
Sugi mengajakku untuk makan di sebuah restauran kecil di pinggir pantai. Restauran Ini sengaja ia pilih agar terhindar dari keramaian warga lokal. Walaupun kecil restauran ini ternyata sangat nyaman. Aku melihat rata-rata orang yang duduk disekitar kami adalah tamu asing. Mereka nampaknya menyukai suasana tenang disini.
"Aku senang karena kamu selalu mau diajak makan dimana saja" ujar Sugi menghadap kearahku. Kami duduk bersisian disebuah meja yang berada dekat dengan balkon restauran ini. Kami bisa melihat lautan luas disertai dengan suara deburan ombak dengan jelas dari sini.
"Untuk urusan tempat makan bagiku yang paling penting adalah kebersihan dan rasa makanannya. Yang lain nomor sekian. Buat apa makan di restauran terkenal tapi ternyata rasa makanannya biasa saja. Malah membuat kecewa"
Ia tersenyum "gitu ya?"
"Tahu tempat ini darimana?" tanyaku sambil melihat-lihat menu yang di berikan tadi oleh seorang pramusaji
"Rekomendasi dari relasi bisnis"
"Banyak juga ya bule yang makan disini, dari tadi aku malah nggak melihat orang lokalnya. Ini termasuk full loh untuk ukuran restauran kecil. Di depan aku juga sempat mendengar, ada yang booking meja lewat telepon. Tapi katanya lagi penuh. Aku yakin rasa makanan disini istimewa"
Ia lagi-lagi tersenyum "menurut review juga begitu"
"Ahhh... ternyata kamu sudah melihat reviewnya sebelum mengajakku kemari ya?"
"Sudah dong. Aku yakin kamu akan memesan salah satu menu salmon yang ada disini"
Aku menatapnya "Darimana kamu tahu aku menyukai salmon?"
"Kamu harusnya melihat dirimu sendiri di cermin saat makan steak salmon di eat and Love waktu itu. Masih ingat?"
"Kelihatan banget yah?"
"Iya hahaha, awalnya aku pikir kamu diam karena makanannya nggak enak. Tapi lama kelamaan aku baru sadar kamu diam karena sedang menikmatinya. Sampai merem- merem kan saking enaknya?"
"Hahahaha astaga aku mengira kamu nggak sempat memperhatikan"
"Siapa yang bisa mengabaikan wanita semenarik dirimu?"
Aku tersipu malu mendengar ucapannya
"Restauran ini milik seorang selebriti chef terkenal untuk tempat menuangkan ide idealisnya. Seringkali idealisme seseorang itu berbanding terbalik dengan selera pasar. Jadi disini ia bisa bebas berkreasi tanpa batas. Hasil kreasinya setiap hari akan jadi menu spesial disini"
Akhirnya kami memesan beberapa makanan mulai dari makanan pembuka, makanan utama dan penutupnya. Beberapa kali kami harus bertanya pada pramusaji mengenai istilah dan bahan-bahan yang tercantum di menu, karena kami tidak mau salah memesan makanan.
Sembari menunggu pesanan kami, Sugi bercerita tentang masa-masa sekolahnya dulu. Dari ceritanya itu aku baru mengetahui kalau ternyata ia adalah murid terpintar di kelasnya. Bahkan sampai di sekolah menengah pun ia tetap menjaga prestasinya.
"Tahu nggak kenapa aku pintar?"
"Belajar?"
__ADS_1
"Iyah salah satunya, aku ini sebenarnya alien, tahu"
Aku memutar bola mataku "alien kok doyannya cewek lokal"
"Namanya juga selera hahahaha" ia tergelak
"Mana antenanya? Kayak yang film alien itu loh"
"Masa nggak tahu? Ada kok satu, tapi aku sembunyikan" ia nampak menahan tawanya
Aku memalingkan wajahku "jokesnya mulai kayak bapak-bapak nih" sahutku malas
Ia tergelak sambil memelukku "hahahaha aku paling suka melihatmu sewot begini. Makin menggemaskan tahu nggak sih?"
Aku hanya menggeleng sambil tersenyum.
Tak lama kemudian makanan pesanan kami akhirnya datang satu persatu. Kami pun mulai menikmatinya dengan antusias.
