
Silvi mulai melucuti kemeja Sugi beserta celana panjangnya. Dengan terburu-buru ia juga melakukan hal yang sama dengan dirinya sendiri. Kini ia setengah t*l*nj*ng, hanya memakai pakaian dalamnya saja.
Dengan hati-hati ia membenarkan posisi badan Sugi yang sedang duduk miring diatas sofa. Lalu mengatur letak kamera ponselnya diatas meja agar kegiatan mereka berdua bisa terlihat jelas. Dengan bantuan timer di kamera ponselnya, ia mengambil foto dengan pose yang menantang diatas pangkuan Sugi berkali-kali. Bahkan ia merekam videonya sedang menciumi wajah Sugi dan diatur sedemikian rupa seolah-olah mereka berdua sedang menikmati keintiman ini.
"Hahahaha sempurna!!! Sebentar lagi semuanya akan berubah. Kau tidak akan bisa lagi menghindari takdir indah ini. Kita akan bersama selamanya, Sammy Sayangku!! Hahahaha" Silvi terkekeh sambil menyisir rambut yang menutupi telinganya
Wajahnya tiba-tiba berubah sinis, ia mencubit pipi Sugi dengan kencang "Bisa-bisanya kamu malah memilih wanita burik itu daripada aku yang sempurna ini Sam!!... kamu tega!!"
"Asal kamu tahu saja, wanita kesayanganmu itu sebentar lagi akan menemui takdirnya sendiri"
"Hahahaha... Kurasa semuanya sudah terlambat sekarang. Wanita miskin itu sudah berada ditangan laki-laki yang tepat!!" Silvi kembali tertawa
Tanpa ia sadari mata Sugi tiba-tiba terbuka, lalu menjambak rambut Silvi dengan kencang. Silvi kaget luar biasa, ia tidak menyangka ternyata Sugi masih sadar.
"Hah!! Kenapa...kenapa kamu masih sadar?? Bukannya kamu sudah minum teh itu?!! Ini tidak mungkin terjadi!!" Silvi terlihat kebingungan sambil mencoba melihat kearah Sugi dengan susah payah. Kepalanya mendongak akibat tarikan rambutnya kebelakang.
"Kamu bilang apa tadi?!!! CEPAT KATAKAN PADAKU BR*NGS*KK!!! Teriak Sugi
"Ahhh Sakit Sam!!" Silvi meringis kesakitan
"APA YANG SUDAH KAMU LAKUKAN PADA RIRI??!!!"
"Aku mohon lepaskan tanganmu dari rambutku Sam, sakit!..."
Silvi lagi-lagi mencoba melirik kearah Sugi yang sedang menatap dirinya tajam tanpa ampun. Wajahnya yang tenang tadi berubah bengis. Cengkraman tangannya pun semakin kencang menjambak rambutnya.
"Ok aku jelaskan, tapi lepaskan dulu rambutku. Aku mohon, Sam!!" Ujar Silvi dengan lemah, ia mulai menangis. Ia tidak menyangka rencananya akan menjadi kacau balau.
Sugi mengendorkan cengkraman tangannya dan mendorong tubuhnya turun dari pangkuannya. Silvi pun jatuh terduduk di lantai sembari menangis tersedu-sedu. Sugi bergegas memakai pakaiannya kembali dan ia juga mengamankan ponsel Silvi. Kemudian cepat- cepat mengirimkan pesan pada Ridwan agar merapat kemari.
Silvi nampak menutupi wajahnya dengan kedua tangan "Hiks...Kenapa... Kenapa kau memperlakukan aku seperti ini Sam?! Aku mencintaimu sepenuh hatiku!!!. Aku sampai harus melakukan semua ini untuk mendapatkanmu... Ini semua salah wanita si*l*n ituuuu!!! Gara-gara dia hidupku jadi begini hiks...hhh" tangis Silvi semakin menjadi-jadi
"AKU TIDAK PEDULI PADAMU, SILVI!!! APA YANG KAMU LAKUKAN PADA RIRI??? CEPAT KATAKAN!!!"
Silvi menghapus air matanya, ia lalu menatap Sugi beberapa saat.
"HEI!! APA KAMU TULI??! JAWAB YANG BENAR!! ATAU KUPECAHKAN KEPALA KOSONGMU ITU!!!" Teriak Sugi, kesabarannya mulai habis
__ADS_1
Tangisnya terhenti lalu berganti dengan seringai sinis "Hahahaha!!! HAHAHAHA!!! Silvi tertawa terbahak-bahak... Ia terlihat seperti orang yang tidak waras
"Sampai mati pun aku tidak akan memberitahumu. Silahkan saja siksa aku disini sepuas hatimu. Tapi aku akan tetap menutup mulutku"
Sugi menarik kepala Silvi untuk mendekatkan wajahnya pada ponselnya sendiri lalu mencapakkannya dengan kasar. Ponsel Silvi akhirnya bisa diakses. Ia menelusuri nomor yang paling sering dihubungi oleh Silvi. Namun semua jejak telepon masuk, keluar dan pesan telah terhapus di ponselnya. Ia pun segera mengubah setingan ponsel Silvi agar lebih mudah diakses secara bebas tanpa pemindai wajah lagi.
