Cinta Untuk Mentari

Cinta Untuk Mentari
Damar pulang


__ADS_3

"Pak hari ini saya mau keluar ada urusan sampai besok. Atau mungkin paling lambat dua hari lagi saya kembali. Nanti bookingan Bu Rita Wijaya benar-benar di perhatikan ya pak. Saya akan menyapanya setelah saya kembali" kata Riri saat akan berangkat menjemput Damar


Semalam tiba-tiba Damar menelpon minta dijemput, katanya ia sedang menunggu penerbangan lanjutan dan akan mendarat sekitar pukul 11.00 siang ini.


"Baik Bu, saya mengerti" jawab pak Kanis singkat.


Riri pun bergegas menuju mobilnya yang sehari-hari memang terparkir di depan lobby Villa. Sederetan dengan dua mobil fasilitas villa Lembayung yang salah satunya sedang digunakan untuk menjemput tamu pagi ini. Pak Yuda juga nampak mengantar Riri sampai di pos sekuriti. Ia kemudian terlihat membantu sekuriti untuk berjaga di pos depan.


Sekitar tiga jam kemudian, Riri pun tiba di Bandara Internasional. Ia melihat pada layar informasi, pesawat yang ditumpangi oleh Damar baru saja landing. Setengah jam kemudian sosok yang ia tunggu-tunggu akhirnya muncul juga. Damar dari kejauhan nampak tersenyum lebar padanya.


"Kakak!!!" Aku setengah berteriak karena merasa gembira melihatnya telah kembali. Kulihat ia membuka tangannya bersiap untuk memelukku. Aku tanpa sadar melompat kearahnya


"Tariku sayang..!! " Ujarnya sambil menangkap dan memelukku erat


"Aku senang deh kakak dah balik lagi"


"Masa? Bukannya kamu lebih senang kalau aku nggak disini? Pacarannya kan jadi lebih bebas sama pak Dirut mu itu!? Hahahaha" Goda Damar sambil tergelak ia melepas pelukannya


"Ihhh enak aja!!"


"Hahaha... Oh nggak gitu ya?" Ia mengucek rambutku dengan gemas "yuk pulang!! Panas nih!!! aku kan bule, nggak biasa kena panas gini"


"YHAAA...Si paling bule hahahaha" jawabku sambil tergelak


Ia menarik dua buah koper besar di kedua tangannya. Tas gendong di belakang tubuhnya pun terlihat berat. Tapi ia kelihatan biasa saja membawa itu semua. Dengan postur tubuhnya yang tinggi dan atletis ia terlihat mudah membawa koper-koper itu, layaknya seperti sedang menarik dua tas kecil.


Tapi tetap saja aku tidak tega melihatnya kerepotan sendirian "Aku bantuin bawa ya kak?!"


"Nggak usah, semuanya berat Tari. Lebih berat dari badanmu. Malah nanti kamu yang di tarik koperku" Jawabnya sambil tersenyum lebar


"Hahahaha ngejek banget sih, ya sudah kalau gitu. Aku jadi bisa bebas bergerak" ujarku sambil berjalan dan sesekali melompat-lompat seperti kangguru.


"Tari!! Jangan!! Malu dilihat orang. Masak owner villa kelakuannya masih kayak bocah" ia berbisik


Aku kembali berjalan dengan normal "Hahahaha nggak ada yang kenal juga kak"


"CK! Jangan aneh-aneh...kamu sudah dewasa loh.... Apalagi calon nyonya besar.................." Damar berbicara panjang lebar dengan wajah khawatir


"Iya kak..Iyah" aku hanya tersenyum lebar mendengar Omelan Damar yang sepertinya tidak akan berhenti sampai ia merasa cukup memberikan nasehat padaku


Sudah sekian lama aku tidak mendengar Omelan ini secara langsung, walaupun telinga jadi terasa penuh tapi hatiku jadi hangat karena perhatiannya


Kami akhirnya masuk ke dalam mobil. Omelannya otomatis terhenti, karena ia harus memasukkan kopernya ke bagasi belakang.


"Barang yang lainnya kapan di kirim kak? Pasti banyak yah?"


"Mungkin beberapa hari lagi. Banyak banget. Padahal waktu tinggal di sana barang-barangku rasanya sedikit. Begitu packing baru ketahuan. CK! Aku sampai heran sendiri" ujarnya sembari ikut naik ke dalam mobil.


