
Iwan tersenyum sinis "Sepertinya dia sudah tahu kalau kita sedang mengincarnya. Hubungi yang lain, kita bergerak sekarang" perintah Iwan pada temannya.
Dengan mengenakan masker dan topi mereka bergegas turun dari dalam mobil. Tak jauh dari sana tiba-tiba muncul dua orang laki-laki berbadan tinggi besar dipenuhi tato, juga mengenakan topi dan masker. Mereka keluar dari dalam sebuah mobil berwarna putih yang sejak awal sudah membuntuti mobil Iwan secara diam-diam dan ikut berhenti di tempat ini.
Riri menyadari situasinya menjadi semakin sulit. Dengan cepat ia mengambil beberapa foto empat orang tersebut beserta mobil yang mereka gunakan, lalu ia kirimkan pada Damar.
"Kak, kalau ponselku tidak bisa dihubungi artinya aku sudah berada ditangan mereka. Semoga saja kali ini aku masih memiliki keberuntungan. Doakan aku kak"
Riri memencet tanda kirim lalu menyimpan kembali ponselnya ke dalam tas tangan yang sekarang telah beralih fungsi menjadi tas selempang. Ia pun bersiap keluar untuk menghadapi mereka.
Suasana pom bensin menjadi tegang kala empat orang itu bersama-sama menuju mini market tempat Riri berada. Menyadari akan ada peristiwa yang tidak menyenangkan, satu orang petugas pom bensin nampak mundur perlahan menjauh dari sana dengan wajah pucat.
Riri melangkah keluar dari mini market dengan wajah tenang. Langkah Empat orang tersebut lalu terhenti. Mereka menatap Riri dengan tajam.
"Hei!!!! Siapa yang mengirim kalian kemari!!!???" tanya Riri lantang
"Nanti juga ibu tahu. Sebaiknya ikut kami dengan damai atau .... " jawab Iwan menggantung
"Atau apa?? Kalian mau apa hah??!!!" tantang Riri
"Hahahah... Benar kata si bos. Wanita mungil ini ternyata memang punya nyali" kata seseorang laki-laki yang bertato
Riri terlihat melepaskan sepatu berhak tingginya, ia menggenggamnya erat di tangan dengan ujung runcingnya menghadap ke depan. Sambil bersiap ia menggerakkan kepala dan kakinya kesana kemari seperti sedang melakukan pemanasan
"Tangkap!!!" Teriak Iwan pada yang lain
Mereka berlari bersamaan untuk menangkapnya. Dengan lincah Riri menghindar sembari melayangkan pukulan menggunakan hak sepatu runcingnya kesegala arah. Serangan bertubi-tubi dilancarkan hampir bersamaan padanya.
"Bangs*tttt" teriak seseorang karena hak tersebut mengenai kepalanya, darah segar terlihat menetes turun ke pelipisnya
__ADS_1
Serangan mereka pun semakin brutal, dan Riri mulai kewalahan menghadapinya. Napasnya terlihat tersengal-sengal menahan kekuatan mereka yang tidak sebanding dengan dirinya.
Pertarungan sengit pun tak terelakkan, Riri mendapati dirinya beberapa kali terkena pukulan dan tamparan.
"STOP!!!" kata Iwan
Gerakan mereka terhenti, masih dalam posisi siap kembali bertarung mereka terdiam di tempatnya masing-masing. Napas mereka juga nampak memburu, mereka tidak menyangka cerita Hadi tentang wanita ini ternyata benar. Bahwa wanita yang akan mereka tangkap ini bisa sedikit brutal dan berbahaya. Walaupun skillnya jauh dibawah mereka namun kelincahannya untuk menghindar dan menyerang balik patut di waspadai.
Riri hampir saja kehabisan napas, beruntung Iwan berteriak dan akhirnya mereka berhenti menyerang. Keringat mengucur deras dari dahi dan lehernya, ia memasang kuda-kuda mempersiapkan diri untuk serangan selanjutnya.
"Sudah ku bilang jangan sampai dia cedera!!! Mati kita!!! Masa menghadapi satu wanita saja kalian harus bersusah payah begini!!" Teriak Iwan dengan wajah frustasi. Ia mendekat, lalu memerintahkan yang lain agar menjauh dari sana dengan isyarat kibasan tangan. Tiga orang tersebut akhirnya menjauh.
