
Hari ini aku pulang lebih cepat dari biasanya. Setelah mandi aku mengganti pakaianku dengan celana pendek dan kaos hitam besar bergambar kartun di depannya. Sugi sepertinya belum datang, jadi aku memutuskan untuk rebahan sambil mendengarkan musik. Sesaat kemudian aku seperti mendengar ada suara seorang wanita mengomel di luar. Dengan bergegas aku keluar dari kamar.
Betapa kagetnya aku melihat sosok yang sedang mengomel itu ternyata Ibu Rita, ibunda dari Sugi. "Astaga Riri!!! Habislah kamu hari ini!!" Gumamku.
Mata Ibu Rita melotot tak percaya karena melihatku keluar dari salah satu kamar yang ada di sana dengan pakaian santai.
Kontras dengan sang Ibunda, Sugi kelihatan tetap santai dan tenang di belakang ibunya. Malah seperti menahan tawa melihat wajah Riri yang shock seperti habis melihat hantu di siang bolong.
"Loh kamu Riri kan? Asisten barunya Sam!... Haduh Sam!!! Dia tinggal disini??!!" kata Ibu Rita nyaris histeris. Dia memanggil Sugi dengan sebutan nama kecilnya "Sam".
Aku sama sekali tidak mampu menjawab pertanyaan ini. Lidahku tiba-tiba saja kelu.
"Iyah bu, dia tinggal disini sejak jadi asisten pribadi ku" jawab Sugi dengan wajah tak bersalah
"Aduhhh!!! Kamu gimana sih? Kalau orang-orang tahu kamu tinggal serumah sama dia imagemu gimana??"
"Dia kan asistenku Bu, sama dengan pak Doni. Dulu sebelum dia punya rumah kan juga tinggal disini bareng. Lagian aku sama Riri juga nggak yang aneh-aneh kok. Benar kan Ri?" Tanya Sugi padaku
Aku yang masih kaget menjadi gelagapan menjawab pertanyaan dari Sugi. Ibu Rita menoleh padaku dengan wajah kecewa.
"Ee..Benar bu, walaupun kami tinggal serumah tapi kami tetap menjaga profesionalisme dan privasi masing-masing"
"Profesional? Privasi? apa sih Ri?? Pijat memijat? Atau tidur seranjang sebelahan?" Aku menyindir diri sendiri dalam benakku.
"Bagus kalau begitu. Kalau sampai saya tahu ada yang tidak beres dengan hubungan kalian. Saya yang akan mengambil tindakan secara langsung, khususnya untuk kamu Riri" ujarnya tegas
"Saya mengerti Bu" jawabku dengan gelisah .
"Riri, apa saja jadwal Sam besok?" Bu Rita memutar badannya dan duduk di sofa dengan gaya yang sangat anggun.
"Besok kosong Bu, beliau bisa berisitirahat Minggu besok"
"Bagus" Bu Rita menoleh ke arah Sugi "Sam, kamu masih ingat sama Silvi? Anaknya pak Karta?"
"Yang tinggal di sebelah rumah kita dulu itu?" Sahut Sugi sambil ikut duduk di dekat ibunya
"Iyah, pak Karta kan dulu sempat pindah keluar negeri. Baru kemarin kembali sama keluarganya. Mereka mengundang kita makan siang besok. Silvi sekarang cantik banget loh Sam, ibu lihat dari foto yang dikirim ibunya. Kalian ngobrol-ngobrol lah siapa tahu cocok" ujar Bu Rita terlihat antusias
"Ck! Apa sih Bu?" jawab Sugi dengan wajah malas
Aku mengusap tengkukku, ingin sekali rasanya kembali masuk ke dalam. Karena merasa pembicaraan ini tidak untuk di dengarkan oleh orang luar sepertiku.
"Sam, usia kamu sudah tidak muda lagi. Sudah pantas punya pendamping"
"Aku tahu Bu, tapi aku saat ini sedang fokus sama urusan perusahaan" mata Sugi menoleh kearahku diikuti oleh pandangan Ibu Rita.
__ADS_1
"Hmm kalau tidak ada hal yang penting lagi, saya permisi kembali masuk ke dalam yah Bu Rita, pak Sugi?" Kataku dengan perasaan tidak enak.
"Silahkan Riri" kata Sugi mendahului jawaban dari Ibunya
Aku masuk ke dalam kamar dengan perasaan tidak enak kemudian duduk di atas lantai bersandar pada tembok. Kudengar dengan jelas pembicaraan mereka mengenai gadis yang bernama Silvi dan keakraban mereka di masa lalu.
Aku mengambil headset untuk mengalihkan pikiranku dari pembicaraan mereka. Tapi lagu yang kudengar tak kusangka malah memperparah kegelisahaku. Buku yang aku baca pun sama sekali tidak masuk ke pikiranku.
"Yang namanya Silvi itu pasti cantik, seperti yang ibu Rita katakan. Dan sudah pasti mereka akan cocok menjadi pasangan satu sama lain. Latar belakang keluarga mereka selevel, akrab dari kecil dan sama-sama memiliki prestasi di usia muda. Wajar kalau ternyata Sugi memilih Silvi. Tapi kenapa aku merasa gelisah begini sih? Ck!"
