
Hati tak bisa dibohongi. Gita memang berhutang budi pada Gilvan. Tanpa Gilvan, mungkin ia tak akan bisa menikah bersama Rama. Tetapi, keputusan yang amat sulit jika Gita harus berpura-pura menjadi istrinya lagi demi kesembuhan Gilvan.
Apa tak ada cara lain? Apa harus tetap begitu? Aku tak mau menyakiti hati suamiku. Aku tak mau ia terluka karena sandiwara ku untuk Gilvan. Tuhan, kumohon jangan buat rumit kisah ku lagi, Aku sudah lelah, aku ingin bahagia sepenuhnya bersama suamiku... Batin Gita.
Vina pulang ke rumahnya. Ia ingin menenangkan hati dan pikirannya. Ia tak tahu harus bagaimana, hanya satu kunci agar ia tenang, yaitu bercerita pada Ibunya.
"Minumlah.. Teh ini bisa membuatmu lebih tenang." ucap Ibu Vina
"Terima kasih, Ma." ucap Vina
"Kamu ini sebenarnya kenapa sih, Vin? Cerita aja sama Mama, siapa tahu mama bisa kasih solusi."
"Vina sedih, Ma..."
"Kenapa?" Mama Vina mendengarkan
"Lelaki yang Vina cintai, sudah melupakan Vina." ucap Vina
"Karena apa?"
"Karena sakitnya, dia amnesia." Vina menitikkan air matanya
"Bukan karena wanita kan?"
"Bukan!"
"Gampang lah itu!"
"Maksud Mama?"
"Dia amnesia ringan? Apa berat?"
"Sepertinya ringan, karena dokter bilang kalau sering terapi akan cepat pulihnya."
"Buat dia berharga. Buat kamu berarti didalam hidupnya. Jangan tinggalkan dia, tetap ada disampingnya. Itu bisa membuat kinerja otak dan memorinya meningkat. Otaknya akan bekerja dan menelusuri setiap perlakuan mu. Suatu saat nanti, ia pasti mengingatnya."
"Kenapa Mama bisa tahu?"
"Memori otak manusia itu bekerja setiap harinya, bahkan ketika kita tidurpun otak tetap bekerja. Seperti belajar, kita bisa karena belajar. Maka dari itu, latih otaknya, dengan cara mengingat setiap kebersamaan kamu sama dia, semakin otaknya terlatih, semakin mudah memorinya muncul kembali." ucap Mama Vina
"Jadi, Vina tak boleh menyerah?" tanya Vina
"Tentu, saja! Kamu harus menyemangatinya."
"Tetapi, Ma.. Dia hanya mengingat Gita. Aku mencintai mantan suami Gita yang dulu. Dan, lelakiku mengira Gita masih istrinya."
"Kamu menyukai lelaki Malaysia itu? Jadi, dia orangnya?"
"Iya, Bu!" Vina tertunduk lemah
"Vina harus bagaimana?"
"Jangan biarkan ikuti kemauannya. Karena, jika kita menuruti apa yang diingat orang ketika amnesia, orang itu akan sulit mengingat hal yang sebenarnya. Dia harus dihadapkan dengan kenyataan, tetapi itupun tergantung seberapa parah amnesianya. Kalau ringan, jangan buat dia merasa ingatannya itu benar. Kalian harus bisa meyakinkannya bahwa kenyataan itu bukan seperti ingatannya!"
Ucapan Mama Vina menyadarkan Vina. Kalau Gita berpura-pura masih menjadi istri Gilvan, berarti akan sulit bagi Gilvan untuk pulih. Gilvan harus dihadapi dengan kenyataan yang sebenarnya.
***
__ADS_1
Keesokan harinya.
Gita menguatkan dirinya untuk menjenguk Gilvan lagi. Gita sudah diberi tahu oleh Vina, bahwa Gita tak perlu pura-pura masih menjadi istri Gilvan. Gita dan Rama harus bisa meyakinkan Gilvan bahwa Gilvan pasti sembuh. Gilvan harus dihadapkan dengan kenyataan yang sebenarnya tetapi tetap tanpa paksaan dan dengan cara yang natural.