Setelah duduk dengan nyaman Ia menoleh pada Riri yang mulai melajukan mobilnya "Eh Gia nggak tahu aku pulang hari ini kan?"


"Tenang aja kak, dia juga lagi sibuk banget ngurusin high season"

__ADS_1


"Great!!!" Ia tersenyum senang


"Kakak lapar nggak? Kita mampir beli makan dulu, mau?"


"Boleh, aku pengin makan yang segar-segar. Apa yah?" Ia nampak berpikir


"Ke Priboemi aja kak. Sekalian aku kenalin staf disana sama yang di kantormu"


"Wah iya kamu benar. Ayok deh!!" Ujarnya bersemangat


Di waktu yang sama Grup rombongan arisan Bu Rita baru saja tiba di Villa Lembayung. Ia disambut oleh staf kantor depan dan Pak Kanis. Proses Check in mereka masih sedang berlangsung, dan Bu Rita melalui asisten pribadinya meminta penambahan satu kamar lagi secara langsung.


Sementara Bu Rita dan asistennya masih sibuk, masing-masing ibu-ibu rombongan itu disuguhi segelas minuman sehat segar dan handuk kecil dingin. Beberapa staf terlihat sibuk melayani mereka. Selayaknya ibu-ibu, mulut mereka pun tak henti-hentinya berbicara. Keadaan lobby Villa Lembayung pun ramai dibuatnya.


"Kalau Bu Rita yang milih tempat emang beda ya?!" Ujar seorang ibu-ibu sambil memperhatikan sekelilingnya. Ia hanya menggeleng melihat teman-temannya heboh berfoto ria kesana kemari mengagumi keasrian dan keindahan Villa Lembayung untuk di unggah di media sosial masing-masing


"Itu harus, tempat-tempat baru seperti ini yang kita tunggu-tunggu, ya kan?!! Hahaha" jawab bu Teti yang sedang melakukan live di salah satu akun sosmednya


"Saya dengar dari Jeng Rita, jadwal kita dua hari ini padat untuk Yoga dan Spa kan?" Ujar seorang ibu-ibu lagi


"Iyah sepertinya begitu, tapi kenapa hanya tiga hari dua malam ya? Paling nggak kalau retreat Yoga kan seminggu yah?!" Jawab Bu Teti memasang wajah kecewa


"Namanya juga nyoba bu, kalau kita puas mungkin bisa jadi di perpanjang hahahaha" jawab yang lain


"Eh ada Silvi tuh menyusul kita, ngarep banget kayaknya dia sama Sammy" seorang ibu-ibu berbisik pada Bu Teti


Silvi baru saja tiba, diantar oleh sopir. Ia tersenyum mendekat ke arah kerumunan. Di belakangnya nampak seorang staff villa membantu menurunkan kopernya dari dalam bagasi


"Ah dia ikut ya? Duh benar-benar ya... Kasihan sih. Waktu acara itu kan dia gagal merebut perhatian Sammy, kayak nggak punya harga diri ikut kemari" Bu Teti berbisik sambil tetap tersenyum ke arah Silvi


"Hi Silvi" sapa Bu Teti ramah, sementara yang nampak tidak menghiraukannya. Ada juga yang tersenyum seadanya saat melihat Silvi.


Silvi pun mendekati Bu Rita yang sedang duduk di kursi, didepan meja front office. Asisten pribadi Bu Rita terlihat masih mengobrol dengan salah seorang staff front office.


"Sudah selesai Tan?" tanyanya pada Bu Rita


"Hi Silvi, kapan sampai?" tanyanya dengan wajah datar. Ia sedang kesal karena Silvi memaksa ikut kemari. Padahal ia tidak ingin Silvi berada disini, agar tidak mengganggu rencana rileksnya tiga hari ke depan. Silvi mengetahui acara ini karena kemarin secara tidak sengaja menguping pembicaraannya dengan asisten di kantor.


"Aku belakangan lagi stres berat, kalau aku stres ideku pasti mandeg lagi. Kerjaanku jadi lebih lama selesainya. Aku ikut yah Tan, please.... Demi menyelesaikan proyek itu. Aku janji setelah ini kerjaanku pasti selesai lebih cepat" Itu yang dijanjikan Silvi padanya kemarin.


