
Kehamilan Gita sudah memasuki bulan ke sembilan. Sudah tiga bulan lebih Gita tinggal di Jakarta, ia sangat kesepian, karena Gilvan akhir-akhir ini sibuk, ia mulai bekerja di kantor ayahnya, meskipun tidak sebesar perusahaan Rama, tetapi Gilvan memang cukup sibuk.
Akhir-akhir ini, Gita sudah tak bisa melakukan aktifitas berat. Perutnya sudah semakin besar. Ia sering kelelahan, sudah tak bisa tidur nyenyak, dan badannya bertambah gemuk.
Hari ini jadwal Gita periksa ke dokter kandungan, karena sudah waktunya ia kontrol terakhir. Ia menelepon Gilvan, tetapi Gilvan tidak mengangkatnya. Sepertinya Gilvan sangat sibuk. Gita bingung akan pergi dengan siapa, meminta Ibu mertuanya pun ia segan, karena mertuanya selalu sibuk dengan teman-temannya. Terpaksa Gita berangkat sendiri menuju Rumah sakit. Ia naik taksi online.
Sesampainya dirumah Sakit, seperti biasa Gita dipersilahkan berbaring untuk melakukan tindakan USG. Bayi Gita sangat sehat, berat badannya cukup, dan air ketuban pun cukup. Diperkirakan, janinnya berjenis kelamin perempuan, taksiran kelahirannya tinggal seminggu lagi. Itupun bisa maju dan bisa mundur dari perkiraan. Gita sangat puas dengan pemeriksaan yang dilakukan dokter pribadinya.
Setelah selesai dari rumah sakit, Gita pergi ke Restoran ayam goreng, ia ingin membeli ayam goreng untuk makan malam nanti bersama Gilvan.
***
Sudah dua hari Rama berada di Jakarta, ia melakukan perjanjian kerjasama dengan klien. Tetapi, karena kliennya berasal dari luar negeri, terpaksa ia bertemu dengannya di Jakarta. Setelah selesai meeting, Rama lupa kalau ia belum makan. Ia mengemudikan mobilnya mencari restoran untuk sekedar melepaskan rasa laparnya.
Matanya tertuju pada restoran ayam goreng di sebrangnya. Ia segera membelokan mobilnya menuju restoran tersebut. Aroma ayam goreng membuat perut Rama semakin berbunyi.
Rama memesan makanan menuju kasir, ia memesan ayam goreng sambal ijo lengkap dengan lalapan dan kerupuk. Setelah menunggu, ayam goreng pun datang. Rama mengambil makanannya dan segera mencari tempat duduk yang nyaman.
Ketika Rama hendak duduk, ia seperti melihat sosok Gita berjalan menuju kasir tempat memesan makanan. Rama mengedipkan matanya berkali-kali, menatap tak percaya, mungkinkah itu Gita? Rama melihat dengan jelas, itu memanglah Gita. Ia melihat perut Gita yang tambah besar karena kehamilannya. Rama kaget, ia bingung harus bagaimana, kenapa harus saja selalu bertemu dengan Gita. Apakah ini semua hanya kebetulan? Ataukah ini memang takdir?
Rama tak mungkin bertemu Gita ditempat seperti ini. Rama menutupi dirinya dengan tas nya. Sepertinya Gita tak makan ditempat, ia membungkus makanannya. Rama berharap Gita segera menghilang, ia tak mau Gita melihatnya. Ia tak mau rasa rindunya terlihat oleh Gita. Ia berjanji tak akan menganggu Gita sebelum bayinya lahir.
Tak lama, Gita pun pergi keluar restoran. Rama terlihat lega, karena Gita tak melihat dirinya. Sebenarnya, Rama ingin sekali bertemu Gita, mengobrol dengan Gita, tapi itu tak mungkin terjadi, Rama takut kalau Gita bersama suaminya, pasti lelaki itu akan menghajarnya.
Gita keluar dari restoran tersebut dengan menahan rasa sakit. Perutnya sakit, sepertinya perutnya mengalami kontraksi. Ia menahan rasa sakit itu, mencoba berjalan sekuat tenaga, melawan rasa sakit diperutnya, tetapi ia tak bisa. Tubuhnya melemah dikalahkan oleh rasa sakit diperutnya, ia jatuh didepan parkiran restoran.
