Cinta Untuk Mentari

Cinta Untuk Mentari
Frustasi


__ADS_3

Pagi ini Sugi sedang menghirup kopinya dengan tenang. Rasa lelahnya semalam belum sepenuhnya hilang. Kemarin ia harus melakukan meeting sampai larut malam. Tidurnya semalam pun tidak benar-benar nyenyak. "Andai Riri ada disini sekarang bersamaku, mungkin rasanya akan berbeda" batinnya.


Ia berniat menghubungi Riri seperti biasa tapi belum sempat ia menekan nomor, ponsel di tangannya berbunyi. Ia melihat nama ayahnya melakukan panggilan.


"Pagi yah, ada apa menghubungiku pagi-pagi begini?"


"Sam,..... sudah sempat membaca berita hari ini?" tanya ayahnya dengan nada ragu


"Berita apa yah?" jawabnya dengan santai


"Coba buka salah satu media pemberitaan online yang terkenal disini"


Sugi mengalihkan pandangannya pada pak Doni yang sedari tadi memperhatikannya.


"Tolong notebook pak" tunjuk Sugi ke arah notebook didepan pak Doni


Pak Doni bergegas menyerahkannya pada Sugi


"Sebentar, coba kulihat dulu" ujarnya sambil mengetikkan salah satu situs pemberitaan online pada browser notebooknya.


Matanya langsung menangkap berita yang dimaksud ayahnya. Keningnya terlihat berkerut dengan aura wajah yang berubah gelap. Ia lalu mengetikkan kata kunci dengan judul serupa di situs pencarian, nampak olehnya hampir semua media online memberitakan hal yang sama tentang dirinya.


Pak Doni yang sedari tadi merasa ada yang tidak beres ikut membaca berita yang sedang dibuka oleh Sugi. Wajahnya nampak kaget luar biasa membaca berita tersebut


"Ck! Ini semua nggak benar yah"


"Ayah juga yakin begitu. Tapi ini sudah masuk berita nasional Sam. Bahaya sekali untuk image perusahaan kita"


"Aku akan mencoba menghubungi Mita"


"Kabari ayah nanti kalau kamu berhasil menghubunginya, selesaikan dulu masalah kalian. Apapun itu Ayah tidak akan ikut campur, Sam. Tapi yang pasti kita perlu melakukan test DNA untuk anak itu. Besok pagi akan ada press conference di kantor"


"Aku mengerti, apa aku harus pulang secepatnya?"


"Selesaikan dulu jadwalmu dengan cepat, kita tidak bisa begitu saja membatalkan semua janji bertemu yang sudah dibuat jauh-jauh hari kan?"


"Iyah yah aku mengerti"


"Ya sudah, kamu tenang saja, Sam. Selagi kita tidak berbuat salah semua masalah pasti akan menemukan titik terangnya sendiri. Ayah yakin ini perbuatan seseorang yang ingin menjatuhkan keluarga kita"


"Aku juga akan berusaha mencari tahu siapa dalangnya"


"Ok, tetap fokus ya Sam, ayah tutup dulu teleponnya"


"Baik yah"


Sugi menaruh ponselnya diatas meja, ujung jari telunjuknya mengetuk-ngetuk meja. Ia nampak berpikir.

__ADS_1


"Pak, apa saya harus menghubungi Riri untuk memberitahukan masalah ini sekarang? Terus terang saya tidak tahu bagaimana cara menjelaskan hal ini padanya" ujarnya khawatir


"Saya malah merasa Bu Riri sudah tahu pak. Tapi enggan menghubungi bapak karena tahu keadaan sedang kacau, ditambah jadwal kita yang padat. Bu Riri pasti sedang menahan diri untuk tidak menghubungi kita sekarang ini"


"Saya merasa bersalah karena tidak pernah menceritakan tentang Mita padanya. Saya juga takut ia menganggap isi berita ini benar dan berpikir bahwa saya laki-laki brengsek dan saat ini sedang membohonginya" ujarnya khawatir


"Saya harus bilang apa ya pak?" Ia memijit keningnya


"Hubungi saja dulu pak, siapa tahu Bu Riri juga menunggu dihubungi"


Sugi menghela napas, kemudian mengangguk menyetujui sarannya


Saat ini Riri sedang duduk memeluk lututnya di depan kolam renang. Ia sedari tadi memperhatikan riak air di atas permukaan kolam renang di hadapannya akibat terpaan angin yang berhembus cukup kencang malam ini. Beberapa kali ia nampak menghela napasnya, perasaannya sedang gelisah. Baru kali ini ia merasakan rasa sepi itu lagi. Gia yang berjanji datang dan menginap disini pun belum juga nampak batang hidungnya.


Ponsel yang ia tinggalkan di meja ruang tamu terdengar berdering. Riri nampak berlari kecil kearah ruang tamu dan meraih ponselnya


"Hi" sapanya kikuk, sambil berjalan menuju ke belakang rumah dan duduk kembali di tempat semula


"Sayang, mmm am sorry" ujarnya gelisah


"Maaf untuk apa?" Jawab Riri sambil satu tangannya menekan-nekan pahanya sendiri untuk menenangkan perasaannya yang sedang kacau ini


"Aku yakin kamu sudah membaca beritanya"


"Iyah sudah"


"Kamu mau mendengar jawaban asli atau yang enak di dengar?"


