
"Bisnis Furnituremu gimana diluar Yo"
"Sementara masih lancar, besok selain mau melihat rumah aku juga mau bertemu supplierku. Aku berencana membuka satu kantor disini, biar enak komunikasinya. Selama ini Bisnisku kendalanya banyak di komunikasi. Untungnya sih selama ini masih bisalah di atasi tapi belum tentu di masa depan. Pesanan semakin banyak, kalau tidak ada orang yang bertanggung jawab disini pasti makin sulit urusannya"
"Iyah aku mengerti, memang harus ada orang yang bisa dipercaya untuk memegang kantor disini"
"Aku dengar dari pak Doni kamu sudah jadi Dirut sekarang, Selamat yah Sam. Semenjak kamu kembali kesini kita jarang sekali mengobrol"
"Ya begitulah, aku juga tahu kalau Bisnismu semakin baik. Aku jadi sungkan untuk menelpon, takut mengganggu pekerjaanmu"
"Ahh aku yakin bukan karena aku sibuk, tapi kamu yang sibuk kan sama itu" Rio berbisik matanya melirik kearah Riri yang baru saja kembali
"Hehehehe" Sugi terkekeh mendengar ujaran Rio.
Mereka memperhatikan Riri yang sedang sibuk mengambil peralatan makan untuk dibawa ke meja makan.
Riri kemudian mendekat kearah mereka "Silahkan pak Rio, saya sudah siapkan nasi gorengnya di meja makan"
"Yuk, kita langsung saja" ujar Sugi sambil berdiri diikuti oleh Rio
"Riri mau ikut makan? Tanya Sugi menghampiri Riri yang sedang berdiri di dekat meja makan
"Nggak, aku tadi kan sudah makan mie instan. Masih kenyang" bisik Riri
"Ok, aku makan dulu" Sugi balas berbisik
"Pak Rio nasi gorengnya yang ini, pak Sugi yang ini" Riri meletakkan masing-masing nasi goreng itu depan pemiliknya.
"Aku ke dalam yah, kalau ada apa-apa panggil saja" bisiknya lagi pada Sugi
"Iyah terimakasih Riri" Sugi tersenyum
"Terimakasih Riri" ujar Rio
"Sama-sama pak" jawab Riri kemudian masuk ke kamarnya
Selain Nasi goreng, ternyata Riri membeli sebungkus kacang kulit. Disebelahnya nampak dua botol bir dingin merk lokal dilengkapi dengan alat pembuka tutup botolnya.
"Wah lengkap" kata Rio melihat meja makannya
__ADS_1
Saat membuka bungkusan nasi gorengnya Rio terpana dengan apa yang ia lihat. Di depannya ada seporsi nasi goreng ikan asin dengan kerupuk tambahan, cabai rawit potong dan bawang goreng yang banyak. Mencium wangi aroma ikan asin membuat ia menelan air liurnya secara tidak sengaja. Karena memang sedari tadi makanan inilah yang ingin ia cari.
Sugi memperhatikan Rio yang nampak bersemangat "kamu dibeliin apa sih? Aromanya kayak ikan tapi agak menyengat"
"Asistenmu juara, ini nasi goreng ikan asin Sam! Aku makan duluan yah, dah nggak tahan!" Jawabnya sambil menyendokkan nasi goreng itu ke mulutnya. Rio nampak sangat menikmati nasi goreng itu.
Sugi membuka bungkusan nasi gorengnya, dilihatnya seporsi nasi goreng dengan dua telur ceplok, irisan cabai rawit yang banyak, dengan taburan sayur kol yang masih agak mentah. Sugi tersenyum lalu menyendokkan nasi itu ke mulutnya. Ia nampak puas karena Riri masih mengingat kesukaannya. Tapi pikirannya masih pada pesanan nasi goreng Rio.
"Kenapa dia bisa tahu selera Rio? Tapi Riri memang terkadang ajaib. Dia selalu saja menemukan cara untuk melakukan sesuatu dengan lebih baik. Kemungkinan Rio sempat bercerita banyak pada Pak Doni dan kemudian menceritakannya kembali pada Riri. Pasti seperti itu" gumamnya dalam hati
Seusai makan malam mereka pun mengobrol sampai larut malam ditemani kacang dan bir.
