Cinta Untuk Mentari

Cinta Untuk Mentari
Acara resmi


__ADS_3

Gia menungguku di depan kantor HRD, ketika aku keluar dia memelukku sambil menangis


"Kita harus tetap temenan, awas aja nanti kamu pura-pura nggak kenal aku lagi" kata Gia sambil terisak


"Iyah, duh kayak aku bakalan pindah ke mana aja. Kerjaan bisa pindah tapi kan akunya masih tinggal di kota ini Gia" jawabku sambil menepuk-nepuk punggungnya


"Selamat yah sudah resign, semoga beruntung di tempat baru. Palingan nanti dapet kerjaan serabutan, yang penting bisa makan udah syukur!!!" Suara Suci tiba-tiba muncul terdengar mengejek


Gia merenggangkan pelukannya dan menoleh kearah Suci dan menatapnya tajam.


Sebenarnya Riri ingin sekali menghajarnya, paling tidak menamparnya sekali saja. Tapi urung ia lakukan karena akan memperpanjang masalah. Dan saat ini ia sama sekali tidak ingin membuat masalah baru lagi di hidupnya yang sudah sangat rumit ini.


Wajah Pak Daniel dan pak Toni dibelakang Riri terlihat jengkel melihat kedatangan Suci.


"Apa?! Nggak terima?!! Emang bener level kalian kan memang segitu!" Nyinyir Suci


"Bu Suci, tolong jangan membuat keributan disini" Kata pak Toni berusaha meredam situasi


"Oh pak Toni mau membela mereka?!"


"Saya tidak membela siapa- siapa Bu, tapi ini tempat kerja jadi sebaiknya memang tidak membuat keributan"


"Siapa yang membuat keributan, saya kan hanya mengatakan yang sebenarnya" Suci menjawab dengan wajah kesal


"Tapi Bu... "


"Sudah pak Toni, tidak apa-apa. Saya lebih baik pulang saja daripada suasana makin nggak enak" kataku memotong perkataan pak Toni sambil tersenyum


"Mari semua saya pulang dulu" kataku, Gia masih tak mau melepaskan genggaman tangannya. "Gia, nanti kita ngobrol lagi, semangat yah" ujarku padanya yang akhirnya melepaskan tangannya.


"Bener yah? Janji?!" Sahut Gia


Aku mengangguk padanya


"Hati-hati dijalan Riri" pak Daniel melambai padaku


Aku menaikkan dua jempol tanganku pada mereka.

__ADS_1


Ketika Riri melewati Suci, dengan sengaja Suci menghadangnya. Dia pikir Riri akan menghindar, tentu saja tidak. Kali ini Ia tetap berjalan seperti biasa dan menerobos hadangan Suci dengan sedikit kekuatan. Bisa dipastikan Suci terdorong dan jatuh terduduk. Suci berteriak kaget disertai sumpah serapah tapi Riri tidak peduli, ia malah sempat melangkahi Suci dan bergegas meninggalkan tempat itu.


Begini pula dengan Pak Daniel, pak Toni dan Gia, sambil menahan tawa mereka buru-buru pergi meninggalkan Suci sendirian.


Hari berlalu, sudah satu bulan Riri menjalani kesibukan barunya sebagai admin sales di Villa Padi dengan penuh semangat. Beruntung semua orang yang bekerja disana baik padanya termasuk Ibu Yuli atasannya langsung.


Hari ini Bu Yuli baru saja datang dari meeting, ia memberikan Riri sekotak cokelat pemberian kliennya hari ini.


"Wah buat saya semuanya Bu?" Tanyaku senang, saat sekotak cokelat itu ditaruh Bu Yuli di mejaku


"Iyah, mau dibagi juga boleh"


"Terimakasih Bu Yuli, saya bagi sama teman-teman disini aja yah Bu!" Seruku kegirangan pada Bu Yuli


"Silahkan" jawab Bu Yuli sambil tersenyum


Aku membuka kotak cokelat tersebut dan meletakkan satu persatu di semua meja yang ada di kantor termasuk kantor depan dan Sekuriti yang berjaga siang itu.


"Riri, hari Rabu malam besok ikut saya menghadiri acara penting ya!. Bawa pakaian ganti untuk acara resmi, bila perlu naik kendaraan umum saja kekantor. Biar pulangnya tidak perlu kekantor lagi mengambil sepeda motor. Sepertinya kita akan pulang agak malam dari tempat acara"


"Acara apa Bu?" Tanyaku gelisah


"Baik Bu" kataku dengan perasaan ragu dan cemas. Aku khawatir kalau ternyata di tempat acara tidak sengaja bertemu Hadi atau pamannya "semoga besok tidak ada yang menggangguku disana" aku berharap dalam hati.


"Saya mau pakai gaun, Riri kalau tidak ada gaun, boleh pakai kemeja sama rok bahan saja tidak apa-apa"


"Iyah bu, saya pakai yang ada saja" jawabku sambil berpikir akan memakai apa ke acara yang katanya resmi ini.


