Cinta Untuk Mentari

Cinta Untuk Mentari
Cerita Damar


__ADS_3

"Terakhir kali sebelum pak Amir benar-benar menghilang, dia sempat menceritakan kejadian di hari orang tua kita kecelakaan" Wajah Damar menerawang mengingat-ingat kejadian beberapa tahun yang lalu.


"Katanya saat melewati kantor paman, dia sempat mendengar paman menghubungi seseorang untuk mengecek apa orang tersebut sudah menyelesaikan tugasnya dengan baik, dan berjanji mengirim sejumlah sisa uang. Pak Amir curiga karena dia mendengar kata-kata mereka harus mati, Rencana ini tidak boleh gagal"


Riri mendengarkan dengan wajah marah sekaligus sedih


Rio mengelus kepala Riri dengan sayang karena tahu apa yang dirasakan Riri sekarang. "Ketika paman pergi, pak Amir menyelinap ke kantornya. Dia menekan ulang nomor yang dihubungi oleh paman, katanya seseorang mengangkat teleponnya dan langsung bicara "apalagi pak? Semua sudah saya lakukan, mereka pasti mati dalam perjalanan sekitar beberapa menit lagi. Percaya sama saya, pak Brata akan mendengar beritanya sebentar lagi"


"Nah Pak Amir buru-buru menutup teleponnya dan keluar dari kantor paman. Hari itu dengan panik pak Amir mencoba menghubungi orang tua kita dan pilot yang menerbangkan pesawatnya tapi tak satupun yang mengangkat teleponnya. Kemungkinan besar semua minuman yang ada di pesawat itu dicampur obat penenang. Ku dengar pesawatnya hancur menghantam air laut, bangkainya pun tak ketemu. Bisa jadi pesawat itu juga sudah dipasangi bom atau dikerjai oleh orang suruhan paman"


Wajah Riri terlihat sedang menahan amarah "Paman jahat sekali ya kak., Kakak tahu nggak? Setelah lulus kuliah aku mau dijodohkan dengan teman bisnisnya yang sudah tua bangka. Karena itu aku melarikan diri dari rumah"


"Kemana Hadi dan Andi? Aku menitipkan dirimu pada mereka. Aku bilang pada mereka, kalau sesuatu terjadi padaku aku minta bantuan mereka untuk menjagamu. Karena aku tahu dua orang itu sangat menyayangimu"


"Waktu itu karena tahu aku akan di jodohkan, aku dan Andi berniat untuk melarikan diri. Tapi paman mengancam Andi, dia tidak punya pilihan lain selain menyelamatkan keluarganya kak. Terakhir aku bertemu dengannya dia sudah menikah dengan Arina"


"Andi Brengs*k"


"Kalau Hadi bagaimana? apa dia tidak membantumu sama sekali?


"Dia yang membantuku untuk lari kak"


"Apa dia tidak bisa membujuk orang tua itu agar membiarkan hidupmu tenang?" Damar terlihat emosi


"Sudahlah kak, aku juga tidak mau tahu lagi. Lanjut aja ceritanya"


Damar menghela napasnya "Nah setelah pak Amir memberitahuku, aku merasa setelah mereka meninggal mungkin saja aku akan bernasib serupa. Karena aku laki-laki satu-satunya di keluarga kita. Seminggu sebelum aku pergi, selalu saja ada orang yang menguntitku di tempat sepi. Sampai akhirnya aku ikut pendakian, rencanaku awalnya hanya ingin menghilang sebentar, kemudian menjemputmu. Kata temanku waktu di pendakian ada empat laki-laki yang bukan rombongan kami selalu mengikuti kemana saja kami pergi" Damar menghentikan ceritanya, lalu memperbaiki bantal di belakang punggungnya.