Sementara itu dua orang laki-laki berbadan besar nampak sedang duduk di suatu tempat. Salah satunya sedang menghubungi seseorang melalui ponselnya
"Kami telah menemukan alamatnya bu" katanya dengan wajah garang
"Bagus. Kamu yakin tidak ada yang mengetahui, kalau kalian sempat mengikuti bapak Sugi ke tempat wanita itu?" Sahut seorang wanita diujung sana
"Ok! Untuk selanjutnya, tunggu perintah dari saya"
"Baik Bu saya mengerti"
Sambungan telepon terputus. Laki-laki tersebut nampak duduk kembali.
"Gimana? Kapan kita bisa beraksi?" Tanya laki-laki yang lain
"Belum, tunggu perintah saja"
"Siap, asal bayarannya sesuai"
"Tenang saja, uang mukanya sudah dikirimkan tadi siang, sisanya akan masuk di hari eksekusi. Ingat jangan sampai bos dan teman-teman kita tahu tentang ini. Kita bisa habis kalau sampai rahasia ini bocor"
Ia nampak mengangguk setuju
Riri dan Sugi telah menyelesaikan makan malam mereka. Saat ini mereka berdua sedang berjalan-jalan disekitar pantai sambil bergandengan tangan
"Sepertinya kita akan sering kemari" ujar Sugi
__ADS_1
"Iyah makanannya enak, suasananya juga tenang. Aku suka" ujarku sambil merapikan rambutku yang berterbangan ditiup angin
Kami lalu berhenti dan duduk diatas pasir pantai. Dibelakang kami berjejer cottages dan bungalows dengan pencahayaannya yang redup menghadap ke bibir pantai. Beberapa tamu asing masih terlihat berlalu lalang di sekitar kami. Dari kejauhan kami bisa mendengar live music berjenis reggae yang kemungkinan tampil di salah satu pub, yang letaknya tidak jauh dari sana.
"Biasanya jam segini urusan pekerjaanmu baru saja selesai" aku melihat layar ponselku, waktu menunjukkan pukul 20:50
"Iyah, semenjak aku menjabat sebagai Dirut jam kerjaku jadi lebih panjang. Tapi hari ini lumayan santai, kita jadi bisa pacaran" ujarnya sambil berpindah tempat duduk. Yang awalnya disebelah kananku, kini berpindah tempat menjadi duduk dibelakangku.
Ia merapatkan tubuhnya sambil melingkarkan tangannya di pinggangku. Dagunya menempel tepat di atas kepalaku.
"Sayang, aku hanya ingin tahu. Kenapa kamu menolak Mita? Bukannya dulu kamu sangat menyukainya?" Tanyaku masih penasaran
"Aku memang pernah sangat menyukainya, tapi itu kan dulu. Yang namanya perasaan juga bisa berubah kan?! Kalau disuruh memilih, yah jelaslah pilihanku jatuh pada yang lebih muda menuju ranum hehehehe" ia terkekeh
"Kok aku kayak buah-buahan mengkal" aku mendongakkan kepalaku menatapnya
"Mau di peram nggak?" Ia menjawab sambil menatap mataku. Ia lalu menyambar bibirku dan mengecupnya berulang kali.
"Manis.." ia memelukku semakin erat
"Nggak usah bertanya tentangnya lagi, nggak penting, sayang. Mendengar namanya saja aku malas, rasanya bosan. Lebih baik kita bahas yang lain saja"
Tiba-tiba aku teringat dengan Dion
"Mmm... Aku mau bilang sesuatu. Tapi janji ya, kamu nggak akan marah" aku mengelus kepalanya yang kini berada di pundaku.
"Tentang apa sih?" Sahutnya santai
"Janji dulu, kamu nggak akan marah?"
"Yah mana bisa begitu. Hmm aku tahu.. pasti ada yang mencoba menarik perhatianmu. Benar kan?"
Aku mengangguk
"Sudah kuduga, apa aku mengenal orangnya?"
Aku memalingkan wajahku ke arahnya tanpa menjawab pertanyaannya
"Ok aku mengenalnya, coba aku tebak. Dion ya?"
"Jadi waktu kamu lagi di luar negeri, Dion sempat mampir kekantor"
"Darimana dia tahu alamat kantormu?"
__ADS_1
Aku pun menceritakan semua yang sempat terjadi saat itu.