
"Aku sempat ke warung itu beberapa hari lalu untuk mengecek hasil pekerjaan mereka" ujarnya sambil berkonsentrasi menyetir
"Oh ya? Hasilnya gimana? Bagus?"
Ia tersenyum "Lihat aja nanti sendiri"
"Aaaahhhh aku penasaran"
"Hahahaha, sabar"
"Ck! Kenapa nggak kirim fotonya aja? Aku heran tukang yang kerja juga nggak mau ngirim foto. Kata mereka sudah ok, tenang saja Bu. Gitu"
"Nggak sabaran banget ya Bu Riri yang mengemaskan ini hehehe" ia kembali terkekeh
"Awas aja kalau jadinya jelek"
Ia mencubit kecil pipiku "masa rekomendasi dari aku hasilnya jelek"
Aku memandanginya "hahahaha iya yah, kamu aja santai kenapa akunya ribet sendiri" aku tergelak. Ia hanya ikut tertawa mendengar ocehanku
"Kalau sudah pak Dirut yang meninjau aku percaya deh"
"Gitu dong, bahkan aku sempat mengecek kursi dan meja pesananmu yang kebetulan datang di hari aku memeriksa warung itu"
"Yes, pasti keren. Terimakasih ya sayang"
"My pleasure sayangku. Kamu tenang aja, semua pasti berjalan dengan lancar"
Setibanya kami di sana, aku memutuskan untuk bertemu dengan Lisa terlebih dahulu dan setelahnya akan memeriksa warung disebelahnya.
"Waduhh keren bangetttt..." Aku ternganga melihat warung Priboemi ini, persis seperti keinginanku yang tertuang diatas kertas tempo hari pada waktu rancangan awal renovasi.
Plang nama warung ini terlihat jelas di atas bangunan, dengan huruf besar berwarna kuning muda dengan desain font tulisan yang mudah dibaca.
Keseluruhan lantai menggunakan kayu, nampak di beberapa sudut ditempatkan beberapa pohon hias dan foto bernuansa hitam putih. Aku tertegun melihat salah satu foto yang terpajang disana.
"Ehhh ini aku ya?! Masa sih?? Kapan kamu mengambil foto ini?" Ujarku sambil memperhatikan secara detail. Fotoku diambil dari samping kiri secara candid dan sepertinya aku sedang sibuk mengerjakan sesuatu.
"Bagus ya? Aku memang hebat sih. Apa saja yang aku kerjakan selalu luar biasa hahaha" selorohnya ia nampak bangga dengan hasil fotonya ini
"Aku mengambilnya sewaktu kamu masih bekerja di Eat and Love. Saking sibuknya kamu pasti nggak merasa aku memperhatikanmu cukup lama di kantor. Bahkan aku foto beberapa kali pun kamu nggak sadar" ia tersenyum dan melingkarkan tangannya di pinggangku.
"Kok kamu nggak pernah bilang?"
__ADS_1
"Surprise!...hahahaha" ia kembali tergelak
"Bagus banget, terimakasih sayang, aku kelihatan kalem dan classy"
"You are honey, tapi semenjak kita dekat aku baru tahu ternyata kamu nggak se-kalem itu hahaha, tapi aku suka, jadi makin gemes" ia mengucek kepalaku pelan
"Hahahaha aku kalem kalau nggak kenal. Apalagi waktu itu kan aku lagi ada masalah kan?"
Sugi tersenyum tipis
Aku pun kembali memperhatikan meja kasir dan display yang terbuat dari kayu jati solid dimana bentuknya masih mempertahankan bentuk kayu aslinya. Diatasnya berjejer beberapa kaleng kerupuk jadul berwarna biru. Di belakang meja display ditempatkan mesin pembuat kopi beserta rak-rak yang berjejer rapi menempel pada dinding tanpa pintu.Sehingga pelanggan secara langsung bisa melihat stoples bening jadul yang berisi biji kopi, gula, krimer dan printilan lainnya tertata dengan rapi.
Kursi panjang diletakkan di depan meja display seperti warung pada umumnya. Enam meja terlihat berjejer dengan rapi disertai empat kursi kayu pada masing-masing mejanya.
