
Warna wajah Erika berubah merah "apa yang lucu!!?" Pekiknya tidak bisa mengontrol amarahnya. Beberapa orang yang duduk di sekitar, menoleh ke arah kami
"Kalau kau merasa lebih hebat dariku yah bantu-bantu lah ayahmu mengurus perusahaan. Masa anaknya yang kuliah di luar negeri tidak bisa memberikan masukan dan solusi. Malah mendatangiku yang hanya lulusan universitas lokal ini untuk minta bantuan" Ujarku dengan nada mengejek
"Cukup!! Tari!!! Tangannya dengan cepat melemparkan teh dalam cawan kearah Riri. Beruntung Riri mengelak dengan refleks kearah samping sehingga hanya terciprat sedikit mengenai kemejanya
"Duh! apa yang kamu lakukan Er? aku baru tahu ternyata kamu seperti ini. Tahanlah amarahmu sedikit di muka umum. Apa kamu tidak malu kelihatan tidak beradab begini?!" Aku berkata dengan suara lembut
"Aku tidak akan tinggal diam Tari. Awas saja kalau terjadi apa-apa dengan bisnis ayahku, kau juga harus ikut bertanggung jawab!!"
"Yang memiliki dan menjalankan perusahaan kan kalian, kenapa aku yang harus ikut bertanggungjawab? Aneh sekali" kataku santai
Tangan Erika terkepal diatas meja, dadanya naik turun karena amarah yang membara di hatinya.
"Aku tidak mengerti, kenapa kamu sampai membenciku seperti ini Er? Ku kira dulu kita memiliki hubungan yang baik"
Erika tidak menjawab, ia hanya terdiam memandang ke arah lain
"Karena semua perhatian dirumah itu tertuju padamu Tari, bukan padaku. Bahkan kakak angkatku saja sangat sayang padamu. Sejak kecil aku hanya menjadi bayang-bayangmu saja. Namun tidak untuk kali ini, aku senang nasibku ternyata jauh lebih baik darimu" gumam Erika
"Ok, terserah padamu Erika. Silahkan membenci diriku sepuasmu. Aku rasa pertemuan ini tidak sebaik yang kubayangkan. Tapi dari sini aku jadi tahu sifat aslimu. Sekarang aku harus pulang, apapun yang kusampaikan barusan, silahkan teruskan pada paman. Salamku untuk bibi" aku menyelipkan sejumlah uang dibawah piringku kemudian bangkit berniat untuk meninggalkannya disana sendiri
"Kau mau kemana? Urusan kita belum selesai" kata Erika dingin
__ADS_1
"Mau pulang, ada urusan apalagi?"
"Di tempat parkir orang-orang ayahku sudah menunggumu, kalau aku tidak Berhasil membujukmu mungkin aku harus memaksamu untuk kembali ke rumah"
"Astaga!! Kenapa sih paman tidak pernah kapok mengirim orang untuk menjemputku? Apa karena aku kelihatan terlalu lemah? Kalau begitu aku mau buktikan kalau paman salah"
Aku melangkah dengan yakin keluar dari Restauran. Aku memang saat ini sedang dalam kondisi badan yang bugar. Hanya moodku saja sebenarnya yang sedang berantakan gara-gara peristiwa tadi siang ditambah dengan pertemuan yang menyedihkan dengan Erika saat ini. Aku memang sedang berniat mencari musuh untuk menumpahkan kekesalanku hari ini.
Erika terlihat mengekor dibelakang Riri, wajahnya nampak puas karena merasa akan bisa memaksa Riri untuk pulang dan menjalankan rencana ayah selanjutnya.
Benar saja di tempat parkir yang sepi di belakang ada sepuluh orang laki-laki berbadan besar berdiri mengitarinya. Ketika seorang laki-laki dibelakang mendekat, Riri menginjak kakinya dengan hak sepatunya yang runcing kemudian menyikut rahang bawahnya dengan keras sehingga orang tersebut tersungkur. Amarah Riri tersulut, teriakan sumpah serapah keluar dari bibirnya "Bangs*t kalian semua!!!!, *njing!!!! Maju kalian!!! Sini!!! Aku tidak takuttt be*ngsek!!!...
Riri melepas sebelah sepatunya karena salah satunya menancap di kaki laki-laki tadi. Ia nampak memasang kuda-kuda dan mulai menghindari beberapa serangan secara bersamaan. Serangan demi serangan dihadapi Riri dengan gesit. Beberapa kali pipi dan perutnya terkena pukulan, namun ia masih mampu melakukan serangan balik kearah lawan dengan sempurna.