Semua pelanggan berteriak minta tolong, Gita merasakan sakit yang luar biasa, sepertinya Gita akan melahirkan. Semua orang khawatir, dan berteriak minta tolong.
"Tolong, tolong. Ada Ibu hamil mau melahirkan. Tolong, segera bawa bantuan." Suara tak dikenal itu terdengar di telinga Rama.
Rama kaget. Ibu hamil mau melahirkan? Dia lari dengan cepat keluar dari dalam restoran. Ia teringat Gita yang barusan pergi dengan keadaan perut yang buncit. Rama berpikir, mungkinkah itu Gita? Dia langsung beranjak lari keluar.
Ternyata benar saja. Gita sedang mengaduh menahan rasa sakit. Rama sungguh tak tega melihat Gita seperti itu. Rama segera meminta orang-orang membawa Gita naik ke mobilnya. Ia akan membawa Gita kerumah sakit, segera.
"Tolong, cepat masukan dia ke mobilku. Saya akan langsung membawanya ke Rumah sakit terdekat." Ucap Rama
Mendengar suara itu, Gita kaget sambil menahan rasa sakit. Ia mengingat jelas suara dan wajah itu.
"Kak.. Kak Rama, kenapa kakak bisa ada disini?" Tanya Gita sambil memegang perutnya yang sedang kontraksi
"Itu tidak penting. Ayo, kita pergi kerumah sakit sekarang. Tolong, ada yang bisa mengantar saya sampai kerumah sakit? Menjaga wanita ini dibelakang." Ucap Rama
"Saya akan ikut kerumah sakit, Pak. Mari, saya bantu!" Ucap salah satu pelayan wanita tersebut.
__ADS_1
Rama segera melajukan mobilnya dengan cepat. Rama tak tahu dimana rumah sakit terdekat yang berada di sekitar sini.
"Rumah sakit terdekat dimana mbak?" Tanya Rama
"Terus lurus saja, Pak! 2km lagi sampai RS." Jawab pelayan wanita itu
"Aww.. Uhhh.. Kakk, kenapa kak Rama bisa berada disini? Maafkan aku merepotkanmu! Awhhhh.. Sakitttttttt sekali." Gita menangis
"Kamu tak perlu tahu. Yang terpenting sekarang keselamatan mu dan bayi kita." Ujar Rama
Pelayan yang mengantar mereka kaget mendengar perkataan Rama. Rama sudah tak peduli dengan apapun dan siapapun, ia tak peduli orang lain tahu mengenai ia dan Gita, yang terpenting Gita segera sampai di Rumah sakit.
Rumah sakit cukup dekat, Mereka turun dan memanggil petugas UGD untuk segera membawa Gita keruang bersalin. Perawat segera memasang alat infus pada tubuh Gita. Rama sangat khawatir, ia tak tahu harus berbuat apa. Rama mengantar Gita sampai masuk ruang bersalin kelas VIP. Rama tak mau dilayani dengan kurang memuaskan, ia memesan kamar VIP untuk Gita.
"Kakk... Sakit.. Aku gak tahan, Ini sakit banget....." Gita merintih kesakitan
"Maaf Pak, Bu! Ibu Gita masih dalam pembukaan 3, rasa sakitnya bisa hilang dan bisa muncul lagi. Berjalan-jalan kecil saja atau sering berbaring kekiri agar mempercepat bukaannya ya!" Ucap Dokter spesialis yang memeriksa Gita.
Dokter itu sempat heran karena Gita bukan diantar oleh suaminya, Dokter itu tahu suami Gita, karena Gita selalu kontrol dua minggu sekali bersama suaminya.
"Saya permisi dulu. Satu jam kemudian saya akan kembali ya." Ucap dokter itu.
Rama duduk disamping Gita. Ia tak tega melihat wanita yang disayanginya meringis kesakitan seperti ini. Gita yang ia cintai harus merasakan sakit yang luar biasa karena ulah Rama.
Kringggg..kringggg
"Sini, biar kuberi tahu suamimu agar datang kemari." Ucap Rama
Gita memberikan handphonenya pada Rama. Dengan perasaan tak menentu, Rama mengangkat telepon Gilvan.
