
"Tan, Sammy jadi ikut datang kemari juga kan?" tanya Silvi pada Bu Rita yang baru saja sampai di properti yang akan mereka garap
"Katanya sih begitu"
Senyuman Silvi mengembang, namun tiba-tiba wajahnya berubah panik
"Tapi aku takut tan, bagaimana kalau ternyata Sam masih marah padaku?"
Bu Rita tersenyum tipis "Kamu tenang saja, kalau tante sudah memutuskan kamu ikut proyek ini dia tidak akan terlalu mencampuri urusan kita. Mungkin awal-awal paling sikapnya masih ketus, kamu yang sabar ya Silvi"
Silvi mengangguk lemah, wajahnya terlihat khawatir
Namun didalam hatinya berbanding terbalik dengan apa yang terlihat diluar
"Ah kesempatan ini tidak boleh aku sia-siakan, paling tidak dia harus tahu kemahiranku di bidang ini. Aku yakin lama-lama dia pasti akan luluh dengan keahlianku" batinnya merasa yakin
"Ayo kita masuk" ujar Bu Rita, ia melangkah menuju lobby Villa yang akan menjadi proyek mereka ini. Villa ini dulunya milik seseorang berkebangsaan Perancis yang kemudian di lelang oleh pihak Bank karena tidak mampu menyelesaikan kewajiban finansialnya di bank tersebut.
"Wow lobby villanya sendiri sudah luar biasa bagus, apalagi villanya pasti lebih keren"
Mata Silvi terlihat berbinar melihat lobby Villa ini yang bergaya Eropa klasik
"Ada berapa villa disini Tan?"
"Ada 20 private villa, 5 two bedrooms villa, dan 1 three beds rooms villa. Jadi total ada 26 villa"
"Aku nggak sabaran mau melihat villanya"
"Tunggu Sam, sebentar lagi sampai kok" kata Bu Rita usai membaca pesan dari Sugi
"Apanya yang mau diubah Tan? padahal segini sudah ok banget"
"Ada beberapa desainnya yang kurang enak di lihat di dalam, nanti kamu pasti mengerti maksud Tante. Nanti kita lihat bareng-bareng"
"Ok Tan"
"Selamat pagi Bu Rita, saya penanggung jawab proyek ini sementara pak Jono sedang berhalangan hadir" ujar seorang wanita berbadan tinggi besar menghampiri mereka dan menyalami Bu Rita
__ADS_1
"Selamat pagi Bu Yunita" ujar Bu Rita menjulurkan tangannya menyambut tangan Yunita dengan bersemangat
"Ini Silvi bu, yang nanti akan membantu untuk interior desainnya, mungkin pak Jono sudah sempat menyampaikannya pada Ibu"
"Sudah Bu"
"Saya Yunita asisten pak Jono" Yunita nampak memperkenalkan dirinya pada Silvi, ia menyodorkan tangannya pada Silvi
"Saya Silvi" jawab Silvi dengan senyuman tipis dan menjabat tangan Yunita sekilas lalu
Beberapa saat sebuah mobil hitam nampak pelan-pelan mendekat dan berhenti di depan Lobby. Sugi nampak turun dari dalam mobil dengan raut wajah datar. Langkahnya nampak tegas dengan badan tinggi proporsional secara tidak sadar ia memperlihatkan kegagahan dan kharismanya yang luar biasa.
Silvi terpaku di tempatnya berdiri, ia nampak terkesima, wajahnya seperti melihat seorang pangeran kerajaan yang baru saja turun dari kuda putihnya dan sekarang sedang mendekat ke arah dirinya.
"Selamat pagi" sapanya entah pada Bu Rita, Yunita atau pada Silvi. Namun yang pasti ia melihat kearah ibunya.
"Pagi sayang" Bu Rita menjawab sambil tersenyum padanya
"Selamat pagi" jawab Yunita pelan, ia merasa terintimidasi dengan kehadiran Sugi saat ini. Raut wajahnya nampak gelisah. Ia sebenarnya telah beberapa kali bertemu dengan Dirut Utama Wijaya Group sebelum ini, namun sampai sekarang ia masih saja merasa gelisah setiap kali bertemu dengannya. Ia selalu merasa ada jurang lebar yang membatasi interaksi mereka.
Napasnya selalu saja terasa sesak setiap ia berbicara di depan Dirut Utama. Tidak berbeda kali ini ia sampai harus beberapa kali menarik napasnya untuk mengurangi rasa gelisahnya.
