
Bubur ayam pesanan kami datang, aku memandangi asapnya yang mengepul dari dalam mangkok.
"Sebenarnya sudah lama sekali aku tidak pernah mau lagi makan bubur ayam. Karena setiap kali aku melihat bubur ayam, aku akan ingat pada kak Damar. Ini sarapan kesukaannya. Kuah, bawang goreng dan sambalnya harus banyak. Dia akan meminta satu mangkok kerupuk putih, yang nantinya akan dia remukkan diatas buburnya kemudian diaduk. Belum lagi kalau dia melihat sate telur puyuh tersaji diatas meja, dia bisa kalap" aku tersenyum getir mengingat itu semua. Tanpa ku sadari tanganku mengaduk bubur berulang kali tapi tidak sekalipun aku menyantapnya.
"Riri" panggil Sugi pelan, tangannya menepuk lenganku
Aku terperangah "ya?" Jawabku menoleh kearahnya
"Kenapa buburnya dari tadi diaduk saja tapi tidak dimakan? Nggak suka bubur yah?" Ada sebersit rasa kecewa di wajahnya
"Suka kok, hanya saja saya jadi tiba-tiba teringat seseorang"
"Yang semalam?"
"Bukan, ada kenangan lama yang lain tiba-tiba muncul kembali. Bubur ini panas yah, asapnya ngebul" aku tersenyum datar, mataku tiba-tiba saja berkabut. Aku mengalihkan pandanganku.
Sugi menyadari perasaan sedih Riri "Kalau rasanya nggak nyaman, apa kita ketempat lain aja?"
"Nggak usah, saya nggak apa -apa kok" aku menyantap buburku dengan cepat dan lahap. Takut rasa sedihnya datang kembali.
"Aku harus menghadapi ini pelan-pelan satu persatu. Supaya nanti kalau melihat bubur ayam lagi atau hal-hal yang berkaitan dengan kenangan di masa lalu, aku tidak terlalu larut dalam kesedihan. Aku harus kuat!!" kataku dalam hati.
"Mau ngobrolin yang kemarin nggak? Yah siapa tahu kalau sudah curhat rasanya lebih plong" kata Sugi sambil menatap Riri yang sedang menyantap buburnya.
Aku menoleh kearahnya "Riri, masa kamu nggak pengin cerita masalah semalam sama orang ini? Padahal dia sudah beberapa kali membantumu loh!. Nggak sopan aja rasanya. Lagipula Andi juga sudah menjadi masa lalu kamu kan ri?!" aku menghela napasku
"Saya tadi terIngat sesuatu yang jauh lebih berharga daripada laki-laki semalam. Gara-gara bertemu Andi, memori pilu yang saya coba kubur bertahun-tahun tiba-tiba muncul kembali" ujarku pelan. Aku menelan ludahku berusaha agar tidak terlalu sedih.
Sugi menghentikan gerakan tangannya menyendok, dan mulai serius mendengarkan Riri. Badannya menghadap ke arah Riri, dengan air muka yang tenang. Air mata Riri tiba-tiba saja sudah menetes di pipinya tanpa ia bisa cegah lagi.