Setelah bersandar dengan nyaman ia melanjutkan kembali ceritanya


"Aku sangat mengenal jalur-jalur pendakian di gunung itu jadi aku putuskan untuk mengecoh mereka. Benar saja ketika aku bergerak ke rute yang berbeda dengan rombongan, mereka mengejarku dengan gigih. Aku bersembunyi di tempat-tempat yang aku yakin mereka tidak akan menemukanku. Hanya ada beberapa orang yang mengetahui ceruk-ceruk dalam goa di tepi sungai yang aku lewati"


Wajah Riri menegang mendengar cerita kakaknya


"Aku sengaja membuang jaketku di sungai, agar mereka mengira aku sudah jatuh dan hilang. Aku menginap di salah satu goa kecil di sana selama sehari. Setelahnya aku turun gunung melalui rute yang sepi kemudian pergi menyebrang pulau dengan kapal laut. Nah dari sana aku pergi keluar negeri menggunakan kapal feri. Aku melakukan perjalanan yang lama Tari, perlu waktu berhari-hari agar aku sampai disana"


"Kenapa kakak tidak memberitahuku?"


"Agar kamu tidak khawatir dengan keselamatanku"


"Tapi aku tahunya Kakak hilang, itu benar-benar mimpi buruk kedua buatku. Aku hampir saja jadi gila kak"


Damar menatap Riri dengan wajah sedih dan menyesal, "Ponselku hilang saat menghindari orang yang mengejarku dan aku tidak ingat satu pun nomormu, Andi maupun Hadi"


"Bagaimana cara kakak bertahan hidup di luar negeri kak?"


"Aku mempersiapkan uang tabungan dan pasportku sejak awal. Dengan uang tabungan yang aku punya, aku hidup sangat prihatin. Di awal-awal aku hidup diluar, aku bekerja di suatu perusahaan menjadi janitor selama setahun. Setelah itu aku mulai mendaftar kuliah sambil bekerja paruh waktu di tempat lain. Aku pernah bekerja menjadi waiter sampai sales. Begitu seterusnya sampai akhirnya aku punya perusahaan sendiri" lanjut Damar dengan wajah cerah"

__ADS_1


"Kakak mengenal Sugi dimana?"


Damar melihat ke arah plafon mencoba mengingat-ingat masa lalu " Dia temanku di kampus tapi berbeda jurusan denganku. Kami tidak sengaja bertemu dan mengobrol seru di satu sudut taman. Akhirnya karena merasa cocok dan senasib sebagai orang perantauan yah lanjut berteman sampai sekarang"


"Eh dulu aku juga nggak tahu kalau dia anak orang kaya seperti ini hahahaha. Malah sering aku ajak jajan di pinggir jalan juga menginap di apartemenku yang sempit" Damar tertawa mengingat masa lalunya bersama Sugi


"Hahaha dia ternyata memang sesederhana itu yah dari dulu" Aku ikut tertawa mendengar ceritanya.


Disela-sela obrolan kami, aku tiba-tiba teringat dengan harta warisan yang diberikan oleh orang tua kami.


"Sebentar yah kak aku mau ambil sesuatu" aku beranjak dari sana menuju kamarku.


Damar memperhatikan barang-barang apa saja yang aku bawa dari kamar ketika kembali.


"Ini boneka beruang dari Ibu ya?" Kata Damar sambil mengelus bonekanya


"Iyah, dan ini ada album foto lama kita kak"


Damar mengambilnya dari tanganku dan melihat satu persatu foto itu, wajahnya sumringah. Nampak ia sesekali tertawa geli kemudian menghela napasnya saat membaca pesan kecil dari Ibu di dalam album tersebut.


"Aku mendapat ini dari safe deposit box yang diwariskan orang tua kita" aku berkata sambil menyerahkan setumpuk rekening koran ke hadapannya


Kening Damar berkerut saat membacanya.


"Gila, ini banyak Tari"


"Jadi gini kak... ..."


Riri akhirnya menceritakan pada Damar awal mula ia mengetahui ada safe deposit box yang tersimpan untuk mereka, termasuk orang-orang paman yang mengejarnya karena menginginkan surat akta saham yang mereka miliki.