Rama menyetujuinya. Mereka berangkat bersama menuju Rumah sakit. Rey tidak ikut, karena Rama melarangnya. Rama meminta Rey untuk berdamai dengan perasaannya. Rey tak perlu bertemu Vina dahulu sampai hatinya benar-benar ikhlas.
Rey memotong rumput dan pepohonan di sekitar taman belakang rumah Rama, karena sudah tak ada lagi yang bisa ia lakukan, ia mengerjakan pekerjaan tukang kebun.
Pagi itu, Nayya sedang berjemur bersama Mia. Mia melihat Rey yang sedang memotong rumput. Mia mendekati Rey, karena selama ini Asisten Rama itu tak pernah bisa diajak bicara.
"Ganti profesi ya jadi tukang kebun?" tanya Mia sambil menggendong Nayya
"Tidak, hanya sedang tak ada kerjaan saja."
"Kirain turun derajat. xixixi" Mia meledek Rey
"Sembarangan!"
"Biasanya kan kamu jadi orang penting buat Tuan Rama sama Nona Gita. Mereka pergi kok kamu gak pergi?" Mia terus berbicara
"Apa urusanmu? Kamu juga, mau sampai kapan ngurusin anak Nona sama Tuan, kamu jadi gak bisa ngurus anakmu! Hahahaha" Rey tertawa puas
"Enak aja! Lagian, siapa yang udah punya anak!!!" Mia emosi
"Itu, udah keliatan kayak Ibu-Ibu! Hihihihi" Rey membalas Mia
"Wajar dong, baby sitter itu harus keibuan!"
"Iya, iya. Terserah deh!" jawab Rey
"Nama kamu siapa?" tanya Mia
"Mia, Mia Lizanty."
"Sudah lama kerja disini?" tanya Rey
"Baru setahun, setelah Baby Nayy lahir, aku pindah profesi jadi Baby sitter."
"Oh, baguslah kalau gitu."
Raina yang sedang menghirup udara segar, melihat keakraban antara Mia dan sekretaris Rey. Seketika itu muncul ide jahil Raina untuk menggoda Rey dan Mia. Raina berjalan mendekati pekerja kakaknya itu.
"Cieeeee, sekretaris Rey udah move on nih ceritanya!" Raina menggoda Rey
"Apaan sih, Non Raina." muka Rey memerah
"Oh, emangnya sekretaris Rey lagi galau ya, Non?" tanya Mia
"Iya, Mbak Mia. Dia galau! Makanya, mbak Mia harus jadi obat ya buat sekretaris Rey, biar dia gak galau lagi. Hahahahah" Raina puas
"Non, jangan menjatuhkan harga diri saya seperti itu dong! Saya kan jadi malu." Rey salah tingkah
"Tuh, Mbak Mia juga lagi sendiri loh! Deketin aja, Kak Rey!" ucap Raina
"Non, apaan sih." Mia malu-malu
"Dah ya, aku jadi ganggu kalian deh! Bye.. Semoga pedekate kalian berhasil. Good luck yeaaaa!"
__ADS_1
Raina pergi meninggalkan Rey dan Mia. Mereka berdua jadi salah tingkah akibat ucapan adik dari majikannya itu.
***
Gita, Rama dan Vina telah sampai di Rumah sakit. Hati Vina berdebar tak karuan. Ia terus memegang tangan sahabatnya. Rama mencoba berjalan se rileks mungkin. Semoga Gilvan tak membencinya.
Gita menguatkan hatinya, meyakinkan dirinya bahwa Gilvan tak akan melakukan hal aneh-aneh pada dirinya. Mereka dihinggapi rasa takut dan khawatir. Akan bagaimana respon Gilvan ketika melihat Gita?