Keesokan hari Sugi bangun lebih awal, Ia nampak siap lalu turun untuk sarapan. Dilihatnya Riri juga telah berpakaian rapi dan saat ini sedang sibuk memasukkan kue kering ke dalam stoples di atas meja makan.
"Pagi Riri" sapanya
"Pagi Sugi" jawabnya
Sugi memperhatikan mata Riri yang sedikit bengkak, seperti habis menangis
Ia memegang pergelangan tangan Riri "Riri kamu baik-baik saja? Kenapa matamu bengkak?" tanyanya khawatir
"Aku merasa dia sedikit lebih pendiam dari semalam sampai pagi ini, entahlah mungkin perasaanku saja" gumamnya
"Sebentar aku buatkan kopi. Pak Rio kira-kira sudah bangun apa belum yah pak?"
"Dia orangnya yang aku tahu selalu bangun pagi. Selarut apapun dia tidur di malam sebelumnya bangunnya selalu pagi"
Benar saja seperti apa yang dikatakan oleh Sugi, Rio tiba-tiba muncul dari kamarnya dengan pakaian rapi dan wajah yang segar.
"Selamat pagi semua" ujarnya bersemangat
"Selamat pagi" jawab Sugi dan Riri serempak
"Pak Rio mau saya buatkan kopi?"
"Boleh, saya kopi pahit yah kalau ada robusta" katanya sambil memperhatikan mesin pembuat kopi di depan Riri berdiri
"Baik pak, biji kopinya kebetulan ada. Ditunggu sebentar" ucapnya lalu mengambil setoples biji kopi dari rak atas
__ADS_1
"Sam, Riri paket komplit yah" bisik Rio pada Sugi. Matanya menatap Riri yang sedang sibuk dengan mesin pembuat kopinya.
"Tuh, pasti kamu mulai tertarik. Sudah kubilang kan dia spesial. Awas loh yah" ancam Sugi berbisik dengan lirikan tajam.
Rio nampak tersenyum geli mendengar ancaman dari Sugi
Sejenak Riri datang membawa dua cangkir kopi diatas baki dilengkapi dengan toast dan satu stoples kue kering chinese egg rolls.
Riri meletakkan bakinya di atas meja kemudian meletakkan masing-masing kopi di depan pemiliknya.
"Silahkan kan pak Rio dan pak Sugi" kata Riri
"Terimakasih Riri" ujar Rio dan Sugi berbarengan
"Sudah sarapan?" tanya Sugi pada Riri
"Saya sudah pak, setengah jam yang lalu ehmm" katanya dengan suara sedikit bergetar.
Sugi lagi-lagi merasa Riri bersikap sangat aneh pagi ini.
Riri kemudian pergi masuk kedalam kamarnya.
Di meja makan Rio nampak sedang menghirup kopinya berulangkali dalam diam. Wajahnya terlihat sedang memikirkan sesuatu. Kemudian tangannya mengambil sepotong roti bakar dan mengunyahnya perlahan. Lalu membuka tutup stoples untuk mengambil kue kering didalamnya. Di kunyahan kedua ia terlihat memijit keningnya
"Kamu pusing?"
Rio menggeleng "Jam berapa biasanya pak Doni kemari?" Katanya seperti mengalihkan pembicaraan
"Sebentar lagi, kemungkinan sedang dalam perjalanan kemari"
Rio mengangguk "nanti mungkin aku akan kembali agak malam"
"Tidak masalah, kalau ada apa-apa hubungi aku ya"
"Ok" katanya dengan wajah yang tiba-tiba penuh rasa khawatir.
Usai sarapan, mereka berpisah untuk urusan masing-masing. Pak Doni dan Rio berangkat terlebih dahulu, kemudian Riri dan Sugi menyusul meninggalkan rumah.
Jadwal meeting hari ini sangat padat. Riri hampir saja kewalahan dibuatnya. Di sela-sela menemani Sugi rapat, ia juga harus membalas email, mengatur jadwal berikutnya, mencatat point penting laporan - laporan dan masih banyak lagi yang harus ia kerjakan sekaligus di satu hari.
__ADS_1
Saking sibuknya bahkan di jam makan siang pun, ia harus sambil membaca beberapa laporan yang masuk hari ini.