"Aku seperti merasa tidak rela? Kenapa nggak rela Ri? Bukannya kamu juga sedari awal sadar hubungan kalian hanya sebatas atasan dan bawahan? Lagian kamu siapa sih? Keluarga nggak punya, duit pas-pasan, penampilan biasa saja... Arghh!! Stop it !!" Aku menarik lepas headset di telingaku.
Aku memeluk erat boneka beruang yang ku bawa dari kosan semalam "Bu, aku lelah! Boleh aku tidur di pangkuanmu sebentar saja? Kenapa nasibku harus seperti ini sih Bu?" Aku meletakkan boneka itu diatas tempat tidur dan kujadikan bantal di kepalaku. Pikiranku melayang kesana kemari tanpa ujung yang jelas.
Sesaat kudengar suara ketukan "tok tok tok!"
"Riri, boleh aku masuk?" Kata Sugi dari balik pintu
"Sepertinya Bu Rita sudah pergi, kalau belum dia pasti nggak akan datang ke kamarku"
Aku memutuskan untuk tidak menjawab pertanyaannya, anggap saja aku sudah tertidur lebih awal.
"sudah tidur ya?" Katanya lagi dengan nada suara kecewa
"Ck! Kok aku malah jadi nggak tega gini sih" aku membatin teringat dengan janjiku padanya semalam.
Pintu terbuka perlahan, kulihat Sugi berdiri di sana dengan posisi bersender pada kusen, kedua tangannya masuk kedalam kantong celana panjangnya
"Ibuku sudah pulang, maaf yah Ri. Ibu memang seperti itu, orangnya blak-blakan"
"Iyah tidak apa-apa" sahutku pelan
Sugi seperti membaca perasaan Riri yang sedang dalam keadaan tidak baik
"Kesel yah?"
Aku menggeleng "nggak, kalau aku jadi orang tuamu mungkin akan mengatakan hal yang sama disituasi ini"
Sugi mendekat dan duduk di sebelahku "Masa?! Jadi kalau anaknya nggak mau tetap dipaksa juga?"
"Yah, kan kalau dapat menantu, istri terbaik juga suatu kebanggaan bagi keluarga"
"Kata siapa terbaik?"
"Kata Ibu Rita"
__ADS_1
"Kan bukan aku yang bilang"
Aku mengangkat bahuku
"Aku hanya mau menikahi orang yang aku cintai. Kalau urusan perusahaan aku mungkin bisa mendengar masukan tapi masalah pasangan hidup aku akan memilih sendiri" katanya tegas, matanya menatap tajam ke arahku
"Kenapa jadi ngomongnya ke aku? Pasti tadi di omelin Bu Rita sampai nggak berani jawab langsung seperti itu yah?"
"Aku sudah bilang kok ke Ibu, lagian dia nggak tahu aja si Silvi itu manja terus nggak nyambung kalau diajak ngobrol. Malah nyuruh aku ngobrol sama dia" Sugi menggerutu
"Siapa tahu setelah sekolah di luar negeri obrolannya jadi lebih seru dan dia jadi mandiri" kataku sambil bangun
"Ck! Jangan sinis begitu"
Aku tergelak dengan jawaban Sugi "Hahahaha aku nggak sinis, siapa tahu begitu. Namanya orang kan bisa saja berubah"
Sugi tersenyum geli "Nggak, aku nggak pernah salah menilai maksud seseorang. Khususnya tentang kamu Riri. Melihat raut wajahmu saja aku mengerti kok maksudmu"
Aku lagi-lagi mengangkat bahuku "whatever" kataku mencibirnya
"Beli Martabak yuk?!"
"Ayokk..." Sugi bermaksud menarik tanganku tapi yang dia pegang malah boneka beruang yang ada di tanganku
Dengan cepat aku menarik kembali boneka yang dia pegang.
Wajah Sugi berubah "kenapa aku nggak boleh memegang boneka ini?"
"Lepas" jawabku gusar
"Nggak mau" Sugi tiba-tiba bersikap kekanak-kanakan
"Ini berharga buatku"
"Dari Andi yah?" Katanya dengan wajah kesal
Aku menggeleng, dengan tenaga yang lebih kuat aku menarik boneka itu dari tangannya. Seketika Boneka beruang itu terpotong menjadi dua bagian.
Aku terperanjat memandangi kepala boneka di tanganku. Dadaku tiba-tiba terasa sakit dan sesak, aku mulai terisak. Air mataku mengalir deras di pipiku
"Boneka beruang ini pemberian ibuku Sugi. Ini barang berhargaku...apa yang sudah kamu lakukan??...." Isak tangis Riri terdengar pilu
Sugi tersadar dari sikap kekanak-kanakannya dan memeluk Riri dengan erat
"Maafkan aku Riri, aku tidak bermaksud begini. Aku bantu perbaiki ya?"
__ADS_1
"Aku hanya punya boneka ini Sugi huhuhuhu ...aku hanya punya ini..." Isak tangis Riri terdengar semakin menyayat hati dalam pelukannya
Hati Sugi bagai teriris mendengar tangis Riri karena ulahnya ini. Ia tidak tahu harus mengatakan apa padanya