Cinta Untuk Mentari

Cinta Untuk Mentari
aku rindu, Sam


__ADS_3

"Sayang, besok aku berangkat pagi-pagi pakai private jet" ujar Sugi saat kami sudah tiba dirumah


"Ok, aku perlu bantuin kamu packing nggak?" tanyaku saat membuka pintu mobil dan bersiap untuk turun. Langit terlihat sudah agak gelap menunjukkan malam akan segera tiba


"Enggak usah, sepertinya sudah diurus pak Doni" jawab Sugi sambil ikut turun


"Ya sudah kalau begitu, beneran nggak mau menginap malam ini?"


"Mmm gimana ya?" Ia melirikku dengan senyuman dikulum "biasanya aku yang minta menginap, nggak pernah ditawari begini hehehehe. Apa karena kita akan berpisah sementara?" Kata Sugi, langkahnya terhenti. Ia memasukkan kedua tangannya kedalam saku celana


Langkahku jadi ikut terhenti dan menoleh ke arahnya "mungkin saja"


"Ok, aku akan menemanimu disini sampai kamu tertidur"


"Sebaiknya sih kamu pulang sayang, aku takut kamu kelelahan. Besok jadwalmu pasti padat"


"Benar nggak apa-apa?"


"Benar, aku akan baik-baik saja kok. Tapi aku pasti akan rindu setengah mati padamu" aku memeluknya erat


Sugi membalas pelukanku sama eratnya "Aku juga sayang, baik-baik yah jangan membuatku khawatir" ia beberapa kali mengecup kening dan bibirku


"Iyah tenang saja" ujarku sambil melepas pelukanku


"Aku pulang ya baby" ia sekali lagi mengelus kepalaku


Aku mengangguk "take care sayang"


"U too, besok aku kabarin kalau sudah sampai disana"


"Iyah" kataku sambil memandanginya


Kulihat punggung Sugi pergi menjauh kemudian ia masuk ke dalam mobil dan berlalu dari rumah ini


Kali ini ada sedikit rasa hampa dalam hati Riri saat berpisah dengan Sugi.


"Kak.... Kak Damar" panggilku pada Damar ketika masuk ke dalam rumah.


Tak ada jawaban dari Damar, ku lihat lampu kamarnya menyala, pertanda dia sedang berada di dalam


"Tok! Tok! Tok!" Aku mengetuk pintu kamarnya


"Kakak!!" Panggilku lagi


"Iyah" sahutnya, pintu pun terbuka ku lihat ia berdiri dengan senyum lebar di ambang pintu

__ADS_1


"Kakak sudah packing?"


"Sudah, dibantu Gia" ia tersenyum semakin lebar saat menyebut nama Gia


"Riri!!" Suara Gia yang centil memanggilku dari belakang Damar


"Loh ada Gia disini..."


"Iya hehehehe" Gia terkekeh, kali ini kepalanya menyembul dari balik tubuh Damar


"Oh begitu rupanya hehehehe" aku menutup mulutku sambil melirik ke arah Gia yang memandangku malu-malu "ya sudah aku mau naik terus mandi, rasanya gerah banget"


"Kamu sudah makan?" Tanya Damar


"Sudah baru saja, kalian sudah?" ujarku sambil berbalik badan dan naik ke lantai dua


"Kami baru mau pergi makan malam diluar"


"Ok kalian have fun ya!!!" Teriakku sambil tetap menaiki tangga


"Ya!!" sahut Damar dibelakangku


Sementara itu seorang wanita berpostur tubuh tinggi dengan paras cantik beserta seorang anak laki-laki berumur sekitar 5 tahun baru saja keluar dari Bandara sedang mencari taksi. Wajah wanita tersebut kelihatan gelisah menatap layar ponsel yang ada di tangannya.


Sebuah taksi akhirnya berhenti di depan mereka. Sopir taksinya nampak keluar untuk membantu mereka menaikkan koper ke dalam bagasi. Wanita itu kemudian masuk bersama anak laki-laki ke dalam taksi


"Baik Bu" sopir taksi itu mengikuti perintahnya dan mulai melajukan kendaraannya. Matanya sesekali mencuri pandang lewat spion atas karena merasa terkesima dengan kecantikan penumpangnya ini


Sepuluh tahun lamanya ia tidak pernah pulang apalagi setelah ia akhirnya menikah dengan laki-laki yang ia kenal di luar negeri saat menjadi pramugari satu maskapai yang cukup terkenal. Kali ini ia memutuskan pulang untuk mencoba memperbaiki kesalahan yang ia perbuat beberapa tahun yang silam.


Ia jauh-jauh hari telah menyewa satu rumah kecil yang ia temukan pada pencarian di internet. Rumah orang tuanya sendiri sudah ia jual untuk melunasi hutang yang diwariskan padanya sejak mereka tiada. Ia tidak memiliki saudara kandung, saudara ayahnya sudah sejak lama memutuskan tali persaudaraan mereka karena konflik keluarga sehingga kini ia sudah tidak memiliki sanak saudara lagi untuk di kunjungi.


"Ck" ia berdecak kecewa, sambil terus mencoba menghubungi nomor yang selalu ada di ponselnya sejak tujuh tahun yang lalu. Nomor ponsel yang ia coba hubungi sepertinya sudah tidak aktif lagi.