"40%??? Aku juga baru tahu ternyata kita masih punya saham sebesar itu"


"Selama aku masih ada, paman tidak akan bisa melakukan apa-apa kak, bahkan sertifikat rumah dan villa milik kita masih ada disana"


"Bagaimana kalau besok kita ke bank X" katanya dengan wajah berbinar


"Boleh, aku akan menghubungi pak Rudi , CFO disana. Beliau ternyata teman baik ayah kita"


"Aku sepertinya tahu"


"Iyah, bisa jadi kakak mengenalnya. Kita akan melalui jalur VIP kak" aku nyengir kearahnya


"Sugi yang membantumu? "


Aku mengangguk "Iyah" jawabku


Damar menggeleng sambil tersenyum "Ck! Sudah berapa lama kalian bersama?"

__ADS_1


"Bersama? Bersama gimana? Kan aku bekerja jadi asistennya" Sahutku bingung


"Jadi dia belum menyatakan perasaannya pada Tari?! Yang benar saja Sam?!!" Batin Damar dengan wajah keheranan


"Kenapa kak?"


"Iyah maksudku sejak kapan kamu bekerja bersamanya?"


"Hmm kalau resmi disini sih baru kak, tapi sebelumnya aku pernah bekerja di Restauran yang dia kelola selama kurang lebih tiga bulan"


Damar mengangguk pertanda mengerti


"Oh iya bagaimana kakak bisa mengenaliku?"


"Dari kopi buatanmu. Kalau orang yang tidak mengenalku mungkin akan membuatkan kopi pahit biasa, sedangkan tanpa diminta kau menambahkan gula 1/4 sendok teh ke dalamnya. Dari sanalah aku mulai curiga. Setelah aku pikir-pikir dari semalam sebelumnya juga kamu membelikan nasi goreng ikan asin kesukaanku kan?!"


"Hehe aku memang sengaja melakukannya untuk memastikan kalau itu benar kamu kak" aku nyengir ke arahnya


"Dan tadi ketika aku menerima telepon, informan yang aku sewa untuk mencari keberadaanmu mengatakan bahwa kamu sudah berada dibawah Wijaya Grup. Terus terang pikiranku langsung terarah padamu" Ujar Damar dengan wajah penuh kelegaan.


"Aku sangat bersyukur kak, kamu ternyata masih hidup dan sehat" aku menepuk-nepuk telapak tangannya


"Selama ini aku menyembunyikan identitasku kak, pakai nama Riri Amelia, kakak juga ya?


"Iyah aku mengubah namaku menjadi Rio" katanya sambil tersenyum


"Apa yang harus kita lakukan terhadap paman dan perusahaan ayah kak?" Tanyaku lagi


"Kamu mau aku mengambil kembali perusahaan ayah kita?"


"Kalau aku sih lebih baik nggak. Ku dengar keadaan keuangan mereka sedang kacau"


"Aku juga berpikir begitu, mereka mengejarmu pasti ada urusannya dengan uang. Aku sudah tidak peduli dengan perusahaan itu Tari. Usahaku sekarang sedang tumbuh dengan baik, aku hanya akan fokus ke sana. Mengenai bagian saham yang kita miliki, aku akan memikirkannya nanti"


"Aku yakin rapat tahunan pemegang saham akan segera dilakukan, apa kakak ingin muncul dirapat itu?"


"Mmm kamu benar, rapat pemegang saham dilakukan setiap akhir tahun sekitar bulan-bulan ini. Aku pastikan dulu tanggalnya nanti kita bahas lagi"


"Ok, aku mengerti. Aku ngantuk kak" kataku sambil menguap lebar


"Sama, kamu tidur disini saja. Tidak usah pindah ke sebelah"


"Iyah aku juga sudah nyaman disini"


"Tidur yang nyenyak mungil besok kita ngobrol lagi"


"Mmm" jawabku tanpa sadar dengan mata yang sudah terpejam

__ADS_1


__ADS_2