"Persis seperti apa yang aku inginkan" kataku bersemangat
"Kamu memiliki konsep yang jelas dari awal. Makanya orang-orang yang aku rekomendasikan bisa cepat bekerja untuk membantumu"
Aku mengangguk "oh iya peralatan di kitchen, aku mau memeriksanya dulu"
"Nggak usah detail, aku jamin semua dalam kondisi baik"
"Ok kalau begitu, nanti aku mau beli beberapa bahan makanan dasar, siapa tahu besok ketemu kandidat yang cocok. Aku mau orangnya membuat salah satu menu disini"
"Yah kan biar cepat buka"
"Nanti aku mau buat syukuran. Paling undang Bu Alina sama Gia aja"
Sugi mengangguk
"Oh iyah aku harus buat promo, nanti brosurnya aku sebar ke kantor-kantor di komplek sebelah"
"Iyah sayang, pelan-pelan. Satu-satu yah biar semua lancar"
Aku memeluknya erat "I'm so happy sayang"
"Kalau kamu happy, aku juga lebih happy lagi" jawabnya sambil mengelus punggungku.
Aku pun mengambil video untuk ku kirimkan pada Damar, aku ingin dia mengetahui perkembangan warung ini dan ikut merasakan kebahagiaan yang kurasakan ini.
Kami baru saja pulang setelah mampir membeli makan malam di perjalanan tadi
Damar membalas kiriman videoku dengan gambar ♥️ yang cukup banyak
__ADS_1
"Congratulations my lovely sister, aku bangga sekali sama kamu. Keren loh, aku jadi pengin pulang terus mampir kesana hahahaha. Hebat!!! Sukses ya Tari, semoga laris manis dan lancar sampai seterusnya"
Hatiku terasa hangat membaca balasan pesan dari Damar
"Balasan dari Rio?" tanya Sugi saat melihat aku termenung sambil melihat ponselku.
"Iyah"
"Aku yakin dia pasti ikut bahagia melihat video yang kamu kirimkan"
Aku mengangguk
"Eh Telepon pak Doni tanyakan keadaannya, kasihan" kataku khawatir
"Sudah, dia bilang sebentar lagi turun. Dia merasa sudah lebih baik sore ini"
"Baguslah sayang, nanti kalau pak Doni turun suruh langsung makan malam aja. Terus sekarang aku mandi dulu, badanku rasanya lengket semua. Kamu tunggu disini ya"
"Hei..." Ia menyambar lenganku "Aku ikut" ia merajuk
"Belum waktunya" aku mencoba melepaskan tangannya
Ia menggeleng "nggak mau" tangannya masih memegang erat lenganku
Aku mengecup bibirnya "belum waktunya, nanti kalau sudah tiba waktunya semua pasti bisa kita lakukan bersama-sama"
Ia masih cemberut "ya deh, tapi mandi barengnya setiap hari ya? pagi, sore"
"Iyah sayang, boleh"
Wajah cemberutnya berubah menjadi penuh senyum "yes!" Ia menepuk bok*ngku pelan
"aku laki-laki yang paling sabar diseluruh dunia, ya kan?"
Aku hanya menggeleng melihat kelakuannya
Tak terasa waktu pun berlalu. Restauran berkonsep warung, idamanku ini sudah mulai beroperasi. Brosur yang aku sebar beberapa hari yang lalu sepertinya sudah membuahkan hasil. Hari ini beberapa orang nampak datang kemari untuk makan siang.
Sepertinya warung ini telah memiliki pelanggan tetap setiap harinya, karena sejak di buka seminggu yang lalu ada saja yang datang kemari. Bahkan bisa dibilang warung ini tak pernah sepi pelanggan.
Setiap harinya warung ini buka mulai pukul 07.00 pagi untuk sarapan dengan menu terbatas seperti kopi, jajanan pasar, teh hangat, roti panggang, mie instant toping dan bubur ayam. Sedangkan menu makanan berat akan di mulai di siang sampai sore hari.
Dengan begini aku pun mulai sibuk dengan dua aktivitas setiap harinya. Selain sebagai manager operasional di kantor Damar, juga sebagai pemilik Restoran sederhana ini.
__ADS_1