Ia memencet nomor ponsel yang lain dan terlihat menunggu panggilan teleponnya diangkat di seberang sana


"Selamat sore Eko, ini aku Mita" Ujarnya dengan senyuman tipis di bibirnya


"..."


"Iyah nih, aku baru aja nyampe. Bisa ketemuan nggak kita hari ini?"


"..."


"Boleh, besok jam sepuluh. Nanti share lokasinya ya"

__ADS_1


"..."


"Ok, Iyah... terimakasih Eko"


Ia menutup pembicaraan kemudian menuliskan sesuatu di atas secarik kertas kecil. Ia memberikannya pada sopir taksi pada saat mobil berhenti sementara karena lampu merah.


"Pak, ini alamat rumahnya"


"Ok Bu, oh saya tahu alamat ini" katanya saat membaca alamat dalam kertas itu.


Mita nampak memejamkan matanya sambil mengelus kepala anaknya yang sedang tertidur pulas di pangkuannya.


Ia teringat kembali saat enam tahun lalu sehari sebelum hari pernikahannya. Sammy tiba-tiba mendatangi kediamannya. Padahal hubungan mereka telah berakhir tiga bulan yang lalu.


"Mita aku boleh masuk dan berbicara denganmu sebentar?" tanyanya dengan wajah sedih, aroma alkohol yang menyengat menusuk masuk ke hidungnya.


Aku berdiri di ambang pintu apartemenku menatapnya sedih "Kamu mabuk Sam, seharusnya kamu tidak usah datang kemari lagi"


Tangannya menarik tubuhku keluar dari apartemenku "Tapi aku masih mencintaimu, kenapa kamu tega meninggalkan aku seperti ini?... Dan lebih gilanya lagi kamu akan menikah dengan Erik. Ia teman baikku Mita"


Aku melepaskan tangannya "Hubungan kita telah berakhir Sam, kamu tidak bisa memberikan kejelasan atas hubungan kita. Aku tidak bisa menunggumu lagi"


Sammy nampak terhuyung-huyung lalu memegang erat tembok di belakangnya "Aku... Aku masih butuh waktu Mita. Masih banyak hal yang aku ingin kejar. Aku belum siap untuk berkomitmen"


"Itu bedanya kamu dan Erik. Secara finansial dia juga lebih mapan Sam"


Sammy menutupi wajahnya dengan kedua telapak tangannya "Mita, kamu yakin ia akan membahagiakanmu? Erik itu teman dekatku, aku tahu pasti sepak terjangnya pada sejumlah wanita"


"Aku yakin Sam, dia laki-laki yang baik. Aku tidak peduli masa lalunya. Yang penting kini ia mencintaiku dengan tulus dan kami sama-sama sudah siap berkomitmen"


"Pulanglah Sam, ini sudah larut malam. Kita sudah memilih jalan kita masing - masing. Please biarkan aku bahagia dengan pilihanku saat ini"


Sammy berjongkok dengan wajah putus asa. Tiba-tiba saja ia memejamkan mata dan rubuh dihadapanku. Perasaanku menjadi terenyuh melihatnya seperti ini. Dengan susah payah aku menyeretnya ke dalam apartemenku dan membiarkannya beristirahat di sofa ruang tamu"


Mita memijit-mijit keningnya mengingat kembali hubungan mereka di masa lalu


"Aku tahu kamu sangat mencintaiku waktu itu. Hubungan kita sebenarnya baik-baik saja seperti layaknya orang berpacaran. Apa kamu masih ingat Sam? menginjak satu tahun kedekatan kita kamu malah lebih sibuk dengan perkuliahanmu dan teman barumu yang bernama Rio sehingga sering mengabaikanku"


"Pertengkaran kita di mulai saat kamu lebih memilih membantu Rio mengembangkan usahanya daripada bertemu denganku. Waktu kita bertemu semakin jarang. Waktu itu aku sadar aku egois, aku ingin memilikimu sepenuhnya"


"Di akhir-akhir hubungan kita setiap kali kita bertemu hanya diwarnai dengan pertengkaran yang tidak penting. Dan kini aku menyesalinya. Sangat menyesalinya Sam" gumam Mita dalam hatinya, air matanya pun jatuh mengenai rambut anaknya


"Seharusnya aku mendengarkan ucapanmu tentang Erik yang sering bergonta-ganti wanita. Ternyata itu masih berlanjut setelah kami menikah. Belum lagi gaya hidupnya yang mewah membuat keadaan keuangan kami menjadi kacau. Aku menyesal memilihnya Sam" Mita terisak dalam senyap, ia menutup mulutnya dengan tangan agar suara tangisnya tidak terdengar oleh orang lain


"Aku bertahan beberapa tahun demi anakku, tapi pada akhirnya aku menyerah dan memutuskan pergi dari kehidupan Erik. Kalau saja saat itu aku mendukung semua kegiatanmu dan mau menunggumu dengan sabar mungkin kita masih bisa bersama. Ini salahku Sam" air matanya mengalir dengan deras

__ADS_1


"Semoga kamu masih mengingatku, aku mau kembali padamu. Aku rindu dengan kedekatan kita seperti dulu, Sam. Hanya kamu yang paling memahami dan menyayangiku dengan tulus" matanya memandangi jalanan yang mulai dipenuhi oleh kendaraan.


Mita menghapus sisa-sisa air matanya ketika taksi yang membawanya tiba di rumah yang ia tuju.


__ADS_2