan menatapku dengan wajah panik "astaga, Riri maafkan aku" Sugi menjatuhkan kepalanya ke dadaku sambil terengah-engah.


Dengan keadaan otak yang setengah sadar aku menarik napas panjang untuk mengatur napasku yang juga sedang tidak beraturan.


Sugi kembali mengangkat kepalanya kemudian menatapku "I'm so sorry, aku nggak ada niatan untuk begini. Jangan marah ya" katanya dengan wajah penuh penyesalan


"Kenapa aku harus marah, aku juga menikmatinya kok" aku menjawabnya jujur


"Harusnya aku lebih bisa mengendalikan diriku sendiri. Aku tadi terbawa suasana"


Aku menggeleng "kita berdua sama"


Sugi menarik tanganku untuk membantuku bangkit, ia lalu memelukku erat. "I'm so in love with you Sayang"


"Aku tahu, aku juga Sayang" aku meregangkan pelukannya, lalu merapikan rambutnya "kita makan yuk, Kak Damar pasti sudah lumutan di bawah menunggu kita hehehehe" aku terkekeh


"Oh iya ada dia dibawah hahahaha" ujarnya tergelak "aku lupa sama dia"


Kemudian kami buru-buru turun, kulihat kakak sudah selesai makan dan sedang bermain game di ponselnya. Dia menatap kami dengan wajah kesal sambil menggeleng "Ck! Kalian, makanannya keburu dingin, lama banget sih!!!"


Kami berdua hanya bisa tersenyum malu sambil bersiap-siap untuk makan.


"Sam, aku mau ngobrol sama kamu abis kamu makan" ujar Damar dengan suara tegas, matanya tetap fokus pada layar ponselnya.


"Ok" sahut Sugi, ia menatap Riri dengan tatapan khawatir seperti mengatakan "I'm dead!!


Riri terlihat menggigit bibir dengan wajah yang juga khawatir.

__ADS_1


__ADS_2