"Hallo, Sayang. Kamu dimana?" Tanya Gilvan
"Istri lu sedang dirumah sakit. Dia akan segera melahirkan. Datanglah kerumah sakit tempat dia kontrol." Ucap Rama
"Rama?" Ucap Gilvan kaget
Tutt..tuttt..tuuttt
Rama mematikan ponsel Gita. Ia tak mau berurusan dengan Gilvan lebih lama lagi.Tanpa Rama sadar, Gita memegang tangan Rama.
"Kenapa? Kau mau apa? Katakan padaku!" Ucap Rama khawatir
"Aku mau kau tetap disini. Jangan pergi, jangan tinggalkan aku! Kumohon, kak!" Gita menitikkan air mata.
__ADS_1
"Kau tak perlu memikirkan aku, pikirkan saja bayi kita. Semoga kau dan dia baik-baik saja." Ucap Rama tak tega melihat Gita seperti ini
"Maafkan aku. Aaawwwwwhhhhjh, sakit sekali kak!" Gita meringis lagi
"Tenang, tarik nafas. Kau akan baik-baik saja, percaya padaku! Sini, pinjam lagi handphone mu. Aku akan menelepon Ibumu segera!" Pinta Rama
Rama segera menelepon Ibunya Gita. Ibu Gita sangat khawatir, ia dan ayahnya akan segera berangkat ke Jakarta sekarang. Ibunya heran, kenapa suara Gilvan terdengar seperti suara Rama, tapi ia tak menghiraukannya. Mungkin, hanya halusinasinya saja, pikirnya.
Rasa sakitnya sedikit berkurang, Gita bisa berjalan-jalan kecil untuk mempercepat pembukaan. Gita tak menyangka rasa sakit akan melahirkan ini benar-benar menyiksanya. Gita malu karena Rama benar-benar menemaninya. Hingga pada akhirnya Gilvan datang, langsung memeluk Gita yang sedang berbaring di ranjang pasien.
"Maafkan aku, aku lupa kalau ini jadwal kontrol terakhirmu." Ucap Gilvan merasa bersalah.
Rama melihat Gilvan memeluk Gita, hatinya sangat sakit sekali. Rama memutuskan keluar dari rumah sakit itu. Ia akan pulang ke Bandung. Karena, Gita sudah ditunggu Gilvan. Ia tak mau berada diantara mereka. Gilvan melihat Rama pergi keluar, Gita pun melihat Rama pergi, dengan lemah ia memanggil Rama, meskipun ada Gilvan disisinya.
"Kakkk.." panggil Gita
"Tunggu disini sebentar ya, sayang!" Ucap Gilvan beranjak keluar dari kamar bersalin Gita. Ia mengejar Rama, ternyata Rama belum jauh.
"Ram, Rama!" Panggil Gilvan
Rama menoleh, ia serasa tak peduli.
"Ada apa?" Jawabnya dingin
"Kau mau kemana?" Tanya Gilvan
"Gue mau pulang ke Bandung." Jawab Rama
"Kumohon, jangan pergi. Gita sangat butuh perhatian dari kamu. Gita sangat menyayangi kamu. Kumohon, kau ada disisinya saat ini." Ucap Gilvan
"Kenapa harus gue? Lo kan suaminya!" Ucap Rama
"Aku memang suami Gita, tapi aku bukan ayah dari bayi yang dikandungnya. Kau lah ayah dari bayi itu, Ram! Kumohon, jaga Gita. Tunggu dia, hingga dia melahirkan. Aku akan senang jika kau mau menunggunya." Ucap Gilvan tulus
"Gue bukan siapa-siapanya. Itu hanya kesalahan. Kau saja yang mengurusnya!" Ucap Rama
Rama pergi meninggalkannya, tetapi Gilvan menahannya.
"Apa kau tidak sayang pada Gita dan bayimu itu?" Tanya Gilvan
"Kenapa kau selancang itu, HAH?" Rama kesal
"Aku, hanya sebagai suami diatas kertas. Gita tak pernah memberikan hatinya padaku. Ia tetap memilihmu meskipun aku telah menikahinya. Sekarang, kumohon.. Tolong jaga dia. Dia sangat membutuhkanmu berada disisinya." Gilvan memohon
__ADS_1
Seperti itukah pernikahan Gita dan Gilvan? -Rama-
*Bersambung**