"Katakan saja apapun yang mau kamu katakan"


"Apa aku harus tetap percaya padamu?, Atau aku tunggu saja sampai berita ini jelas?"


"Seharusnya sejak awal aku menceritakan padamu tentang Mita. Dia masa laluku Riri"


"Aku tidak keberatan dengan masa lalumu, seperti yang pernah aku katakan waktu itu. Tapi bagaimana dengan anak laki-laki itu?"


"Kami belum sejauh itu Riri. Demi Tuhan" suara Sugi terdengar lemah


"Aku bahkan membaca artikel baru mengenai ini, katanya di malam sebelum pernikahannya kamu mendatangi wanita itu dalam keadaan mabuk. Kamu memohon padanya agar ia tidak menikah dengan orang lain. Bahkan kamu menginap di sana. Apa itu benar?"


Sugi terdiam cukup lama, kemudian menjawab "benar, aku mendatanginya. Aku akui waktu itu aku benar-benar takut kehilangannya. Aku memang mabuk dan kehilangan kesadaran disana. Tapi seingat ku memang tidak terjadi apa-apa setelahnya"


"Yakin? dalam keadaan mabuk mungkin saja kamu tidak sadar dengan apa yang kamu lakukan malam itu. Entahlah..." Riri menutup matanya, kepalanya terasa pening


Sugi terhenyak ia bersusah payah mengingat-ingat kembali kejadian malam itu. Seingatnya memang tidak pernah terjadi apa-apa dan keesokan harinya pun ia terbangun tanpa ada seorangpun di apartemen itu.


"Nanti saat aku kembali, aku akan melakukan test DNA Riri. Aku yakin pemberitaan ini tidak benar"

__ADS_1


Riri terdiam tidak tahu harus mengatakan apa padanya


"Sayang..."


"mmm" jawab Riri dengan enggan, matanya mulai berkaca-kaca. Ada perasaan takut kehilangan yang luar biasa menyelinap dalam hatinya.


"Please percayalah padaku untuk sekali ini saja. Aku tidak pernah membohongimu. Apa aku pernah mengecewakanmu selama kita bersama? Bahkan saat sebelum kita menjadi sedekat ini, apa aku pernah membuatmu menangis?" Suara Sugi terdengar frustasi


Riri menjauhkan ponselnya dan menarik napas panjang beberapa kali untuk menenangkan dirinya. Saat merasa lebih tenang Ia mendekatkan kembali ponselnya di telinga


"Sayang, katakanlah sesuatu... Jangan seperti ini"


"Terus terang aku nggak tahu harus mengatakan apa padamu saat ini"


"Kamu dengar yah Sayang, Aku nggak akan kehilangan kamu. Nggak sekarang atau pun nanti. Apapun yang terjadi, kamu tetap milikku. Selamanya!. Masalah ini akan aku selesaikan dengan baik, karena aku yakin aku benar"


"Aku mau meeting dulu, kamu istirahat ya. Jangan kepikiran macam-macam. I love you" ia menutup teleponnya tanpa menunggu jawaban Riri


Riri meletakkan ponselnya dengan perasaan hampa. Wajah wanita itu kembali terbayang dalam pikirannya. Dari foto yang beredar, paras wanita itu sangat cantik, dengan tubuh tinggi yang proporsional. "Pantas saja Sugi sempat bertekuk lutut padanya" ia bergumam sendiri


Ia yakin mereka sempat menjalani hubungan yang menyenangkan. Ia bahkan bisa membayangkan bagaimana spesialnya Sugi memperlakukan wanita itu. Ada amarah dan kecewa yang berkecamuk dalam pikirannya saat ini. Ingin sekali rasanya ia menumpahkan amarahnya ini pada sesuatu. "arghhh!!!" teriaknya frustasi


Gia yang baru saja sampai di depan rumah mendengar teriakan kesal Riri di dalam.


"Riri!" Panggil Gia sembari terburu-buru mendekatinya


Riri menoleh " Kok baru datang, sibuk ya hari ini?"


"Banget!! Kamu baik-baik saja kan?"


Ia menggeleng "pengin ninju orang rasanya"


"Duh gawat... Kita ke gym yok. Biar emosimu keluar"


"Memangnya ada yang masih buka jam segini?"


"Ada, punya pamanku. Bahkan ada samsaknya loh hehehehe" katanya cengengesan "bentar yah aku telepon dulu"


Gia nampak berbicara dengan seseorang beberapa saat kemudian kembali pada Riri


"Ayookk berangkat sekarang..."


"Aku belum ganti baju.."


"Nggak usah, masih cakep kok" ia melirik kearah pakaian Riri yang hanya mengenakan kaos tanggung dan celana super pendek.


Gia menarik tangannya untuk ikut masuk ke dalam mobil "pokoknya kita jalan sekarang!!!" Ujarnya sambil menutup pintu mobil.

__ADS_1


Mobil pun bergerak menjauh dari rumah Riri.


__ADS_2