"Ok, kita langsung saja ke dalam" Bu Rita melangkah di temani oleh Sugi disebelahnya. Sementara dengan wajah kesal Silvi mengikuti mereka dari belakang diiringi oleh Yunita
"Kemana pak Jono, Bukannya pak Jono yang akan mengurus proyek villa ini Bu?"
"Pak Jono sudah bertemu ibu kemarin, sekarang orangnya lagi ada urusan mendadak jadi tidak bisa ikut dengan kita. Kamu kan tahu betapa sibuknya pak Jono dengan beberapa proyek kita yang lain. Beliau sementara di gantikan oleh asistennya Yunita. Kalian sudah pernah bertemu kan sebelumnya?"
"Iyah sudah"
"Nanti siang, ibu sama Silvi yang akan meeting kembali dengan pak Jono"
Sugi mengangguk "ok" Jawabnya singkat
Mereka pun kemudian melakukan inspeksi dari bangunan villa pertama sampai akhirnya kembali pada lobby Villa ini.
"Ok, Terimakasih atas waktunya semua. Saya harus pergi. Masih ada beberapa jadwal yang harus saya penuhi hari ini"
__ADS_1
"Bu, aku pergi dulu" ia tersenyum tipis pada Bu Rita
"Hati-hati di jalan Sam, nanti ibu hubungi kembali"
"Ok" sahut Sam tanpa menoleh kembali, ia bergegas melangkah keluar dari lobby dan masuk ke dalam mobil yang telah menunggunya di depan
Bu Rita kembali pada dua orang wanita di belakangnya. Ia nampak kaget karena ternyata Silvi dan Yunita seperti tersihir masih memandangi mobil Sugi yang sudah pergi menjauh.
"Ehmm!!" Bu Rita sengaja batuk berdehem
Kesadaran dua wanita ini pun kembali, mereka terlihat salah tingkah
"Bu Yunita, nanti tolong laporkan poin-poin perubahan yang akan kita lakukan disini pada pak Jono. Secara lebih detail nanti kita bahas di rapat siang ini. Anda sebaiknya juga ikut rapat agar mempermudah saya menyampaikan kembali beberapa hal yang tadi kita sempat bahas"
"Saya pasti ikut meeting bu" jawab Yunita
"Silvi saya masih ada urusan, nanti siang kita bertemu lagi di kantor" kata Bu Rita pada Silvi
"Iyah Tan, aku juga masih ada sedikit urusan. Sampai nanti siang ya"
Bu Silvi mengangguk dan menoleh ke arah Yunita
"Ok kalau begitu sampai ketemu siang ini di kantor ya Bu Yunita" kata Bu Rita, kemudian pergi menuju mobilnya yang telah siap di depan.
Yunita mengangguk "baik Bu" jawabnya singkat
Silvi pun nampak menyusul pergi dari sana tanpa mengatakan apa-apa pada Yunita. Ia melewati dirinya yang masih mematung dengan wajah yang terangkat tinggi tanpa senyuman.
Yunita hanya bisa membatin dalam hatinya "sok cantik!!! Ngaca dong!! Sombong banget sih?! Kalau bukan kenalan dekat Bu Rita mungkin saja sudah aku jambak tadi" gerutunya kesal karena teringat tadi di dalam omongannya selalu saja di sela oleh Silvi.
Silvi pun masuk ke dalam mobil. Ia saat ini sedang dalam keadaan marah luar biasa, karena selama inspeksi Sugi tidak menghiraukan dirinya sama sekali. Jangankan bisa mengobrol dengannya, Sugi bahkan sama sekali tak menganggap dirinya juga ada disana. Setiap ia mulai berbicara tentang idenya, Sugi akan langsung melangkah menjauh. Dan itu terjadi berulang-ulang selama waktu inspeksi. Rencananya untuk membuat Sugi kagum akan ide cemerlang yang ia miliki kini pupus sudah.
"Arghhhh Sammmm!!! awas kamu ya? kamu akan menyesal melakukan ini padaku!!!" gerutunya dalam hati
Ia kemudian memeriksa ponselnya untuk mencari alamat kantor Riri. Ia sangat ingin mengetahui keadaan Riri sekarang yang sebenarnya. Setelah mencari-cari di catatan pada notesnya akhirnya ia bisa menemukan alamat yang akan ia tuju saat ini. Ia menuliskannya kembali pada selembar kertas dan menyerahkannya pada pak Sopir
"Pak, antarkan saya ke alamat ini"
__ADS_1
Pak Sopir mengambil kertas tersebut dari tangan Silvi. Ia menepikan kendaraannya lalu membaca alamat yang tertera
"Baik Bu" jawabnya kemudian melajukan kembali mobilnya