Direktur, Cinta Pertamaku!

Direktur, Cinta Pertamaku!
Romance Dinner


__ADS_3

Beberapa hari kemudian, Fadli sudah seperti sedia kala. Ia bisa kembali beraktifitas. Pagi ini, seperti biasa, ia akan berangkat kerja. Raina pun akan pergi ke kampus, karena akan pergi menjenguk Audrey bersama Diska.


"Fad, aku nanti mau ke rumah temenku dulu, kamu sift pagi kan? Jemput aku jam 5 ya." ucap Raina.


"Rai, apa aku boleh minta sesuatu?"


"Minta apa?"


"Aku ingin panggilan kita itu diganti. Jika panggilan kita seperti itu, aku merasa bahwa kita hanya berteman." jawab Fadli.


Raina terdiam. Memang, hubungan mereka kini telah membaik, dan Raina tak mungkin memanggil suaminya dengan sebutan nama terus.


"Iya, hunny-ku. Maaf, aku belum terbiasa." Raina tersipu.


"Sayang, telepon aku nanti ya, aku pasti jemput kamu. Sekalian, nanti malam kita makan malam dulu. Mau?" ajak Fadli.


"Boleh, tapi aku ya yang pilihkan restorannya?" Raina tersenyum.


"Boleh, tapi yang sesuai kantongku ya, hehehe." Fadli tertawa kecil.


"Tenang aja kamu, kan aku sekarang pegang kartu kredit Kakak. Kata Kakak, bebas belikan apa saja, asal sama kamu, Fadli suamiku." Raina takut salah menyebut nama lagi.


"Ah, aku gak mau kalau gitu!" tolak Fadli.


"Kok gitu sih kamu?" Raina terlihat kesal.


"Aku gak mau pakai uang Kakakmu, aku ingin menafkahi mu sedikit-sedikit, walaupun resiko dapur aku tak tahu menahu, karena aku tak akan bisa mengimbangi biaya pengeluaran dapur di rumah besar ini. Tapi, aku mampu jika untuk membiayai keinginan sederhana mu," ucap Fadli.


"Baik, baik, suamiku. Aku mengerti, kamu memang menjunjung tinggi harga dirimu. Oke, aku akan memilihkan restoran yang setara dengan dompetmu!" ucap Raina.


"Nah, gitu dong. Ya sudah, ayo kita berangkat."


"Iya, udah siang juga."


...🍀🍀🍀...


Aktifitas restoran terasa asing bagi Fadli. Fadli merasa tak enak pada Gilvan, janji hanya tiga hari cuti, namun ternyata malah cuti sampai tujuh hari, ditambah dengan cuti sakit. Fadli menemui Gilvan di ruang atas tempat kerjanya. Gilvan kaget, karena Fadli sudah mulai bekerja.


"Loh, Fad. Kamu udah sehat? Kenapa udah masuk?" Gilvan kaget.


"Iya, Pak. Saya sudah sehat kok. Maaf ya, niat cuti tiga hari, malah nambah. Pak Gilvan pasti kerepotan." ucap Fadli.


"Gak apa-apa, Fad. Tugasmu tetap aku simpan di meja kerjamu yang baru. Lihatlah itu, aku membuat meja kerja untukmu. Kamu layak mendapatkannya. Kamu tak perlu lagi turun tangan melayani pelanggan. Sudah ada beberapa pekerja magang dan siswa PKL dari SMK juga, aku merekrut dari beberapa sekolah, agar tugasmu tak seberat biasanya, Fad." jawab Gilvan.


"Pak, terima kasih banyak. Maafkan saya yang masih leha-leha dalam bekerja. Saya benar-benar malu pada Bapak, apalagi kemarin saya harus sakit-sakitan." ucap Fadli seraya membungkukkan badannya.


"Santai saja, Fad. Ini sesuai kegigihan mu dalam bekerja. Kamu kecapean ya Fad? Gimana honeymoon nya? Lancar? Cetak gol gak kamu?" Gilvan mulai iseng.