Silvi ikut duduk disebelahnya "Baru aja Tan. Duh makasi yah Tante aku boleh ikut acara ini. Tante memang nggak salah pilih, Villa ini benar-benar indah. Pulang nanti otakku pasti sudah jauh lebih fresh" Ujarnya bersemangat


"Tante harap juga begitu" jawab Bu Rita sambil tersenyum tipis


Pak Kanis telah kembali, ia menyerahkan kembali kartu Identitas Bu Rita melalui asisten pribadinya.


"Buggy telah kami siapkan di bawah untuk mengantar Bu Rita dan Ibu-ibu yang lain. Kami memiliki empat buggy disini, jadi kami harus mengantarkan secara bertahap, Silahkan lewat sini bu" ujar pak Kanis sambil menunjukkan arah jalan yang akan dilalui untuk turun


"Ibu-ibu saya sudah mengatur villa anda masing-masing, sesuai pesan yang saya kirimkan kemarin. Nanti naik buggy nya bertahap aja dari villa yang nomornya paling jauh" ujar Bu Rita pada teman-temannya


"Sippp" "ok jeng!!" "Iyah jeng" jawab mereka hampir serentak. Tanpa di minta mereka pun berjalan tertib mengikuti Bu Rita dan pak Kanis

__ADS_1


"Silvi karena pesannya on the spot, villamu jadi jauh di belakang sana" ia menunjuk ke arah belakang yang arahnya berlawanan dari villa yang lain.


"Kok gitu Tan?" wajahnya terlihat kecewa


"Yah daripada nggak dapat villa. Mereka lagi ramai loh. Untung saja ada yang menunda kedatangannya, kalau nggak yah kamu harus menunggu sampai ada yang check out"


"Ya deh Tan nggak apa-apa" ia tersenyum tipis


Satu persatu Buggy melaju membawa Ibu-ibu ke villanya masing-masing. Silvi pun harus menunggu dan menjadi yang terakhir di antar ke villanya.


Riri dan Damar akhirnya sampai di waroeng Priboemi. Wajah Damar terlihat kaget melihat keramaian warung itu.


"Wah ramai sekali" ujarnya sambil menggeleng "Kamu pakai penglaris! Hahaha tumbalnya pasti laki-laki muda ya?!" ia terkekeh-kekeh


"Hushh ngawur hahahaha" aku meninju lengannya dengan kuat


"Arghhh sakit!! Hahahaa" Teriaknya masih sambil tertawa-tawa. Ia merangkulku saat kami melangkah menuju warung


"Aku baru nambah staff lagi tiga, menunya juga ada beberapa yang baru termasuk es kolak biji salak kesukaanmu"


"Wah mantap!!!" Ujar Damar kegirangan "Sudah berabad-abad lamanya aku nggak pernah nemu makanan itu"


"Halah... Seabad apa??!!" Jawabku keheranan


Tawanya terdengar makin kencang saat kami telah memasuki warung Priboemi


"Rista..." Aku memangil Rista yang sedang sibuk membersihkan satu meja yang baru saja selesai digunakan. Seketika semua staff yang mendengar suaraku menoleh kearahku


Tak berbeda dengan yang lain Rista pun dengan cepat menoleh "Wah Bu Riri..." Ia berlari kecil mendekatiku


"Siang Bu Riri" sapa para staff bergantian


"Selamat siang semua, semangat ya!!!" Ujarku pada mereka sambil tersenyum


"Kok datang nggak bilang-bilang dulu bu" katanya dengan wajah panik. Ia juga sesekali melihat ke arah Damar disebelahku


"Kalau saya datangnya bilang dulu yah kan nggak seru. Paling kalian jadi siap, terus pura-pura sibuk hehehe" jawabku sambil tertawa kecil


"Yah ibu, ini beneran sibuk loh. Lihat aja dari tadi yang datang nggak abis- abis Bu" ia bersungut-sungut berbisik padaku


"Hahahaha kan bagus bonusmu jadi nambah"


"Iyah sih Bu" jawabnya langsung tersenyum lebar


Matanya kemudian beralih pada Damar, ia menahan senyumnya lalu beralih kembali kearahku


"Ganteng ya ?! Ini kakak saya Rista" ujarku seperti mengerti isi pikirannya


"Ooo" jawabnya sambil mengangguk pelan


Damar pun ikut tersenyum

__ADS_1


"Duduk yuk kak" ajakku pada Damar yang mengikuti ke arah meja yang aku pilih


Setelah memesan makanan pada Rista, kami pun kembali mengobrol


__ADS_2