Direktur, Cinta Pertamaku!

Direktur, Cinta Pertamaku!
Perasaan ini?


__ADS_3

Hanya keheningan dan kesedihan yang Gilvan rasakan saat ini. Ia tak bisa memaksa Vina untuk kembali berpijak di hatinya. Gilvan cukup tahu diri, waktu lima tahun bukanlah sebentar, Vina pasti telah melanjutkan hidupnya.


Gilvan mematung ditempatnya berdiri. Vina meninggalkannya dengan amarah yang memuncak. Belanjaannya tak Vina bawa, entah Vina lupa atau saking kesalnya pada Gilvan.


Dirinya tahu, tak mudah bagi Vina untuk menerima Gilvan kembali. Vina terlalu lama menyimpan luka di hatinya. Gilvan membiarkan Vina pergi. Dengan harapan, Vina tak akan membencinya setelah Gilvan berkata jujur mengenai keberadaannya selama ini.


Gilvan berjalan sendu membawa belanjaan Vina. Ia harus mengembalikannya pada Vina, karena ini miliknya, namun Gilvan bingung bagaimana cara mengembalikannya, karena Vina pasti tak mau bertemu lagi dengannya.


Biarlah, akan ku bawa dahulu. Untuk mengembalikannya, urusan nanti saja. Yang penting, barangnya jangan sampai hilang. Aku benar-benar telah mengecewakan Vina. Maafkan aku, Vina. Aku janji, tak akan mengganggu kehidupanmu lagi, kamu sudah bahagia sekarang. Kamu telah mendapatkan kebahagiaanmu yang sesungguhnya. Batin Gilvan


Gilvan berjalan menyusuri jalan belakang supermarket. Ia akan kembali menuju parkiran. Gilvan tertunduk lesu, ia berjalan tanpa semangat. Gilvan menghela nafas, ini takdir hidup yang harus dijalaninya.


Tiba-ia, suara ketukan high heels terdengar berjalan menuju arah Gilvan. Gilvan menegakkan kepalanya, melihat asal suara tersebut. Ia kaget, Vina kembali mendekatinya. Perlahan, Vina berjalan dengan sangat tegas, tak terlihat kesedihan di raut wajahnya.


"Vi-Vina, maafkan aku. Ini belanjaan mu ketinggalan. Aku akan mengantarkannya padamu."


"Apa kamu membawa mobil?" tanya Vina


"Iya, aku membawanya. Mau ku antar pulang?"


"Antar aku pulang, ada yang harus aku beritahu padamu."


"Ba-baiklah, Ayo, ikut denganku menuju parkiran." ucap Gilvan gugup


"Berikan belanjaan itu padaku!" ucap Vina


"Biar aku yang membawanya, ini berat."


"Kita tidak sedekat itu lagi, aku tak ada urusan denganmu, kembalikan belanjaan ku. Aku mampu membawanya sendiri."


"Baiklah, maafkan aku memaksa."


Gilvan dan Vina berjalan tanpa suara. Vina enggan berbicara dengan Givan jika tak ada obrolan yang penting baginya. Gilvan benar-benar memaklumi keadaan ini, ia harus sadar, bahwa hati Vina saat ini belum sepenuhnya tenang, ia masih berkecamuk dengan amarah. Gilvan harus tetap sabar.


Didalam mobil, Vina tetap mengunci mulutnya. Ia tak ingin berbicara pada Gilvan. Ia benar-benar sudak muak melihat Gilvan. Kalau bukan karena ada satu hal yang harus Vina berikan pada Gilvan, Vina sudah tak mau lagi bertemu dengannya.


"Vin..."


Vina tak bergeming. Ia tetap fokus pada handphonenya.


"Aku akan terus berbicara, biarpun kamu tak menjawabnya sekalipun."


"Maafkan keegoisanku, maafkan keserakahan ku, aku hanya tak ingin terus-terusan menyusahkan kalian. Aku sudah terlalu banyak membuat kalian berkorban tenaga, uang, dan hati demi kesembuhan ku."

__ADS_1


Vina tetap fokus pada handphonenya, namun ia masih bisa fokus juga mendengarkan Gilvan berbicara, walaupun ia tak mau menjawabnya.


