
"CUKUP!"
"Maafkan aku!" Gilvan terlihat sedih
"Jangan buat aku masuk lagi dalam buaian mu. Aku sudah terlalu hina, aku bak pelac*r jika berada di hadapanmu. Selalu saja kamu membuatku begini."
"Aku mencintaimu, aku merindukanmu."
"Omong kosong dengan cintamu. Aku muak. Sudah, jangan ganggu aku lagi."
"Tunggulah sebentar, aku tahu amarahmu padaku tah tertahan lagi, aku menerimanya, Vina. Aku sadar, aku salah. Tapi, jangan membenciku, biarkan aku menjadi temanmu. Dan ini, uangmu. Pakailah, jangan seperti ini. Uang ini tak salah, pakailah untuk kebutuhan kamu dan anakmu, Vina."
"Aku mampu menghidupi anakku sendiri, tak perlu uang haram darimu. Sudah, CUKUP!"
Vina segera keluar dari mobil Gilvan lalu membanting pintunya dengan keras. Gilvan termenung sendiri. Ucapan Vina benar-benar membuatnya merasa sedih.
Gilvan tak mengira Vina akan semarah ini padanya.Gilvan memang lancang, dengan seenaknya dia mencium Vina, karena itulah emosi Vina meledak-ledak lagi. Namun, apa boleh dikata, rindu itu nyata, tak ada yang bisa melawan rindu.
Gilvan terlalu merindukan Vina, ia ingin memeluk dan mencium Vina dengan penuh kasih sayang. Kini, semuanya sudah terlambat. Gilvan tak ada kesempatan lagi untuk hidup bersama Vina.
**
Keesokan harinya.
"Givi, bangun Nak!" ucap Vina
"Givi masih ngantuk Bunda! Sekarang kan hari minggu, Givi libur. Biarkan aku tidur lagi, ya ya?" pinta Givi dengan mata masih terpejam
"Givia sayang, meskipun ini hari libur, kamu harus tetap membiasakan diri bangun pagi, Nak! Lagipula, Bunda mau ajak kamu main ke rumah Nayya. Apa kamu gak mau ikut?" tanya Vina
Givia bangun dengan semangat "HAH? Ke rumah Nayya? Mau banget Bunda. Rumah Nayya kan gede banget! Banyak mainan lagi." Givia sumringah
"Iya, makanya kamu cepet-cepet mandi gih sam Oma, kita berangkat ke rumah Nayya." ajak Vina
"Hore! Asik, Givi bisa main sama Nayya."
Vina tersenyum melihat anaknya tersenyum bahagia. Vina tahu, dirinya tak bisa memberi kebahagiaan pada Givia seperti kebahagiaan yang Nayya dapatkan. Gita dan Rama memanglah keluarga yang royal dan kaya raya, pantas saja Kanayya selalu mendapat apa yang ia inginkan.
Givia hanya bisa menerima mainan mahal bekas Kanayya yang diberikan padanya. Terkadang, Vina sedih, nasib anaknya tak seberuntung kebanyakan anak kain. Namun, Vina juga patut bersyukur, karena Givia adalah anak yang baik hati.
Vina telah menghubungi Gita, bahwa dirinya akan bermain ke rumah Gita. Gita menyetujuinya karena weekend inipun mereka takkan kemana-mana.
Tiba-tiba, handphone Vina berdering. Ternyata, Andra meneleponnya.
"Hallo?" sapa Vina
"Vina, lagi apa? Aku ganggu gak?" tanya Andra diseberang sana
"Lagi dandan nih, nggak kok santai aja. Ada apa Ndra?" tanya Vina
"Kamu ada acara gak hari ini?" tanya Andra
"Mm, sekarang aku mau ngajak anakku main, Ndra. Eman kenapa?"
__ADS_1
"Tadinya aku mau ajak kamu dan Givia jalan-jalan, kita jalan bareng yuk?"
"Duh, maaf Ndra! Aku mau ke rumah Gita hari ini. Maaf banget ya!" ucap Vina
Gita? Apa mungkin yang Vina maksud itu Bos Gita? Wah, kesempatan bagus nih. Batin Andra.
"Kamu naik apa?"
"Naik taksi aja, mobilku kan masih di bengkel." jawab Vina
"Ya sudah, aku anterin aja ya. Daripada kamu harus naik taksi. Aku cuma nganterin kamu aja kok! Udah gitu, aku pulang lagi."
Vina tak enak menolak tawaran Andra, karena Andra terlalu baik padanya.
"Baiklah, tapi hanya mengantar saja ya? Aku tak enak pada Gita dan Rama."
"Tentu saja, Vin. Aku pun malu jika berhadapan dengan Bos."