Iwan semakin mendekat dengan langkah tenang. "Sebaiknya Bu Riri ikut kami, saya tidak akan mencederai anda Bu. Tugas kami hanya membawa ibu ke suatu tempat, hanya itu, selesai" ujarnya mencoba membujuk
"Saya tidak mau!!!"
"Ok" jawabnya singkat , lalu dengan gerakan cepat Iwan menangkap kedua tangan Riri dan menekuk salah satu jarinya agar melepaskan sepatu yang ia genggam.
Tak mau kalah Riri menggunakan kakinya untuk menendang kearah kemalun Iwan berkali-kali. Tak berhenti disana ia juga sempat menendang tempurung kaki Iwan dengan brutal
"Shhh!!!..." Iwan nampak mengerang, wajahnya memerah menahan sakit. Namun tak mengurangi kekuatannya mencengkram tangan Riri.
"HEIII!!! Bantu aku si*l*n!!!" Iwan memanggil teman-temannya
Mereka berlarian mendekat lalu ikut membantu memegangi tangan dan kaki Riri yang meronta-ronta dengan kuat.
Tak menyerah, Riri mengantukkan kepalanya ke belakang yang mengenai kepala salah seorang dari mereka. Riri mengerang menahan sakit di bagian kepala belakangnya, telinganya kini berdenging. Ia sudah mulai kehilangan keseimbangan.
"F*#K!!! Kepalaku sakit!!! Aku gak kuat!! Shhhh!!!" gumamnya dalam hati
__ADS_1
"Argh!!!" Teriak laki-laki dibelakangnya kesakitan. Mereka merasa sedikit kewalahan dengan kekuatan yang dimiliki oleh Riri. Dengan segala upaya dan kekuatan akhirnya Riri berhasil ditekuk oleh mereka.
Riri dimasukkan kedalam mobil Iwan dalam kondisi tangan, kaki, badan terikat dan mulut yang di lakban.
"Kita bertemu disana" ujar Iwan pada dua orang yang lain. Mereka lalu keluar berlari menuju mobil putihnya.
Mobil Iwan melesat, mereka mengebut untuk mengejar waktu. Mereka diberikan target sampai sore hari ini tepat pukul enam. Sementara Iwan menyetir, teman yang lain menjaga tubuh Riri agar tidak terjauh dan terombang-ambing.
Dari dalam mini market nampak wanita penjaga sedang gemetar berjongkok diantara rak-rak barang sambil memegangi ponselnya merekam kejadian tersebut.
"Bisa cepat nggak sih kamu Dion?!!!" Ujar Damar yang terlihat panik pada Dion yang sedang mengambil alih setir mobil. Dion juga nampak tegang bercampur khawatir sembari berkonsentrasi mencari celah di kemacetan lalu lintas siang ini
"Bisa, Sabar kak!!" Jawabnya singkat
"Ini pasti ulah Silvi. Kalau sampai Riri kenapa-kenapa, aku akan memutus hubungan pertemananku dengan Sammy!!! Gara-gara dia adikku harus menghadapi hal gila ini Dionnn!!!! Ya Tuhan Riri!!!!"
"Kenapa tidak minta bantuan dia saja kak? Biasanya dia pasti lebih cepat"
"Sammy???!! Pak Doni sedang sakit, dan dia sekarang sedang diacara penting keluarganya. Kamu pikir kenapa Riri tidak mau langsung meminta bantuan padanya?? Karena Riri tidak mau mengganggu acara itu. Kalau sampai acara itu amburadul, yang menjadi sorotan sudah pasti Riri. Secinta itu adikku pada Sammy, Dionnn!!! Dia lebih mementingkan reputasi Sammy dibanding keselamatannya sendiri!!!" Damar berteriak ia merasa frustasi sekaligus marah dengan situasi ini.
"Sabar kak, yang tenang jangan emosi. Kakak sudah cek nomor plat yang difoto tadi?"
"Sudah, tapi sepertinya plat itu palsu"
"Fotonya bagaimana?"
"Aku belum menemukan informasi tentang orang itu"
Dion menghela napasnya, ia pun sebenarnya merasa sangat khawatir dan panik.
__ADS_1
Sementara itu di dalam sebuah ruangan yang gelap, pak Doni mulai tersadar. Kepalanya terasa berat, tangan dan kakinya pun kaku tidak bisa digerakkan. Ia membuka matanya perlahan-lahan dan menyesuaikan dengan kegelapan disekitarnya.
Rupanya tangan dan kakinya terikat. Ia dalam posisi duduk diatas sebuah bangku kayu dengan mulut tertutup lakban.