"Aku pun terluka. Aku menangisi keputusanku yang belum matang itu. Aku teringat padamu, saat-saat aku sendiri, aku selalu membayangkan betapa indahnya senyuman mu, aku selalu membayangkan akan bagaimana lagi pertemuan kita."


"Janjiku pada pihak di USA, hanya dua tahun. Aku pun tak ingin lama-lama bekerja, aku ingin segera menemui mu. Tapi, apa kamu tahu apa yang terjadi? Aku tak boleh kembali saat itu. Jika aku memaksa kembali, uangku akan ditarik semua dari rekeningku, dan aku tak akan mendapatkan apa-apa."


Vina sedikit tersentuh mendengar cerita Gilvan. Tetapi, Vina tetap pura-pura tak mendengar.


"Tahukah kamu, betapa sedihnya hatiku saat itu? Aku tak bisa berbuat apa-apa. Wanita yang aku cintai pasti sedang menungguku, aku pun berpikiran seperti itu. Aku tak mungkin melupakanmu lagi setelah aku mengingat semuanya. Aku menangis, membayangkan diriku yang tak bisa menemui mu. Di sana, aku benar-benar sendiri, aku terluka, aku menahan sakitnya rasa rinduku padamu, Vin."


"Bukan hanya kamu yang merindukanku, aku pun lebih merindukanmu tanpa kamu tahu. Aku yang terluka karena aku tak bisa pulang. Untuk itu, aku putuskan bekerja sungguh-sungguh, agar aku bisa mendapatkan hak yang lebih baik dari ini, dan aku akan membawa diriku pulang padamu jika saatnya sudah tiba."


Vina tersentuh dengan ucapan Gilvan. Meskipun, Vina pura-pura tak mendengar zgilvan, tapi tetap saja ucapannya terdengar.


"Aku mengerti, salahku adalah tak memberi kabar padamu. Bukannya aku tak mau memberi kabar padamu, aku hanya tak ingin kamu tenggelam dalam harapan. Karena, hidupku di USA antara bisa kembali atau tidak."


"Setiap hari, bahkan setiap menit pun aku selalu mengingatmu. Aku menangisi semuanya, yang tersisa hanya air mata dalam hidupku. Aku tak kuasa, apa mungkin cinta ku akan menghilang selamanya, aku takkan sanggup. Untuk itu, di tahun ke tiga dan keempat, aku bekerja sungguh-sungguh, agar naik jabatan, agar aku bisa mudah kembali ke Negaraku."


"Yang aku ingat hanya kamu, Davina! Selama lima tahun aku bekerja di restoran, tak pernah sedikitpun aku melupakanmu. Bahkan, aku selalu mengingatmu didalam tidurku. Aku berharap, agar mimpiku sampai padamu. Agar mimpiku mengatakan bahwa aku disini baik-baik aja, dan kamu tenang menungguku kembali."


"Maafkan atas semua kekeliruan ini, aku benar-benar menyesal telah membuat pilihan sulit untuk masa depan kita. Sekarang, semuanya terserah padamu. Aku sudah jujur, tak ada yang ku sembunyikan, terimalah maaf ku ini, aku meminta maaf setulus-tulusnya dalam hatiku."


Tak terasa, bulir bening jatuh dari pipi lembut Vina. Vina mengerti, perjuangan Gilvan untuk menemuinya tidaklah mudah. Semuanya butuh proses. Proses itulah yang membuat Vina bersedih hati, tak sampai hati dirinya, melihat Gilvan yang menangis.


Tak lama, karena Gilvan terus berbicara sepanjang jalan, mereka telah sampai di rumah Vina. Wajah Vina sedikit kasihan melihat Gilvan. Meskipun Vina benar-benar marah, namun pada kenyataannya, hati kecilnya tak bisa berbohong. Hati Vina dan Gilvan masih tetap untuk diri mereka masing-masing.


"Kamu tunggulah disini. Sebentar lagi, aku akan kembali padamu."


Vina segera keluar dari mobil Gilvan dan membawa barang belanjaannya masuk kedalam rumah. Dari dalam mobil, Gilvan menunggu Vina dengan harap-harap cemas, semoga tak terjadi apa-apa pada dirinya.