Wajah Fadli memerah, "Ah, Bapak. Kearah situ terus pembicaraannya. Biasa aja kok,"


Gilvan menatap Fadli, " Biasa aja gimana? Gol gak kamu? Jawab dulu dong?"


Fadli terdiam. Ia malu, dan sebenarnya, ada yang ingin ia tanyakan pada Gilvan. "Gol, Pak. Tapi..."


"Kenapa? Raina nolak?" Gilvan menerka-nerka.


"Enggak kok, tapi dia menangis dan marah-marah sama saya, Pak." Fadli menunduk.


"Namanya juga pertama, kamu kurang lembut mungkin!" jawab Gilvan.


"Apa saya bisa bermain dengan lembut, Pak?"


"Tentu saja, apa kamu benar-benar tak menggunakan perasaanmu Fad? Wah, kamu benar-benar ya! Sepertinya, kamu sakit karena hal itu. Tubuhmu bereaksi, dan kamu seperti shock, makanya kamu sakit. Fadli, Fadli, kamu memang laki-laki polos yang pernah aku temui." Gilvan geleng-geleng kepala.

__ADS_1


"Kan saya sesuai instruksi dari Bapak." Fadli tak mau kalah.


"Lah, kapan saya memberi instruksi seperti itu!" Gilvan tak terima.


"Video yang bapak kirimkan, seperti itu kok, saya mengikutinya." Fadli jujur.


"Astaga, Fadli. Benar kan dugaan ku. Biar nanti ku kirim video yang mainnya slow ya! Tapi nanti, ku cari dulu dimana file nya. Kamu pelajari lagi nanti. Bila perlu, segera praktekkan."


"Ah, Bapak. Nanti saya salah lagi. Saya sekarang mengerti kok, dan pasti bisa mengatasinya dengan baik!" ucap Fadli.


"Sudah, tak apa-apa. Biar pengalamanmu makin jadi. Sekarang, kamu rekap dan salin laporan keuangan juga stok barang di pantry ya. Cek juga, takutnya ada kesalahan."


"Baik, Pak."


Fadli memakai meja kerja barunya. Ia kini bekerja sebagai manager yang sesungguhnya. Fadli merasa bangga. Ia harus segera menyelesaikan pekerjaannya, karena ia juga ingin berkenalan dengan pekerja magang yang Gilvan katakan.


...🍀🍀🍀...


Raina dan Diska sudah berada di kediaman Audrey sejak tadi siang. Semua kekesalan dan kekecewaan Raina, telah ia katakan pada Audrey. Audrey hanya bisa berkata maaf, dan menyesali atas perbuatannya.


"Lo gak usah sedih terus. Gue udah maafin lo, kalau lo emang masih sayang sama si Bayu, ya lo kejar lagi aja dia. Gue gak akan marah sedikitpun." tegas Raina.


"Tapi, dia gak pernah ngabarin gue lagi Rai, Dia seperti menghindar dari gue." ucap Audrey.


"Ya lu sembuh makanya, temuin dia di kampus. Minta penjelasan dia, dan bilang kalo lu serius sama dia, Dey!" Raina memberi saran.


"Lu gak marah sama gue?" tanya Audrey.


"Gimana mau marah, dia gak menyesal udah putus dari Bayu, karena dia sekarang udah punya suami! Hahaha." celetuk Diska.


"Hah? Serius lo? Masa sih?" Audrey gak percaya.


"Bener kok, lu mau tahu ceritanya? Kalau lu mau tahu, beliin gue mini dress selutut dulu! Gue mau dinner malam ino, dam gue lupa bawa baju." jawab Raina.


"Online aja. Biar dia langsung kirim bajunya pake babang gojek juga gak ngapa."


"Siap baby, nih lu pilih deh. Udah itu, lu harus ceritain tentang suami lu itu."


"Oke,"


...🍀🍀🍀...


Fadi sudah menjemput Raina di kediaman Audrey. Fadli menunggunya didalam mobil. Raina segera keluar dari rumh Audrey dengan balutan dress cantik warna pink. Benar-benar cantik dan anggun. Fadli menatap Raina tak berkedip. Fadli segera keluar dari mobilnya, dan membukakan pintu mobil untuk Raina.