Pintu diketuk Rama, didalam hanya ada Ibunya Gilvan. Ibu Gilvan kaget karena kedatangan Rama dan Gita. Rama menundukkan kepalanya sebagai tanda hormat. Ibunya Gilvan mengerti, ia harus keluar sekarang juga.
Ibunya Gilvan pamit keluar pada anaknya, Gilvan melihat Gita dan Rama dengan pandangan yang tak bisa dijelaskan apa artinya. Gilvan terus memandangi mereka. Rama memberanikan diri mendekati Gilvan. Tangannya menggenggam tangan Gita erat.
"Selamat pagi, Van. Ini, aku bawakan buah tangan untukmu!" ucap Rama ramah
Gilvan tetap menatap Gita. Ia tak mempedulikan ucapan dan bingkisan Rama. Ia tetap menatap Gita dalam-dalam. Gita semakin frustasi dibuatnya. Gita bingung apa yang harus ia lakukan.
"Kamu datang, sayang." ucap Gilvan
Rama mencoba santai, tidak terbawa ucapan Gilvan yang menyebut istrinya dengan kata sayang. Vina pun sama, ia diam tanpa kata.
"Maaf, aku memilih pergi." ucap Gita
"Dengan dia?" Gilvan menunjuk Rama
"Iya, apa kau marah?" tanya Gita
"Entahlah. Kamu istriku! Tetapi, aku tak kesal sedikitpun ketika tahu kamu telah selingkuh."
"Apa? Selingkuh?" Gita tak percaya
Ingin sekali Rama tergelak. Kenapa Gilvan menjadi lucu? Kenapa ia berkata Gita selingkuh. Rama menahan tawanya, ia tak mungkin terbahak dalam situasi serius seperti ini.
"Kamu selingkuh dengan Rama kan? Biarlah, aku bisa menerimanya."
"Tapi, aku tidak.."
Ucapan Gita tertahan ketika Rama memegang tangannya mengisyaratkan untuk tak membantah Gilvan
"Benar. Kami mengecewakanmu. Aku kesini untuk meminta maaf padamu secara tulus, karena telah merebut istrimu! Apa kamu mau memaafkan ku?" tanya Rama
"Aku tidak akan memaafkan mu. Kamu tak berarti bagiku. Aku hanya akan memaafkan kalian jika istriku yang berterus terang padaku. Selama ini, aku belum pernah mendengar ketulusan istriku." ucap Gilvan
Gita berpikir. Hatinya sakit mendengar ucapan Gilvan. Gilvan memang ingat, selama ini Gita tak pernah mengucapkan terima kasih dan meminta maaf secara tulus pada Gilvan. Gita serasa melupakan pengorbanan Gilvan.
Gita hanya melihat perjuangan Rama, tak pernah melihat sedikitpun pengorbanan yang Gilvan lakukan. Karena memang Gita tak tahu mengenai tragedi kelahiran bayinya pada saat itu. Gilvan mungkin mengingat memori itu, Gita yakin, betapa sakitnya hati Gilvan pads saat itu
"Maafkan aku! Aku tahu kamu begitu mencintaiku, tapi cintaku tak bisa ku paksakan untukmu! Aku telah mencobanya, tapi malah membuatku terluka. Aku bingung harus bagaimana! Kamu boleh memarahiku, kamu boleh membenciku, tapi aku mohon terima permintaan maaf tulus ku padamu!" ucap Gita
"Aku tidak membencimu, hanya aku tak suka kamu melemparkan ku pada sahabatmu!" ucap Gilvan
Vina terperanjat. Vina sedikit terganggu dengan kata melemparkan pada sahabatmu. Vina tak suka mendengar kata-kata itu.
"Aku tidak seperti itu. Kamu kan yang memintaku untuk mengenalkan mu pada sahabatku?" ucap Gita
"Aku tidak pernah meminta hal seperti itu. Aku tak suka sahabatmu menangis sedih di hadapanku! Aku tak tersentuh sama sekali."
"Kenapa kamu tega sekali, Van?" Vina membuka suaranya
__ADS_1
"Apa kita memang sedekat itu?"
*Bersambung*