Vina masuk kembali dengan membawa amplop coklat yang telah usang.


"Ini." Vina menyerahkan amplop coklat usang tersebut.


"Apa ini?" tanya Gilvan


"Buka saja." jawab Vina


Gilvan membukanya. Ia kaget, uang Gilvan sebanyak 20 juta, dan cek yang ia tulis sebanyak 300 juta, masih ada ditangan Vina dalam keadaan utuh, meskipun amplopnya sudah terlibat usang dan berubah warna.


"Apa maksudmu?" tanya Gilvan tak mengerti


"Apa kamu ingin mendengar penjelasan ku?"

__ADS_1


"Tentu saja." jawab Gilvan.


"Baik, akan ku jelaskan. Dengarkan aku baik-baik!"


Antara siap dan tidak, antara hatinya menerima atau tidak, antara rela atau tidak mengatakan ini, tetapi ambisi di hatinya Vina terus saja memaksa harus mengatakan ini pada Gilvan. Vina menghela nafas, mengatur nafasnya dengan baik. Ia mulai berbicara.


"Dulu, tragedi sebelum kamu kecelakaan, aku ingin menemui mu bukan?"


"Iya, lalu?"


"Nah, saat itu pula, aku akan seperti ini, hal yang sama seperti saat ini sedang aku lakukan. Waktu itu, aku akan mengembalikan uang ini padamu, dan mengakhiri semuanya.


"Namun, takdir berkata lain. Kamu harus mengalami kecelakaan, hingga kamu Amnesia. Aku stress saat itu, aku menyesal, benar-benar menyesal."


"Apa maksudmu?" Gilvan tak mengerti


"Menurutku, ini sudah saatnya. Saat kamu amnesia, aku membantumu, dan mencintaimu lagi. Tetapi, kamu malah buat hatiku membencimu lagi dengan menghilang tanpa jejak selama lima tahun."


"Maksudku disini adalah, semuanya sudah kembali pada posisinya masing-masing. Kamu sudah mengingat semuanya, aku pun sudah menata hidupku dengan sebaik mungkin. Terimalah uang dan cek mu kembali, hal ini adalah hal yang saat itu akan kulakukan padamu, sebelum kamu mengalami kecelakaan."


"Lalu, intinya?" Gilvan benar-benar kecewa


"Intinya, saat itu dan saat ini tetap sama. Aku, akan benar-benar melepaskan dan meninggalkanmu. Uang itu, ambil saja. Aku tak membutuhkannya. Yang ku butuhkan adalah kasih sayang yang tulus, bukan lembaran kertas demi kertas."


"Baiklah, aku akan pulang ke rumah. Terima kasih telah mengantarku pulang saat ini."


Vina membuka pintu mobil Gilvan.


Gilvan menahannya. Gilvan menarik tangan Vina, membalikkan badan Vina dari kemudi mobil, sehingga Vina bisa menatap Gilvan, dengan sigap Gilvan mencium Vina. Perasaan yang sudah lama Gilvan tahan, rasa rindunya pada diri Vina, tercurahkan dengan ciuman hangat yang dilakukan Gilvan.


"Mmmhh, Gilvan, lepas!!!"


Vina berontak, namun tangan Gilvan memaksa Vina untuk tetap menikmati ciuman kerinduan itu. Dada Vina masih seperti dulu, ia tetap berdebar ketika bersentuhan dengan Gilvan.


Ciuman itu berlangsung sekitar dua menit. Gilvan tak bisa menahan hasrat yang selama ini ia pendam.


"Kamu masih berdebar ketika aku mencium mu. Jangan berbohong, kamu masih mencintaiku kan?" ucap Gilvan perlahan melepaskan ciumannya


*Bersambung*


Duh, gaisssss


Otor nulis sambil bayangin kalo itu bener terjadi. Rasanya hati campur aduk lah, bingung jelasinnya musti gimana..

__ADS_1


Pokoknya, gimana kalian menyikapinya aja deh, yang penting, tetep beri dukungan padaku ya, like komen dan vote


Juga, jangan unfav ceritanya, tunggu terus kelanjutannya.. akan buat lebih heboh dari ini 🤗


__ADS_2