"Makasih, hunny. Kamu hangat sekali hari ini!" ucap Raina dengan nada menggoda.


"Tentu saja, karena aku suamimu, sayang." Fadli mengikuti arus Raina.


Fadli kaget. Tak seperti biasanya Raina menggodanya begitu. Fadli menutup pintu mobil saat Raina telah naik, dan ia pun segera naik ke mobilnya. Mobil melaju perlahan, membuat Diska dan Audrey melongo melihat Raina yang sangat romantis dengan suaminya.


"Jadi dia bohong sama kita? Waktu itu, pria itu datang juga kan ke cafe? Dan Raina bilang, itu adalah supirnya? Padahal, itu suaminya, gila bener, ada ya laki-laki sabar kayak suani si Raina." Audrey masih tak percaya.


"Iya, Raina gak mau dijodohkan. Makanya, pernikahannya pun sembunyi-sembunyi, sama suaminya pun dia gak mau ngakuin, dia bilang kalau itu supirnya. Kak Rama benar-benar keras, dia menjodohkan adiknya seperti itu. Tapi untungnya, lambat laun Raina mau menerimanya." jawab Diska.


"Syukurlah. Gue jadi gak terlalu merasa bersalah sama dia. Btw, dia udah cerita sama lu, Dis?" tanya Audrey.


"Kemaren dia keceplosan sama gue, ya gue todong beribu-ribu pertanyaan biar dia jujur. Tapi, suaminya ganteng kok menurut gue." jawab Diska.


"Emang ganteng, beruntung Raina." tambah Audrey.


...🍀🍀🍀...


Makan malam di sebuah restoran bernuansa eropa yang Raina pilihkan, benar-benar romantis. Fadli tak menyangka, bahwa Raina bisa menemukan tempat se-romantis ini. Suasananya benar-benar cocok untuk pasangan kekasih yang sedang dimadu asmara.

__ADS_1


Fadli berniat menyuapi Raina, namun ia gugup, takut Raina tak mau, tapi keinginannya sangat menggebu-gebu. Ia mencoba mengambil potongan kecil steak dari piringnya. Lalu, ia mencoba menyuapi Raina.


"Sayang, makanlah," ucap Fadli mendekatkan steak untuk Raina makan.


"Mm, terima kasih," Raina memakan steak yang Fadli berikan padanya.


"Kamu cantik malam ini. Aku benar-benar tak bisa memandang yang lain, karena kamu mengalahkan segalanya." Fadli memegang tangan Raina.


"Terima kasih," Raina tersipu malu.


"Raina, aku janji, akan bersungguh-sungguh dengan pernikahan kita, dan ku harap, kamu mau memakai mas kawin yang ku berikan. Aku ingin, melihat istriku memakai pemberianku." ucap Fadli sedikit sedih, karena sampai saat ini Raina masih tak mengenakan cincin pernikahan mereka.


"Ya ampun, maaf, Fadli, eh sayang. Maaf, aku melupakannya. Bukan maksudku membiarkan mas kawin mu tergeletak, aku janji, setelah sampai rumah nanti, aku pasti memakainya. Aku lupa, maafkan aku, kamu pasti kecewa." jawab Raina.


"Tidak, aku tidak kecewa. Masih ada banyak waktu untuk kita memperbaiki kisah kita, Rai. Aku harap, kamu mau menjalin hubungan ini serius denganku. Aku sudah tak ingin main-main lagi rasanya, aku sudah yakin, pada pilihanku, yaitu kamu, istriku." ucap Fadli.


"Aku terharu mendengarnya. Maafkan aku yang selalu kekanak-kanakan ini ya, aku belum bisa menjadi istri yang baik untuk kamu. Aku menyesal, kemarin-kemarin mengabaikan mu, maafkan aku, Fadli." Raina menunduk.


"Tidak, semua itu butuh proses, semua itu butuh waktu. Aku bisa mengerti kamu, Raina." Fadli tersenyum.


"Dan, untuk hal itu, aku tak melarang kamu melakukannya, tapi... Aku tak mau kamu seperti kemarin." ucap Raina perlahan.