Akhirnya Vina dan Givia diantar oleh Andra menuju rumah Vina. Ketika di jalan, Givia melihat sebuah restoran ayam goreng khas Amerika dengan nama "Givi's Chicken". Givia membaca nama itu perlahan-lahan, karena ia baru bisa membaca.
"Bunda-bunda, lihat itu! Givi membacanya, ada restoran ayam dengan nama Givi. Wah, Givi terkenal dong ya Bunda." ucap Givia
"Mana?" Vina melihat-lihat
Andra memelankan mobilnya.
"Itu Bunda, diseberang sana." tunjuk Givia
"Oh iya, Bunda melihatnya. Wah, bisa kebetulan gitu ya Giv namanya. Givi's Chicken! Nama yang bagus." ucap Vina melibat restoran tersebut
"Bunda, Givi mau ke restoran ayam itu, Bunda!" pinta Givia
"Boleh, Givi. Kapan-kapan kita mampir ke sana ya." ucap Vina
"Mau hari ini, Bunda!" Givia memaksa
"Kita kan mau main di rumah Nayya, Giv." ucap Vina
"Vin, gak apa-apa! Nanti aku jemput lagi kalian. Kita ajak Givia ke restoran baru itu. Mungkin saja ada merchandise menarik karena restorannya baru dibuka." ucap Andra
"Yeayyyyy! Ayah Andra baik banget deh!" Givia semangat
"Givia. Kamu apa-apaan. Ini Om Andra, jangan panggil Ayah. Itu gak sopan." ucap Vina
"Abisnya Om Andra baik banget Bunda. Kalo orang baik kan aku panggil Ayah." Givia tersenyum senang
"Gak apa-apa Vin, cuma gitu aja. Givi boleh panggil apapun, panggil Ayah Andra kalau Givi suka, om tak keberatan." Andra tersenyum
"Yeayyyy, Ayah Andra memang baik."
Tak lama, tibalah Vina di rumah Gita. Rumah yang luas dan besar. Kini, di rumah Gita banyak wahana permainan, seperti perosotan dan ayun-ayun. Semua itu pasti untuk Kanayya dan Kanakka.
Betapa senangnya Givia melihat pemandangan taman yang cantik di rumah Nayya. Andra yang menemani Vina masuk kedalam, segera pamit.
__ADS_1
"Bu, saya pamit dulu." ucap Andra pada Gita
"Loh, mau kemana? Udah, disini aja. Temenin Vina sama Givia." ucap Gita
"Gak apa-apa, Bu. Saya gak mau ganggu. Nanti aja saya jemput lagi. Permisi Bu." ucap Andra sopan
"Baiklah kalau begitu, hati-hati dijalan."
"Ndra, makasih ya. Hati-hati dijalan." ucap Vina
Andra berlalu, Gita dan Vina masuk kedalam rumah. Vina duduk santai di ruang tamu megah rumah Gita. Rama tak terlihat, sepertinya Rama sedang sibuk.
"Nayya, Nakka, mainnya jangan kotor-kotoran ya. Mami nggak mau ya rumahnya berantakan lagi. Ajakin Givia main bareng, jangan berantem. Oke?" ucap Gita
"Oke Mami." jawab Nayya dan Nakka
Anak-anak itu pergi bermain bersama, ditemani oleh Mia sang baby sitter. Vina disuguhi cemilan dan minuman oleh asisten Gita.
"Ciye, lu udah punya gebetan nih sekarang. Bagian apa dia?" tanya Gita
"Gebetan apaan, dia temen kerja gue kok. Di marketing juga sama, dia bawahan Dimas." ucap Vina
"Oh, iya-iya. Tapi, kayaknya baik sih menurut gue." ujar Gita
"Eh apaan coba anak gue tadi malu-maluin banget. Masa dia panggil Andra dengan sebutan Ayah Andra. Kan malu banget gue Git!"
"Hahaha! Givia emang pinter deh. Dia tahu, bahwa Andra cocok buat jadi Ayahnya."
"Git?"
Vina mendadak serius. Ia lupa, bahwa kedatangannya ke rumah Gita adalah untuk membicarakan sesuatu.
"Kenapa? Kok jadi serius gini?"
"Gue mau ngomong penting sama lu." jawab Vina sedikit gugup
"Apaan sih? Kok wajah lu jadi pucat gitu?" Gita heran
"Git, jangan kaget."
"Apaan emang? Ngomong juga belum lu." timpal Gita
"Gilvan nemuin gue."
"HAHHHHHHHHHH?
*Bersambung*
Hai hai..
Jangan lupa like dan komen ya..
Gabung grup chat aku yuk, biar lebih rame 🤗😘
__ADS_1