__ADS_1
"maaf" aku mengambil selembar tisu dan menyeka air mataku
"It's okay, menangis rasanya lebih baik daripada selalu berpura-pura semua baik-baik saja Riri" ujar Sugi tangannya mengelus punggungku
Aku menarik napas panjang sebelum mulai kembali bercerita "salah satu dari duo akustik semalam yang namanya Andi, dia pacar saya sedari masa sekolah. Tapi semalam saya baru tahu kalau dia sudah menikah dan saya tentu saja kaget. Yang membuat saya lebih kaget lagi dia menikahi teman baik saya sewaktu masih Es Em A. Mungkin saya saja yang terlalu naif selalu mengingat janji setia kami" Aku menoleh kearah Sugi sambil tersenyum hambar
"Sudah berapa lama kalian tidak bertemu? Kenapa tidak menemuinya sebelum semuanya terjadi?" Tanya Sugi sambil mengaduk buburnya
"Kalau saya tidak salah ingat kurang lebih 5 tahun, saya tidak bisa menemuinya karena suatu hal. Saya berharap dia yang mencari saya.Tapi nyatanya dia tidak pernah mencoba sama sekali. Saya bodoh yah, menunggunya begitu lama eh ternyata sudah di embat teman sendiri"
"Kita sama, cerita saya juga mirip begitu"
"Yang benar?" Tanyaku penasaran
"Yah nggak sampai 5 tahun menunggu sih, saya kan nggak sebodoh itu hehehe" katanya sambil terkekeh
"Yah... hahaha" aku ikut tertawa mendengar gurauannya
"Mungkin saja"
"Besok saya yakin dia pasti datang mencari saya kembali. Saya rencananya mau bekerja dari kos-an tapi nggak ada internet. Kalau boleh, hmm...besok saya kerja dirumah pak eh Sugi aja kali yah? Eh nggak jadi deh"
Senyum Sugi mengembang mendengar permintaan Riri dan senyum itu hilang kembali setelah mendengar kata "nggak jadi" dari mulut Riri
"kenapa nggak jadi?" Tanya Sugi dengan nada ketus
"Masa ada staf maunya kerja dirumah atasan! Benar-benar tidak sopan" aku menggeleng
"Daripada bertemu dia lagi, kan memang lebih baik bekerja dari rumah saya?" Jawab Sugi lagi dengan wajah penuh keyakinan
__ADS_1
"Memangnya boleh?"
"Boleh" Sugi mengangguk "sangat boleh" gumamnya didalam hati
"Yayy!!" Aku bersorak kecil didepannya
Sugi hanya menggeleng melihat kelakuan Riri
"Sugi, nanti saya balik ke kos-an sendiri, jadi tidak usah diantar. Saya sudah baik-baik saja. Tangan saya juga sudah sembuh" aku mengepal-ngepalkan tangan kananku di depannya dengan aksi yang kekanakan sambil nyengir
Sugi mengangguk sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal "Duh imut sekali, rasanya pengin aku kantongin aja dia. Melihatnya begini rasanya jauh lebih melegakan daripada melihat raut wajah sedihnya tadi. Aku yakin sekali ingatan yang dia maksud adalah tentang keluarganya. Kasihan Riri, dia sengaja membuat hari-harinya selalu sibuk supaya pikirannya selalu fokus pada hal-hal diluar dari ingatan tragedi yang menimpa keluarganya"
Sejenak nampak dua orang laki-laki duduk di meja yang bersebelahan dengan kami. Mata dua orang laki-laki tersebut memandang Riri dengan penuh hasrat secara terang-terangan. Riri yang sedang sibuk dengan buburnya tentu saja tidak menyadarinya.
"Ah seharusnya aku sadar, apa yang aku lihat saat ini tentu saja bisa dilihat juga oleh laki-laki lain. Riri memang sangat menarik. Rambutnya yang panjang lurus dan hitam terlihat memukau di hempaskan angin berkali-kali. Ditambah wajahnya yang cantik segar seperti embun yang baru saja jatuh menetes dari dedaunan. Aku tak rela berbagi pemandangan ini dengan yang lain. Kalau saja Riri telah menjadi milikku tanpa pikir panjang lagi pasti kutonjok muka dua orang ini " wajah Sugi berubah kesal dan dingin
Sugi mengambil masker dan topi dari dalam tasnya dan mengenakannya pada Riri
"Balik yuk" katanya kemudian
"Ayo, saya juga sudah selesai" jawabku sambil berdiri dengan perasaan bingung karena dia memasangkan topi dan masker secara mendadak. Wajahnya juga terlihat kesal dan dingin kembali. "Dia kenapa yah? Tiba-tiba moodnya berubah dengan cepat" pikirku.
Ketika kami sudah berada di perjalanan pulang aku merasa mood Sugi masih belum baik.
"Sugi kenapa? Kok mukanya cemberut?!!" Tanyaku sedikit berteriak didekat telinganya
"Pegang yang erat, kita ngobrol dirumah saja. Saya mau mengebut biar cepat sampai" jawabnya
Belum sempat aku memegang erat bajunya, Sugi memutar gas dengan lebih kencang. Aku otomatis memeluk pinggangnya sangat erat.
__ADS_1
Dari dalam helm nya, wajah Sugi nampak tersenyum kembali.