"Hahahaha kau tidak akan menemukan apa-apa di ponselku! Aku tidak sebodoh itu!" Sahut Silvi dengan senyuman sinisnya. Ia pelan-pelan berdiri dan memakai pakaiannya kembali
"Aku akan pastikan kali ini kamu menerima ganjaran yang pantas!!"
"Coba saja!!! Memangnya aku melakukan apa???!! Berfoto-foto setengah telanj*ng bersama, apa bisa disebut kejahatan?!! Kamu tidak memiliki bukti apapun untuk menjebloskan aku ke penjara!!!
Sugi tersenyum tipis
Silvi mulai gelisah melihat senyuman itu, ia yakin sekali tidak ada bukti yang bisa menjeratnya sama seperti yang sudah-sudah.
Ridwan pun telah tiba, ia nampak terburu-buru memasuki kamar bersama beberapa orang rekannya
"Pak Ridwan, semua sudah beres?!"
Wajah Silvi berubah pucat, ia tidak menyangka sama sekali kalau kamar ini memiliki CCTV. Padahal semalam ia sudah menyuruh seseorang untuk memeriksa kamar ini secara detail.
Silvi mulai panik " Ini tidak mungkin terjadi...tidak mungkin...." Ia bergumam sendiri lalu menatap kosong. Beberapa saat Ia pun bangkit dan memeluk kaki Sugi erat-erat.
"..Aku tidak mau masuk penjara Sam!!! Aku mohon!!! Maafkan aku!!! Aku masih ingin hidup bebas... Tolong lepaskan aku. Aku... Aku... Aku janji padamu, aku tidak akan menggangu kehidupanmu lagi. Aku akan pergi jauh-jauh dari hidupmu.."
"Aku sudah pernah memberikanmu kesempatan. Tapi nyatanya..."
"Tapi kali ini aku benar-benar menyesal, Sam. Aku mohon Sam, demi... Demi masa kecil kita...mmm... kasihanilah aku, demi...demi..anak yang ada dalam perutku Sam!!" Ia berteriak dan kembali menangis tersedu-sedu
Sugi menunduk melihat kearah Silvi
"Kamu hamil?? Anak siapa itu?!"
Silvi menggeleng
"Oh jadi begitu, kamu ingin menjebakku ya?!" Sugi menggeleng
__ADS_1
"Pak Ridwan, lakukan seperti rencana"
Mendengar itu tangis Silvi terdengar semakin kencang, ia mengeratkan pelukannya. Namun Sugi menarik tangan Silvi agar menjauh darinya dibantu oleh Ridwan. Silvi pun di pegangi oleh staf kemanan yang ikut bersama Ridwan.
"Pak, Bu Riri..." Ia berbisik di dekat Sugi untuk melaporkan kejadian yang menimpa Riri
Sugi juga berbisik "Sisir semua kapal laut apapun jenisnya, kerahkan semua orang untuk membantu"
"Sudah dalam proses pak, pihak berwajib juga sudah dalam perjalanan kemari"
"Sebaiknya nanti kalian lewat pintu darurat. Saya tidak mau ada ribut-ribut disini"
"Baik pak, saya mengerti" jawab Ridwan
"Ini ponsel Silvi, periksa pemakaian teleponnya segera. Saya butuh satu nomor yang paling sering ia hubungi untuk di lacak keberadaannya"
Pak Ridwan mengangguk
Sugi pun menghubungi orangtuanya untuk mengabarkan kejadian ini. Karena situasi yang sulit ia juga meminta ijin untuk tidak mengikuti acara malam hari ini. Beruntung orang tuanya kali ini memberikan dukungan penuh padanya termasuk memproses hukuman untuk Silvi.
"Pak, Saya harus pergi" ujarnya pada Ridwan usai menelepon
"Baik pak, nanti saya kabarkan pada anda perkembangannya"
Sugi mengangguk lalu melangkah keluar kamar dengan terburu-buru.
"SAM!!! SAMMY!!! ... SAMMM!!! TOLONG AKU SAM!!!" SAMMY!!!"
Silvi terdengar histeris memanggil nama Sugi berkali-kali
Riri saat ini tidak bisa bergerak sama sekali. Tangan dan kakinya diikat dengan erat. Matanya ditutup kain hitam, begitu pula bibirnya ditutup lakban tebal. Ia hanya sanggup menggoyang-goyangkan badannya dan itu pun tidak berpengaruh apapun pada keadaannya saat ini.
Tadi saat keluar dari mobil ia dipaksa untuk masuk ke dalam sebuah tempat kemungkinan box besar yang didalamnya berisi lapisan tebal dan empuk. Ia hanya bisa merasakan, kain yang melapisi box ini halus seperti beludru di kulitnya.
Pernapasannya tidak terganggu, kemungkinan ada lubang yang dibuat khusus untuk sirkulasi udara di dalam. Ia masih bisa mendengarkan pembicaraan orang-orang disekitarnya secara samar-samar, namun tidak bisa mendengarkan pembicaraan itu secara utuh. Seingatnya ia sudah dua kali dipindahkan ke transportasi yang berbeda.
Ia yakin kalau saat ini sedang menaiki kapal laut. Karena beberapa kali ia merasa ada goncangan naik turun mengikuti ombak dan arus air. Rasanya berbeda saat berkendara dengan mobil.
__ADS_1