Pulang dari bekerja Riri membongkar lemari pakaian yang ia miliki. Beruntung ia masih memiliki setelan celana dan blazer hitam pas di badan yang pernah ia pakai di acara gathering setahun lalu. Riri berencana akan memadankannya dengan kemeja ruffle berbahan katun berwarna biru muda. Untuk sepatu Riri memilih memakai sepatu model peep toe hitam yang berhak cukup tinggi.


"Aku rasa ini sudah cukup cocok untuk acara besok" gumam Riri sendiri "ah iya tas, tas model clutch hitamku dimana yah?" Pandangannya menelusuri setiap sudut kamar. "Iyah aku baru ingat, kamu ada disini" tangan Riri menjangkau bagian atas lemarinya dan menyentuh kresek hitam. Ia membawa kresek hitam yang berdebu itu keluar dari kamar. Ditepuk-tepuknya sampai debunya hilang kemudian ia buka. Tas itu ternyata masih dalam kondisi baik, ia tersenyum senang.


Keesokan harinya aku naik ojek langganan untuk pergi ke kantor seperti yang disarankan oleh Bu Yuli kemarin. Setelah jam kantor berakhir Bu Yuli mengajakku ke Hair stylist and make up langganannya "yuk Ri, kita make up dulu. Saya yang traktir jadi tenang saja" kata Bu Yuli seperti tahu kekhawatiranku saat melihat kita akan memasuki tempat hairstylist dan make up ternama.


Kami kemudian berganti pakaian terlebih dahulu di tempat itu. Bu Yuli langsung di rias, sedangkan aku, mereka menata rambutku terlebih dahulu.


"Mau model apa cantik?" Tanya seorang penata rambut yang bernama Rudi kepadaku

__ADS_1


"Saya mau ponytail aja kak biar simpel" jawabku


"Pilihan yang cocok dengan pakaiannya" Rudi tersenyum manis


Tangannya bekerja sangat cepat. Ponytailnya tidak terlalu tinggi dengan sedikit sasakan pada bagian depan untuk menampilkan kesan anggun. Aku tersenyum puas melihat rambutku sendiri.


Dengan perasaan gelisah Riri membuka maskernya dihadapan semua orang yang ada di sana. Ini pertama kalinya Bu Yuli melihat Riri tidak mengenakan masker. Ia tercengang melihat wajah Riri yang ternyata cantik alami tanpa polesan.


"Riri, saya tidak mengira ternyata kamu secantik ini, padahal belum di rias sama sekali loh" kata Bu Yuli gemas


Aku menunduk malu "ah Bu Yuli, jangan memuji saya begitu. Saya jadi malu bu" kataku canggung


"Hahahaha duh anak gadis banget yah pipinya langsung bersemu.merah" kata Yani geli, dia yang akan merias wajah Riri


"Hahaha aduh kamu kok polos sekali sih" bu Yuli terbahak


"Sudah Bu jangan di godain lagi, nanti nggak selesai tepat waktu" ujar Yani lagi


"Iyah, Iyah saya nggak ganggu lagi deh" kata Bu Yuli menahan tawanya.


Beberapa saat kemudian kami pun telah siap. Tak henti-hentinya Bu Yuli, Yani dan Rudi memujiku dengan sebutan cantik dan elegan.


"Terimakasih, tapi saya jadi malu daritadi kalian memuji terus" ujarku tidak merasa tidak enak.


"Kenyataannya begitu kok. Tapi nanti dipakai maskernya yah, saya takut alergimu kambuh lagi seperti yang kamu bilang. Bisa repot saya hehehe" Bu Yuli terkekeh


Aku hanya mengangguk pelan


Kami pun berangkat ke tempat acara. Perasaanku menjadi tidak enak ketika kami mulai memasuki tempat acara. Aku melihat lambang seperti milik Wijaya Grup ada di beberapa pengumuman tertulis yang dipasang pada setiap sudut ruangan.


Langkahku terhenti "Bu Yuli nggak salah nih tempatnya? Ini acara Wijaya Grup bukan?" Tanya ku ragu pada Bu Yuli


"Iyah memang Wijaya Grup, Villa Padi kan bagian dari Wijaya Grup. Dan ini aula kantor pusatnya" jawab Bu Yuli sambil tersenyum lebar


Aku melongo "Hah?! Saya kok baru tahu Bu. Saya kan dulu bekerja di Hotel Z"


"Saya tahu Riri, tidak masalah kan?!. Belum pernah kemari yah?"

__ADS_1


"Saya belum pernah kemari Bu". "Nggak masalah sih tapi rasanya kok aneh saya sampai tidak tahu kalau villa Padi bagian dari Wijaya Grup" gumamku pelan


"Sudah ah, masuk yuk!" ajaknya sambil merangkulku lembut


__ADS_2