Mata Fadli langsung segar mendengar ucapan tersebut. Fadli memang menyadari kesalahannya disaat malam pertama mereka. Fadli kini mengerti apa yang harus ia lakukan.


"Maafkan aku, aku benar-benar tak siap saat itu. Aku terlalu kaget, Raina. Aku janji, aku tak akan menyakitimu. Terima kasih kamu telah mengizinkannya kembali, aku senang." Fadli terlihat bahagia sekali.


Raina tak menjawab. Ia terlalu malu untuk mengatakan hal itu lagi. Sudah cukup baginya mengatakan hal yang seharusnya dikatakan. Makan malam pun telah selesai, Raina dan Fadli memutuskan untuk pulang, karena hari sudah semakin larut. Seperti biasa, Fadli membukakan pintu mobil untuk Raina. Raina membalas perbuatan Fadli dengan senyuman.


"Makasih atas malam ini, sayang." ucap Fadli.


"I-iya, sama-sama. Aku juga makasih."


"Fadli menatap Raina yang terlihat gugup. Entah kenapa, perasaan mereka kini jadi campur aduk. Rasanya, Fadli ingin memeluk dan mencium istrinya saat ini. Fadli melihat Raina yang malu, dan gugup, wanita manja itu tak seperti biasanya, ia terlihat anggun dan cantik.


Fadli memperhatikan wajah cantik Raina. Ternyata, ada sisa makanan yang menempel di dagunya. Fadli ingin sekali membersihkannya, namun takut Raina marah kalau Fadli memegangnya.


"Sayang, ada sisa makanan, di bawah bibirmu." ucap Fadli.


"Mana, disini? Masa sih?" Raina memegang-megang dagunya, namun sisa makanan itu masih menempel pada dagunya.


"Maaf, Raina."


Fadli mendekat, tubuhnya bergeser dari jok nya mendekati wajah Raina, wajah mereka kini berdekatan, Fadli mencoba membersihkan sisa makanan pada dagu Raina. Ada perasaan aneh pada diri Fadli, jantungnya seperti bergemuruh hebat, ia benar-benar merasa ada tarikan magnet ketika dekat dengan Raina. Raina pun sama seperti Fadli, ia gugup, jantungnya berdebar sangat cepat saat Fadli membersihkan sisa makanan pada dagunya.


Perasaan Raina benar-benar aneh, ada perasaan gugup dan hangat menjalar pada seluruh tubuhnya. Raina memejamkan matanya ketika ia merasa wajah Fadli terus mendekati wajahnya, ia tak sanggup melihat apa yang dilakukan Fadli, Fadli mendekatkan bibirnya pada bibir Raina, Fadli sudah tak bisa menahannya, Raina benar-benar manis, membuat Fadli ingin memainkan lidahnya pada rongga mulut istrinya itu.


Kini, mereka saling berciuman, Fadli ******* habis bibir mungil Raina. Satu tangannya memegang rambut Raina, dan satu tangannya menahan tubuhnya. Ciuman hangat dan mesra, ciuman penuh cinta yang menggebu. Raina memejamkan matanya ketika Fadli terus menciuminya. Raina pasrah, karena ia pun mulai terbawa suasana, ia menikmatinya dan menginginkannya.


Ciuman yang lembut dan halus, Setelah di rasa mereka kehabisan nafas, Fadli perlahan melepaskan ciuman penuh hasrat tersebut. Raina pun membuka matanya perlahan-lahan. Ciuman pertama dengan penuh cinta dan keinginan bersama.


"Manis, bibirmu, Raina.." Fadli memegang dagu Raina.


"Mm, terima kasih,"


"Ayo kita pulang, aku sepertinya tak bisa tidur malam ini." ucap Fadli.


*Bersambung*


Jangan lupa LIKE nya ya setelah membaca. Tinggalkan jejak dan vote-nya kalau kalian berkenan..


Pokoknya, LIKE ITU WAJIB deh wkwk 😄 Biar like aku terus nambah, gak segitu-gitu ajah ..


Makasih ya semuanya ❤🤗

__ADS_1


__ADS_2