Kali ini lawannya tinggal lima orang lagi, Riri nampak waspada menunggu serangan berikutnya. Keringat mengucur deras dari dahi membasahi sekujur tubuhnya. Penampilannya terlihat berantakan, rambutnya mencuat kesana kemari, kancing kemejanya hanya bersisa satu dibagian bawah dadanya. Rok A Line yang ia kenakan robek pada bagian belakang.
Darah segar juga nampak sedikit mengucur di bibirnya, "cuih!! Riri meludah, rasa anyir getir darah amat terasa di bibirnya. Amarahnya masih membara menunggu untuk diluapkan. Dadanya naik turun, dengan napas yang memburu. Saking emosinya ia sama sekali tidak merasakan rasa sakit pada tangan dan sekujur tubuhnya saat ini.
Erika yang menonton adegan pertarungan ini hanya bisa ternganga, karena tidak menyangka Riri masih sehebat ingatannya di masa lalu.
Pertarungan masih berlanjut, seseorang berhasil menangkap Riri dari belakang, tapi tak cukup lama Riri nampak menghentakkan kepalan tangannya kebelakang mengenai ******** orang tersebut lalu membantingnya dengan keras.
Riri kemudian berlari dengan cepat mendekati satu lawan di depannya. Kakinya siap menendang, "BRAK!" Persis seperti adegan di dalam film action. Kaki Riri mengenai dada atasnya sehingga orang itu terpental cukup keras.
__ADS_1
Dua orang lagi-lagi berhasil menangkap Riri, masing-masing tangan Riri di pegang oleh orang yang berbeda. Tanpa jeda, Riri melancarkan tendangan ke perut lawan di sebelah kanan sehingga pegangannya terlepas. Sedangkan lawannya disebelah kiri berhasil menjambak rambutnya. Ia lalu memutar badannya dan menendang tempurung kaki lawan hingga jatuh berlutut kesakitan.
Tiba-tiba seorang laki- laki berlari kencang mendekat sambil berteriak "Bu Riri, saya datang!!!
Riri menoleh ke arah laki-laki itu, rupanya Pak Doni datang untuk membantunya. Hanya dengan sekali gerakan pak Doni berhasil menumbangkan tiga orang sisanya. "Kenapa datang kemari pak? Siapa yang suruh? Saya ini sedang bersenang-senang tahu nggak?!!! " Gerutuku padanya
"Oh begitu" jawabnya dengan wajah kaget. Tapi ia lebih kaget lagi saat melihat memar-memar di wajah Riri, disertai darah yang keluar dari bibirnya. Penampilan Riri terlihat sangat amburadul. "Pak Sugi pasti akan marah besar melihatnya seperti ini, duh!!" Ia menggaruk kepalanya
Erika masih terdiam di tempatnya semula karena merasa heran ada orang hebat yang datang membantu Riri. Sejenak selain laki-laki yang membantu Riri Sebelumnya, ada seseorang laki-laki lain juga turun dari dalam mobil mewah berwarna hitam itu
Laki-laki ini memiliki postur yang lebih tegap daripada laki-laki yang sebelumnya. Dari caranya melangkah saja ia yakin dia bukan orang sembarangan. Dilihatnya laki-laki itu memungut tas Riri yang terjatuh saat perkelahian tadi.
Sugi mendekat ke arah Pak Doni kemudian berbisik sesuatu padanya. Pak Doni mengangguk lalu pergi ke masuk ke dalam restauran.
Sugi kemudian mendekati Riri, tanpa mengatakan apa-apa ia melepas blazernya kemudian memakaikannya pada Riri. Riri hanya terdiam dan memalingkan wajahnya yang sedang kesal. Sugi juga mengeluarkan sapu tangan dari kantongnya dan menyeka keringat yang menetes di dahi, pelipis, telinga dan leher Riri. Terakhir ia melipat sapu tangan itu memilihkan sisi yang kering lalu menyeka darah yang menetes di bibir Riri dengan lembut. Riri masih memalingkan wajahnya dari Sugi.
Erika semakin terperanjat melihat adegan itu didepan matanya saat ini. Laki-laki pertama yang mendatangi Riri tadi nampak mendekatinya
"Nona sebaiknya pergi dari sini, atau saya perlu hajar seperti yang lain??!!" Pekik pak Doni pada Erika
Wajah Erika berubah pucat tanpa mampu menjawab pertanyaannya.
"Ini kedua kalinya Ayah anda mengusik nona Riri. Dengar!!! kalau sampai ada ketiga kalinya saya yang akan datang langsung ke rumah anda untuk mengusik kehidupan anda sekeluarga. Anda mengerti?!!" ancam Pak Doni pada Erika
__ADS_1
Dengan gemetar Erika mengangguk dengan wajah nampak ketakutan, ia berlari terbirit-birit menjauh dari sana.